Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 28


__ADS_3

Lashira turun ke bawah hendak ke dapur untuk mengisi teko air yang ada di kamarnya. Namun ia mengurungkan niatnya saat melihat Severin dan Norbert yang sedang berbincang serius di dapur.


“Apa orang tua itu sudah tau kalau Greyson tidak turun tangan akhir-akhir ini?” tanya Norbert yang langsung mendapat gelengan dari Severin.


Severin menenggak bir yang ada di tangannya sebelum berbicara, “aku tidak akan stay di sini kalau si tua bangka itu tau.” Norbert mengangguk membenarkan perkataan Severin.


“Tapi apa ini tidak akan menimbulkan masalah? Kau tau kan kalau tua bangka itu selalu bersikeras membuat Greyson untuk menggantikannya?”


“Tentu saja dia tidak akan diam saja, kita tinggal tunggu bom tua itu meledak saja.” Severin mengatakan hal itu seraya menyeringai, Norbert yang melihat itu hanya bergidik ngeri.


Lashira terkesiap saat Severin menoleh dan melihat ke arahnya seraya tersenyum miring. “Setelah mendengar semuanya, apa kau tidak merasa bersalah? Greyson bisa saja terkena masalah karena akhir-akhir ini tidak melakukan kewajibannya sebagai salah satu penguasa bawah tanah.”


Norbert ikut menoleh ke arah Lashira, dia hanya diam dan memperhatikan setiap detail reaksi yang ditunjukkan oleh gadis itu.


“Pe-penguasa ba-bawah tanah? Maksudnya?” tanya Lashira tergagap.


Severin berdecak kesal mendengarnya. “Kau tahu apa maksudku, Lashira Ardiansyah….”


***


Greyson tengah bersiap untuk pergi ke kantor, hari ini ia ada rapat dengan para petinggi perusahaannya yang tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. Lashira yang dari tadi sudah bangun pun hanya diam memperhatikan gerak-gerik Greyson.


“Grey, boleh aku minta sesuatu?”


“Katakan.”


Lashira turun dari tempat tidur dan mengambil alih dasi yang hendak Greyson pakai hari ini. “Aku ingin melihat keadaan ayahku sebentar dari jauh, aku rindu padanya.” Lashira mengatakan hal itu sambil berusaha memakaikan dasi di kerah kemeja Greyson.


“Hari ini?” tanya Greyson yang langsung mendapat anggukan mantap dari Lashira.


“Kamu bisa menyuruh anak buahmu untuk menjagaku kalau kamu merasa khawatir, boleh ya?” pinta Lashira dengan mata bersinar-sinar seperti anak anjing.


Greyson hanya bisa mengangguk pasrah, dia mencium puncak kepala Lashira sebelum keluar kamar.


Di depan kamar Norbert sudah menunggu Greyson dengan Severin di sebelahnya. “Severin, perintahkan seseorang untuk menjaga Lashira di luar hari ini. Dan lihat persediaan senjata kita, periksa semuanya karena kita harus bertransaksi malam ini.” Severin hanya tersenyum mendengar perintah Greyson.


Greyson mendekat ke arah Severin. “Oh iya, ingat ini baik-baik. Jangan bawa-bawa Lashira ke dalam urusan bawah tanah, apapun bentuknya. Apalagi semalam kau-” Greyson berhenti berbicara dan langsung menendang kaki Severin hingga jatuh terduduk.


Bruk!


Severin hanya tersenyum konyol menahan tawanya, toh memang sebenarnya dia patut mendapatkannya. Justru akan lebih aneh lagi jika Greyson tidak melakukan apapun padanya setelah perbuatannya semalam.

__ADS_1


“Sinting!” desis Norbert karena Severin malah terlihat senang alih-alih meringis kesakitan.


Greyson melirik sekilas ke arah Norbert. “Ku harap kalian mendengar peringatanku ini dengan baik,” tegasnya.


“Lashira meminta izinmu untuk keluar? Ingin melihat kondisi ayahnya?”


Greyson yang tadinya sudah bersiap untuk turun dan segera berangkat jadi berbalik lagi karena mendengar ocehan Severin yang tepat sasaran. Sedangkan Norbert hanya bisa menggeram dalam hati karena waktu pertemuan rapat semakin dekat.


“Kau yakin tidak ingin mengetahui alasannya?” pancing Severin.


Setidaknya jangan di saat-saat penting seperti ini, keparat! Batin Norbert kesal.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka, ketiganya menoleh ke arah Lashira yang terpaku di sana. “Kamu masih belum berangkat Grey? Kupikir kamu sudah berangkat karena tadi terlihat terburu-buru,” ujar Lashira.


“Kamu mau kemana?” tanya Greyson saat melihat penampilan Lashira yang mengenakan hoodie dan celana panjang.


“Ke kampus, aku ingin menemui Clarissa sebelum melihat keadaan ayah sekaligus cabut berkas.” Lashira menunduk untuk mengecek penampilannya sekali lagi.


