The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 5 : Dalam Bahaya part 8


__ADS_3

"Eh... Dimana aku ?"


Entah kenapa, tiba tiba seisi ruangan berubah menjadi gelap.


Aku mengingat terakhir kali sedang berteriak saat Minotaur mendekati Kahfi.


"(Apakah aku sudah mati ?)"


Pikiran demi pikiran sedang aku rasakan, karena saat ini aku tidak tau apa yang terjadi setelah aku berteriak.


Ini terasa hampa.


Seluruh tubuh ku bergetar saat aku memikirkan tentang Kahfi. Keberadaan ku ini tidak diketahui, bahkan untuk melangkah sedikit saja pun tidak bisa.


Aku mengecek apakah seluruh tubuh ku masih utuh, dan ternyata masih seperti semula. Hanya saja ini terasa hampa.


Sebuah kilatan muncul di depan mata ku. Tiba tiba aku sudah berada di dalam suatu ruangan, yang dimana aku kenali.


"Ah, ruangan ini... Aku tidak ingin mengingatnya kembali."


Aku berusaha memejamkan mata untuk tidak melihat ke ruangan yang saat ini aku berada.


Ruangan ini mengingatkan ku kembali, tempat dimana kedua orang tua ku di bunuh oleh Iblis ayunan itu.


Aku tidak ingin mengingatnya ! Sungguh aku tidak ingin.


Mata ku dipaksa untuk melihat kebenaran dibalik ruangan ini, bahkan ada sebuah kilasan balik yang dimana, aku hanya menyembunyikan diri di balik sudut ruangan itu.


"Ayah, Ibu keluarkan aku dari sini!"


Aku melihat diriku sendiri sedang berusaha keluar dari sihir yang di ciptakan Ibu ku. Wajahnya penuh emosi ketika berusaha menolong seseorang yang di cintai.


Sebenarnya aku ini apa ? Aku begitu buruk sekali sebagai Manusia. Janji melindungi, tapi nyatanya tidak mampu melindungi satu orang pun, bahkan yang lebih parahnya lagi, aku tidak dapat melakukan apapun ketika seseorang dalam bahaya. Aku memang memiliki ketenangan dalam melakukan apapun, tapi itu tidak cukup membantu untuk melindungi seseorang.


Ini sungguh membuat ku frustasi. Hanya bisa menunduk di depan diri ku sendiri yang sedang berusaha keluar dari sihir Ibu ku yang di buatnya.


Kahfi, Angga, Shiva, Adit, dan Rian mereka orang orang yang begitu baik, aku ingin sekali melindungi mereka, tidak perduli seberapa lemah diriku, aku ingin melindungi mereka.


Sebuah kilatan muncul lagi di depan mata ku.


"Hahahahaha."


"Diam lah!!!"


Ruangan ini di penuhi darah. Tawa dari Iblis ayunan itu membuat ku begitu kesal. Ayah dan Ibu ku sudah tergeletak di lantai. Cipratan darah mengotori wajah ku.


"Sebenarnya aku ini apa ?"


Sekali lagi aku menanyakan kepada diri ku sendiri.


"Ayah, Ibu !"


Sungguh malang sekali melihat diri ku yang lain sedang terkurung menyaksikan kedua orang tua nya di bunuh, tepat di depan mata nya.


Sebuah kilatan muncul lagi di hadapan ku.


Kali ini aku di bawa ke sebuah ruangan yang aku kenali lagi.


Ini adalah saat dimana aku makan malam terakhir kalinya bersama Ayah dan Ibu ku.


Sebuah senyuman hangat ku rasakan dari Ayah dan Ibu yang sedang mengobrol dengan diriku yang lain.


Walaupun aku hanya dapat melihatnya saja, namun ini terasa begitu hangat. Aku ingin selamanya seperti ini. Ingin sekali, namun semua itu tidak akan bisa.


Aku menyadari bahwa aku tidak bisa melihat mereka lagi layaknya dahulu kala.


Ayah ku tiba tiba muncul di hadapan ku.


"Nak, jadi lah orang yang baik. Orang yang baik itu sudah pasti hebat, sedangkan orang hebat itu belum tentu baik. Lindungi lah ! Walaupun itu hanya sekedar senyuman saja !"


Aku menangis ketika mendengar kata kata itu dari Ayah ku.


Tangisan tanpa suara.

__ADS_1


Aku berusaha menahan tangisan ku sebisa mungkin.


"Lepaskan saja, Nak."


"Ayah..."


Tiba tiba muncul Ibu ku di samping Ayah ku.


"Ibu dan Ayah mu sangat bahagia memiliki anak seperti mu. Nak, mungkin saat ini yang sedang menderita kamu, Nak. Maafkan Ibu dan Ayah, yaa."


Tangisan ku sudah tidak bisa dibendung.


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf kalian, karena tidak mampu menyelamatkan kalian. Aku lah yang seharusnya minta maaf, Ayah Ibu."


Tuk.


Sebuah tangan dari Ibu memegang bahu ku. Tangan ini begitu transparan, seperti aku bertemu dengan Akagami.


"*Kau tidak perlu minta maaf, Nak. Ibu dan Ayah sudah sangat bahagia sejak kelahiran mu ko. Jadi kamu tidak perlu minta maaf. Yang seharusnya minta maaf kita, karena tidak bisa melihat kamu tumbuh dewasa."


"Ayah minta maaf juga ya, Nak. Karena tidak mampu menjadikan mu lelaki yang baik*."


