
Mobil yang Theo kendarai berhenti di perkarangan rumah Lashira. "Makasih ya kak.. Aku masuk dulu," ucapnya seraya hendak membuka pintu mobil.
Ceklek!
Lashira menoleh dengan wajah bingung karena Theo malah mengunci pintu mobil tersebut, "kenapa kak?" Theo menatap gadis itu dengan serius, "ada hubungan apa kamu sama Greyson?" jantung Lashira bertalu-talu, dia bingung harus menjawab apa.. Karena dia sendiri pun tidak mengerti hubungannya dengan pria itu.
Pria itu tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya tanpa permisi, mengacaukan kehidupannya bagaikan badai. Namun berkat pria itu juga dia menemukan sosok lain dalam dirinya yang begitu berbeda dari dirinya yang biasa. Hebatnya pria itu tetap bertahan di sisinya walau Lashira menunjukkan sisi terburuknya.
Lashira juga tidak perlu menahan dirinya jika berhadapan dengan pria itu. Berbeda ketika ia dengan yang lain.. dimana ia harus menekan seluruh sisi buruknya agar mereka tetap berada di sisinya.
Lashira tersenyum tipis, "aku juga gak tahu.. Apa hubungan kami, namun sepertinya dia akan selalu berada di sisiku apapun yang terjadi.." Tiba-tiba Theo mendekatkan wajahnya pada wajah Lashira hingga gadis itu terkesiap kaget. "Aku juga bisa, kenapa harus sama dia?"
Wajah Lashira memerah saat hidung mereka bersentuhan, "kak.." lirihnya pelan.
Tatapan Theo kini terfokus pada bibir gadis itu, Lashira memejamkan matanya rapat-rapat dan menahan napasnya saat Theo menempelkan bibirnya. Hanya menempelkan memang namun cukup lama dalam posisi seperti itu.. hingga air mata Lashira membuat Theo tersadar dan melepaskan gadis itu.
"Sorry.."
Lashira mengusap air matanya, tanpa melihat pria itu ia berkata, "aku harus masuk kak.."
Gadis itu langsung saja keluar begitu Theo membuka kunci pintu mobilnya. Dia terus berjalan masuk ke rumahnya tanpa menghiraukan panggilan Theo. Begitu punggung gadis itu tidak terlihat, Theo menggeram kesal seraya mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Clarissa yang sudah menunggu kedatangan Lashira langsung berdiri dari tempatnya begitu pintu rumah terbuka. "Mana bonyok?" tanya Lashira. Sikap Clarissa yang gelagapan, membuat ekspresi wajah Lashira menjadi datar, "mau sampe kapan kamu begitu?" setelah berkata seperti itu, Lashira langsung berjalan cepat ke kamarnya tanpa memerdulikan jawaban Clarissa.
***
Ponselnya kembali berdering untuk sekian kalinya, namun Lashira tak kunjung menyentuh ponselnya itu. Dengan kesal ia menyelupkan ponselnya itu ke dalam teko air yang berada di atas nakas dan kembali menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
__ADS_1
Hari ini, untuk pertama kalinya ia membolos kuliah dan tetap mengurung dirinya di dalam kamar, dia juga tidak merespon teriakan Clarissa yang menyuruhnya makan, bahkan Chika pun memilih untuk kembali ke kampus karena menyerah membujuk gadis itu.
Setelah seharian bergelung di bawah selimut, gadis itu masuk ke dalam kamar mandi karena merasa gerah luar biasa. Padahal sekarang sudah hampir tengah malam dan di luar sana sedang hujan, namun gadis itu malah berendam tanpa air hangat.
Detik demi detik, menit demi menit berlalu namun gadis itu masih saja betah di dalam sana. Sedangkan di dalam kamarnya sudah ada sesosok pria yang menunggu gadis itu. Curiga karena tidak ada tanda-tanda sama sekali, Greyson merangsek masuk ke dalam kamar mandi. Kedua matanya hampir saja terlepas dari matanya saat melihat wajah Lashira yang sudah memucat.
Dengan sigap Greyson mengangkat gadis itu dan membilasnya dengan cepat. Dia langsung membalut tubuh Lashira menggunakan handuk dan selimut baru. Lashira membuka matanya dan tersenyum tipis melihat kehadiran Greyson, "kamu di sini?" ucapnya dengan lemah. Greyson mengangguk, dia mengatur suhu ruangan menjadi lebih hangat dan mengecek suhu tubuh gadis itu.
Lashira menyentuh tangan pria itu, "kamu itu siapa?" lirih gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Greyson mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas apa yang gadis itu katakan. "kamu tahu? Dia menciumku." wajah Greyson menegang mendengar suara Lashira yang menyerupai bisikan itu.
