
Aku bagas umur 16, sedang melihat 1 boneka seukuran manusia di ruangan latihan.
"Hmmm.... Apa ini ?" ucap ku, meraba raba boneka itu
"Sudah jelas itu adalah boneka" jawab Kahfi
"Boneka ini bernafas" ucap Rian, meraba raba Kahfi
"Heyy... Yang kau pegang itu aku Rian" ucap Kahfi
"A... Maaf" jawab Rian
Selang beberapa menit sensei Herman muncul bersama dengan Shiva
"Hallo semuanya.... Apakah kalian sudah berkumpul semua ?" tanya sensei Herman
"Seeeeepertinya sudah" jawab Aziz
"Hey sensei, boneka Shiva untuk apa berada disini ?" tanya Angga, kepada sensei Herman
"Ohh... Sepertinya kau sudah mengetahui nya yaa Angga" jawab sensei Herman
"Ya iya lah, aku akan seorang bangsawan juga dan aku mengenal keluarga Shiva" ucap Angga
"Jadi untuk latihan kali ini, Shiva akan membantu ku untuk menilai kekuatan kalian" jawab sensei Herman
"Jadi boneka ini milik Shiva ?" tanya ku, kepada Kahfi
"Sepertinya... Aku melupakan kalo Shiva juga merupakan seorang bangsawan karena terlalu fokus dengan mu tau !!!" jawab Kahfi
"A.... Maaf" ucap ku
"Kalau tidak salah, keluarga Ardilles mampu membuat bermacam macam boneka dari teknik sihir nya" ucap Kahfi
"Hey Shiva... Apakah kau mampu membuat boneka santet ?" teriak ku
"Woyy... Yang bener aja lah" ucap Kahfi
"Iyaa... Aku bisa membuat nya" jawab Shiva
"Woyy Shiva... Kenapa kau menanggapi nya" teriak Kahfi
"Hehehe" ketawa kecil dari Shiva, wajah nya begitu cantik sekali ketika ketawa
"Imut nyaaa...." ucap Angga
"Baik lah anak anak. Pelajaran kalian selanjutnya ada mengukur daya serang kalian" ucap sensei Herman
"Hmmmmm" ucap ku
Murid murid terlihat beberapa kebingungan, beberapa juga seperti sudah paham.
"Oke sensei akan kasih contoh ke kalian" ucap sensei, bergegas berdiri di depan boneka itu
Sensei Herman terlihat menarik nafasnya begitu dalam, dan seketika memukul boneka itu dengan tangan kanan nya.
"Gimana Shiva ?" tanya sensei, kepada Shiva
Seketika Shiva membuka mata nya.
"Daya serang 100%" jawab Shiva
"Hmmmmm" ucap ku, mendengar ucapan Shiva
"Jadi seperti itu anak anak" ucap sensei Herman
"Apa nya yang begitu" teriak para murid
"Hehehehe" tawa ku
"Kenapa malah kau yang tertawa" teriak para siswa, kepada ku
Sensei pun akhirnya mulai menjelaskan pelajaran.
"Pertama tama, kalian harus mengatur nafas kalian dengan baik. Semakin baik Kalian mengaturnya semakin baik pula jantung memompa darah kalian untuk mengalir ke tubuh" ucap sensei Herman
"Jadi begitu" ucap Kahfi
Sepertinya murid murid mulai sedikit paham apa yang dimaksud.
"Hmmmm... (Aku tidak paham, tapi yasudah lah. Bodo amat)" ucap ku
"Di awal tadi sensei sudah jelaskan. Saat pertarungan yang terpenting adalah konsentrasi dan atur pernafasan" ucap sensei Herman
"Hey Bagas, apa yang sedang kau lakukan ? mengapa kau menggoda Rian" ucap Kahfi, melihat ku sedang ngeledekin Rian
"Aku bosan" jawab ku
"Hey bocah bocah. Perhatikan lah, sensei sedang menjelaskan" ucap Angga
"Oke anak anak. Coba lah kalian berkosentrasi ke tangan kalian dahulu untuk menyerang boneka ini. Atur nafas kalian sebaik mungkin, lalu hempaskan dengan tinju kalian" ucap sensei Herman, menjelaskan
"Jadi siapa yang akan maju pertama ?" tanya sensei Herman, kepada murid murid
"Aku aku aku" ucap ku, melambaikan tangan
"Emang kau paham dengan apa yang sensei jelaskan ?" tanya Kahfi, kepada ku
"Tidak. Aku tidak paham sama sekali" jawab ku
"Dasar bocah bodoh" ucap Angga
"Lalu untuk apa yang maju ?" tanya Rian, kepada ku
"Karena aku suka menjadi yang pertama" jawab ku
"Baiklah. Silahkan maju Bagas" ucap sensei Herman, kepada ku
Aku bergegas maju kedepan.
