
Dia tersenyum miring, "kayanya bukan kak Chika deh yang jemput." Dengan cepat Lashira ikut melihat dari jendela, bola matanya hampir keluar saat melihat Theo di sana, pipinya langsung memanas saat matanya bersitatap dengan pria itu.
Ketika Theo melambaikan tangan padanya, Lashira langsung menutup kembali gorden jendelanya. Clarissa senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku sang kakak, dia merasa sedang menonton drama romance-comedy saat ini.
Tanpa memerdulikan penampilannya, Clarissa dengan santainya membukakan pintu untuk Theo disertai senyum lebarnya. Theo hanya bisa tersenyum canggung saat gadis itu mempersilahkan dirinya masuk. Lashira meringis saat menyadari penampilan sang adik yang saat ini bisa dibilang sangat buruk untuk menerima seorang tamu.
Kami yang melihatnya saja sudah malu, apa anak itu tidak merasa malu sedikitpun? batin Lashira.
"Sebenernya hari ini bonyok pulang, tapi karena lo perginya sama orang ganteng.. pulang pagi juga gapapa kok." ujar Clarissa yang membuat Lashira meringis malu. Sedangkan Theo, pria itu hanya bisa mengusap tengkuk nya karena salah tingkah.
Baru kali ini dia bertemu gadis yang begitu blak-blakan melebihi sang sahabat, Chika. "Kalau gitu, kita berangkat sekarang?" Lashira menggigit bibir bawahnya seraya mengangguk pelan.
"Take care guys!" teriak Clarissa saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil. Mobil yang mereka naiki pun membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang.
"Maaf," cicit Lashira membuat Theo menoleh sebentar ke arahnya.
"It's ok." balas Theo seraya tersenyum tipis, setelah itu suasana mobil menjadi hening seketika, tak ada satupun dari keduanya yang berusaha memecahkan keheningan ini, baik Theo maupun Lashira sama-sama menikmatinya.
Sampai di café..
“Theo!” keduanya menoleh saat mendengar panggilan Chika, namun Lashira seketika merasa cemas karena di sana tidak ada anak-anak yang satu tingkat dengannya. Gadis itu mundur perlahan, dia memilih pergi selagi belum ada orang yang menyadari kehadirannya kecuali Theo.
“Ayo!” Lashira tersenyum kaku saat Theo berbalik menoleh ke arahnya.
Wajahnya langsung memanas tat kala tangan Theo memegang tangannya dengan lembut, “kenapa kamu berjalan di belakangku?” Lashira tidak menjawab, gadis itu sibuk merutuki wajahnya yang semakin terasa panas.
“Hai Lashira, kupikir tadi bukan kamu..” tubuh Lashira menegang saat Chika memeluk dan mencium kedua pipinya bergantian.
Theo terkekeh melihat wajah Lashira yang memerah, Theo masih merasa wajar jika gadis itu merona saat berkontak fisik dengannya karena dia adalah laki-laki, tapi ternyata gadis itu juga merona ketika berkontak fisik dengan Chika yang juga perempuan sama sepertinya, entah kenapa dirinya merasa itu sangat lucu.
“Ada apa dengan beruang ini? Akhir-akhir ini dia selalu tertawa dan itu membuatku sedikit takut.” ujar Nobert seraya menahan senyum gelinya ketika melihat ekspresi wajah Theo yang berubah. Ketika melihat gadis itu, Nobert jadi tahu alasan Theo yang menjadi begitu ekspresif akhir-akhir ini.
__ADS_1
“Em, sebenarnya kenapa ya aku disuruh ikut hari ini?” tanya Lashira setelah berusaha untuk memberanikan diri berkali-kali. Karena semuanya terdiam dan melihat ke arahnya, keberanian yang ia kumpulkan sejak tadi menguap entah kemana.
“Kamu ngomong apa? Maaf karena kita asik ngobrol sendiri, suaramu jadi tidak terlalu jelas.” Lashira menggigit bibirnya cemas saat mendengar perkataan Chika.
“SebenernyaAkuDiSiniDisuruhNgapainYa?” saking gugupnya, Lashira malah ngomong terlalu cepat, dia langsung menutup wajahnya yang memerah karena mereka berempat menertawakannya.
Masih dengan tawanya Chika memberikan segelas air untuk Lashira, “hahaha.. minum dulu.”
Bahkan pria yang sedari diam saja pun ikut terkekeh karenanya, dengan wajah yang masih merah padam dia meminum segelas air yang tadi Chika sodorkan padanya.
