
“Jadi kau mengizinkannya?” tanya David.
Lashira diam, dia mengambil bekal yang ada di tangan Marie dan memeriksanya sebelum memberikannya pada David. “Ya,” balas Lashira singkat.
David mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kamu mengizinkannya?”
“Memangnya aku bisa melarang Greyson?” tanya Lashira balik.
“Kamu bisa.”
Lashira menghembuskan napas panjang, kedua bahunya menurun lemas. “Kamu tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini,” lirih Lashira.
“Kalau begitu katakan dan buat aku mengerti.” David kembali duduk di kursinya menunggu penjelasan Lashira. Alih-alih mendapat penjelasan, David justru mendapatkan pukulan yang cukup kencang di lengannya.
“Kau beralasan ingin mendengar keluh kesahku, padahal sebenarnya kau tidak ingin berangkat ke sekolah ‘kan hari ini?”
David memasang wajah terkejut. “Bagaimana kau tahu?”
“Pergilah! Aku harus bersiap sekarang,” ujar Lashira yang hendak kembali ke kamarnya.
“Kau ada acara hari ini?” tanya David.
“Sepertinya aku akan menemui temanku hari ini,” balas Lashira sebelum benar-benar pergi ke kamarnya.
***
Lashira tersenyum manis saat melihat kedatangan Leon. “Kamu udah lama di sini?” tanya Leon.
“Belum kok, Kak.”
“Kamu belum pesan?”
Lashira menggeleng pelan. “Aku mau nunggu Kak Leon dateng dulu,” balasnya.
“Kalau gitu mau caramel macchiato?” tawar Leon yang langsung diangguki setuju oleh Lashira. Leon berdiri dari tempatnya dan pergi ke kasir, Lashira pun memanfaatkan waktu dengan mengirim pesan singkat pada Norbert tentang keberadaannya sekarang.
Jangan tanya kenapa ia mengirim pesan pada Norbert alih-alih Greyson. Mengingat pertengkaran mereka sebelumnya, ditambah lagi mengenai permintaan aneh Clarissa yang ingin bertemu dengan Greyson berdua saja membuat Lashira semakin enggan untuk berkomunikasi dengan Greyson.
“Hey!”
__ADS_1
Lashira mengerjapkan kedua matanya lucu karena terkejut dengan suara Leon. Rupanya pria itu sudah membawakan minuman sekaligus cake untuknya. “Kamu ngelamun?” tanya Leon.
“Enggak kok, Kak. Aku cuma lagi mikirin sikap aku belakangan ini, kalian pasti kaget dan kecewa banget sama sikap aku ….” Lashira menunduk merasa tidak enak. Biar bagaimanapun Ace adalah teman pertamanya. Mereka mengajarkan banyak hal padanya.
Leon tersenyum kecil. “Kaget, so pasti. Tapi kalau kecewa … aku pribadi sih gak masalah tentang itu, toh kamu bersikap seperti itu juga ada alesannya dan aku tahu itu. Jadi, kamu gak usah merasa gak enak atau apapun itu sama aku.”
“Apalagi Nobert, dia tuh ngarep banget bisa deket sama kamu … apalagi setelah tau kalau kamu itu sepupunya dia.”
Lashira menggulum bibir bawahnya karena merasa tidak nyaman dengan pembahasan Leon yang melibatkan Nobert, sepupunya. “Kak….”
“Maaf, padahal aku tau kalau kamu pasti ngerasa gak nyaman sama topik ini … tapi mau sampai kapan? Kalian berdua itu sama-sama orang yang penting dalam hidup aku, aku gak bisa liat kalian kaya gini terus.” Lashira kembali mendongak untuk menatap mata Leon, dia bisa merasakan ketulusan pria itu dari sana.
Lashira menghembuskan napas panjang. “Kakak tau ‘kan hubungan aku sama keluarga besar dari mantan suami bundaku kaya gimana? Mau kaya gimana pun mereka gak akan nerima aku dan aku gak mau sampe kak Nobert ikut merasakan apa yang aku rasakan sela-”
“Omong kosong apa itu?” sela Nobert yang tau-tau sudah berdiri tepat di sebelah Lashira.
“Kak No ….”
“Maaf, ya? Karena kamu minta ketemu, aku pikir sekalian aja aku ajak Nobert supaya kalian juga bisa nyelesaiin masalah kalian.” Leon mengusap leher bagian belakangnya karena merasa tidak enak.
“Kamu tuh ngomong apa sih? Aku gak bakal kenapa-napa, kalau pun mereka maki-maki atau bahkan ngusir aku karena deket sama kamu, gak bakal ngaruh ke aku! Karena emang gak penting juga ngeladenin mereka.”