Sesampainya di sana, aku mengeluarkan katana ku.
"Bocah bodoh itu" ucap Kahfi, menepuk jidatnya
"Sebenarnya bocah ini mau ngapain sii" ucap Angga
"Kita sedang tidak menggunakan senjata Bagas" ucap Sensei Herman, kepada ku
__ADS_1
"Jadi tidak menggunakan senjata ?" tanya ku, kepada sensei
"Tidak Bagas. Untuk permulaan pakai tinju mu terlebih dahulu. Atur nafas mu dan hempaskan" jawab sensei Herman
"Gak seru" ucap ku, memalingkan wajah
"Coba lah pukul boneka itu dengan tinju mu Bagas" ucap sensei Herman
"Baiklah" jawab ku
Aku mencoba meninju boneka ini. Tapi terhenti seketika. Karena dimata kiri ku, aku melihat seseorang lelaki meninju duluan boneka ini dan menghempaskan jauh boneka ini.
"Mengapa kau berhenti Bagas ?" teriak Kahfi, kepada ku
Dan betul saja seketika seseorang datang dan meninju boneka dengan keras, hingga terpental jauh bonekanya.
Terlihat beberapa murid panik melihat boneka itu terpental jauh dari arah ku.
"Heyyy, mengapa kau meninju boneka ku" ucap ke, kepada orang itu yang berada di samping ku
"Itulah cara datang yang keren" jawab orang itu
"Ohh Pian, lama tidak berjumpa" ucap sensei Herman, menghampiri Pian
"Hallo Herman, lama tidak bertemu. Sepertinya kau sudah nyaman dengan pekerjaan mu" jawab Pian
"Oh iya, aku akan memperkenalkan ke kalian. Orang ini bernama Pian (22), dia adalah kepala keamanan guild" ucap sensei, memperkenalkan orang yang menghempaskan boneka itu.
"Salam kenal semuanya" ucap Pian
"Salam kenal" jawab murid murid
Pandangan murid murid melihat kearah Pian, dan aku terabaikan.
"Untuk apa kau kemari ?" tanya sensei Herman
"Sebenarnya aku cuman mau mengasih tau informasi saja" jawab Pian
Aku melihat seseorang wanita mendobrak pintu masuk, dan dia menghampiri Pian.
"Kalian terus saja berdatangan, dan membuat ku tidak bisa meninju boneka ini. A.... Aku lupa boneka nya sudah rusak" ucap ku
"Berdatangan ?" tanya sensei Herman
Dooor (suara dobrakan pintu)
Tiba tiba saja seseorang wanita datang. Dia mendobrak pintu begitu keras, dan segera menghampiri Pian.
"Mengapa kau selalu saja meninggalkan ku si" ucap wanita itu, kepada Pian
"Siapa suruh jalan lambat" jawab Pian
Wanita itu terlihat mirip Shiva.
"Kakak, untuk apa kau kemari ?" tanya Shiva, kepada wanita itu
"Maaf ganggu latihan mu Shiva. Aku hanya ingin menyampaikan informasi kepada sensei Herman" jawab wanita itu
"Ehhh, jadi dia itu kakak nya Shiva"
"Pantas saja warna rambutnya mirip sekali"
Ucap beberapa murid, memandangi kakak nya Shiva
"Hallo semuanya" sapa wanita itu, kepada murid murid
"Hallo kakak cantik" jawab murid murid
"Namaku Safira (21). Aku adalah wakil kepala keamanan guild. Salam kenal" ucap Safira, memperkenalkan diri kepada murid murid
Sensei Herman terlihat sedang memikirkan sesuatu, dan mengabaikan kedatangan Safira.
