Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 50


__ADS_3

Prang!


Clarissa terkejut setengah mati melihat dua orang yang sedang bersama dengan ayah dan ibunya di ruang tamu. Padahal belum ada seminggu, tapi Greyson benar-benar mengunjungi rumahnya bersama dengan Lashira.


Atensi seluruh orang langsung tertuju padanya. Lashira dengan cepat menghampirinya dan hendak membantu membersihkan pecahan gelas yang tidak sengaja ia jatuhkan tadi.


“Jangan! Tanganmu selalu terluka saat membersihkan pecahan kaca seperti ini!” omel Clarissa yang tentu saja langsung membuat Lashira menjauhkan tangannya dan membiarkan Clarissa membersihkannya sendiri.


Suasana benar-benar canggung, ia bahkan tidak berani menatap mata semua orang yang ada di ruangan ini, terlebih lagi Greyson.


“Aku tidak akan berbasa-basi di sini, Tuan Ardiansyah. Maksud kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar putri anda … Lashira.”


Jeder!


Tubuh Clarissa langsung kaku setelah mendengar perkataan Greyson tadi. Ia refleks berdiri saking terkejutnya. “Maaf aku pamit duluan karena aku harus bersiap sekarang. Aku ada janji dengan temanku hari ini. Kalian lanjutin aja ngobrolnya ….” Setelah mengatakan hal itu sambil tersenyum kaku, Clarissa langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.


Lashira yang mengetahui segalanya pun hanya menatap datar punggung sang adik.


“Maaf kalau kesannya-” Perkataan Greyson langsung dipotong oleh Lashira begitu kesadaran gadis itu mulai kembali.


“Ira minta maaf karena ganggu waktu Ayah sama yang lain hari ini. Ira tau apa yang Ira lakuin belakangan ini salah dan pastinya bikin Ayah kecewa, Ira benar-benar minta maaf untuk itu semua. Kedatangan kami ke sini kami mau minta doa restu Ayah karena selama ini Ayah sudah ngerawat dan membesarkan Ira.”


Lashira mengambil napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya, “Ira harap Ayah mau merestui dan mendampingi Ira saat pernikahan Ira nanti.”


Kepala Lashira langsung tertunduk segan setelah mengatakan itu semua, tangannya bahkan sampai meremat tangan Greyson cukup kencang saking gugupnya.


“Kamu benar-benar ingin menikahi Lashira?” Rudi akhirnya membuka suaranya setelah mendengarkan keduanya.


“Ya,” jawab Greyson tegas.


“Kamu mencintainya?”


Greyson mengangguk mantap. “Sangat.”


“Di belakang kamu ada gadis yang lebih cantik dan sempurna dari Lashira ….” Rudi menunjuk ke arah belakang Greyson seraya menunggu respons pria itu.


Lashira yang duduk di sebelah Greyson pun menoleh ke belakang tapi tidak dengan Greyson. Pria itu tetap menatap lurus Rudi dengan tangan yang masih menggenggam tangan Lashira.

__ADS_1


Rudi tersenyum tipis melihat reaksi keduanya. “Kalian tinggal bersama saat ini?”


Greyson mengangguk. “Ya, sejak Lashira memutuskan untuk keluar dari rumah ini kami memutuskan untuk tinggal bersama,” jelasnya. Lashira menunduk dalam karena takut dengan apa yang sedang ayahnya pikirkan sekarang.


***


Begitu sampai di mansion, Lashira langsung masuk ke dalam kamarnya. “Greyson memang keras kepala, sudah kubilang kalau ayahku itu tidak akan peduli dengan apa yang kulakukan. Dia memang menyebalkan! Tidak pernah mendengarkan masukan dari orang lain, bikin malu saja!”


Drtt!


From, Grey :


Turun makan siang


Lashira menghembuskan napas kasar, sudah menyebalkan, tidak peka, tidak romantis pula. Kenapa ia harus ditakdirkan untuk menyukai pria macam Greyson?


Dengan enggan ia pun melangkah gontai menuju ruang makan. Di sana sudah ada David dan Norbert yang juga sedang bersiap untuk makan siang bersama. Tapi ada yang aneh di sini, kenapa semua orang kecuali Severin bisa makan siang di rumah?


“Kalian tidak sibuk? Tumben sekali semuanya makan siang di mansion,” ujar Lashira menatap ketiga pria itu bergantian.


Tatapan Lashira kini tertuju pada Norbert yang akan menyuap makanan ke dalam mulutnya. Karena ditatap seperti itu, Norbert pun mengurungkan suapannya. “Aku sibuk … tapi ada beberapa hal yang harus kubereskan di sini jadi sekalian saja aku makan. Apa ada yang salah?”


