
Greyson kembali ke ruangannya setelah menghadiri rapat, dia menghembuskan napas panjang saat melihat Lashira yang tertidur meringkuk di sofa.
“Heung…”
Greyson langsung mendekat saat melihat ekspresi wajah Lashira yang berubah gelisah. Apa dia mimpi buruk? Pikir Greyson saat mendapati dahi dan leher Lashira yang basah karena keringat.
“Sh*t! badannya panas,” umpat Greyson saat menyentuh dahi Lashira dengan telapak tangannya.
Dengan cepat Greyson berjalan menuju meja kerjanya dan menekan tombol intercom yang akan menghubungkannya dengan Norbert. “Siapkan mobil, aku harus ke rumah sakit sekarang.”
“Siapa yang sakit? Lashira?”
“Jangan banyak bertanya dan jalankan saja perintahku!” tanpa sadar Greyson meninggikan suaranya hingga Lashira terbangun dari tidurnya.
Begitu membuka mata, Lashira langsung merasakan pusing di kepalanya. Dahinya mengerut dalam berusaha untuk menahannya. “Grey, kau di sini?” lirihnya membuat Greyson langsung menghampirinya.
“Kamu bisa bangun? Atau mau kugendong saja?” tanya Greyson terdengar begitu khawatir.
“Hah?”
“Dimana Norbert … kenapa menyiapkan mobil bisa selama ini?” gumam Greyson kesal. Dia mengalungkan kedua tangan Lashira di lehernya, berniat untuk menggendong Lashira ala bridal style.
“Kita mau kemana, Grey? Kepalaku pusing … di sini saja ya,” pinta Lashira.
Greyson menggeleng tegas. “Justru itu kita harus ke rumah sakit sekarang,” ujarnya yang langsung mengangkat tubuh Lashira dalam gendongannya.
“Grey, aku hanya kurang tidur … kalau pekerjaanmu sudah selesai, temani aku tidur saja. Aku tidak ingin ke rumah sakit, Grey. Kita tetap di sini saja ya?” pinta Lashira memelas. Akhirnya Greyson pun hanya bisa mengangguk pasrah.
Dia membawa Lashira ke ruangan pribadi yang biasa ia pakai untuk istirahat. Dengan hati-hati ia meletakkan tubuh Lashira di atas kasur dan mencium keningnya sebelum pergi menemui Norbert.
“Oh Grey, aku lupa memberitahumu … mo-”
“Carikan aku plester dan obat penurun panas. Satu lagi, belikan aku air perasan lemon dan makanan.” Greyson langsung memotong perkataan Norbert.
“Kau tidak jadi membawanya ke rumah sakit?” tanya Norbert.
Greyson menggeleng. “Dia tidak mau dan ingin tidur saja. Cepatlah.”
Norbert mengangguk patuh lalu segera bergegas pergi, dalam hati ia mengumpat karena Lashira benar-benar jatuh sakit seperti apa yang ia khawatirkan semalam. Say hello to tumpukan kertas dan kawan-kawannya, Buddy. Batinnya.
Greyson merebahkan dirinya di samping Lashira dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Grey, hidungku tersumbat … rasanya susah sekali bernapas,” keluh Lashira masih dengan mata terpejam.
“Aku sudah menyuruh Norbert untuk membelikan obat untukmu.” Greyson langsung mengirimkan pesan pada Norbert kalau Lashira juga sepertinya flu.
__ADS_1
“Mau kupindahkan penyakitmu?” tanya Greyson yang langsung mendapat gelengan kepala dari Lashira.
“Jangan macam-macam Grey, aku tau maksudmu. Kalau kau juga sakit, kasihan kak Norbert.”
“Tidak apa-apa, dia memang terlatih untuk itu.”
Lashira semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan Greyson. “Diam Grey, suaramu membuatku semakin pusing…,” ujar Lashira sangat lirih hingga terdengar seperti bisikan.
***
Chika membaca ulang catatan mata kuliahnya hari ini di ruangan yang sudah menjadi markasnya dan teman-temannya itu. Dia tidak mengharapkan kedatangan teman-temannya namun diamnya ia di sini bukan berarti tidak memiliki maksud dan tujuan tertentu.
Cukup lama Chika bertahan di sana, Nobert datang dengan Leon di sampingnya. “Hai! Kalian pada ngapain sih dari kemaren kayanya pada sibuk banget?” sapa Chika pada keduanya.
“Gue sempet ke London buat nyusul Ira, dia sehat dan … dia nitip salam buat kalian semua, katanya maaf dan makasih buat semuanya.” Leon menjelaskan semuanya dengan wajah datar, dia tahu pasti Chika sudah mengetahui itu semua dari anak buahnya dan Leon tak ingin menambah masalah dengan menyembunyikan hal seperti itu.
Chika sempat terdiam sebentar namun dia tersenyum tipis seraya berkata, “sayang banget ya….”
“Apa?” tanya Nobert malas saat Chika beralih menatapnya dengan serius.