"Ada apa sensei ?" tanya Shiva, mendekati sensei Herman
"Tidak. Aku hanya penasaran saja" jawab sensei Herman
"Heey Bagas. Bagaimana kau bisa tau, bahwa seseorang akan datang ?" tanya sensei, kepada ku
"Ehhh... Kemana Bagas ?" ucap sensei, melihat kedepan tempat yang tadi aku berada
"Bocah itu kesana, ketempat murid yang lain berada" jawab Safira
Aku menghampiri Kahfi, Rian, dan Angga.
"Menyebalkan sekali. Aku di ganggu" ucap ku, kepada mereka
"Aku mau nanya ke kamu Bagas" ucap Kahfi, kepada ku
"Hmmm ?" ucap ku
"Tadi itu kau sempat berhenti saat mau memukul boneka itu kan ?" tanya Kahfi
"Iyaa aku berhenti, karena aku tau orang itu akan memukul duluan" jawab ku
Panas dan sakit pada mata kiri ku. Itulah yang ku rasakan saat ini. Aku menjawab pertanyaan dari Kahfi sambil memegangi mata kiri ku.
"Jadi kau sudah mengetahui nya ?, bahwa orang itu akan memukul terlebih dahulu ?" tanya Angga, kepada ku
"Iyaa. Aku mengeta.....
Tiba tiba aku terjatuh pingsan di hadapan mereka.
"Oyyy, Apa yang terjadi Bagas ?" ucap Kahfi, segera menghampiri ku dan memegang badan ku
"Badan nya begitu panas sekali" ucap Kahfi, memegang badan ku
Seketika aku menjadi pusat perhatian murid murid.
"Hey sensei, sepertinya di sana terjadi sesuatu" ucap Shiva, menunjukkan arah kerumunan murid murid
"Lebih baik kita ke sana" jawab sensei Herman
Sensei Herman, Shiva, Safira, dan Pian, datang ketempat ku berada. Mereka segera mengecek keadaan ku, yang terbaring di pangkuan Kahfi
"Hey apa yang terjadi ?" tanya sensei Herman
"Bagas tiba tiba pingsan" jawab Angga
__ADS_1
"Panas sekali suhu tubuh nya". ucap sensei Herman, memegang badan ku
"Hey Safira, coba kau turunkan panas ini dengan sihir mu" ucap sensei Herman, kepada Safira
"Baik sensei" jawab Safira
"Di dunia yang penuh dengan kehangatan, akan hadir cinta di dalamnya. Teknik sihir : HEAL" Safira merapalkan sihir, kepada ku
Seketika tubuh ku di penuhi sihir dari Safira.
Safira terus menerus memberikan sihir nya kepada.
Namun sayang tidak terjadi apapun. Suhu tubuh ku masih begitu panas.
"Woy, mengapa tidak turun juga suhu badannya" ucap Pian, mengecek suhu tubuh ku
"Kyaaaa.... Darah" teriak salah satu siswi
"Maaaaata kiiiiiiri nya meeeeengeluarkan darah" ucap Aziz, melihat ku
"Woy woy woy, Safira" teriak Pian
Panik. Itulah yang di rasakan orang orang yang berada didalam ruangan ini.
"Heal.... Heal.... Heal...." Safira terus menerus memberikan sihir nya kepada ku
"Aku akan membawa nya" ucap Andre, tiba tiba muncul entah darimana, dan memegangi tubuh ku
Andre membawa ku, dan menghilang begitu saja di hadapan orang orang.
Beberapa menit sebelumnya
Aku Andre, masih berdiskusi dengan ayah ku di meja makan.
