The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 5 : Dalam Bahaya part 4


__ADS_3

Minggu, 16 Agustus


Pukul 13.30


Nama ku Andre Apollon. Saat ini aku sedang menuju gedung Asosiasi Guild karena suatu panggilan oleh mereka.


"Cih... Ini merepotkan sekali."


Di tengah matahari yang terik, aku berjalan perlahan lahan tanpa menghiraukan satu orang pun yang melihat ke arah ku.


Aku tidak tau mengapa mereka memanggil ku untuk ke sana dengan keadaan panik. Tiba tiba Ayah menghampiri ku yang sedang asik membaca buku. Dia berkata "Hey nak, kamu di panggil untuk ke sana, kata nya ini penting. cepat lah bergegas !" Ini merepotkan sekali, menggangu waktu ku saja.


"Hahahahaha, kejar aku kalau bisa, Ibu."


"Awas nak !!!"


Duuk (Suara benturan)


Ah, ah... Celana ku basah karena bocah ini.


Ibu nya langsung menghampiri ku.


"Mohon maaf sebesar besarnya tuan."


Mereka berdua menyebalkan sekali. Aku abaikan saja dan langsung pergi dari sini, daripada meladeni mereka berdua.


"Kami mohon maaf sebesar besarnya tuan."


...**********...


Asosiasi Guild.


Aku membuka pintu masuk gedung Asosiasi Guild dan seketika melihat party nya Tiara sedang melihat lihat papan quest.


Mereka melihat ku saat aku berjalan menuju resepsionis.


Salah satu dari mereka menghampiri ku.


"Ano..."


Langkah kaki ku terhenti oleh nya.


"Terimakasih, waktu itu kau membantu kami."


Dia menunduk badan nya.


Lebih baik aku abaikan saja dan bergegas menuju resepsionis.


Sesampainya di resepsionis, aku mencoba menanyakan sesuatu.


"Ada apa ? Mengapa kalian memanggil ku ?"


Resepsionis ini melamun melihat ku.


"Ganteng nya..."


"Cih..."


Dia melamun terus saat melihat ku.


"Aku pergi saja."


Aku bergegas pergi namun salah satu resepsionis menghentikan ku.


"Tunggu !!!"


Aku menoleh kebelakang dan melihat resepsionis yang menghentikan ku. Dia seperti wanita dewasa berwajah cantik dan memiliki tubuh yang bagus.


"Nama mu Andre Apollon kan ?"


Sepertinya dia mengenali ku.


"Mohon tunggu sebentar di sini, karena saat ini ketua Asosiasi Guild sedang menuju kemari."


"Yaa."


Aku bergegas pergi keluar dari gedung ini menuju taman yang berada di dekat sini.


Taman ini sungguh sejuk di tengah matahari yang terik, mungkin karena di sini memang di isi banyak pohon jadi begitu sejuk.


Aku duduk di salah satu bangku yang di sediakan di taman ini.


Anak kecil berlarian kesana kemari tanpa memperdulikan dunia ini yang sedang dalam bahaya.


Angin berhembus di sekujur tubuh ku.


Aku melebarkan tangan dan melihat ke langit.


"Sekarang tanggal 16 Agustus yaa. Berarti hari ini ulang tahun Bagas, lebih baik aku memberikan sesuatu untuk dia."


Aku mengingat kembali saat ulang tahun Bagas kemarin, aku memberikan Bagas hadiah berupa buku. Dia langsung melempar keluar buku itu.


"Ini hadiah untuk mu, Bagas. Selamat ulang tahun"


"Ohh... kau mengingat ulang tahun ku, Andre. Tapi ngomong ngomong Apa ini ?"


"Buka saja !"


Bagas membuka kotak yang ku berikan.


Seketika dia kaget dengan isi di dalam nya.


"Jiiiii...."


"Gimana ?"


"Buang saja."


Bagas melempar nya keluar jendela. Seketika hati ku terasa sakit sekali saat dia melempar nya.

__ADS_1


Bagas terlihat kesal dan memarahi ku.


"Aku tidak mau hadiah ini, aku mau nya harta dari flying dutchman."


"(Itu mustahil !!!) Maaf aku hanya bisa memberikan mu ini. Itu buku favorit ku."


Aku terdiam sejenak dan merebahkan diri nya di atas kasur tempat tidur nya.


"Terimakasih Andre. Sebenarnya aku tidak butuh apa apa, karena saat ini aku sudah bahagia bisa terus hidup hingga sekarang."


Aku terdiam saat Bagas mengucapkan itu.


