
Chris tersenyum pada Lashira yang ada di hadapannya saat ini. Alih-alih merasa tidak nyaman karena tatapan tajam yang diarahkan Lashira padanya, Chris justru merasa Lashira begitu lucu saat menatapnya tajam seperti itu. Entah kenapa ia jadi ingat anjing peliharaannya dulu.
“Jadi?”
“Apa alasan Greyson menolak tawaranmu?” tanya Lashira.
Chris mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya sebelum membalas pertanyaan Lashra. “Kau yakin benar-benar ingin mendengarnya?” Lashira mengangguk yakin. Tentu saja dia yakin, tidak mudah untuk Lashira bertemu dengan Chris tanpa sepengetahuan Greyson. Kalau ia masih tidak bisa mendengar alasan itu, sia-sia saja perjuangannya untuk bisa sampai di sini sekarang.
“Jadi apa alasannya? Jangan membuang waktuku, aku tidak bisa terlalu lama di sini,” ujar Lashira dingin.
Chris terkekeh pelan. “Tentu saja kau, memangnya apalagi? Hanya dua orang yang bisa mempengaruhi keputusan bocah itu, ibunya dan juga … kau,” tekannya dengan wajah yang tidak bersahabat seperti sebelumnya.
“Perjanjian kekanakan kalian itu mengikat lehernya meskipun dia suka dengan ketegangan yang ia rasakan saat menjalankan dunia bawah tanah. Saat dia mengatakan alasan itu dua tahun lalu, rasa ingin memusnahkanmu meluap-luap hingga pertemuan kita waktu itu. Kau ingat?”
Wajah Lashira tetap datar setelah mendengar semua perkataan Chris.
“Aku sedikit senang karena saat pertemuan itu aku menyadari kau tidak sebodoh atau senaif yang diceritakan oleh Greyson, tapi perasaan di antara kalian itu sangat menggangguku. Cinta kekanakan kalian itu mengingatkanku dengan tingkah bodoh kakakku yang mati bunuh diri setelah melihat istrinya menikah lagi dengan mantan sahabatnya.”
“Tunggu! Bunuh diri katamu?!” pekik Lashira tanpa sadar.
Chris menyeringai licik melihatnya. “Ternyata hipnotis yang dilakukan Scarlett beberapa tahun yang lalu tidak berpengaruh padamu ya? Sepertinya kau mengingat semua ingatanmu.”
***
To, kak Nor :
Aku ada di café dekat kantor. Kalau pekerjaan kalian sudah selesai, jemput aku!
Setelah selesai mengirim pesan untuk Norbert, Lashira kembali menikmati caramel macchiato miliknya dan di hadapannya masih ada Severin yang juga sedang menikmati ice americano.
“Sampai kapan kau di sini?” tanya Lashira dengan nada tak bersahabat.
“Kau masih bertengkar dengan Greyson?”
Lashira hanya mengangguk malas. Tangan gadis itu sibuk membalik halaman demi halaman buku novel yang ia baca tanpa menghiraukan Severin yang sejak tadi enggan mengalihkan pandangannya dari Lashira.
“Apa ada sesuatu di wajahku?” tanya Lashira tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Wajahmu jelek, aku hanya sedang berpikir … kenapa Greyson bisa memilih wanita yang seperti dirimu? Apa dia kehilangan akalnya?” Nada bicara Severin yang santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali entah kenapa membuat Lashira bertambah jengkel ketika mendengarnya.
“Memangnya aku seperti apa? Kau berbicara seolah-olah mengenal diriku luar dalam saja. Aku cukup cantik tahu! Bahkan seharusnya Greyson yang bersyukur karena mendapatkan diriku.”
Severin tertawa kencang hingga menarik perhatian para pengunjung, Lashira refleks menutup wajahnya dengan buku yang sedang ia pegang. “Gubluk banget sih … malu-maluin aja!” desis Lashira pelan.
“Gubluk? Dapet kata-kata itu darimana kali? Padahal ‘kan kamu hidupnya no life selama ini,” ejek Severin tepat sasaran karena setelah itu Lashira langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
Severin diam sebentar, ada perasaan yang mengganggunya setelah melihat ekspresi dan tatapan dingin Lashira tadi. Dia berdehem pelan sebelum berbicara lagi, “tadi … kalian berdua membicarakan apa saja?”
Lashira tetap diam, gadis itu berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan seluruh atensinya pada buku yang ada di tangannya alih-alih menanggapi makhluk jejadian di hadapannya.
