Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 20


__ADS_3

Nobert mengernyitkan dahinya bingung saat melihat sebuah kotak di meja makan. “Ini apaan bi?” tanyanya pada salah satu pembantu di rumahnya.


“Oh itu tadi ada yang nitip buat tuan muda katanya.”


Nobert mengangguk, dia membawa kotak itu bersamanya ke kamar. Dia menghempaskan tubuhnya ke kasur, hari ini tak ada yang lancar sama sekali.. semuanya kacau. Ditambah Lashira yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak seperti ini.


Dia teringat kotak yang tadi ia bawa, “udah lama kayanya gue gak dapet yang begini.” gumamnya tersenyum kecil. Dia pun membuka kotak itu, terdapat note kecil di sana; terima kasih kak dan maafkan aku. Di dalam sana juga terdapat sebuah ponsel yang mirip dengan ponsel yang ia belikan untuk Lashira. Seketika ia sadar, dengan tergesa dia mencari pembantunya tadi.


“Bibi inget gak orang yang ngasih kaya gimana?”


“Seinget bibi sih, mas-mas badannya gede. Kaya preman pokoknya.” Mendengar itu Nobert langsung mengumpat kesal, dengan langkah tergesa ia mengambil kunci mobilnya dan pergi dari sana.


Setibanya di ruangan samping ruang BEM, dia menemukan Leon yang sedang memainkan ponselnya di sana.


“Mana Theo?”


Leon diam memalingkan wajahnya, Nobert yang melihatnya pun menatapnya dengan penuh curiga. “Kalian merencanakan sesuatu sendiri?” Leon mendengus mendengarnya. Dia menyilangkan tangannya di depan dada seraya menatap malas sahabatnya itu.


“Mau ngomong apa? Gue gak bisa lama-lama.”


Nobert menghembuskan napas panjang, ini bukan waktunya untuk berdebat. “Ini tentang Lashira,” ucapnya seraya mengeluarkan ponsel Lashira dan menyodorkannya pada Leon. Pria itu menatap Nobert tidak mengerti, “maksudnya?”


Nobert menunjuk ponsel tadi, “begitu gue pulang.. nih hp udah ada di rumah gue. Ah, jangan lupa sama surat ini.” ucapnya kembali mengeluarkan selembar note kecil yang juga berasal dari dalam kotak tadi. “Itu bukan tulisan Lashira,” lanjutnya.


Wajah Leon mendatar seketika, “trus? Lagian kalau misalnya itu beneran dari Lashira terus kenapa? Sebelum ada cewe itu juga kita baik-baik aja. Jadi kalau dia gak ada juga gak masalah kan?” Nobert tampak tidak setuju, namun perkataannya kembali tertelan ketika melihat kedatangan Chika.


“Kalian ada yang liat Theo gak?”


“Gak ada, kenapa?” balas Leon cepat.


Chika menggeleng seraya tersenyum, “gapapa kalau gitu gue duluan ya.”

__ADS_1


Keduanya terdiam setelah kepergian Chika. “Kalian tahu sesuatu kan? Kalau kalian gak tahu apa-apa gak mungkin kan kalian setenang ini.”


“Woi!” teriak Nobert yang kesal karena diabaikan.


“Lashira lagi sama Greyson! Puas lo!” teriak Leon membuat Nobert tertegun.


“Gue gak tau dimana pastinya, tapi anak buah abang gue terakhir ngeliat dia nemuin Grey di belakang kampus.” lanjutnya.


Nobert menatap Leon tidak percaya, “dan lo gak ngomong apa-apa sama gue?” Leon memalingkan wajahnya.


“Lo tau gak seberapa paniknya gue nyariin Lashira? Gu-”


“Stop berkhayal tentang Lashira adalah adek sepupu lo! Dan jangan bahas dia di depan gue untuk saat ini.” potong Leon. Nobert tersenyum masam, “okey..” ucapnya seraya berjalan mundur menjauhi pria itu. Dia menggenggam ponsel Lashira dengan erat, “sampai kapanpun gue gak akan ngelepasin lo.”