“Gue cuma memastikan sesuatu, nyari sepupu gue sebenernya. Lo tau sendiri keadaan om gue kaya
gimana,” jelas Nobert.
“Gue tinggal mastiin doang kok, tapi gue yakin banget kalau feeling gue tuh bener.”
“Theo gimana?” tanya Chika pada keduanya.
Leon dan Nobert saling pandang karena baru sadar kalau mereka sudah tidak mendengar kabar Theo setelah mendengar masalah perusahaan pria itu. Chika menghembuskan napas panjang sebelum berbicara, “makanya … kalian tuh kenapa sih?”
Nobert mengangkat sebelah alisnya bingung. “Kenapa apanya? Yang ada juga elo … padahal biasanya lo yang paling berkoar-koar kalau salah satu dari kita ada yang gak ada kabar, tapi lo diem aja waktu Lashira hilang kontak gitu aja.”
Chika tersenyum smirk. “Bukan gue doang kali,” ujarnya seraya melirik ke arah Leon.
“Halah udah! Yang ada malah ribut nanti, trus gimana itu Lashira?” ujar Chika lagi.
“Dia baik, malah keliatan lebih nyaman sama dirinya sendiri dibanding sebelumnya. Dia juga kayanya mulai terbiasa sama kontak fisik.” Leon tersenyum kecil saat mengingat Lashira yang sempat mendorongnya untuk bersembunyi.
“Terus masalah Theo?”
“Kalian jangan ikut campur, masalah ini urusan keluarga gua sama Greyson.” Mereka bertiga menoleh ke arah pintu, di sana ada Theo yang tumben-tumbenan mengenakan setelan formal ke kampus.
Theo berjalan mendekat ke arah mereka dan duduk di sebelah Leon. “Ini baru awal, dia baru ngasih peringatan ke gue sama bokap,” lanjutnya.
__ADS_1
“Terus sekarang gimana?” tanya Leon.
“Untungnya bokap masih bisa atasin, gak tau kalau ke depannya … kalian tau sendiri Greyson segila apa,” balas Theo yang sebenarnya malas membahas hal ini.
Drrt! Drrt!
Nobert mengangkat telapak tangannya saat melihat telepon masuk. “Ya, mah?” jawabnya.
…
“Apa? Terus keadaan om sekarang gimana?” Melihat Nobert yang berubah cemas, mereka jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
…
“Oke mah, kalau gitu No tutup telponnya ya….”
Nobert menghembuskan napas kasar. “Yon, kayanya kita harus ngomong sama Ira secepatnya deh.”
“Tapi bukti yang bikin dia percaya apa? Dia keluar dari rumah keluarga lo juga masih kecil banget, gue gak yakin kalo dia inget…,” ujar Leon.
Chika tersenyum bingung pada keduanya. “Ini maksudnya gimana ya guys, sebenernya ada apa sih?” tanyanya yang juga mewakili kebingungan Theo.
“Lashira itu ternyata bener adek sepupunya Nobert, gue udah mastiin itu semua.”
“Gimana-gimana? Lashira adek sepupu lo? Bukannya anak om lu cuma Hugo?” tanya Chika yang makin kebingungan.
Sedangkan Theo mulai mengerti karena memang ia sedikit tahu tentang permasalahan keluarga Nobert dari sang ayah. “Jadi dia adek sepupu lo? Terus sekarang lo mau apa?” tanya Theo tampak tenang, sangat berbanding terbalik dengan Chika.
“Nanti gue jelasin lagi, yang jelas sekarang … kita harus ketemu sama Ira dan ngasih tau dia tentang keadaan om gue sekarang. Karena cuma dia yang bisa bangkitin semangat hidup om gue lagi,” jelas Nobert.
“Tapi, gimana sama oma opah lo?-”
“Mereka gak bakal neko-neko. Lo tau sendiri kan kalau Hugo belum bisa donorin ginjalnya buat om gue, tapi kalau Ira-”
Bugh!
Nobert tidak sempat menghindar karena pukulan yang dilayangkan Theo sangat cepat. Ujung bibirnya langsung berdarah karena satu pukulan, bisa dibayangkan seberapa keras pukulan yang ia terima dari Theo.
“Theo! Lo kenapa sih?!” bentak Chika tidak terima, dia langsung menarik Theo menjauh dari Nobert.
“Lo! Lo sama brengseknya sama keluarga lo! Kalau gue jadi Ira, gua gak akan pernah ngerelain ginjal gua buat dikasih ke orang yang bahkan udah ngebuang gua sama emak gue!” teriak Theo sangat marah.
“Jangan sekali-sekalinya lo nongolin muka lo di depan dia, sebelum Greyson yang ngabisin lo … gue yang bakal maju!” lanjutnya yang langsung meninggalkan ruangan ini.
__ADS_1
Leon yang dari tadi hanya diam pun beranjak dari duduknya seraya menghembuskan napas panjang. “Lo bener-bener bikin gue kecewa bro…,” desisnya sebelum meninggalkan ruangan ini juga.