Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 22


__ADS_3

“Leon!”


Suara Nobert yang memanggil namanya membuat Leon kembali tersadar dari lamunannya. Pikirannya masih saja terpaku pada Lashira. “Lo kenapa sih?” tanya Theo merasa aneh. Tidak biasanya Leon bersikap seperti ini.


Leon menggeleng, “bokap lo di mana?” tanyanya langsung ke inti. Dengan dahi berkerut Theo menjawab, “terakhir sih gue dengernya dia ada urusan di London.. kenapa emangnya?”


“Abang gue dapet info kalau Lashira sama Grey ke bandara hari ini..” ujar Leon dengan tatapan menerawang.


“Dia mau ke mana?” tanya Nobert.


Leon mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng, “gak tau.. mereka pergi pake jet pribadi punya Grey.” Dia menatap Theo dengan serius, “gue harap lo bisa peringatin bokap lo tentang ini.” ujarnya dengan serius.


***


Lashira terbangun di sebuah kamar yang cukup luas, tidak ada seorangpun di sini. Dia menghembuskan napas panjang, selalu saja seperti ini. Lashira mengambil sebuah ponsel dan notes kecil yang ada di atas nakas sebelah tempat tidurnya.


Hubungi aku.


“Oke.” gumamnya pelan.


Lashira mencari kontak milik Greyson dan menghubunginya. Pada deringan pertama Greyson langsung mengangkat panggilannya.


“Kamu sudah bangun?”


Lashira hanya berdehem pelan.


“Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu dan kemungkinan malam ini aku akan terlambat.”


“Anu.. Grey.” potong Lashira dengan cepat. Sekarang dia bingung bagaimana cara mengatakannya.. ini akan sangat memalukan untuknya.


Greyson pun hanya diam menunggu perkataan Lashira selanjutnya.


“Jangan terlalu lama..” ujar Lashira begitu pelan, namun Greyson masih bisa dapat mendengarnya dengan jelas di seberang sana. Pria itu tersenyum miring membayangkan ekspresi wajah Lashira saat ini.

__ADS_1


“Ehem! Baiklah.. akan ku usahakan..”


Lashira langsung menutup panggilan itu karena wajahnya yang terasa begitu panas sekarang. “Kenapa aku jadi segugup ini? Dan apa yang tadi ku katakan?! Itu sangat memalukan!!” jeritnya frustrasi.


Pikiran dan tingkah lakunya menjadi kacau akhir-akhir ini, mungkin ini adalah efek dari jarang mandi. Ia harus mandi sekarang, pikirnya. Ia langsung mencari letak kamar mandi.


Lashira memilih untuk berendam, rasanya ia sudah lama sekali tidak berendam. Ia juga memutar musik relaksasi yang bisa membuatnya tenang. Saking merasa nyamannya, ia sampai tertidur di dalam bathub.


Sudah hampir tiga jam gadis itu berada di dalam bathub, namun sampai sekarang gadis itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Greyson yang diam-diam mengawasi lewat kamera pengawas pun merasa aneh karena gadis itu tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Perkataan Norbert padanya pun akhirnya sama sekali tidak didengarnya. Tatapan matanya terus tertuju pada tab yang ada di meja kerjanya. “Dia membuatku gila.” gumamnya pelan. Greyson langsung bangkit dari duduknya dan menyambar jasnya, dia berbalik dan mengambil tab yang selalu ia gunakan.


“Kau urus semuanya, aku akan memeriksanya nanti.” ujar Greyson pada Norbert. Pria itu mengangguk patuh, “pekerjaanku bertambah banyak karena Lashira.” gumam Norbert seraya menghembuskan napas panjang. Seharusnya ia meminta kenaikan gaji pada Greyson.


Setelah menghabiskan waktu 30 menit, Greyson tiba di hotel. Dengan langkah lebarnya ia langsung menaiki lift dan segera menuju kamarnya. Begitu tiba di sana ia langsung mendobrak pintu kamar mandi, dengan sigap ia menutupi tubuh Lashira menggunakan handuk dan membawanya ke kasur.


Dia menepuk pipi Lashira berkali-kali seraya memanggil nama gadis itu. Begitu Lashira membuka matanya, Greyson menghembuskan napas lega. “Kau di sini Grey?” tanya Lashira dengan suara serak.


