
“Gak kerasa ya udah tahun ajaran baru lagi aja..” Nobert mengangguk setuju dengan perkataan Chika. Lashira mengernyitkan dahinya karena mulai sadar akan sesuatu setelah mendengar perkataan Chika, “katanya kalian lagi fokus bikin skripsi, tapi kok aku gak pernah ngeliat kalian ngerjain skripsi?” Nobert terbahak mendengarnya.
“Dan kamu percaya?” Lashira dengan polosnya mengangguk. “Itu cuma akal-akalan mereka aja, buktinya aku sama Theo masih aktif ikut kegiatan klub kan?” Lashira mengangguk mengerti mendengar penjelasan Chika.
Lashira menjauh dari keduanya saat ponselnya berdering, “apa?” jawab gadis itu berbisik. Chika menatap gadis itu dengan curiga, Nobert juga ikut memperhatikan gadis itu.. Keduanya melotot kaget saat mendengar umpatan Lashira, “tuh kan! Gak percaya sih lu..” bisik Nobert.
Beberapa waktu lalu Nobert menceritakan tingkah Lashira yang aneh, bahkan sampai mengumpat.. namun tidak ada yang mempercayainya. Mereka setuju jika gadis itu akhir-akhir ini bertingkah aneh, tapi mereka tidak percaya dengan perkataannya tentang Lashira yang mengumpat.
Hari ini ucapan pria itu terbukti dengan jelas, Lashira mengumpat akhir-akhir ini.
“Pas ke puncak waktu itu kepala bocah itu gak kebentur apapun kan?” tanya Nobert. Chika menggeleng ragu, “kayanya sih engga.. waktu di kamar juga gak ada masalah kok, kecuali pas malem itu..” Nobert menoleh saat ucapan gadis itu berhenti.
“Kak aku duluan ya!” setelah berkata seperti itu, Lashira langsung berlari keluar dari ruangan. Nobert menepuk pundak Chika pelan, “malem itu kenapa?” tanyanya penasaran.
Chika menghela napas panjang, “lo inget gak malem dimana dia gak balik ke villa?” Nobert mengangguk. “dia ngabarin di grup chat kalau dia ada urusan mendadak?” Chika mengangguk membenarkan.
“Itu bukan Ira banget, kalau sepenting itu pasti dia telpon salah satu dari kita.. Waktu dia pamit keluar juga sampe nyariin lo sama Leon kan buat pamit?” Nobert mengangguk. “Jadi gak mungkin dia pergi gitu aja cuma ninggalin chat, dan liat ini.. anak itu selalu nambahin titik-titik di setiap kalimat chatnya, tapi ini gak ada!” jelas Chika sampai membandingkan gaya chatting Lashira.
Nobert terdiam cukup lama, semua yang dikatakan Chika ada benarnya. Lagipula firasat Chika memang tidak pernah salah, dia sudah tidak meragukan lagi tentang firasat gadis itu. “Kalau gitu nanti kalau lagi kumpul kita interogasi aja bocahnya,” usulnya tak ingin ambil pusing.
***
Lashira menatap Greyson dengan kesal, “kenapa?” napas gadis itu terengah-engah karena harus berlarian ke sini. Greyson menyodorkan sebotol air mineral pada gadis itu, Lashira langsung saja meminum air itu hingga tandas.
“Kamu gila ya? Buat apa ke kampus? Mau narik perhatian?” omel Lashira karena mereka jadi pusat perhatian sekarang. Lashira mendorong-dorong Greyson untuk segera masuk ke dalam mobil, dia tidak ingin Clarissa ataupun anggota Ace melihatnya bersama Greyson.
“Jadi kamu ngapain ke sini?” tanya Lashira baik-baik. Greyson tersenyum tipis, “mungkin kamu akan senang mendengarnya.. aku akan ke LA hari ini, jadi jaga dirimu.” Ada perasaan yang mengganjal hatinya saat mendengar perkataan Greyson barusan.