“Tapi-”
Lashira terdiam, dia bingung sekali saat ini.
Leon berdehem pelan lalu menyuruh Nobert untuk duduk terlebih dahulu. Dalam hati ia sedikit memaki kelakukan grasak-grusuk sahabatnya itu. Bahkan pria itu belum duduk di kursi tapi malah langsung berbicara ke intinya.
“Maaf ya, Ra,” ujar Leon yang ditanggapi Lashira dengan senyum tipis.
“Lo lagian jadi manusia gak ada basa-basinya! Ngomong dulu dah tuh berdua, gua mau ke toilet dulu trus pesenin minum buat lo.” Setelah mengatakan itu Leon langsung pergi menjauh dari sana.
“Hi! Gimana kabar kamu sama Greyson sekarang?” sapa Nobert sedikit berbasa-basi.
Lashira tersenyum kaku. “Baik kok.”
“Makasih,” ujar Nobert tiba-tiba.
“Makasih?” tanya Lashira tidak mengerti.
__ADS_1
“Ginjal ayahmu.”
“Ouh.”
Setelah itu keduanya terdiam sebentar sebelum Nobert kembali membuka suara, “kita bisa ‘kan jadi deket lagi?” Bertepatan dengan itu, Leon kembali dengan segelas americano untuk Nobert.
“Oh iya, kamu mau ngomong apa sampe ngajak ketemuan gini? Greyson emang ngizinin kita ketemuan gini?” tanya Leon.
Lashira menggeleng pelan. “Greyson kayanya belum tau … tadi aku udah bilang sama tangan kanannya dan dia bilang oke tadi.” Leon mengangguk mengerti, pria itu memakan cake-nya sambil menunggu perkataan Lashira selanjutnya.
“Kak … sejak kapan Kakak deket sama Clarissa?” tanya Lashira pada Leon.
“Deket? Gak juga, sih. Kita emang beberapa kali ketemuan setelah kamu kabur dari rumah ayah Rudi. Kenapa emang?” tanya Leon balik.
“Terakhir aku liat Kakak ketemuan sama Clarissa kemaren di sini. Dan semalem Greyson bilang kalau Clarissa minta ketemu sama dia berdua aja-”
Leon yang sudah tau arah pembicaraan ini langsung memotong perkataan Lashira dan berkata, “ya, aku yang bantuin dia buat hubungin Greyson. Dia adek kamu, jadi aku pikir gak ada salahnya juga aku bantu dia. Tapi aku pikir dia berniat hubungin Greyson supaya bisa ketemu kamu bukan malah-”
Perkataan Leon terhenti karena Nobert menyenggol lengan Leon dengan cukup kencang, memberi kode pada pria itu untuk tidak berkata apapun lagi yang bisa memperburuk keadaan.
“Gapapa kok, Kak. Itu gak salah kok,” ujar Lashira.
“Oh terus mereka jadi ketemu?” tanya Leon yang langsung dipelototi oleh Nobert.
Lashira mengangguk. “Kayanya sih gitu. Tapi gak tau deh, dari pagi aku belom ketemu Greyson soalnya ….”
Lashira mulai meminum minumannya karena bingung harus berbicara apa lagi.
“Bales pesanku! Setidaknya kita tetep komunikasi walaupun udah jarang kumpul lagi …,” perintah Nobert yang lebih terdengar seperti sebuah permintaan. Lashira pun mengangguk setuju. Dia memberikan nomor ponselnya yang sekarang pada keduanya untuk saling bertukar kabar.
Setelah itu mereka mengobrol sampai cukup sore. Mungkin jika Norbert tidak menghubungi Lashira untuk segera menyusul ke kantor, mereka akan melanjutkan perbincangan mereka sampai malam nanti.
“Kenapa, Kak?” tanya Lashira setibanya di depan meja kerja Norbert.
Norbert mengendikkan dagunya ke arah pintu ruangan Greyson. “Ngamuk pas denger situ ketemuan sama Leon.”
Kedua alis Lashira langsung tertaut. “Kok ngamok? Kan dia sendiri juga ketemuan sama adek saiya,” balas Lashira.
“Masuk! Kenapa malah ngerumpi di sini?!”
__ADS_1
Lashira refleks terperanjat, dia mengelus dadanya yang berdebar saat melihat ekspresi wajah Greyson yang datar. “B aja kali, Pak.”
“Doain aku!” bisik Lashira sebelum masuk ke ruangan Greyson.