
Pukul tiga dini hari, Lashira dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja ikut berbaring di belakangnya. Padahal ia baru saja tertidur setelah menemukan cara efektif yang bisa membuatnya tertidur nyenyak.
“Kamu sangat merindukanku sampai-sampai mengenakan kemejaku saat tertidur?” bisikan itu tepat berada di telinga Lashira. Membuat Lashira tersadar dan seketika membuka matanya lebar-lebar.
“Greyson?” gumamnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Lashira menggeleng pelan. Ia pasti mengkhayal gulingnya berubah menjadi Greyson karena terlalu merindukan pria itu, pikirnya. Tapi semua itu terbantahkan saat ia merasakan sepasang lengan yang menyelinap melingkari pinggangnya.
Cups!
Greyson mengecup kening Lashira singkat. Karena Lashira malah terdiam sambil memandanginya, Greyson langsung menciumi seluruh wajah Lashira gemas. “Aku pulang,” ujar Greyson dengan suara raspy-nya.
Kedua mata Lashira mengedip-ngedip lucu setelahnya. “Ya sudahlah, mungkin nyawamu tertinggal di suatu tempat. Sekarang tidurlah lagi, maaf aku membangunkanmu.” Greyson menarik Lashira kembali dalam dekapannya.
“Syukurlah,” lirih Lashira sebelum memejamkan matanya kembali tertidur.
Paginya..
Lashira bangun lebih dulu daripada Greyson, gadis itu tersenyum senang saat melihat wajah Greyson ketika ia membuka matanya. Jari telunjuknya terangkat menyentuh ujung hidung Greyson yang mancung dengan sangat hati-hati.
Setelah itu ia tersenyum puas dan berniat untuk mencuri ciuman di bibir Greyson tanpa sepengetahuan pria itu. Tapi baru saja ia mendekatkan wajahnya, Greyson sudah membuka matanya seraya tersenyum smirk.
“Berniat mencuri sebuah ciuman, Nyonya Masson?” tanya Greyson dengan suara raspy-nya. Lashira merona hebat karena merasa sangat malu.
Greyson kembali memejamkan matanya seraya tersenyum kecil. “Kalau begitu baiklah. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menciumku sepuas hatimu, tapi kalau kau tidak menciumku maka aku yang akan menciummu. Kau tau kan apa yang akan terjadi kalau aku yang berinisiatif untuk menciummu?” ujar Greyson penuh tipu muslihat. Pilihan apapun yang Lashira pilih akan sama-sama menguntungkan Greyson.
“Apa-apaan itu Grey, semuanya sangat menguntungkan untukmu dan sangat merugikan diriku.”
“Merugikan gimana? Kamu menikmatinya,” ujar Greyson.
__ADS_1
Lashira menjauh dari tubuh Greyson, dengan cepat ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan kabur ke walk in closet. Greyson terkekeh pelan melihatnya, dia kembali memejamkan matanya karena masih mengantuk.
Saat ini sudah jam sepuluh, Lashira yang sudah selesai mandi pun bersiap turun ke bawah untuk membuat makanan. Namun lagi-lagi para pelayan tidak mengizinkannya menyentuh peralatan dapur.
“Kalau Nyonya ingin sesuatu perintahkan kami saja,” ujar salah satu pelayan mencegah Lashira mendekati kompor.
“Kamu berani melarangku?” ancam Lashira tidak sungguhan. Pelayan itu menunduk segan, dia tidak mungkin berani tapi ia juga tidak berani untuk mengabaikan perintah Severin. Dia dan teman-temannya bisa menghilang tanpa jejak jika berani mengabaikan perkataan Severin.
Lashira menghembuskan napas kasar, sebenarnya Lashira tidak ingin bersikap seperti ini tapi kalau para pelayan masih kekeh untuk melarangnya ia tidak akan terima begitu saja. “Greyson tidak akan memarahi kalian, aku akan menjamin hal itu.” Dengan takut-takut, para pelayan itu saling melirik satu sama lain.
“Oh ayolah … ini hanya sebentar dan aku tidak akan memberitahu siapapun.”
Marie yang merupakan kepala pelayan di sini pun hanya bisa mengangguk pasrah karena Lashira terus memaksa. Beberapa pelayan pun pergi untuk mengerjakan tugas yang lain, hanya ada Marie yang ada di sana untuk membantu Lashira.
“Pergilah Marie, aku bisa melakukan semua ini sendiri. Lebih baik kamu membantuku untuk merapikan buku-bukuku yang ada di ruang kerja Grey, sebelum Greyson tahu kalau ruang kerjanya berubah menjadi kapal pecah karena aku.” Marie mengangguk patuh dan saat berbalik ia terkejut melihat Greyson yang bersandar santai di kulkas.