Tapi Lashira berusaha menepisnya dan tersenyum, “benarkah? Apakah akan lama di sana?” Greyson terdiam, dia sedikit merasa kesal saat melihat reaksi Lashira yang terlihat begitu senang. “Grey?” Greyson menghembuskan napas panjang, “apa aku tetap di sini saja ya?” ucapnya seraya menatap Lashira dengan begitu dalam.
Lashira yang ditatap seperti itu pun merasa sedikit gugup, Lashira menutup matanya karena Greyson mendekatkan wajahnya. Greyson tersenyum miring, “kamu mikir apa?” Lashira kembali membuka matanya seketika. Dengan penuh kekesalan gadis itu memukul Greyson dengan tasnya.
__ADS_1
“Kamu seneng banget sih mukul pake tas!” Lashira memalingkan wajahnya saat mendapat tatapan tajam dari pria itu. “Udah kan pamitannya? Pergi sana!” ucap Lashira seraya membanting pintu mobil Greyson dengan kencang.
“Tunggu!” langkah Lashira terhenti, gadis itu terperanjat kaget saat Greyson tiba-tiba memeluknya dari belakang. “G-grey.. kalau ada yang liat gimana?” ucap Lashira gugup, wajah gadis itu bahkan sudah memerah sekarang. “Sebentar aja..” bisik Greyson di telinga Lashira.
Tak lama Greyson pun melepas pelukannya, Lashira langsung berlari sekuat tenaga dari sana. Jantungnya bertalu-talu sejak tadi, wajahnya pun terasa sangat panas sekarang. Dia tidak ingin jika pria itu melihat wajahnya sekarang, bisa-bisa pria itu meledeknya habis-habisan.
“Kak, lo kenapa?” Lashira menegang saat mendengar suara Clarissa, dia menggeleng lalu tersenyum tipis. “Apa kamu perlu bantuan? Kalau ada masalah bilang aja, nanti aku bantu..” ucap Lashira yang malah semakin terlihat jika menyembunyikan sesuatu. Clarissa tersenyum senang, “anterin ke kantin, sekalian traktir karena gue berhasil masuk kampus lo…”
“Oke.”
Clarissa membuka aplikasi chat saat menunggu Lashira membawakan makanan. Dia tersenyum miris karena pesannya tak lagi dibalas oleh Greyson, bahkan dari akun palsu Lashira pun pria itu tak lagi membalasnya.
Lashira terdiam sebentar saat melihat ekspresi wajah Clarissa yang tidak biasa, dia menaruh makanan untuk gadis itu dalam diam. “Eh? Bukannya bilang, biar gue bantuin bawa.” ucap Clarissa yang baru menyadari kehadiran sang kakak. Lashira hanya diam tidak menjawab, dia tahu kalau Clarissa akhir-akhir ini menyembunyikan sesuatu darinya.
Ponsel Lashira berbunyi, Clarissa pun cukup terkejut saat melihat ponsel baru yang Nobert berikan untuk Lashira. “HP lu baru ka?” Lashira menoleh sesaat lalu mengangguk, dia langsung mengangkat telepon dengan raut kesal.
“Apa lagi?” Clarissa mengedipkan kedua matanya tidak percaya. Tak biasanya Lashira menunjukkan kekesalannya di tempat umum seperti ini.
“Jangan merindukanku.”
“Kalau gitu, aku ganti kata-kataku.. jangan macam-macam karena aku selalu mengawasimu.”
“Ya ya..” jawabnya malas.
“Ra?” Lashira menoleh seraya tersenyum saat melihat rombongan Ace yang datang menghampirinya, gadis itu sedikit menggeser duduknya untuk memberikan ruang pada Nobert yang tak kunjung duduk. “Thanks..” Lashira tersenyum manis mendengarnya.
“Kamu sibuk?”
“Ya, kalau gitu aku tutup dulu.” Usai berkata seperti itu Lashira langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari pria itu. Di seberang sana Greyson membanting ponselnya kesal karena sempat mendengar suara laki-laki saat menelpon Lashira.
Norbert hanya diam memperhatikan tingkah laku Greyson yang akhir-akhir ini semakin tidak terkontrol sama sekali karena Lashira. Saat melihat rupa gadis itu secara langsung, Norbert menyadari satu hal.. gadis itu mirip sekali dengan wanita itu.