“Apa dia menyuruhmu untuk meninggalkan Greyson lagi?”
Lashira mengangkat pandangannya ke wajah Severin. “Kau pernah mendengar idiom tentang kucing?”
“Kucing? A cat?”
Lashira mengangguk pelan membenarkan. “Don’t you know curiosity kills the cat?”
“Kau mengancamku?”
Lashira dengan cepat memakai tudung hoodie dan maskernya agar tidak dikenali oleh keduanya. Kedua alis Lashira bertaut karena merasa bingung sekaligus penasaran dengan kebersamaan kedua orang itu. Sejak kapan mereka dekat? Pikirnya.
Severin yang sejak tadi hanya memperhatikan pun mengangkat sebelah alisnya heran. Tidak lama perhatian Severin langsung berpindah pada orang yang baru saja keluar dari mobil mewahnya di luar sana.
“Greyson arah jam 10,” ujar Severin yang langsung dimengerti Lashira.
Tanpa berbicara apapun lagi, Lashira langsung membawa barang-barangnya dan bergegas keluar menghampiri Greyson. Severin yang mengawasi dari tempatnya pun ikut beranjak setelah Lashira dan Greyson sudah masuk ke dalam mobil.
Severin menyeringai tipis saat matanya bertemu sesaat dengan pandangan Leon ketika ia akan keluar dari café.
Sementara itu, Lashira dan Greyson masih saling diam di dalam mobil setelah tiba-tiba gadis itu memaksa Greyson untuk segera pergi dari café tadi. “Kukira kak Norbert yang akan menjemputku,” lirih Lashira dengan wajah tertunduk. Greyson hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus ke jalan.
“Kamu masih marah?” tanya Lashira yang sesekali meilirik ke arah Greyson.
“Grey!” pekik Lashira karena tidak dihiraukan sejak tadi.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Menyebalkan! Dia memang pria tua menyebalkan,” gerutu Lashira cukup kencang hingga Greyson bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
“Mau makan apa?” tanya Greyson.
“Terserah,” balas Lashira seraya memalingkan wajahnya.
“Oke seafood.”
Lashira menatap Greyson horror. “Aku tidak bisa makan seafood dan kau tahu itu,” ujarnya tidak terima.
“Tadi katanya terserah,” balas Greyson.
“Grey! Kamu sangat menyebalkan!”
“Kamu mengatakan hal itu berkali-kali. Tidak bosan?” Greyson memasukkan mobilnya ke salah satu restoran dan langsung turun diikuti oleh Lashira di belakangnya. Kepala gadis itu terus tertunduk hingga tidak tahu kalau Greyson sudah menghentikan langkahnya, akibatnya dahinya mencium punggung kokoh Greyson cukup kencang.
Greyson hanya menoleh sebentar saat mendengar ringisan Lashira. Lalu melanjutkan langkahnya naik ke lantai atas. “It’s hurt,” gumam Lashira pelan.
Lashira duduk di hadapan Greyson dengan ekspresi wajah merengut. Demi apapun dahinya masih terasa panas dan sedikit berdenyut karena menabrak punggung pria itu tadi.
“Kenapa harus di ruangan VIP? Ini hanya makan biasa saja.” Suara Lashira mencicit di dua kata terakhir karena mendapat tatapan tajam dari Greyson.
“Jangan terlalu dekat dengan Severin,” ujar Greyson setelah pelayan keluar dari ruangan ini.
“Kenapa? Apa itu harus?” tanya Lashira dengan ekspresi wajah datar. Lashira berusaha sebisa mungkin untuk tidak tersenyum karena bisa merasakan kecemburuan prianya ini, ia senang karena upayanya berhasil membuat Greyson terganggu seharian ini.
Greyson menjadi sensitif hari ini, bahkan Norbert juga mendapat getahnya hanya karena melakukan kesalahan kecil. Norbert menceritakan semuanya dan menanyakan apa mereka sedang bertengkar atau tidak. Tentu saja Lashira memberitahukan yang sebenarnya karena ia sendiri pun mendapatkan sedikit informasi sebelumnya. Anggap saja itu sebuah pertukaran informasi, pikir Lashira.
“Ira! Kau tidak mendengarkanku?”
Lashira menyengir tidak bersalah, Greyson sampai tertegun karena perubahan ekspresi Lashira. “Kau senang mendengar Clarissa meminta untuk bertemu empat mata denganku?” tanya Greyson yang langsung membuat senyuman Lashira luruh seketika.
“Kau bilang apa tadi, Grey?!”
__ADS_1