Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 10


__ADS_3

“Kak, aku duluan ya!”


Mereka melihat kepergian Lashira dengan serius, entah kenapa tingkah gadis itu akhir-akhir ini menjadi aneh setelah liburan mereka waktu lalu. Bahkan Nobert pernah sekali memergoki gadis itu tengah mengumpat, yang mana bukan karakter gadis itu sama sekali.


“Dia jadi aneh gak sih?” ujar Chika yang pertama kali buka suara.


Nobert mengangguk setuju, sedangkan Leon dan Theo terdiam. Apa mungkin ada hubungannya? batin Theo. Pria itu masih saja kepikiran dengan pria yang mirip dengan Greyson waktu di puncak.


“Gak mungkin lah dia itu Greyson, dia kan ada di LA.. jadi ini gak mungkin ada hubungannya sama dia.” ucap Chika yang ternyata mengetahui isi kepala Theo. “Bener..” sahut Nobert.


“Lu kenapa diem aja?” tanya Theo pada Leon. Pria itu tersadar dari lamuanannya ketika tatapan Theo mengusiknya. “Apaan sih mata lo!”


“Mending lo ceritain kenapa lo akhir-akhir ini?” tanya Leon seraya tersenyum puas saat melihat wajah Theo yang memucat.


***


Lashira berlari kecil menuju sebuah mobil mewah yang sudah menunggu di depan kampusnya. “Kenapa lagi sih? Sekarang mana orangnya? Ngajak ketemuan tapi dianya gak ada?” Norbert menutup telinganya saat mendengar ocehan Lashira.


Dia mengerti kalau sikap Lashira yang seperti ini sengaja gadis itu lakukan untuk membuat Greyson segera melepaskan gadis itu, tapi menurutnya mau bagaimanapun tingkah gadis itu.. Greyson pasti tidak akan melepaskan gadis itu dengan mudah. Karena apa yang pria itu inginkan pasti akan dia dapatkan.


“Jadi.. apa kak Norbert punya saran untukku?”


Norbert tersenyum paksa seraya memalingkan pandangannya dari wajah gadis itu, “yang aku tahu dia tidak akan melepaskanmu dengan mudah.” Lashira menghembuskan napas kasar, “kalau itu juga aku tahu.”


“Lagipula kalian sudah tahu kan pelakunya bukan aku? Aku mendengarnya kemarin, kalian menemukan orang yang memakai identitasku itu kan?” Norbert tergagap, dia bingung akan menjawab apa. Jika dia salah berbicara maka tamat riwayatnya.


“Apa aku harus menjadi lebih menyebalkan lagi?” Norbert mengangguk saja karena bingung harus menjawab apa, lagipula dia tidak ingin ditebas oleh Greyson hanya karena salah menjawab. Dia mengutuk anak buahnya yang sudah memasang perekam suara di mobil ini.


Di rumah Greyson


“Aku bisa membukanya sendiri, kalau kak Norbert tidak menurutiku.. aku pastikan tidak hanya Grey yang kupersulit, tapi juga kakak.”

__ADS_1


Glek.


Baru kali ini dia merasa terintimidasi dengan seorang gadis, terlebih lagi gadis seperti Lashira.


Bukannya langsung masuk ke dalam, Lashira malah berjalan mondar-mandir di depan ruang kerja Greyson, dia bingung harus bersikap bagaimana kali ini supaya pria itu mau melepaskannya. “Ngapain?” Lashira langsung berhenti saat mendengar suara Greyson.


“Kamu yang ngapain? Kenapa masih memanggilku ke sini? Bukannya kamu udah tau orang yang memakai identitasku? Terus apa salahku sampai masih harus berurusan denganmu?” oceh gadis itu tanpa menyadari perubahan ekspresi wajah Greyson.


“Sebenci itukah?”


“Eh?” mata gadis itu membola saat melihat ekspresi wajah Greyson untuk pertama kali. Biasanya pria itu hanya akan berekspresi datar walaupun dia memaki-maki pria itu, tapi sekarang? Untuk pertama kalinya Greyson menunjukkan ekspresi sendunya pada gadis itu.


“Kenapa sama muka kamu? Kalau seperti itu aku kan jadi-”


“Gak tega kan?” seringai Greyson.


“Eh?” Lashira terdiam berusaha untuk mencerna, Greyson langsung masuk ke dalam ruangannya. Mata gadis itu membola ketika sadar Greyson sudah memperdayanya. Dengan penuh amarah gadis itu memasuki ruang kerja Greyson, namun kata-katanya kembali tertelan karena melihat Greyson yang sedang berganti pakaian.


“Aaaahhh!” teriak Lashira. Refleks ia melempar tasnya ke arah Greyson.


“Sa-salah sendiri kenapa ganti baju di sini?” Greyson tersenyum setan saat menyadari wajah Lashira yang sudah memerah. Dengan santainya pria itu duduk di sofa dengan tablet di tangannya.