Bagas Melihat ku dengan posisi duduk di atas kasur nya.


"Nee... Gimana jika aku dalam bahaya suatu saat nanti ? Menurut mu apakah aku mampu melewati bahaya itu ? Atau mungkin aku akan kesusahan ?"


Aku berfikir sejenak.


"Kau pasti bisa melewati nya, karena kau adalah Bagas yang ku kenal."


"Xixixixixixi"


Bagas tersenyum melihat ku.


Aku masih mengingat senyum Bagas begitu tulus sekali.


"Aku mengetahui nya loh Bagas, saat itu kau mengambil kembali buku itu dan mulai membacanya. Orang ini benar benar aneh sekali."


Faktanya dia menghargai apa yang ku berikan kepada dia.


Aku melihat resepsionis yang tadi sedang menghampiri ku.


"Syukurlah kau di sini, ku pikir kau sudah pergi."


Resepsionis ini dengan santai nya duduk di samping ku. Ini menyebalkan sekali. Lebih baik aku abaikan saja.


Dia mulai berbicara sambil memandangi langit yang cerah.


"Apa kau tau ?"


Aku berusaha tidak menjawab nya. Karena sejujurnya aku tidak tau.


"Aku pernah bertemu seseorang 1 bulan kemarin, dia memberikan ku sebuah harapan dalam hidup ini. Orang itu bagaikan cahaya dalam hidup ku. Saat berbicara dengan nya terasa begitu nyaman, seakan akan aku melupakan apa yang sedang terjadi. Walaupun muka nya begitu polos sekali, hehehehe."


Resepsionis ini senyum sendiri sambil melihat langit. Sejujurnya aku tidak tau dia sedang membicarakan apa.


"Dengan wajah polosnya, orang itu menawarkan diri untuk melindungi ku, hahahahaha. Ini aneh sekali yaa, padahal kami berdua baru bertemu, tapi dia malah menawarkan diri untuk melindungi ku."


"Berarti orang itu percaya dengan mu."


Tanpa sadar aku mengucapkan kata kata itu.


"Haaa... Kau benar sekali, walaupun dia begitu polos tapi dia mampu membuat seseorang nyaman berada di dekat nya. Oh iya aku belum memperkenalkan diri."


Resepsionis ini melihat ku.


"Nama ku, Jessica. Salam kenal, Andre dari keluarga Apollon."


Angin berhembus kencang.


Jessica tiba tiba menangis mengeluarkan air mata nya.


"Padahal dia percaya dengan ku, tapi aku malah membahayakan dia. Saat ini dia dan teman teman nya dalam bahaya karena kesalahan ku sendiri."


Jessica menangis dengan tulus dari hati nya.


Aku tidak tau dia menangis untuk siapa.


"Nee... Maaf, gara gara ku, salah satu keluarga mu dalam bahaya."


Aku kaget ketika mendengar nya.


"Hey, apa maksud mu ?"


"Maaf..."


Jessica hanya bisa menangis.


Tiba tiba teman nya Jessica datang dan memberitahukan sesuatu.


"Ketua sudah datang."


Aku yang masih penasaran dengan ucapan nya, mencoba menanyakan nya lagi.


"Apa maksud mu ?!!!"


Jessica bergegas masuk ke gedung Asosiasi Guild bersama teman nya dan mengajak ku untuk masuk ke dalam.


"Kau akan tau di dalam."


Jessica mengusap air mata nya dengan kedua tangan nya.


Aku yang masih penasaran pun ikut masuk bersama nya.


Sesampainya dia ruangan rapat.


Di ruangan ini terdapat aku, Tiara, Jessica, Dwi, Sri, Amelia, dan ketua dan wakil Guild.


Saat aku masuk ke dalam bersama Jessica, tiba tiba ketua guild menghampiri Jessica.


Plaak (Suara tamparan)


Aku kaget melihat ketua guild ini menampar Jessica dengan keras hingga membuat pipi nya memerah.


"Hahahahahaha, emang pantas si dia di tampar, kalau bisa di bunuh saja sekalian."


Aku melihat seseorang yang tertawa, orang ini adalah wakil ketua guild.


Tiara menghampiri Jessica yang sedang memegangi pipi nya.

__ADS_1


"Hey, apa yang kalian lakukan !!!"


Tiara berusaha menenangkan Jessica.


Sejujurnya aku kurang begitu suka dengan cara mereka, apalagi atas ucapan wakil ketua guild itu kepada Jessica.


Saat ini Jessica hanya menundukkan kepalanya dengan wajah sedih, sedangkan Tiara mencoba merangkul nya.