Tiap air mata berjatuhan. Aku tidak bisa menahan tangisan begitu dalam saat menghadapi ini.


"Tida-


Sebuah pelukan hangat dari kedua orang tua ku, aku dapatkan.


Pelukan ini begitu hangat, aku tidak ingin melepaskan nya.


"Nak, ingat pesan Ayah untuk menjadi orang baik yaa, yang bisa melindungi walaupun hanya sekedar senyuman saja."


Ayah berbisik kata kata itu di telinga ku.


"*Jadi lah lelaki yang hebat ya, Nak. Bahkan melebihkan Ayah mu."


"Mana mungkin dia bisa, Ma !!! Hahahaha*."


"Tentu saja aku bisa ! Hahahahaha."


"Akhirnya kamu sudah gembira kembali, syukurlah. Yuk, Ma."


"Eh, Ayah dan Ibu mau kemana ?"


Mereka perlahan melepaskan pelukan nya.


"Ibu dan Ayah akan pergi, Nak. Yang kamu lihat saat ini hanya ilusi yang Ibu buat saja."


Ini seperti Akagami yang membuat sihir ilusi untuk mempertemukan ku dengan nya.


"Tapi..."


"Nak, kami berdua sudah tiada dan sudah tidak bisa berada di sisi mu. Inilah kenyataan yang ada. Ayo, Ma."


Mereka perlahan menjauh dari diriku.


"Oh iya, Nak. Jangan lupa pesan Ayah, yaa. Lindungi teman teman mu."


"Terimakasih, Ayah Ibu."


Dan terimakasih telah melahirkan ku, aku bahagia sekali memiliki kedua orang tua seperti kalian. Terimakasih.


Tiba tiba jantung ku memompa darah begitu kencang, kedua mata ku berubah menjadi merah.


...**********...


"Teknik Sihir : Dark Lighting."


Kilatan petir bewarna hitam menyambar Minotaur yang mendekati Kahfi.


"Bagas."


"Bagas."

__ADS_1


Kilatan demi kilatan bewarna hitam muncul di Gua ini.


Aku berjalan perlahan lahan menuju arah Kahfi dengan kedua Katana ku.


Kedua mata ku bewarna merah. Jantung ku begitu cepat berdetak. Darah di seluruh tubuh ku mengalir dengan cepat. Otot ku terasa begitu kuat, bahkan sepertinya aku mampu membelah sebuah Gunung menggunakan Katana ku.


Aku terus berjalan mendekati Kahfi yang sedang terbaring di tanah, bersama dengan kilat kilatan bewarna hitam.


Beberapa Minotaur ketakutan melihat ku, seakan akan seperti melihat kematian. Beberapa lagi ada yang mencoba menyerang ku, namun itu sangat mudah untuk ku lawan balik.


Aku menebas nya menggunakan Katana bersarung merah, ini mudah sekali untuk ku singkirkan Minotaur yang mendekati ku.


Ketika Minotaur itu terkena tebasan ku, aku melihat mereka perlahan lahan menghilang. Mereka tidak dapat meregenerasi tubuh nya sendiri.


Minotaur yang lebih tinggi itu pun, hangus karena sambaran petir yang ku ciptakan.


"Teknik Sihir : Dark Fire."


Sebuah api hitam keluar dari tangan ku.


Api hitam itu, aku arahkan ke beberapa Minotaur yang tersisa.


Shiva dan Kahfi hanya bisa melihat ku saja. Sepertinya mereka kaget melihat ku seperti ini.


"Apa yang terjadi dengan mu ?"


Aku berdiri tepat di hadapan Kahfi.


Tanpa ku sadari, ternyata Minotaur yang sudah hangus itu ternyata masih mampu untuk berdiri.


Minotaur itu berdiri tepat di belakang ku, dan mencoba menyerang ku.


Aku memegang erat kedua Katana ku.


"Teknik Dual Katana : Tebasan Kegelapan."


Aku membalikkan badan ku, dan segera mungkin menebas Minotaur itu dengan cepat.


Croot (Suara tebasan)


Badan Minotaur itu menjadi dua bagian, ketika aku menebas perut nya.


Perlahan lahan menghilang seluruh tubuh Minotaur yang ku bunuh.


Aku melihat Rian, Adit, dan Angga yang pingsan, sedangkan Kahfi dan Shiva hanya bisa memasang wajah kaget dan ketakutan saat melihat ku.


Bisa dikatakan aura yang ku pancarkan ini begitu kuat dan sangatlah gelap, hingga membuat mereka berdua ketakutan.


Aku menoleh kebelakang, tepat dimana gadis kecil itu berada.


Gadis kecil itu sangat lah ketakutan sekali melihat ku.


Kedua Katana ku, aku tancapkan ke tanah.


Kesadaran ku mulai memudar, entah kenapa ini menguras stamina ku.


Aku memandangi mereka yang masih sadar, lalu berkata.


"Sudah ku bilang, aku akan melindungi kalian."


Buuk (Suara tanah)


Aku terjatuh ke tanah, kesadaran ku mulai menghilang perlahan lahan.


"Oy, Bagas."


Sebelum aku menutup mata ku, tiba tiba di hadapan ku muncul seseorang yang aku kenal, yang seharusnya tidak berada disini.


"Oh, syukurlah ada Andre."


Aku pingsan seketika.


Bersambung...

__ADS_1


Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini.


__ADS_2