"Jadi kau akan memutuskan untuk sendiri dalam quest ini ?" tanya ayah ku
"Iyaa. Seandainya Bagas bisa ikut, maka aku akan bersama dengan nya" jawab ku
"Jadi kau akan pergi sekarang ? tanpa berpamitan dengan Bagas ?" tanya ayah ku
"Iyaa. Aku tidak berpamitan dengan nya, karena ku yakin aku dan dia akan berjumpa kembali" jawab ku
"(Ada apa ini, mengapa filling ku tidak enak)" ucap ku
Firasat ku mengatakan bahwa Bagas kenapa kenapa, dan aku segera bergegas ke sekolah.
"Hey kau mau kemana ?" ucap ayah ku
Aku mengabaikan ucap ayah, dan segera bergegas menuju ke sekolah.
"(Pliss Bagas jangan kenapa kenapa)" ucap ku, berlari di tengah kota
Firasat ku terus saja tidak begitu enak. Hati ini merasa khawatir terhadap Bagas.
Sesampainya di pagar sekolah, aku mencoba mencari aura Bagas melalui telepati.
"Ketemu" ucap ku
"Teknik sihir : Room" Aku membuat sebuah ruangan transparan berbentuk bulat sangat besar hingga mencakupi bangunan dimana bagas berada.
"Teknik sihir : Time Zero" Aku menghentikan waktu yang berada di ruangan yang aku buat tadi, dan bergegas pergi menuju tempat Bagas
Orang orang yang berada di sihir ku berhenti bergerak layaknya patung. Aku pun berlarian melewati nya.
"Untung saja pintu ini terbuka" ucap ku, berhenti di depan ruangan latihan
Ketika ku memasuki nya, terlihat begitu ramai sekali berkerumunan orang orang. Aku bergegas menghampiri nya, dan ternyata benar sekali dengan firasat ku, bahwa Bagas kenapa kenapa.
Aku melihat Bagas sedang pingsan, mata kirinya di penuhi darah.
"Teknik sihir : Time Normal" aku mengembalikan waktu seperti sedia kala, dan segera memegangi Bagas
"Aku akan membawa nya" ucap ku, ke mereka
"Teknik sihir : Time Zero" aku menghentikan nya lagi, dan bergegas pergi dari ruangan ini
Aku berlarian di lorong, mengendong Bagas yang sedang pingsan.
Sesampainya di pagar sekolah, aku membuat semua nya kembali normal.
"Teknik sihir : Time Normal" aku membuat mereka yang berada di ruangan ku, kembali normal lagi
"Teknik sihir : Room Lost" aku menghilang ruangan ku
Aku bergegas menuju rumah, dengan mengendong Bagas di badan ku.
"Hey Bagas, mulai besok aku akan menjalankan quest, mungkin untuk sementara aku tidak akan bersama mu. Tapi aku akan pulang dan bertemu dengan mu lagi" ucap ku, di tengah perjalanan pulang
Di ruangan latihan.
Aku Kahfi, sedang kebingungan karena Andre tiba tiba muncul dan pergi begitu saja.
"Apakah itu tadi Andre ?" ucap Angga
"Dia sangat cepat sekali" jawab Adit, kebingungan
"Aku tidak bisa melihat nya, tapi aku bisa merasakan auranya begitu besar" jawab Rian
"Auranya cukup besar sekali, tapi bercampur aduk dengan amarah, kesedihan, kegelisahan, ketakutan, dan kesenangan" jawab ku
"Hey sensei, apa orang itu adalah Andre, salah satu knight kelas 1 ?" tanya Pian, kepada sensei Herman
"Iya, dia adalah Andre" jawab sensei Herman
"Sesuai dengan rumor nya, bahwa dia sangat lah hebat. Tapi mengapa dia membawa orang itu ?"
"Entah lah, aku sendiri pun bingung" jawab sensei Herman
"Baiklah anak anak, kita lanjutkan latihannya" ucap sensei Herman
"Baik sensei"
Akhirnya kami pun memulai latihan kembali tanpa seorang Bagas.
Shiva terlihat sedang membuat boneka baru. Pian dan Safira terlihat sedang berbicara dengan sensei Herman.
"Sensei, boneka sudah siap" ucap Shiva
__ADS_1
"Terimakasih Shiva, dan maaf merepotkan mu. Jadi siapa yang akan maju terlebih dahulu ?" ucap sensei Herman