
“Grey, kau akan ke club lagi malam ini?”
Greyson yang sedang bersiap pun menghampiri Lashira dan melimpahkan seluruh atensinya pada gadis itu. “Ya, aku akan ke sana sebentar dan melakukan beberapa pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh yang lain.”
“Kenapa?” tanya Greyson.
Lashira menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya merasa … tidak bisakah kau beristirahat sebentar? Dari pagi sampai sore kau mengurus perusahaanmu, setelah itu kau menemaniku, lalu sekarang kau harus langsung jalan lagi. Kau bisa jatuh sakit jika seperti ini terus.”
Greyson tersenyum tipis mendengar kekhawatiran gadisnya. Sepanjang hidupnya, baru kali ini rasanya ada orang yang mengkhawatirkan kesehatannya. “Aku tidak akan sakit, kalaupun sakit kau akan merawatku, ‘kan?”
Kedua alis Lashira tertaut. “Berasal dari mana kepercayaan dirimu itu, Tuan? Siapa bilang kalau aku akan merawatmu? Daripada merawatmu, lebih baik aku mencari inang baru untukku, bukan?”
Greyson menatap Lashira tidak suka namun juga tidak mengatakan apapun. Setelah itu ia langsung bangun dan segera mengambil coat-nya. Di belakangnya Lashira sudah tersenyum puas karena berhasil membuat Greyson merasa kesal.
Lashira mengambil inisiatif memeluk Greyson dari belakang. “Kau kesal?”
“Baiklah maafkan aku … tadi aku hanya bercanda. Tentu saja aku akan merawatmu, siapa lagi kalau bukan aku? Hm?”
Greyson dengan cepat berbalik dan mencium bibir Lashira cepat. Lashira yang diserang mendadak tentu saja gelagapan. “Kau sangat pandai merusak suasana,” ujar Greyson setelah melepaskan ciumannya.
“Gemes nih ceritanya?” tanya Lashira yang masih menetap lekat kedua mata Greyson.
Greyson tidak menjawab namun pria itu tersenyum miring. Dia mengusap kepala Lashira lembut dan mencium keningnya sebentar. “Sekarang tidur, aku harus berangkat sekarang.”
Lashira menghembuskan napas kasar. “Kau harus pulang dengan keadaan utuh, kalau sampai ada yang kurang … aku akan membencimu,” ancamnya.
“Aku hanya ke club jadi kau tidak perlu terlalu khawatir,” ujar Greyson berusaha menenangkan Lashira. Gadis itu hanya mengangguk-angguk pelan dan merebahkan tubuhnya di kasur.
“Kau menginginkan sesuatu?” Lashira hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Greyson. Kedua matanya sudah mulai terasa berat sekarang.
Greyson yang melihat itu pun tersenyum tipis. Dengan perlahan ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan membelai kepala Lashira pelan. Tak lupa ia mencuri kecupan singkat di bibir Lashira sebelum benar-benar pergi dari sana.
***
Setelah malam itu, Greyson malah semakin sulit untuk ditemui. Pria itu bahkan sudah tidak kembali ke mansion selama dua hari. Tentu saja Lashira menjadi gelisah setiap harinya, apalagi Norbert juga ikut tidak bisa dihubungi sejak kemarin.
“David! Kau dari mana saja?” Lashira langsung menghadang jalan David yang baru saja akan masuk ke dalam kamarnya.
David menghembuskan napas panjang. “Kenapa?”
“Kamu kemana aja dari kemaren gak pulang? Sebenernya pada kenapa sih kalian? Kayanya sibuk banget sampe berhari-hari gak pulang,” keluh Lashira.
“Kakak gak tau? Kak Norbert dapet libur tiga hari dari pak boss jadi semua kerjaan di-handle semua sendiri sama pak boss.”
__ADS_1
Dahi Lashira mengerut dalam. “Kak Norbert cuti? Terus kak Sven?”
Untuk kedua kalinya David menghembuskan napas panjang. Kalau yang di hadapannya saat ini bukan Lashira, ia pasti akan langsung mematahkan lehernya karena menghalangi dirinya untuk beristirahat.
“Severin lagi ngejalanin tugas khusus gitu dari Greyson, emangnya Kakak gak nanya sama Greyson?”
“Dari kemaren Greyson gak angkat telepon, dia cuma kirim pesen singkat doang sesekali. Telepon kak Norbert juga gak bisa dari kemaren. Kamu juga gak pulang dari kemaren … kalian sepertinya benar-benar melupakanku di sini.”