Lashira menggeleng pelan. Mereka pun melanjutkan kegiatan makan siang mereka dengan hening. Ketiga pria itu saling melirik satu sama lain karena tidak terbiasa dengan sikap Lashira yang terlalu hening seperti ini.


“Kak, bantu aku mengerjakan tugas setelah ini.”


Lashira langsung menatap lurus ke David, dahinya mengerut dalam karena merasa bingung. Bukankah ia bosan karena sudah menguasai pelajarannya? Kenapa ia meminta bantuanku? Batin Lashira bertanya-tanya.


“Tugasnya mudah tapi sangat banyak. Kurasa aku memerlukan bantuan,” jelas David lagi yang langsung saja diangguki setuju oleh Lashira.


Greyson yang dari tadi hanya memperhatikan pun terlihat tidak suka, padahal rencananya ia ingin ber-cuddle ria dengan Lashira di kamarnya karena nanti malam ia akan melakukan transaksi yang cukup besar dengan rekannya.


“Lashira akan membantumu besok. Hari ini dia harus menemaniku seharian di kamar.”


Lashira diam tidak menyahuti, tatapannya kini tertuju pada Norbert berniat untuk meminta saran. Norbert yang lagi lagi terganggu dengan tatapan Lashira pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis itu.


“Kau bisa melakukannya secara bersamaan, itu pun kalau David tidak akan merasa mual melihat kemesraan kalian.”

__ADS_1


“Ya ya baiklah. Aku yang mengalah. Cih! Dimana-mana yang lebih tua mengalah pada yang lebih muda,” gerutu David yang langsung meninggalkan meja makan. Lashira menjadi sedikit tidak enak pada bocah itu.


“Aku sudah selesai.” Norbert juga cepat-cepat beranjak dari sana hingga tersisa mereka berdua di meja makan saat ini.


Greyson yang lebih dulu menyelesaikan kegiatan makannya, namun pria itu tetap di tempat dan tidak beranjak barang se-inchi pun untuk menunggu Lashira.


“Ayahmu, dia sangat menyayangimu.”


Lashira hanya diam tidak menanggapi perkataan Greyson. Saat ini keduanya sudah di dalam kamar Greyson, dengan Lashira yang berada di pelukan Greyson. Awalnya gadis itu meronta dan menolaknya tapi perlu diingatkan sekali lagi, Lashira sangat lemah terhadap Greyson.


“Ujian yang ia berikan padaku tadi sangat sederhana tapi arti-”


“Kapan dia mengujimu? Dia bahkan berkata terserah aku mau menikah atau tidak karena itu bukan urusannya lagi setelah aku keluar dari rumah itu!” potong Lashira gregetan.


Greyson mengusap punggung Lashira lembut. “Kau ingat perkataannya yang ‘di belakang kamu ada gadis yang lebih cantik dan sempurna dari Lashira’ padahal di belakang kita tidak ada siapapun?”


Lashira mengingatnya, dia langsung mendongak saat menyadari maksud sang ayah mengatakan itu. Greyson mengangguk membenarkan apa yang ada di pikiran Lashira. “Kalau aku menoleh, maka tamat semuanya ….”


Ekspresi wajah Lashira langsung memelas. Ia jadi merasa bersalah karena sempat berkata hal yang kurang baik pada sang ayah sebelum pulang. “Kenapa?” tanya Greyson gelagapan karena perubahan suasana hati Lashira.


“Sepertinya aku melakukan kesalahan,” lirih Lashira.


“Tenanglah, ayahmu pasti mengerti kenapa kamu bersikap seperti itu.”


Lashira menghembuskan napas panjang lalu mengangguk pelan membenarkan perkataan Greyson. Ya semoga saja, batinnya.


“Kau tahu, Grey? Ayahku itu sangat menyebalkan tapi aku sangat menyayanginya, aku selalu merasa kesal setiap mengingat keputusan ayah yang lebih memilih untuk menikah lagi dengan wanita itu.”


Tangan Lashira yang melingkari pinggang Greyson mengerat saat menghela napas panjang. “Aku sangat membencinya sampai saat ini, tapi kenyataan bahwa aku masih menginginkan kasih sayang ayah … aku tidak bisa memungkirinya.”


Tak ada tanggapan dari Greyson, pria itu hanya terus memeluk dan mengusap punggungnya untuk membuatnya tetap merasa nyaman. Dan tak butuh waktu lama Lashira bisa mendengar dengkuran halus milik Greyson. Dia tersenyum saat melihat wajah Greyson saat tertidur. Wajah kaku pria itu terlihat begitu polos di matanya saat ini.


Sangat tampan, pikir Lashira.


 


 

__ADS_1


__ADS_2