
Brak!
Lashira langsung terbangun saat pintu kamarnya terbuka dengan sangat kencang. Dia mengumpat pelan saat melihat wajah datar Greyson di sana. “Ada apa?” tanyanya.
“Kau masih mengingatku?” tanya Greyson membuat Lashira yang baru bangun tidur mengernyitkan dahinya dalam-dalam karena tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan pria itu.
Lashira tetap bergeming di tempatnya saat Greyson mengambil langkah untuk mendekatinya. “Habis terbentur dimana kepalamu itu, Tuan Masson?” tanya Lashira yang tidak dihiraukan oleh Greyson sama sekali.
“Sejak kapan kamu mengingatku?” tanya Greyson lagi.
“Apaan sih, Grey?”
“Kapan?!” desak pria itu yang tanpa sadar malah membentak Lashira.
Kedua bola mata Lashira melebar, sungguh ia merasa sangat terkejut dan juga tidak terima karena tiba-tiba dibentak. “Kau! Keluar dari sini dan pesankan aku tiket untuk pulang sekarang juga!” teriak Lashira gantian.
“Jangan membuatku hilang kesabaran Ira, kamu tidak akan suka melihatnya.” Lashira menelan ludahnya susah payah mendengar suara deep Greyson. Baru kali ini rasanya Greyson kehilangan kesabaran padanya, padahal sebelumnya pria itu tidak akan sampai meledak seperti ini.
“Grey … kau membuatku takut,” cicit Lashira pelan.
Greyson mengusap wajahnya kasar, ia langsung tersadar ketika mendengar suara Lashira yang terdengar ketakutan. Dia ikut duduk di kasur berhadapan dengan Lashira. “Kamu … sejak kapan kamu ingat tentangku?”
“Tentang?”
“Dua tahun lalu, katanya kamu ditodong pistol oleh anak buahku dan kamu menyebutkan namaku….” Greyson menjeda ucapannya untuk mengetahui reaksi dari gadis itu.
“Aku bahkan tidak mengingatnya,” ujar Lashira.
Greyson menyipitkan matanya curiga. “Lalu kenapa aku?”
“Apanya?” tanya Lashira yang semakin tidak mengerti jalan pembicaraan Greyson.
“Kenapa kamu memintaku untuk membawamu? Kenapa tidak meminta bantuan teman-temanmu?” tanya Greyson panjang lebar. Lashira langsung meletakkan telapak tangannya di dahi Greyson, memastikan jika saat ini pria itu baik-baik saja.
“Gak panas kok,” gumam Lashira yang lansung mendapat pelototan tajam dari Greyson.
“Grey, kau tahu? Hari ini kamu terlalu cerewet,” sambung Lashira. Setelah mengatakan hal itu, Lashira langsung beranjak dari tempat tidur dan hendak membasuh wajahnya. Tapi dengan cepat Greyson menarik gadis itu ke atas pangkuannya.
Greyson memeluk bahu Lashira dari belakang, mungkin sekilas terlihat manis. Tapi yang sebenarnya sedang pria itu lakukan adalah mengintimidasi Lashira dan gadis itu sangat jelas merasakan aura intimidasi yang mengukungnya.
“Jangan alihkan pembicaraan, Lashira Ardiansyah…,” bisik Greyson membuat Lashira menelan ludah gugup. Tubuh Lashira berjengkit kaget saat merasakan napas Greyson yang menerpa telinganya.
Lashira langsung melepaskan diri dari Greyson, wajah gadis itu sudah berwarna merah seluruhnya. “Kau-”
__ADS_1
“Jawab. Kenapa?”
“Oke! Yang pertama dan paling penting kamu itu kaya dan untungnya wajahmu pun tampan … keluargaku juga tidak mengenalmu. Trus saat bersamamu aku bisa bebas melakukan apapun yang aku inginkan tanpa berpikir akibat yang akan terjadi bila aku melakukannya,” jelas Lashira panjang lebar.
“Aku tampan?” tanya Greyson. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah Lashira yang semakin memerah.
Lashira mencebik kesal. “Tidak. Sekarang gantian aku yang bertanya, kenapa aku lagi-lagi tidak bisa ikut?”
“Tidak? Jelas-jelas kamu mengatakannya tadi.” Greyson berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia kembali menarik Lashira ke atas pangkuannya dan melingkarkan tangannya dengan nyaman di pinggang Lashira.
Lashira terdiam, ekspresi wajahnya berubah serius. “Grey, kau tahu? Aku tidak sebodoh itu hingga tidak menyadari kalau kau sering mengalihkan pembicaraan yang penting seperti ini.”
“Kamu tidak perlu tahu itu, biar aku yang menyelesaikan semuanya untukmu.”
Lashira menggeleng tegas, dia memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah Greyson tanpa melepas tangan pria itu dari pinggangnya. “Aku tidak ingin seperti itu. Kau tahu Grey? Selama beberapa minggu aku bersamamu hidupku begitu nyaman, semuanya tersedia. Bahkan kau pun sering meluangkan waktu untukku padahal kau sendiri pasti sedang sibuk dengan pekerjaanmu….” Lashira berhenti sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.