"Katanya dia juga bisa, dan kenapa harus kamu?" Greyson mengusap air mata gadis itu dengan lembut.
"Aku juga gak tahu kenapa harus kamu! Bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali, aku hanya tau namamu. Selain itu aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi jantung ini.." ucapan gadis itu terhenti.
Lashira menatap Greyson dengan dalam, "gara-gara kamu aku sakit jantung huaa!!" rengek Lashira seperti anak kecil, Greyson menggaruk kepalanya kebingungan harus bagaimana menghadapi gadis itu. Jelas sekali kondisi gadis itu sedang tidak baik, suhu badan gadis itu terasa sangat panas.
"Kamu bisa memakai baju sendiri?" ocehan kekanakan Lashira terhenti saat mendengar perkataan Greyson. Mata gadis itu kembali berkaca-kaca, "Grey.. dia menciumku, di sini." adunya seperti anak kecil seraya menunjuk bibirnya. "Kamu tidak marah?"
Air mata Lashira kembali keluar, "maaf.."
"Dimana?"
Lashira menyentuh bibirnya dengan wajah sendu, Greyson langsung mendekatkan wajahnya dan mencium gadis itu dalam. "Apa seperti itu?" Lashira menggeleng, dia menarik tengkuk Greyson dan menempelkan bibirnya pada bibir Greyson; sama seperti yang Theo lakukan padanya.
"Tapi bukan itu masalahnya," lirih gadis itu membuat Greyson menatapnya sebal.
"Aku tak bisa menjawab pertanyaan dia, sebenarnya kamu itu siapa Grey? Aku ini siapamu? Apa hubungan kita?" tanyanya dengan suara bergetar. Greyson menarik gadis itu ke dalam pelukannya, sesekali ia mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
Setelah gadis itu tertidur, Greyson melepas pelukannya dan memakaikan baju gadis itu dengan hati-hati. Jika tidak memikirkan kondisi gadis itu sekarang bisa saja hilang kendali ketika memakaikannya baju, namun jika melihat kondisi gadisnya seperti ini.. jangankan ‘menyentuhnya’ sempat berpikir tentang ‘itu’ saja tidak.
Greyson menghembuskan napas kasar karena suhu tubuh Lashira yang masih tinggi. Dengan bergegas ia turun ke bawah menyiapkan air hangat untuk mengompres gadis itu. Gerakan tangannya berhenti saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
“Siapa?” tanya Clarissa yang tidak bisa melihat dengan jelas wajah Greyson karena lampu dapur tidak menyala.
Greyson melanjutkan kegiatannya tanpa merasa khawatir dengan adanya Clarissa. Gadis itu dengan cepat menyalakan lampu dapur dan terperangah kaget saat melihat pria yang selama ini ia tunggu-tunggu ada di dapur rumahnya.
Setelah selesai, dia langsung kembali ke kamar Lashira tanpa berkata apapun pada Clarissa, pria itu melewatinya begitu saja tidak memerdulikan keberadaannya di sana. Clarissa tersenyum kecut, matanya tiba-tiba terasa panas.
Gadis itu berjalan ke arah kulkas seperti tujuan awal untuk mengambil air dingin. Tanpa menggunakan gelas, dia langsung meminumnya langsung dari teko. “Kendalikan dirimu Clar..” gumamnya.
***
Greyson dengan telatennya mengompres dahi Lashira semalaman, ia rela bolak-balik ke dapur untuk mengganti air kompresan gadis itu. Dia bahkan mengabaikan semua panggilan dari ponsel dan segala pekerjaannya demi mengurus gadis itu.
Lashira membuka matanya saat sinar matahari menyapa wajahnya, dia menggeliat di dalam selimutnya berniat untuk melanjutkan tidurnya. Namun matanya langsung terbuka lebar saat sekelebat bayangan tadi malam muncul di kepalanya. Baskom serta handuk kecil masih ada di atas nakasnya, bahkan ponsel yang kemarin ia masukkan ke dalam teko air sudah tercharger di meja belajarnya.
“Jangan-jangan itu bukan mimpi?” tanyanya pada diri sendiri. Dia menatap horror penampilannya di cermin, siapa yang memakaikan baju semalam?
Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan menghubungi Greyson, “kamu semalam ke rumahku?” begitu terhubung.. gadis itu langsung saja melontarkan pertanyaan. Terdengar hembuskan napas berat di seberang sana, “ya.”
“Apa kamu-”
“Kemarilah, nanti kamu bisa menanyakan apapun yang ingin kamu ketahui..” potong Greyson dengan suara serak, jelas sekali kalau pria itu baru saja bangun.
“Baiklah..”
__ADS_1
“Kalau begitu aku tutup..”
Lashira berdehem pelan, dia mengernyitkan dahinya karena merasa ada yang salah. “Tunggu, kenapa aku jadi seperti ini?”