Greyson langsung melayangkan tatapan tajamnya pada gadis itu, “orang gila mana yang tertidur saat mandi?” ujarnya dengan nada marah. Karena gadis itu ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia bahkan malah berlari ke sini karena rasa khawatir yang terus menggerogotinya.


Mata gadis itu membola seketika, “kau memasang CCTV?!”


***


Sudah hari kedua sejak kejadian Lashira tertidur di kamar mandi, namun keduanya masih diam-diaman seperti anak kecil. Yang paling tersiksa adalah Norbert, dia seperti pengantar surat untuk keduanya.


“Suruh dia makan.” ujar Greyson yang tampak sibuk dengan berkas-berkas dan tabnya. Lashira mendengar hal itu, namun ia tetap diam, asik dengan novel yang ada di tangannya. Norbert menghampiri Lashira, “kau dengar itu? dia menyuruhmu makan.” ujarnya dengan nada malas.


“Bilang padanya aku tidak lapar sekarang,” balas Lashira dengan wajah datar. Padahal sebelumnya gadis itu tersenyum lebar karena novel yang sedang dibacanya.


Tanpa bergerak dari tempatnya Norbert sedikit berteriak, “kau dengar itu Grey, dia tidak lapar.”


Greyson berdecak kesal, “paksa dia untuk makan atau gajimu bulan ini tidak akan selamat.” ujarnya seraya memijit pangkal hidungnya. Norbert melihat mereka berdua secara bergantian, dia menghembuskan napas kasar dan menghampiri Greyson.

__ADS_1


“Aku akan mengurus semua ini, kau uruslah permasalahan kalian,” ujar Norbert tampak kesal. Ia membawa semua berkas dan tab Greyson bersamanya keluar dari sana.


Greyson menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memejamkan matanya.


“Ngapain di sini?” tanya Lashira sinis.


Greyson membuka matanya seraya tersenyum smirk, “aku yang membayar semua ini kalau kamu lupa.”


“Ganti pakaianmu, kita makan sekarang.” perintah Greyon dengan tegas.


Lashira melirik sekilas ke arah Greyson, “tak selera.” balasnya santai.


Greyson menghembuskan napas kasar, ingin sekali ia memecahkan kepala batu gadis itu. “Harusnya aku yang marah di sini. Kenapa kamu malah ikutan marah?” ujarnya seraya mendekati Lashira yang masih fokus dengan bukunya.


“Kau mengabaikanku? Apa perlu kubakar semua bukumu?”


Lashira melempar bukunya, “bakarlah.. Aku akan membelinya lagi menggunakan uangmu. Aku tidak merasa rugi akan hal itu.”


“Kamu berani melawanku?”


Lashira menatap mata Greyson tanpa rasa takut sedikitpun. “Seingatku, kau berkata akan menjadi anak yang penu-”


“Aku akan menurut padamu jika kamu tidak melanggar privasiku,” potong Lashira.


Dahi Greyson mengerut dalam, “itu semua demi keamananmu, kamu fikir untuk apa aku memasang CCTV?” ujarnya dengan tenang.


Lashira berniat untuk membalas perkataan Greyson tapi pria itu lebih dulu menyela, “bahkan kalau aku tidak mengawasimu dari CCTV, mungkin sekarang kau sudah masuk rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di tanganmu.”


“I’m sorry..” lirih Lashira seraya menundukkan wajahnya.


“Tapi harus banget kamu.. Kan bisa ketok-ketok dari luar, kenapa harus dobrak pintu dan-” Lashira menutup wajahnya yang memanas dengan kedua tangannya. Dia bahkan tidak bisa mengatakannya, kejadian itu benar-benar memalukan untuknya.


Sudah kedua kalinya Greyson mengurus dirinya yang ketiduran di kamar mandi. Dia bersyukur karena Greyson tidak melakukan hal-hal buruk padanya, namun ia jadi ragu dengan kesehatan pria itu. Lashira menggelengkan kepalanya kencang, berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran anehnya.

__ADS_1


Greyson mengusap kepalanya lembut, “ganti baju.. Kita makan di luar hari ini.” ujar Greyson. Lashira mengangguk patuh, dia langsung mengganti pakaiannya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Greyson.


__ADS_2