David mengusap leher belakangnya gusar. Ia tidak terbiasa menghadapi Lashira yang merengek seperti ini. Sekarang ia harus apa?
“Kak, boleh aku masuk ke dalam kamarku? Aku sangat lelah karena membantu Greyson sejak kemarin, kau tidak akan membiarkanku sampai sakit karena terlalu lelah, ‘kan?” lirih laki-laki itu dengan wajah memelas.
Lashira yang memang dasarnya tidak tegaan pun terperangkap. “Kalau begitu istirahatlah, nanti aku akan membawa makan siangmu ke kamar.”
Setelah memastikan Lashira sudah turun ke lantai bawah, ia langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Lashira naik ke atas untuk memberitahu bahwa makan siang sudah siap.
Tok! Tok! Tok!
“David? Kau masih tertidur?”
Tidak ada jawaban dari dalam, Lashira pun mengetuk pintu kamar David lebih keras. “David! Bangun! Makan siang dulu abis itu baru lanjut tidur lagi! Daviiid!” Lashira sampai menjerit cukup kencang. Bahkan Marie sampai menghampiri gadis itu dan mengira Lashira memerlukan bantuannya.
“Biarkan saja, mungkin dia memang sangat lelah. Kalau dia sudah bangun beritau aku.” Marie mengangguk patuh mendengar perintah Lashira.
Sepertinya terakhir ia melakukannya saat di sekolah menengah atas tahun terakhir, itupun tidak sampai habis satu halaman kertas.
Lashira mengambil buku note Greyson dan mulai merangkai sebuah kalimat di atasnya.
Akan selalu kucoba untuk tetap tersenyum
Walau hawa dingin ini mulai mencekik diriku
Akan kutahan air mata dan kesakitan yang kurasa
Agar orang lain tidak bisa melihat penderitaanku
Namun semakin aku memungkirinya
Aku malah semakin mendamba akan sebuah kehangatan
Aku tidak bisa lagi mengelak bahwa aku
__ADS_1
Hanyalah wanita rapuh yang takut akan kesepian
~LM01
Lashira tersenyum puas dan merobek kertas itu lalu menyelipkannya ke dalam salah satu novel yang sering ia baca.
“Kau mencariku?”
Lashira berbalik dan tersenyum tipis saat melihat penampilan David yang masih sangat berantakan khas orang bangun tidur. “Makan siang dulu, kalau mau lanjut tidur lagi nanti gapapa.”
David mengangguk. “Kakak sudah makan?”
Lashira sedikit terkejut namun tak lama ia langsung tersenyum hangat. “Belum, aku menunggumu.”
“Kalau gitu ayo makan sekarang.”
Senyuman Lashira semakin melebar, ia pun mengangguk pelan lalu berlari kecil menghampiri David. “Kau sedang apa di ruang kerja Greyson?” tanya David.
“Menulis sesuatu,” balas Lashira masih dengan senyuman di wajahnya.
David hanya mengangguk kaku karena tidak tahu harus bagaimana. Satu hal yang pasti menurutnya, Lashira menjadi sedikit aneh hari ini.
Marie dan beberapa pelayan yang lain mulai menyiapkan makanan untuk keduanya. Lashira yang biasanya akan menolak untuk dibantu pun hari ini membiarkan Marie melakukan seluruh tugasnya.
Alis David terangkat sebelah, tentu saja ia merasa aneh. Biasanya gadis itu ngotot sekali dan sekarang Lashira terlihat sangat tenang.
“Apa ada masalah?” tanya David.
Dahi Lashira berkerut dalam. “Tidak ada, hanya saja aku sedikit merasa aneh karena tidak melihat kalian beberapa hari di mansion.”
“Kau merindukan kami?” ledek David.
“Entahlah, biasanya aku akan melihat kau yang diomeli oleh Greyson atau mendengar semua gerutuan kak Norbert yang merasa Greyson terlalu semena-mena padanya. Tapi beberapa hari ini tidak ada yang seperti itu. Suasana mansion menjadi saangaaat damai.”
Fix dia kesepian, batin David.
Ting!
From, Grey :
Lusa kita ke rumah ayah kamu, right?
Kedua mata Lashira langsung membola seketika. Berkali-kali Lashira mengusap layar ponselnya berharap jika ia salah membaca isi pesan itu tapi nyatanya pesan itu tidak berubah sama sekali.
__ADS_1
“Greyson!” desis Lashira kesal.
David yang sejak tadi masih memperhatikan pun mengangkat sebelah alisnya bingung. Apalagi sekarang? Batinnya bertanya-tanya.