Sedangkan Lashira, ia membuka-buka lemari penyimpanan bahan makanan untuk mencari garam. “Dimana sih mereka menaruh garamnya?” tanya Lashira pada diri sendiri. Greyson tersenyum tipis melihat Lashira yang begitu cerewet saat kebingungan mencari bahan-bahan.
“Kamu membutuhkan sesuatu, Nyonya Masson?” tanya Greyson seraya memberatkan suaranya.
Lashira mengernyit bingung karena merasa familiar dengan suara itu. “Ya, aku mencari garam dan aku tidak bisa menemukannya. Mereka memang benar-benar berniat menjauhkanku dari urusan dapur dan pekerjaan lainnya.”
Greyson berjalan mendekat lalu memeluk Lashira dari belakang. Gadis itu sampai terperanjat dan hampir memukul kepala Greyson karena mengira pria itu adalah orang lain. “Kau menyebalkan! Harusnya aku benar-benar memukulmu tadi!” kesal Lashira seraya melepas pelukan Greyson.
“Kamu membutuhkan garam?”
“Ya. Kau tau kalau kau sangat berlebihan Grey? Mereka sama sekali tidak mengizinkanku menyentuh peralatan dapur ataupun pekerjaan lainnya. Lama-lama anggota tubuhku menjadi busuk karena tidak pernah terpakai untuk bekerja.”
“Maka biarkan membusuk,” bisik Greyson seraya mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
Kedua mata Lashira membola saat bibir Greyson menyentuh bibirnya, tubuhnya langsung membeku tidak bisa bergerak sama sekali.
“Pindahlah ke kamar dan jangan mengotori dapur dengan kelakuan kalian,” ujar Severin yang baru sampai ke mansion dan hendak mengambil sekaleng bir di kulkas namun malah mendapati adegan tidak senonoh secara live.
Lashira terkejut tentu saja, namun Greyson tidak berniat melepaskan bibirnya sama sekali. Bahkan pria itu malah semakin memperdalam ciumannya. Karena malu, Lashira menggigit bibir Greyson sekuat tenaga sambil memejamkan matanya agar Greyson menyudahi ciumannya.
“Wow!” Severin sempat berdecak kagum melihatnya tapi cepat-cepat langsung pergi dari sana karena tidak ingin menjadi sasaran amukan Greyson setelah ini.
Lashira merasa sangat bersalah karena sempat melihat darah di bibir Greyson. Saat ini pria itu masih meringis kesakitan dengan posisi jongkok. “Grey, sorry banget…,” lirih Lashira yang ikut berjongkok untuk melihat keadaan bibir Greyson.
Greyson langsung bangkit seraya memalingkan wajahnya dari Lashira. “Gapapa, kamu lanjut aja masaknya.”
“Tapi Grey….”
Greyson langsung pergi dari sana meninggalkan Lashira yang resah karena merasa sangat bersalah. Wajah merah meronanya berubah pucat pasi karena teringat dengan perkataan Severin yang semalam.
Lashira melepas celemek yang ada di tubuhnya dan pergi menyusul Greyson yang kemungkinan saat ini ada di ruang kerjanya. Ia sempat berpapasan dengan Marie dan meminta wanita itu untuk membuat makanan untuknya dan Greyson karena ia tidak jadi memasak sendiri.
Lashira mengetuk pintu dan dia menyembulkan kepalanya di sela-sela pintu sebelum masuk ke dalam. “Grey, kamu marah padaku?” tanya Lashira seraya mendekat ke arah Greyson takut-takut.
“Tidak,” balas Greyson cepat.
“Kalau gitu, maaf kalau aku mengganggumu, Grey.” Lashira melirik ke arah laptop kerja Greyson dan sepertinya Greyson sedang tidak bisa diganggu saat ini. Matanya sempat menangkap luka yang ada di bibir bawah pria itu sebelum berbalik.
“Bisa aku bicara sekarang? J*l*ngmu itu membuat keributan di sini karena ingin menemuimu. Makanya-”
Perkataan Norbert terhenti saat mendapat pelototan dari Greyson, mengisyaratkan bahwa Lashira masih ada di ruangan ini dengan gerakan tangannya. Lashira yang mendengar itu semua berbalik menghadap Greyson.
Greyson dengan cepat menutup layar laptopnya saat Lashira berjalan mendekat. “Tadinya aku ke sini ingin meminta maaf sama kamu karena sudah menggigitmu tadi\, tapi apa yang barusan ku dengar? Kamu masih menemui j*l*ngmu?”
__ADS_1