
“Shh! Pelan-pelan dong Chik!” Nobert meringis kesakitan saat Chika tidak sengaja terlalu menekan luka yang ada di sudut bibirnya.
Chika berdecak kesal, “aelah gini doang! Lagian lo cari pekara aja sama si Theo. Dia aja sampe berani ngeladenin Greyson gara-gara Ira. Harusnya lo tau dong kalau pembahasan Ira bakal jadi titik sensitif seorang Theo.”
Saat ini mereka berdua ada di ruang kesehatan kampus. Awalnya Nobert enggan ke sini, namun karena Chika terus mengotot ingin membawanya ke sini, mau tidak mau dia harus mengikuti perkataan Chika.
“Ya masa ngomongin adek sepupu sendiri aja jadi ribet urusannya. Dianya aja yang berlebihan. Si Lashiranya aja belom tentu suka sama dia, malah udah main klaim hak milik aja.”
“Abis ini lo mau apa?” tanya Chika mengalihkan pembicaraan.
Nobert terdiam sebentar untuk berpikir sebaiknya dia melakukan apa setelah ini. Tiba-tiba Nobert menggenggam tangan Chika dan menatap gadis itu dengan serius. “Lo bantuin gue ya? Kalau gue yang ngomong pasti om gue gak percaya kaya sebelum-sebelumnya … tapi kalau lo yang ngomong, pasti dia percaya.”
“Seenggaknya kalau dia tahu tentang putrinya yang masih hidup, dia jadi punya alasan buat bertahan hidup…,” sambungnya lirih membuat Chika sulit untuk menolak permintaan laki-laki itu.
Chika mengangguk. “Gue gak yakin bisa bikin om lu percaya sama gue atau enggak, tapi karena lo yang minta ... gue akan coba.”
Nobert menggeleng pelan. “Dia pasti percaya sama lo Chik, kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang. Setelah itu kita coba buat ketemu sama Lashira buat ngasih tau semuanya.” Nobert merangkul Chika keluar dari ruang kesehatan.
Mereka pergi ke rumah sakit seperti yang direncanakan sebelumnya, namun siapa yang sangka jika mereka akan bertemu dengan Clarissa di sana.
“Oh? Kok lu di sini, Clar?” tanya Chika basa-basi.
Clarissa terlihat terkejut, ia sangat tidak menyangka akan bertemu dengan teman-teman sang kakak di rumah sakit seperti ini. “Bokap dirawat di sini kak, semenjak Ira keluar dari rumah kondisi bokap jadi gak stabil … ya gitu deh.”
Chika mengangguk mengerti.
“Terus sekarang bokap lu gimana keadaannya?” tanya Nobert.
“Sekarang sih udah mendingan,” balas Clarissa.
“Kalau gak keberatan, boleh gak gue ketemu sama bokap lo? Kebetulan ada yang harus gue omongin sama bokap lu … penting.” Clarissa menganggukkan kepalanya setuju. Ia pun mengantarkan mereka ke ruang inap sang ayah.
Clarissa berbisik sebentar pada Senna sebelum memaksanya keluar dengan alasan mencari makanan.
“Kamu ngapain sih?” tanya Senna yang merasa aneh karena Clarissa tiba-tiba menariknya untuk mencari makan.
__ADS_1
“Gak ada kok, cuma mau ngasih ruang buat kak Nobert aja. Katanya ada hal penting yang mau dia omongin ke ayah…,” jelas Clarissa.
Senna mengernyitkan dahinya. “Hal penting? Tentang?”
“Gak tau, mungkin masalah kerjaan?” Clarissa mengangkat bahunya tidak peduli.
"Lagi, sebenernya mereka itu siapa?" tanya Senna.
"Mereka kakak tingkat aku di kampus, temennya si Lashira juga."
***
Lashira meraba sisi samping tempat tidurnya dan tidak mendapati Greyson di sebelahnya. Dimana Grey? Pikirnya dalam hati. Dengan mata yang masih terasa sangat berat dan kaki yang sedikit lemas, Lashira berjalan membuka pintu ruangan ini dan menemukan Greyson sedang berbincang serius dengan Severin dan Norbert.
“Apa aku mengganggu kalian?” tanya Lashira merasa tidak enak.
“Ya.”
“Tidak,” balas Severin dan Greyson bersamaan. Greyson langsung menatap nyalang Severin saat mendapati ekspresi sedih di wajah gadisnya.
“Aku bisa,” potong Greyson tegas.
Severin menggeleng. “Tidak Grey, di sini aku ditugaskan hanya untuk membantumu. Aku sepenuhnya bekerja pada tua bangka itu Grey, bukan kau!” tolak Severin mentah-mentah.