“Kamu gak usah malu sama kita..” ujar pria itu seraya tersenyum tipis.
“Nama kakak siapa ya?” tanya Lashira dengan polosnya, pria itu menatap Lashira dengan terkejut.
“Jangankan lo, dia aja gak tahu kalau gue satu fakultas sama dia.” terang Theo yang membuat Lashira meringis tidak enak, bila mengingat hal itu dia merasa sangat bersalah sekali.
“Maaf kak, aku cuma tahu tentang kak Chika sama kak Nobert sebelumnya.. Kalau kalian berdua aku gak tahu sama sekali.” jelas Lashira dengan nada tidak enak.
Chika langsung melempari pria itu dengan tasnya, “kebiasaan lo bikin anak orang sawan.”
“Aku tahu kak Nobert pas satu kelompok sama dia, kalau kak Chika..” Lashira berhenti dan menatap Chika dengan tidak enak, Chika mengerti hal itu.
“Dia pasti denger yang engga-engga tentang gue karena dikelilingi cogan tanpa otak cem kalian.” tebak Chika yang tepat sasaran.
“Ya udahlah ya, kan ada Lashira yang juga cewe sekarang.” timpal Nobert yang diangguki oleh Chika, mendengar itu Lashira mengangkat kepalanya dan menatap keempatnya dengan bingung. "Maksudnya apa ya kak?" tanya Lashira dengan wajah bingungnya.
"Oh aku belum bilang ya?"
"Jadi gini, kamu mau gak kumpul bareng sama kami berempat?" melihat ekspresi wajah Lashira yang semakin bingung, Chika berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. "Jadi misalnya, kalau kamu gak ada kelas atau kerjaan, kamu em.."
Theo menahan tawanya karena melihat Chika yang sedikit kesulitan untuk mengajak Lashira. "Main sama kita gitu loh, si Chika itu tertarik sama kamu.. Katanya dia pengen punya temen sekaligus adek cewe." jelasnya berusaha membantu Chika.
__ADS_1
Dia mengerti kenapa Chika sedikit kesusahan saat meminta Lashira bergabung dengan mereka, selama ini tuan puteri itu tidak pernah meminta karena apa yang diinginkannya sudah langsung diberikan oleh para abang dan sahabatnya. Namun kali ini tuan puteri itu sendiri yang langsung turun tangan untuk mengambil apa yang dia mau.
"Ouhh jadi temennya kak Chika, aku sih mau. Tapi.."
"Tapi?"
"Tapi kak Chika gak masalah sama aku? Aku itu orangnya-"
"Gak masalah! Yang masalah itu, kamu mau atau engga?" sela Leon yang langsung membuat Lashira terdiam.
***
"Kau menikmatinya?" pria itu menatap tangan kanannya dengan dingin, tatapannya kembali mengarah ke ponselnya untuk membalas pesan dari gadis yang membuat dirinya berdebar hanya dengan fotonya saja.
"Diam, lebih baik kau melakukan sesuatu yang lebih berguna untukku." balas pria itu.
"Aku sudah melakukan semua tugasku yang menambah rekening kita hari ini, apa yang harus kulakukan lagi?"
Pria itu menatap tangan kanannya itu dengan tajam, "kau sudah terlalu kurang ajar sebagai anak buahku, Norbert." Pria yang dipanggil Norbert itu pun tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
"Baiklah-baiklah, apa yang bisa kulakukan untuk tuan Masson yang terhormat?"
Greyson menunjukkan foto seorang gadis dari ponselnya, "namanya Lashira Ardiansyah.. Cari tahu tentangnya, aku mau informasinya sudah ada di meja kerjaku malam ini."
Norbert tersenyum jahil, “siapa nih boss? Enak kan main sosmed, bisa kenalan sama cewe-cewe cantik.”
“Sepertinya aku harus mengasah kembali belati kesayanganku, bagaimana jika kamu yang mengetes ketajamannya?”
Glek! Norbert meringis saat Greyson mengeluarkan belati kesayangannya yang terlihat tajam dan mengkilap itu. Pria itu mengangkat tangannya tanda menyerah, dia tidak siap untuk dikuliti hidup-hidup oleh tuannya itu. Dia masih ingin berkencan dan menikmati hidup terlebih dahulu sebelum mati.
“Tunggu apa lagi? PERGI!” teriak Greyson yang membuat Norbert langsung keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.
__ADS_1