“Aku jadi merasa tidak berguna-”
“Jika berbicara lagi, kupastikan bibirmu akan membengkak sampai besok,” potong Greyson. Lashira langsung dengan sigap menutup mulutnya rapat-rapat.
“Hari ini jangan pergi kemana-mana, besok kita pulang.”
“Lalu pestanya?” tanya Lashira.
Greyson memegang tangan Lashira yang menutup matanya lalu kemudian menciumnya, wajah gadis itu kembali memerah karena perlakuan manis Greyson.
“Kalau gitu aku harus membereskan barang-barang kita.” Lashira buru-buru melepaskan diri dari Greyson, jantungnya bisa dipastikan melompat keluar dari tempatnya jika ia tidak segera beranjak dari pangkuan pria itu.
“Grey!” Lashira refleks menjerit saat Greyson tiba-tiba menarik dirinya hingga terhempas di atas kasur.
“Tidur…,” ujar Greyson seraya memeluk Lashira.
“Tapi-”
“Aku yang akan menyiapkan semuanya, jadi sekarang kau ikut tidur bersamaku.” Lashira diam dalam pelukan Greyson, gadis itu tidak memungkiri bahwa pelukan Greyson membuatnya merasa hangat dan nyaman sekaligus.
Lashira mulai memejamkan matanya saat Greyson mengusap punggungnya dengan lembut. Setelah memastikan Lashira sudah terlelap, Greyson mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
Dia berniat untuk merokok di balkon agar tidak mengganggu tidur Lashira. Sudah lama ia tidak merokok seperti ini semenjak Lashira ikut dengannya, tapi masalah akhir-akhir ini membuatnya tidak bisa menahan hasratnya untuk menghisap benda yang mengandung zat nikotin itu.
Ponselnya berdering, dengan cepat Greyson mematikan rokoknya yang masih tersisa setengah itu. Dia berdecak saat melihat nama kontak Norbert di layar ponselnya.
“Grey, maaf mengganggu waktumu. Ada beberapa perjanjian yang harus segera kau tanda tangani dan aku juga memerlukan kepastianmu soal pesta tuan Cartez nanti malam.”
__ADS_1
“Ke tempatku sekarang, dan soal pesta … sampaikan maafku untuk tuan Cartez karena tidak bisa menghadiri pesta pertunangannya.” Setelah mengatakan hal itu, Greyson langsung memutuskan panggilannya dengan Norbert.
Dia menghembuskan napas panjang saat melihat Lashira yang masih terlelap di atas tempat tidur. Sambil menunggu kedatangan Norbert, Greyson memilih untuk membereskan barang-barangnya dan Lashira.
To, Norbert : Bawakan aku koper untuk barang-barangku dan Lashira
Jika bukan karena Lashira ia tidak akan mau repot-repot membereskan ini semua. Karena biasanya Norbert yang menyiapkan semuanya dan Greyson hanya tinggal terima beres tentang hal-hal remeh seperti ini.
“Grey…,” lirih Lashira dengan mata terpejam. Tangan gadis itu meraba-raba kasur, mencari keberadaan Greyson.
Greyson tersenyum kecil, dia menghampiri Lashira dan mencium puncak kepala gadis itu. “Aku di sini,” ujarnya seraya mengusap pipi Lashira dengan lembut.
Tangan Lashira mengalungi leher Greyson. Pria itu sampai sedikit kesusahan karena ia harus membungkuk, menyesuaikan dirinya agar tidak sampai jatuh dan menimpa gadis itu.
“Aku lapar tapi mataku sangat berat,” ujar Lashira dengan suara serak khas bangun tidur.
“Kalau begitu cuci muka, aku akan meminta Norbert membawakan makanan.”
Lashira menggeleng pelan. “Malas…,” lirihnya.
“Grey!” Lashira refleks memekik saat Greyson tiba-tiba mengangkatnya dan menggendongnya seperti koala. Ia refleks langsung memeluk leher pria itu karena takut terjatuh.
“Matamu masih terasa berat?” goda Greyson.
“Kau menyebalkan!”
Tok! Tok!
Keduanya saling pandang saat mendengar pintu kamar diketuk. “Kak Norbert sudah datang? Lalu bagaimana dengan makananku?” Greyson tidak menjawab pertanyaan Lashira.
Greyson mendudukan Lashira di sofa. “Kamu di sini dan jangan kemana-mana!” Lashira hanya mengangguk patuh mendengar perintah pria itu.
Lashira menyusun bantal sofa dan memilih untuk menunggu Greyson sambil berbaring di sana. Matanya tak lepas dari punggung Greyson yang mulai menjauh ke arah pintu.
“Halo!”
Lashira mendongak untuk melihat siapa yang datang. Namun belum sempat melihat wajahnya, Greyson sudah lebih dulu menutup pintu kamarnya. Gadis itu merengut kesal saat perutnya sudah berbunyi, berteriak minta diisi.
Di sisi lain
Severin tersenyum miring saat mendapati ekspresi kesal Greyson. “Sepertinya tidak berjalan dengan lancar?”
“Katanya ia bahkan tidak mengingatnya.”
__ADS_1
“Ini tidak benar, jelas-jelas dia menyebutkan namamu saat itu. Kau yakin jika gadismu tidak berbohong?” Severin lagi-lagi tersenyum miring saat melihat keraguan di wajah Greyson.