Lashira mengerucutkan bibirnya kesal, menurutnya Greyson adalah pria yang paling menyebalkan di dunia ini. Setelah penculikan yang terjadi di puncak, pria itu kembali menculiknya hanya untuk melihat pria itu memainkan tabletnya dan hal itu terjadi lagi hari ini.


“Aku bersumpah akan menjadi orang yang paling menyebalkan jika berhadapan denganmu,” ujar Lashira yang memilih untuk tidak terus-menerus berteriak pada pria itu. Gadis itu dengan nyamannya duduk di samping Greyson seraya menaruh kakinya di pangkuan Greyson.


Pria itu nampaknya merasa tidak masalah, malah Greyson dengan telatennya melepas sepatu yang gadis itu pakai agar tidak mengotori pahanya. “Bukannya memang seperti itu, sikap menyebalkanmu itu hanya muncul ketika denganku.” balas Greyson santai.


“Itu karena kamu menyebalkan!” Lashira memukul Greyson dengan bantal sofa, membuat Greyson kembali melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


“Apa aku tidak mendapatkan bayaran?” Greyson menaruh tabletnya di atas nakas, lalu menatap gadis pujaannya itu dengan serius.

__ADS_1


***


Lashira terus memerhatikan ekspresi wajah Greyson, tidak ada perubahan pada wajah itu. Padahal baru berapa menit Lashira menginjakan kaki di tempat ini, dia sudah menghabiskan lebih dari tiga miliar rupiah. Namun Greyson tetap tenang dan tidak kehilangan kendalinya ataupun marah kepadanya.


“Masih ada yang mau dibeli lagi?”


“Hah?”


Bahkan pria itu rela membawakan seluruh belanjaannya, Lashira menatap Greyson dengan curiga. “Apa?” Lashira menggeleng kikuk, dia duduk di salah satu kursi dan memijit kakinya pelan. Dia memang tidak cocok menggunakan sepatu hak tinggi seperti ini, apalagi menghambur-hamburkan uang seperti ini. Entah kenapa dia merasa berat setiap mendengar nominal yang harus pria itu keluarkan untuknya.


Greyson tersenyum miring saat melihat ekspresi wajah Lashira yang terlihat lelah dan tidak nyaman itu, “masih sanggup mengurasku?” gadis itu mencebik kesal, dia salah strategi. Sebenarnya apa yang membuat pria itu menahannya? Apa pria itu menyukainya? Lashira menggeleng kencang, itu tidak mungkin. Lantas kenapa pria


itu tidak marah saat dia menghabiskan tiga miliar hanya dalam sekejap. Atau jangan-jangan pria itu akan menjualnya?


Tak!


Greyson menyentil dahi gadis itu pelan, tidak sakit.. tapi cukup untuk mengeluarkan gadis itu dari pikiran-pikiran anehnya. Lashira melotot galak pada Greyson, “kamu memukulku?” Greyson menaruh belanjaan Lashira di pangkuan gadis itu, “tunggu di sini..”


Greyson berjalan santai untuk mencari es krim untuk gadis itu, kalau tidak salah tadi dia melihatnya saat akan memasuki mall ini. Pria itu tersenyum tipis saat menemukannya, namun langkahnya terhenti saat ponselnya berdering.


“Kau dimana kep*r*t? Aku gak bawa dompet\, trus kamu malah ninggalin aku?” Greyson melihat jam tangannya sebentar. Padahal baru ditinggal sepuluh menit, pikirnya.


Mata Greyson membola saat mendengar suara sesegukan di seberang sana, “kamu nangis?”


“Balik cepet!”


“He-” telepon langsung terputus.


Dengan cepat Greyson membeli es krim tersebut dan berlari ke tempat dia meninggalkan Lashira. Namun ketika sampai sana ternyata gadis itu malah asik bercanda dengan pria lain. Greyson menyodorkan es krim itu tepat di depan wajah Lashira agar perhatian gadis itu tidak lagi tertuju pada pria itu.


“Bukannya kamu nangis tadi?” Lashira mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Greyson. “Kalau gitu aku duluan ya kak!” ucap pria itu yang diangguki oleh Lashira. Pria itu balik lagi, “sampai ketemu lagi di kampus kak!” Lashira sedikit terkejut namun tetap tersenyum. Greyson mendengus, “siapa?”

__ADS_1


“Eh itu, katanya sih adik tingkat di kampus..” jawab gadis itu kikuk. Greyson mengangkat belanjaan Lashira dan berjalan lebih dulu, Lashira pun mengekorinya dari belakang. Sampai di parkiran mereka berdua tidak berbicara sedikitpun, Lashira melirik Greyson yang sedang menyetir dengan takut-takut.


Greyson tahu jika gadis di sampingnya ini terus aja meliriknya dari tadi, “kenapa?” tanyanya seraya melihat gadis itu sesekali. “Dimana keberanian yang biasa kamu tunjukkan padaku?” Lashira mengepalkan tangannya gemas untuk menahan kekesalannya, bisa-bisanya tadi dia merasa terintimidasi oleh pria itu.


__ADS_2