***


Lashira mengerjapkan matanya berkali-kali, dia ternyata tertidur seharian setelah kepergian Greyson. Dengan langkah gontai dia masuk ke kamar mandi dan mengisi air bathub, dia berdecak kesal karena tidak menemukan persediaan handuk baru di sana.


“Aku baru saja terbangun dan kamu mau menyuruhku untuk tidur lagi?” balas Lashira seraya berjalan mendekat. Greyson tersenyum tipis dan menarik Lashira ke dalam pelukannya, gadis itu diam saja tidak memberontak. Norbert yang mulai tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya pun berniat pergi, “aku pergi.” pamitnya.


Cukup lama posisi mereka seperti itu, sampai akhirnya Lashira teringat dengan tujuan awalnya turun ke bawah. “Lepaskan aku Grey..” bukannya melepaskan gadis itu, Greyson malah semakin mempererat pelukannya.


“Lima menit lagi, aku mohon..” Lashira menghembuskan napas panjang, “aku mau mandi Grey, badanku lengket karena tidur seharian.”


“Tadi aku bertemu Theo dan ayahku,” ucap Greyson pelan. Lashira yang hendak melepaskan diri dari pria itu langsung terdiam mendengarnya.


Greyson menahan kepala Lashira yang hendak mendongak, “Grey!” pekik Lashira yang membuat pria itu tertawa kecil.


“Kamu tidak ingin menanyakan apapun?” Lashira menggeleng.


“Aku hanya ingin handukku dan berendam sekarang.”

__ADS_1


Greyson melepaskan gadis itu, dengan dahi berkerut dia bertanya, “di kamar mu tidak ada handuk?” Lashira mengangguk.


“Aku akan memecat mereka.” Mendengar itu mata Lashira langsung membola, dengan cepat gadis itu menarik tangan Greyson dan menatapnya dengan galak. “Kamu tidak boleh memecat mereka semudah itu.” omelnya.


“Tapi kerja mereka tidak becus.” bantah Greyson.


Lashira melepas tangan Greyson dan meninggalkannya. Greyson berdecak kesal namun tetap mengejar gadis itu. “Di kamarku banyak handuk bersih,” ucapnya seraya menahan tangan Lashira. Dengan perlahan gadis itu melepaskan tangannya dan kembali melanjutkan langkahnya.


“Oke, aku tidak akan semena-mena lagi.” lanjut Greyson mengalah, dia bahkan sampai mengangkat kedua tangannya. Lashira berbalik, “mereka sudah berkerja dengan sangat baik Grey..”


Greyson kembali menarik Lashira ke dalam pelukannya, “aku tahu.”


“Kamu akan berencana seperti ini sampai pagi?” Greyson tersenyum kecil ketika mendengar nada kesal dalam perkataan Lashira.


***


“Bagaimana bisa dia berpikir kalau Lashira itu miliknya?!”


Thomas tahu hal ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat. Tapi dia tidak menyangka kalau itu akan terjadi hari ini. Kedua putranya kembali bertemu dan berseteru seperti kejadian beberapa tahun lalu. “Dia tidak salah jika menganggapnya seperti itu.”


Theo menatap ayahnya tidak mengerti, “ayah membelanya? Jelas-jelas dia yang salah di sini,”


Thomas mengangkat kedua bahunya, “siapa tahu mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya. Bahkan gadis itu saja tidak masalah berada di sisinya, jadi apa yang harus dipermasalahkan?” Theo menatap ayahnya tajam, dia jelas-jelas tak menyetujui perkataan sang ayah.


“Gak mungkin yah, aku yakin Grey sudah memaksa Lashira. Kita berdua tahu persis bagaimana usaha Grey untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Okey kita anggap saja seperti itu, lantas apa hubungannya denganmu? Apa kamu menyukai gadis itu?” Thomas tersenyum masam melihat keterdiaman sang putra. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan melonggarkan dasi yang mengikat lehernya.


“Aku tidak menyangka, bahkan lagi-lagi sejarah ini terulang kembali,” gumam Thomas yang masih bisa didengar oleh Theo.


“Sejarah? Terulang?”

__ADS_1


Thomas bangkit dari sofa dan menepuk pundak putranya pelan sebelum masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Theo.


__ADS_2