Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 16


__ADS_3

Lashira berangkat ke kampus setelah kemarin bolos sampai sakit, dia bersyukur karena hari ini belum berpapasan dengan anak-anak Ace. Entah bagaimana ia harus bersikap di depan mereka setelah kejadian tempo lalu. Lagian dia bingung pada tubuhnya yang malah diam bergeming bukannya mendorong Theo saat pria itu akan menciumnya.


Belum lagi sikap Shon yang sepertinya tidak suka padanya. Masalah-masalah itu terus saja berputar di otaknya, sampai-sampai semua pelajaran yang dari tadi disampaikan oleh dosen terpental jauh dari otak kecilnya.


Ponselnya kembali berdering, dia menghembuskan napas panjang sebelum mengangkat panggilan dari Leon, “Ya kak?”


“Kamu dimana?”


Lashira melihat sekelilingnya, “aku ada di gedung C..” dari tadi ia hanya mengikuti langkah kakinya tanpa tahu arah, ia tidak menyangka bisa sampai ke gedung ini.


“Ngapain kamu bisa sampe sana?”


Lashira tersenyum tipis, “tadi jalan-jalan aja nunggu jam kelas berikutnya.. eh gak kerasa udah di sini..”


“Kamu masih ada waktu sebelum kelas berikutnya dimulai gak?” mendengar itu Lashira langsung melihat jam tangannya.


“Masih setengah jam lagi kak..”


“Aku tunggu di ruangan samping ruang BEM ya..”


“Oke..”


Setelah panggilan tertutup ia langsung beranjak dari sana.


“Kenapa kak?”


Leon memberikan segelas frappuccino untuk gadis itu, "minum dulu.. yang lain masih ada kelas kok, kamu tenang aja.." ucap Leon yang sepertinya menyadari rasa tidak nyaman gadis itu untuk bertemu dengan yang lainnya. Lashira yang bingung harus merespon bagaimana hanya tersenyum tipis.


"Kamu kemarin kenapa gak kampus?" mendengar itu, Lashira yang sedang minum langsung tersedak. Leon mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut, "gara-gara disosor sama Theo kan?"


Kedua mata gadis itu membola, "kak Theo cerita ke kakak?" tanyanya terkejut sampai berdiri dari tempatnya. Leon kembali menarik gadis itu duduk di sebelahnya, "dia gak cerita.. cuma nebak aja." balas Leon dengan datar.


"Kamu gak mau cerita akhir-akhir ini lagi deket sama siapa?" terlalu cepat, batin Lashira belum siap.


"Greyson.. Benar?" lanjut Leon seraya menatap Lashira dengan serius. "Kamu tahu gak dia itu siapa?" Lashira menggeleng pelan. "Kalau gitu, coba kamu minta dia cerita tentang dia.. aku pengen tahu dia akan ngomong apa sama kamu.."


"Kak Leon kenal sama Greyson?" Leon mengangguk, "dia kakaknya Theo." ucapnya dengan santai, tidak memerhatikan reaksi ucapannya pada gadis itu.

__ADS_1


Hik!


Leon langsung menoleh terkejut mendengar Lashira yang tiba-tiba cegukan.


***


Lashira melangkahkan kakinya gontai saat memasuki gerbang rumah Greyson, anak buah pria itu serentak membungkukan badannya hormat. Dia meringis saat mendapat perilaku yang berlebihan seperti ini, "bangun.. lain kali kalau ketemu saya jangan kaya gini ya! Pokoknya biasa aja!" omelnya seperti mengomeli anak kecil.


Norbert yang melihat itu dari jauh hanya bisa menahan tawanya, namun wajahnya langsung kembali seperti biasa saat tatapannya bertemu dengan gadis itu. "Greyson ada?" tanya Lashira tanpa basa-basi. Norbert langsung mengantarkan gadis itu ke kamar pria itu.


"Grey bangun!" teriaknya saat baru masuk.


Dia menghembuskan napas panjang saat pria itu tidak bergeming sama sekali, dia langusng berjalan mendekat ke arah pria itu. Melihat wajah polos Greyson yang sedang tertidur seperti ini entah kenapa terasa menyenangkan untuk gadis itu. Tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh wajah pria itu.


Dia mengusap wajahnya dengan lembut, "tampan.." gumamnya.


"Makasih.."


Mata Lashira langsung membola mendengar itu, refleks ia menarik kembali tangannya menjauh.. namun ia kalah cepat dengan pergerakan pria itu yang malah menariknya ke dalam dekapan pria itu. Wajahnya tenggelam dalam dada bidang Greyson yang hanya tertutup kaos hitam polos.


"Grey! Setidaknya biarkan aku bernapas dengan mudah!" Greyson sedikit melonggarkan dekapannya namun kedua kakinya meilit tubuh Lashira hingga tidak bisa bergerak sama sekali. Lashira mendongak untuk menatap wajah pria itu, "apa kamu semalam ke rumahku?"