__ADS_1
“Semuanya sudah siap Grey,” ucapnya saat mendapat informasi dari bawahannya. Greyson mengangguk, dengan enggan pria itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan ini. Di luar sana jet pribadi pria itu sudah siap untuk mengantarnya ke LA saat ini juga.
“Jangan lupa dengan perintahku untuk mengawasi gadis itu.” Norbert mengangguk patuh. Sudah berkali-kali pria itu mengatakannya, bahkan Norbert sampai muak karena mendengar kalimat yang sama berulang-ulang kali.
“Aku min-”
“Iya Grey, aku akan melapokannya padamu setiap jam.” sela Nobert dengan nada malas. Greyson mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya dengan berat.
Di sisi lain Lashira menelan ludahnya gugup saat tatapan mata semua orang yang ada di ruangan ini tertuju padanya. “Ke-kenapa?”
Chika menatap gadis itu dengan serius, “kamu sadar gak sih akhir-akhir ini kamu jadi aneh?” Lashira mengalihkan pandangannya agar tidak bertubrukan dengan mata siapapun yang ada di ruangan ini. Dia tersenyum aneh karena terlalu gugup, “aneh gimana?”
“Kamu selalu ngumpat akhir-akhir ini..” ucap Nobert.
“Kamu selalu kabur kalau terima telpon..” lanjut Chika.
“Kamu selalu bohong akhir-akhir ini..” ucapan Theo yang terakhir membuat Lashira terdiam seribu bahasa. Padahal dia sudah menyiapkan beberapa kalimat kebohongan untuk membalas perkataan Nobert dan Chika, namun seketika kalimat-kalimat itu menghilang entah kemana.
Clarissa hanya bisa diam memperhatikan semuanya, dia tidak ingin ikut campur. Perhatiannya jatuh pada Leon yang sejak tadi diam dengan wajah datarnya, entah kenapa dia sedikit merasa antusias menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut pria itu.
“Kamu anggap kami itu apa?”
Lashira tetap diam tak berani membalas pertanyaan Leon yang begitu serius hari ini. “Kenapa diem?” lanjut laki-laki itu masih dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat. “Kami di sini menganggap kamu teman, apalagi Chika.. dia sudah menganggap kamu sebagai adiknya. Lantas kamu anggap kami apa?”
Chika menghembuskan napas panjang. Jika Leon sudah seperti ini tidak akan ada yang bisa menghentikannya, Leon tidak akan berhenti sampai gadis itu mengaku bahkan jika Lashira menangis pun Chika tidak yakin kalau Leon akan melepaskannya dengan mudah.
“Teman.. Kalian teman pertamaku..” lirih Lashira seraya menundukkan kepala dalam.
“Tapi tindakanmu tidak sesuai dengan perkataanmu Ra.” tembak Leon yang membuat Lashira tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Kamu ada masalah?” tanya Chika pelan-pelan. Lashira kembali mengangkat kepalanya dengan mata berbinar-binar, “ada yang ngikutin aku akhir-akhir ini-”
“Dari kapan? Kok kamu gak kasih tau kita sih?” Chika menghela napas panjang saat perkataan Lashira malah dipotong oleh Nobert. Chika menggigit bibirnya gemas, Nobert yang menyadari hal itu kembali menutup mulutnya rapat-rapat.
__ADS_1
Lashira menggigit bibir bawahnya ragu, apa dia harus menceritakan semuanya? Lashira menggeleng kencang, tidak-tidak.. memberitahu hal ini sama saja menumbalkan Greyson. “Aku lagi berantem sama cowo, dia mau ke LA hari ini..” semua yang ada di ruangan tersebut tampak syok mendengar perkataan gadis itu, tak terkecuali Clarissa.
“Siapa? Kok lo gak pernah cerita?” todong Clarissa yang merangsek masuk ke tengah-tengah percakapan. Lashira terdiam, namun ekspresi wajahnya cukup mengejutkan semua orang yang melihatnya. “Apa aku harus menjelaskan tentang apa yang kulakukan secara rinci padamu?”