"Apa kau baik baik saja ?"


Jessica tidak menjawab.


Tiara segera membawa Jessica untuk duduk dan menenangkan diri.


Aku yang hanya berdiri saja hanya dapat melihat mereka.


Ketua guild melihat ku dan berkata.


"Maaf mengganggu waktu mu. Perkenalkan aku adalah ketua Asosiasi Guild kota Pusat. Nama ku Faiz Delanggu."


Aku baru mengetahui nama orang ini, walaupun kami sering bertemu dan berpapasan satu sama lain.


Aku berfikir sejenak, mengapa keluarga dia di isolasi sedangkan dia dengan bebas berkeliaran, apa mungkin karena jabatan nya.


Aku bergegas menuju bangku dan duduk menjauh dari mereka.


Sejujurnya aku tidak tau apa yang sedang terjadi, begitu juga Tiara dan teman teman nya dari raut muka nya.


Faiz duduk di samping wakil ketua guild yang bernama Raihan Oedo dan mulai berbicara.


"Saat ini ada sekelompok party yang dalam bahaya karena kesalahan orang itu."


Arah pandangan Faiz menuju Jessica.


Faiz melanjutkan bicaranya.


"Dengan bodoh nya dia menerima quest dari orang luar yang keberadaannya jauh dari kota ini. Pihak Asosiasi Guild kota Selatan sudah mengkonfirmasi bahwa orang itu berbohong tentang quest."


Faiz menaruh kedua tangan nya di meja dengan tatapan tajam, aura nya begitu kuat.


"Dan dengan gampang nya, Jessica menerima quest itu tanpa menyelidiki nya. Saat ini quest itu sedang di jalankan 6 orang Knight kelas V. Apakah kalian tau mengapa aku memanggil kalian untuk kemari ?"


"Kami tidak tau."


"Aku tidak."


Amelia dan Dwi menjawab nya.


Aku berfikir sejenak atas ucapan Faiz soal 6 orang Knight kelas V.


*Note


Di sini Andre tidak mengetahui teman teman Bagas, karena Bagas sendiri tidak pernah membicarakan nya maupun mengasih tau nya.


Faiz melanjutkan bicaranya.


"Pihak Asosiasi Guild kota Selatan mengkonfirmasi bahwa tempat yang dituju mereka adalah Gua Qera yang dimana tempat itu merupakan sarang bagi Minotaur yang berjumlah banyak dan bukan sarang Slime."


*Note


Gua adalah sebuah lubang alami di tanah yang cukup besar dan dalam.


Tiara dan teman teman nya kaget ketika mendengar nya.


"Oy, yang benar saja lah !"


"Itu kan Monster kelas A"


"Mereka dalam bahaya, apalagi itu adalah sarang Monster Minotaur."


Aku mulai paham sekarang. Jadi sebenarnya itu merupakan quest bohongan saja yang tertulis Monster Slime tapi faktanya bukan Monster Slime melainkan Monster Minotaur.


"Jadi begitu."


Menurut ku pribadi ini lumayan berbahaya, apalagi mereka baru Knight kelas V saja.


Aku melihat ke arah Jessica, seketika aku teringat kembali pas dia bercerita di taman.


"(Jangan bilang Knight kelas V yang di ceritakan wanita itu. Pantas saja dia menangis.)"


Faiz melanjutkan bicaranya.


"Ini memang kesalahan kami, karena memberikan quest yang berbahaya untuk mereka. Karena itu, aku mohon kepada kalian untuk menyelamatkan mereka segera !!!"


Aku masih tidak mengetahui siapa saja yang menjalankan quest itu.


"Aku akan memberikan kalian quest untuk menyelamatkan mereka. Jessica, Tiara, Amelia, Dwi, Sri, dan Andre kalian harus bisa membawa Adit, Kahfi, Shiva, Angga, Rian, dan Bagas dalam keadaan selamat."


Deg


Deg


Deg (Suara jantung)


Jantung ku berdetak begitu cepat saat tau bahwa Bagas dalam bahaya.


"Jessica akan bertanggung jawa...."


Aku menendang meja dengan keras dan berdiri bergegas pergi.


Tiara juga kaget saat mendengar nya.


"Hey, kau mau kemana ?"


Faiz mencoba menghentikan ku.


"Diam !!!"


Aku memasang tatapan tajam ke Faiz.

__ADS_1


Aku membuka pintu dan bergegas pergi dari tempat ini.


Aku harus cepat menyelamatkan nya, kalau tidak... Aku akan kehilangan satu satunya teman berharga ku.


__ADS_2