"Memakaikan bajumu?" potong Greyson seraya tersenyum smirk, dengan kesal gadis itu mencubit pinggang pria itu dengan sekuat tenaga. Greyson mengaduh kesakitan membuat Lashira tidak tega dan lengsung mengelus bekas cubitannya.


"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"


"Baaaanyaaak!"


Greyson tersenyum tipis, "kamu penasaran denganku? Kalau gitu setiap pertanyaan tidak gratis." Lashira cemberut kesal, bahkan pria itu tidak memberikannya oleh-oleh.


"Mana oleh-oleh yang kamu janjikan?" tagih gadis itu tanpa tahu malu. Greyson kembali mempererat dekapannya, dia tersenyum senang saat merasakan kedua tangan gadis itu melingkar di pinggangnya sekarang.


"Sampai kapan kau gantung


Cerita cintaku memberi harapan


Hingga mungkin ku tak sanggup lagi

__ADS_1


Dan meninggalkan dirimu oh


Detik detik waktu pun terbuang


Teganya kau menggantung cintaku


Bicaralah biar semua pasti."


"Apa itu sindiran untukku?"


Lashira memalingkan wajahnya, "aku lagi nyanyi kok.."


"Tapi Greyson.. rasanya tak adil.."


Greyson menangkup wajah gadis itu agar menatap wajahnya. "Kamu tahu semua tentangku, tapi aku tak tahu apa-apa tentangmu.." ucapnya dengan wajah sendu.


"Apa kamu akan selalu ada di sisiku?" Lashira mengangguk mantap. Matanya berbinar, menunggu kalimat selanjutnya yang akan pria itu katakan. "Apa buktinya kamu tetap akan di sisiku?" Lashira terpejam, "aku tidak bisa memberikan buktinya sekarang. Apa ada yang bisa aku lakukan supaya kamu percaya kata-kataku?"


"Cium aku."


Spontan saja wajah Lashira langsung memerah karena mengingat kejadian semalam. "Tidak ada yang lain?" Greyson menggeleng, dirinya berdebar karena penasaran apa gadis itu akan benar-benar menciumnya atau tidak. Lashira melepas pelukannya dan bangun, Greyson diam menunggu apa yang akan dilakukan gadisnya itu.


Lashira menangkup wajah Greyson dan mengatur napas berkali-kali, Greyson berusaha menahan tawanya melihat wajah serius gadis itu. Gemas rasanya, pikirnya.


Lashira mendekatkan wajahnya dengan wajah Greyson, wajah gadis itu sudah sangat memerah menahan malu. "Greyson.." lirihnya pelan. Greyson tersenyum miring, "kalau gak jadi.. aku tidak akan cerita." Hidung mereka sudah bersentuhan, namun gadis itu langsung saja memeluk leher Greyson dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher pria itu.


"Gak bisa.." rengeknya.


"Kalau gitu, jadi kekasihku lalu aku ceritakan tentang diriku.. bagaimana?" tawar Greyson. Lashira menggeleng, "aku tidak akan menjadi kekasihmu jika kamu tidak menceritakan tentang dirimu.." ucap Lashira yang sepertinya masih betah di cerukan leher pria itu.


Greyson menjauhkan kepala gadis itu dari cerukan lehernya, bisa gawat jika gadis itu terlalu lama berada di sana. Hembusan napas gadis itu menggelitik lehernya, membuat sekujur tubuhnya merinding disko. Lashira cemberut dan menatap kesal pria itu. "Kamu bilang jika aku ke sini maka aku bisa menanyakan apapun padamu.."


Greyson memajukan wajahnya mendekat, "kalau gitu cium aku." Kedua mata gadis itu fokus pada bibir Greyson yang hanya berjarak beberapa senti saja dari bibirnya.


Cups!


Kedua mata gadis itu terpejam erat dengan wajah memerah, Greyson tersenyum tipis dan memperdalam ciuman mereka. Pria itu menarik Lashira ke atas pangkuannya dan dengan nurutnya gadis itu membiarkan Greyson menciumnya lebih dalam. Kedua tangan gadis itu memegang kedua pundak Greyson dan kedua kakinya melingkari pinggang pria itu dengan erat.

__ADS_1


"Ups!" Lashira langsung mendorong Greyson dan melompat ke dalam selimut saat tanpa sengaja Norbert menginterupsi kegiatan keduanya.


Greyson mengacak rambutnya frustrasi dan keluar kamar untuk menghajar Norbert karena telah mengganggunya. Setelah terdengar suara pintu tertutup, gadis itu keluar dari selimut seraya menghembuskan napas lega. "Thank you Norbert.." gumamnya pelan.


__ADS_2