Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 27


__ADS_3

“Aku ingin ke toilet, dimana toiletnya?” tanya Lashira pada Severin yang dari tadi asik bermain ponselnya.


Severin menyimpan kembali ponselnya dan berdiri hendak mengantarkan gadis itu ke toilet. Lashira kelabakan, “kamu ngapain?”


“Mengantarmu tentu saja,” balas Severin santai.


“Aku bisa sendiri, tunjukkan arahnya saja.” Severin melihat gadis itu dengan tatapan menimbang, lalu mengangguk setuju. Dia pun memberitahukan arahnya dan kembali duduk santai.


Lashira membasuh wajahnya ketika di toilet. Jujur ia sangat mengantuk saat ini, tapi mengingat ada Severin di dekatnya, ia jadi tidak bisa tidur sama sekali. Kepalanya sampai berdenyut karenanya.


Begitu keluar dari toilet, matanya membola saat melihat sosok Leon di sana. Hampir saja ia berteriak, untungnya Leon dengan sigap membekap mulutnya dan menariknya masuk kembali ke toilet.


“Kau ingin membuatku tidak bisa melihat matahari besok?”


Lashira menggeleng, dia langsung tersenyum saat Leon melepaskan bekapannya. “Maaf Kak, aku kaget tadi."


“Kak Leon kok bisa ada di sini?” sambung Lashira begitu excited. Sudah lama ia tidak melihat teman-temannya, tentu saja ia bahagia.


Leon diam, dia memperhatikan keadaan gadis itu dari atas sampai bawah. “Kamu gak papa?” Lashira mengangguk sambil tersenyum manis.


“ Sebenarnya ada masalah apa? Kamu gak pengen balik? Semuanya kalang kabut nyari kamu, apalagi Clarissa … kata dia ayahmu sakit. Kamu gak pengen melihat keadaannya?” tanya Leon beruntun.


Lashira menggeleng pelan lalu tersenyum tipis. “Kabar Kakak sama yang lain gimana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Kacau, apalagi Theo.“


Lashira mengangguk mengerti, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Gara-gara aku, Grey jadi ngusik perusahaan keluarganya kak Theo, sampaikan maafku sama mereka ya Kak.”


Leon hanya diam, dia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Karena yang dikatakan gadis itu tidak sepenuhnya salah. “Kalau gitu ikut pulang denganku, sampaikan sendiri pada mereka. Aku akan menjamin keselamatanmu,” ujar Leon yang masih berusaha mengajak Lashira untuk kembali.


Lashira menggeleng pelan, tubuh Leon langsung kaku seketika. “Kak Leon salah paham, justru aku yang nyuruh Grey buat bawa aku … bukan dia yang nyulik aku.”


Leon menggeleng tidak percaya. “Gak mungkin, kamu pasti diancam dia ya makanya ngomong kaya gini?”


“Enggak Kak. Dia baik kok sama aku,” jelas Lashira yang masih tidak bisa meyakinkan Leon.


Brak! Brak!

__ADS_1


“Ra?! Kamu di dalem?!” teriak Greyson dari luar yang berusaha membuka pintu toilet yang sudah dikunci dari dalam oleh Leon.


Lashira menaruh jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Leon agar tidak bersuara. “Jaga diri kakak baik-baik,” bisik Lashira seraya mendorong tubuh Leon memasuki salah satu bilik toilet.


“Lashira?!” teriak Greyson lagi dari luar karena tidak mendapat sahutan dari dalam.


Setelah menyembunyikan Leon, Lashira membuka pintu toiletnya seraya tersenyum manis. “Kenapa?” tanyanya. Greyson mengecek keadaan Lashira dari ujung kepala sampai ujung kaki.


“Severin laporan, katanya kamu gak balik-balik dari toilet. Kamu ngapain aja sampe lama banget di dalem?” tanya Greyson curiga.


Lashira menyengir lebar, “untung kamu gedor-gedor … tadi aku ketiduran di dalem.”


“Urusanmu sudah selesai?” tanya Lashira mengalihkan pembicaraan. Dia menarik tangan Greyson untuk menjauh dari toilet.


“Kamu mengantuk? Kamu bisa tidur di ruanganku kalau mau.”


“Mommy? Apa urusanmu dengan wanita itu sudah selesai?” tanya Lashira yang kembali membuat rasa penarasan Greyson tumbuh.


Greyson menghentikan langkah kakinya. “Darimana kamu mengenal wanita itu?” tanyanya membuat Lashira mengerutkan dahinya dalam.


“Aku tidak mengenalnya, aku baru bertemu dengannya tadi. Aku juga bingung kenapa dia menyuruhku memanggilnya mommy.”


Lashira menyengir lagi, “aku takut dengannya jadi kuturuti saja.”


Greyson mengangguk setuju. “Benar, turuti saja selagi tidak membahayakanmu. Dia sedikit tidak waras, tapi dia sangat jenius.”