“Kalau begitu mulai saat ini kau bekerja sepenuhnya padaku, dengan senang hati aku akan menyampaikannya pada tua bangka itu. Yang perlu kau lakukan hanyalah mematuhiku,” ujar Greyson seraya tersenyum menang.
“Tapi Grey, benar apa yang dikatakan Severin tadi … dia ditugaskan menjadi bayanganmu hanya untuk mengawasi dan memastikan kau bisa menjalankan kerajaanmu sebelum menggantikan posisinya.”
Severin mengangguk setuju kemudian dia melihat ke arah Lashira sebentar sebelum berkata. “Aku tak tahu apa yang akan dilakukan tua bangka itu pada gadismu kalau kau seperti ini.”
“Oh ayolah, aku hanya ingin meringankan tugasmu sebagai tangan kananku, Nor. Dan Sev, kuperingatkan ini sekali lagi padamu … jangan bawa-bawa Lashira dalam hal ini.”
“Grey,” panggil Lashira lirih. Ia sedikit menyesal karena sudah mendengar hal-hal yang seharusnya tidak ia dengar sama sekali. Greyson mendekat ke arah Lashira dan langsung di dorong pelan oleh Lashira saat akan mengangkat tubuh gadis itu untuk kembali ke rumah.
“Kamu pergi aja, aku gak apa-apa. Kak Norbert akan mengurusku,” ujar Lashira yang langsung mendapat gelengan tegas dari Greyson.
__ADS_1
“Kau dengar itu Grey? Cepatlah, pekerjaan kita malam ini cukup banyak Grey. Belum lagi kau menyerah-”
“Shut up!” bentak Greyson membuat Lashira terkesiap. Refleks gadis itu langsung menjaga jarak dari Greyson dan mendekatkan dirinya pada Norbert.
“Kau malah membuatnya takut Grey,” ujar Norbert memperingatkan Greyson untuk tidak meluapkan emosinya di depan Lashira yang bahkan saat ini bisa saja langsung terhempas jika tertiup angin saking lemahnya.
Greyson memejamkan matanya seraya menghembuskan napas panjang. Dengan perlahan ia mendekat ke arah Lashira yang refleks berjalan mundur menjauhi Greyson. “Kalau gitu kita pergi sekarang,” perintah Greyson pada Severin.
Lashira menggigit bibirnya cemas karena merasa bersalah. Matanya sudah berkaca-kaca saat Greyson langsung pergi begitu saja tanpa mencium keningnya seperti biasa. Dadanya langsung terasa sesak tiada tara.
Norbert menepuk pundak Lashira pelan untuk menguatkan gadis itu. Mereka kembali ke mansion lewat tengah malam, sebelum kembali ke kamarnya Lashira diharuskan memakan sup dan meminum obatnya.
Bahkan setelah itu Norbert mengantar Lashira sampai di depan pintu kamarnya. Lashira tersenyum tipis pada Norbert. “Makasih kak….”
Norbert hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya sendiri dan memeriksa kembali beberapa berkas yang besok akan ia laporkan pada Greyson. Setelah itu ia memasuki satu ruangan rahasia yang berada di bawah tanah, di sana terdapat ratusan botol anggur milik Greyson yang harus ia cek setiap minggunya.
Norbert menarik ke bawah tuas berbentuk lampu obor yang berada di dinding sebelahnya. Setelah itu rak botol yang ada di hadapannya bergerak hingga terlihat ruang rahasia yang berisi senjata pribadi milik Greyson.
Di sisi lain
Lashira memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya erat-erat, ia berusaha untuk tidur secepat mungkin agar kondisinya pulih dan tidak merepotkan semua orang.
Tap tap tap
Suara sepatu itu menggema di kamar Lashira yang sangat hening, langkah pria itu semakin mendekat ke arah tempat tidur. “Dia bisa mati karena tidak terbangun sama sekali … atau mungkin berpura-pura tertidur?” ujar pria tadi berbicara sendiri.
“Lashira Wil- ah! Bukan … Lashira Ardiansyah kita bertemu lagi rupanya, kau mengingatku?” Pria tadi tersenyum remeh karena akhirnya berhasil membuat Lashira membuka matanya. Lashira langsung terduduk dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Siapa?" tanya Lashira begitu tenang.
"Kau tidak mengingatku? Kita sudah bertemu beberapa kali dan yang terakhir saat dua tahun lalu. Kau ingat?" tanya pria tadi masih terus memancing Lashira.
Alih-alih beranjak dari sana dan melarikan diri, Lashira malah tidak bergerak dari tempatnya sama sekali. Matanya menatap nyalang pria tua di hadapannya dengan penuh kewaspadaan. "Apa maumu?" tanya Lashira tanpa basa-basi.
"Tinggalkan Greyson."
__ADS_1