“Kalau gitu bareng aja,” ujar Greyson.


“Tapi kamu bisa terlambat Grey, tambang emasku bisa berkurang jika seperti itu.” Greyson mengernyit tidak suka mendengar penolakan Lashira.


“Aku tidak akan bangkrut jika hanya melewatkan satu pertemuan-”


“Oh God! Kamu kembali menjadi Greyson yang menyebalkan. Ayolah Grey, kamu sudah terlambat sekarang! Oke aku ikut denganmu ke kantor!” potong Lashira kesal. Dia menarik tangan Greyson untuk segera bergegas.


Sepanjang perjalanan ke kantor, suasana di mobil begitu hening. Lashira pun lebih memilih fokus melihat ke arah jalan untuk menghafal rutenya. Di sebelahnya, Greyson fokus dengan tab-nya seperti biasa.


Begitu sampai di depan gedung, Greyson dengan mudahnya menarik Lashira mendekat padanya. “Kamu masih marah?” tanyanya seraya mencium dahi gadis itu.


“Tidak, sana masuk. Aku akan langsung ke sini lagi setelah urusanku selesai.” Lashira mendorong Greyson untuk menjauh darinya meskipun itu sia-sia.


“Grey!” jerit Lashira kesal karena Greyson tak kunjung turun dari mobil.


“Setelah urusanmu selesai, langsung ke sini.” Setelah mengatakan hal itu Greyson melepaskannya dan keluar dari mobil. Lashira menghembuskan napas lega namun sedikit resah karena melihat ekspresi wajah


kesal Greyson tadi.


Lashira tersenyum tipis pada Norbert sebelum menaikkan kembali kaca mobilnya. “Jalan pak,” ujar Lashira pada supir Greyson.

__ADS_1


Saat sampai di kampus, Lashira langsung mencari dosen PA yang sebelumnya sudah ia kontak lewat e-mail. Ternyata prosesnya lumayan lama karena ia juga harus mengisi beberapa formulir.


Dosennya pun menyarankan dirinya untuk tidak berhenti kuliah mengingat nilai-nilainya selama ini. Tapi Lashira tetap pada keputusannya untuk berhenti sampai di sini saja.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan segala hal, ia menunggu Clarissa di kantin jurusan gadis itu. Cukup lama ia menunggu karena memang sebelumnya ia tidak memberitahu atau mengabari Clarissa sebelumnya, tapi akhirnya gadis itu muncul dengan teman-temannya.


“Ira?!” Clarissa terkejut bukan main saat melihat kedatangan Lashira yang penampilannya sangat berbeda dari biasanya.


Beberapa teman Clarissa berbisik-bisik menanyakan Lashira. Clarissa langsung pamit pada teman-temannya dan berlari mengejar Lashira yang sudah akan pergi dari sana.


“Ra! Lo kemana aja baru balik? Bonyok khawatir banget sama lo, ayah sampe masuk rumah sakit gara-gara lo gak balik.”


Lashira tersenyum kecil. “Bonyok khawatir? Aku gak percaya kalau mamah kamu juga khawatir padaku.”


“Dan satu lagi, aku gak balik … aku cuma mau pamit dengan cara yang benar,” sambungnya seraya tersenyum tenang. Berbeda dengan Clarissa yang perasaannya campur aduk tidak karuan karena tidak siap dengan kedatangan sang kakak.


“Dimana ayah?” tanya Lashira.


“Ira?!” panggil Nobert yang membuat keduanya menoleh.


Lashira tersenyum tulus saat melihat kekhawatiran yang sangat terpancar dari ekspresi wajah Nobert. “Kakak apa kabar?” tanyanya.


“Kamu gak papa?” tanya Nobert membuat tawa Lashira pecah seketika.


Nobert dan Clarissa saling pandang. “Kenapa?” tanya Nobert yang langsung mendapat gelengan kepala dari Lashira.


“Kak Leon juga gitu pas ketemu aku. Aku tuh baik-baik aja, kalian itu kenapa sih?” ujar Lashira di sela-sela tawanya.


Nobert mengerutkan dahinya bingung. “Leon? Leon nemuin kamu?”


Lashira mengangguk mengiyakan, “emangnya gak ngomong sama kakak?” Nobert menggeleng.


“Trus masalah handphone, kenapa kamu balikin?” tanya Nobert.


“Aku gak enak kak, aku kan ngejauh dari kalian semua … masa masih make barang-barang yang kalian semua kasih ke aku. Jadi aku balikin aja,” jelas Lashira.


“Makasih ya kak atas semuanya…,” sambung Lashira.


“Kalau gitu aku pamit ya, sampein salamku sama yang lain…,” pamit Lashira.


Clarissa dan Nobert hanya bisa memandang punggung Lashira yang semakin jauh tanpa bisa menghentikan gadis itu. Clarissa langsung kembali menemui teman-temannya meninggalkan Nobert yang masih terpaku di sana.

__ADS_1


__ADS_2