***


Greyson dan Lashira sudah kembali ke Indonesia dan berada di mansion utama milik Greyson yang letaknya di pinggiran hutan. Saat ini Greyson sedang memikirkan tentang pembicaraannya dengan Severin beberapa waktu lalu.


“Kau benar-benar sangat mempercayainya ya? Mungkin saja memang benar perkataan Scarlett bahwa dia menghipnotis Lashira dan menghilangkan sebagian ingatan gadismu itu. Lantas apa hipnotis itu benar-benar berhasil? Kalau berhasil, kenapa dia bisa menyebutkan namamu saat itu?”


“Kalau dia berbohong padaku, apa keuntungan yang ia dapat?” tanya Greyson membuat Severin menggeram kesal. Partnernya ini benar-benar sudah dibutakan oleh gadis itu, pikir Severin.


Severin mengambil sebuah kursi untuk dirinya yang mulai merasa pegal. “Dengar Grey, bagi beberapa orang … berpura-pura tidak tahu apapun adalah keputusan yang bijak agar tidak terluka.”


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Mereka merasa kalau hidup mereka lebih aman jika berpura-pura tidak tahu apapun permasalahan yang ada di sekitar mereka. Dan menurutku gadismu melakukan hal yang sama.”


Greyson mengangkat sebelah alisnya saat melihat Severin yang begitu yakin dengan hipotesisnya mengenai Lashira. “Kenapa kau bisa seyakin itu?” tanyanya tanpa sadar.


“Aku yakin, tanpa kujelaskan pun kau pasti mengerti kenapa…,” balas Severin membuat Greyson terdiam.


“Kalau dugaanmu benar … kenapa dia melakukan itu?” Greyson melempar tab yang ada di tangannya. Baru kali ini dia dibuat sepusing ini hanya karena seorang gadis, bahkan ia tidak pernah berpikir dua kali jika tentang bisnis dan pekerjaannya.


“Grey!” panggil Lashira hingga membuat Greyson tersadar dari lamunannya.


“Kau melamun?” tanya Lashira.


Greyson menarik Lashira ke atas pangkuannya dan menaruh dagunya di bahu gadis itu seraya melihat data statistik di komputernya. Meski matanya tertuju pada computer, pikiran pria itu melayang ke mana-mana.


Mulai dari kesepakatannya dengan Scarlett sampai permasalahannya dengan Lashira yang sampai saat ini masih tidak menemukan titik terangnya. Entah bagaimana ia bisa menguraikan untaian benang merah yang saat ini sudah terlanjur kusut.


“Kau ada masalah Grey?”


Greyson menggeleng kemudian tersenyum tipis saat Lashira menoleh ke arahnya. “Apa keberadaanku menyulitkan pergerakanmu?” tanya Lashira lagi. Greyson mencium bahu Lashira sekilas untuk menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang terus bermunculan dari mulut gadis itu.


“Berhenti berbicara omong kosong. Ada apa sampai kau repot-repot mendatangiku di ruang kerja?” tanya Greyson.


“Sebelumnya kau harus berjanji dulu untuk tidak marah pada siapapun, Grey. Ini tentang-”


“Tidak,” balas Greyson cepat.


“Harus. Dengar … apa kau meninggalkan pekerjaan malammu demi diriku?” Mendengar itu rahang Greyson mengeras. Ini pasti ulah Norbert dan Severin, pikirnya marah.


“Tidak ada yang memberitahuku Grey. Aku tidak sengaja menguping pembicaraan anak buahmu saat ingin kembali ke kamarku tadi.” Lashira menunduk takut, kedua tangannya meremas celana piyamanya cemas.


Greyson menghembuskan napas panjang, padahal ia belum melakukan apapun tapi gadis itu sudah menciut di pangkuannya sekarang. “Aku tidak meninggalkannya, aku hanya ingin beristirahat saja. Lagipula apa kau tidak keberatan jika setiap malam aku tidak memelukmu dan pergi ke club?”


“Ke club tiap malam?!” Greyson mengangguk membenarkan.


“Tapi Grey … apa ini tidak akan menimbulkan masalah? Maksudku, kau memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Jangan sampai gara-gara aku kau jadi kehilangan-” ucapan Lashira terhenti saat Greyson mempererat pelukannya.


“Selama kau ada di sisiku, aku tidak akan pernah kehilangan apapun….”

__ADS_1


“Grey, kenapa kau begitu bergantung dan percaya padaku sampai seperti ini?” tanya Lashira dengan suara lirih hingga siapapun yang mendengarnya akan tahu kesedihan yang terselip di dalamnya termasuk Greyson.


“Tentu saja karena kau adalah hidupku….” Greyson menjawab cepat tanpa keraguan sedikitpun dan Lashira tau itu.


__ADS_2