
Lashira menutup bukunya dengan kesal, gadis itu kembali mengecek ponselnya untuk kesekian kalinya. Tak ada satupun notifikasi. Rasanya Lashira ingin menghancurkan kepalanya saat ini juga, bagaimana bisa dia lepas kontrol kemarin? Entah bagaimana ia bisa bertemu dengan yang lainnya setelah merusak suasana kemarin.
Tring!
Lashira langsung mengecek ponselnya dan kembali melemparnya ke kasur karena ternyata hanya pesan dari operator yang memperingatkannya untuk segera mengisi pulsa sekaligus memberikan rincian sisa saldo pulsa yang saat ini dia miliki.
Setelah hari itu, Clarissa menjaga jarak darinya.. begitu sungkan dan kikuk jika berhadapan dengannya. Lashira tidak ambil pusing, toh memang sudah sewajarnya gadis itu bersikap seperti itu padanya. Lashira kembali membuka bukunya dan mulai terhanyut dalam rangkaian kata-kata yang penulis dalam buku itu, ponselnya kembali berdering.
Dan ternyata tukang ojek online yang mengirimkan pesanan makanannya. Dengan langkah gontai gadis itu turun ke bawah dan mengambil makanan itu. “Makasih ya bang..”
“Lo pesen makanan?” Lashira mengangguk malas dan berjalan gontai kembali ke kamarnya. Clarissa mengerutkan dahinya bingung dengan tingkah Lashira yang tidak seperti biasanya.
Clarissa mengangkat kedua bahunya tidak peduli dan berjalan menuju kamar kakaknya untuk meminta makanan yang tadi ia pesan.
“Lo gak pesenin buat gue?” Lashira menggeleng, “kamu kan bisa pesen sendiri,” balasnya cuek. Tak ingin menghabiskan waktu untuk berdebat dengan sang kakak, Clarissa memilih untuk pergi keluar mencari makanan.
Selepas kepergian Clarissa, Lashira kembali mengecek ponselnya berharap ada notifikasi pesan di sana. Namun sampai tengah malam pun, dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlalu lama menunggu, Lashira dihampiri oleh rasa kantuk yang luar biasa.
Baru saja akan tenggelam dalam dunia mimpinya, dering ponsel membuatnya kembali tersadar. Dengan cepat dia mengangkat panggilan itu, “kenapa?” tanyanya dengan nada galak.
“Belum tidur?”
“Kebangun,” ya kan aku gak bohong? lanjutnya dalam hati.
“Kamu merindukanku?”
Lashira tertawa kencang mendengarnya, “siapa bilang?”
Di ujung sana Greyson tersenyum tipis mendengar jawaban Lashira, gadis itu memang tidak bisa berbohong.
“Anak buah ku bilang kau seharian ini menunggu pesan dariku.”
Lashira terdiam, dia langsung menyingkap gorden kamarnya dan mencari anak buah yang Grey maksud. Padahal pria itu hanya menebak, namun keterdiaman Lashira dan suara grusak-grusuk yang Greyson dengar, membuat Grey merasa ia memiliki harapan mulai saat ini.
“Sejauh apa kamu menyuruh mereka?” tanya Lashira dengan nada serius.
Greyson tertawa, “mereka tidak akan melewati batasan.. kamu tenang saja.”
Lashira mencebik kesal, “apapun yang kamu lakukan di sana. Bawakan aku oleh-oleh yang sangat special sebagai upah karena mengizinkan anak buahmu berada di sekitarku.”
“Baiklah.”
__ADS_1
“Dan pulanglah dengan selamat.”
Greyson tersenyum lebar di seberang sana, sedangkan Lashira merasa malu sekaligus menyesal karena tanpa sadar dirinya mengatakan hal yang begitu memalukan. Dengan cepat Lashira menutup teleponnya, dia memegang kedua pipinya yang terasa panas seraya berlari ke arah balkon kamarnya.
Gadis itu tersenyum merasakan semilir angin yang membelai wajahnya, dia berusaha untuk tidak memerdulikan debaran jantungnya yang begitu menggila. Kepalanya menggeleng kencang saat timbul pemikiran jika dia jatuh cinta pada Greyson.
Sekeras mungkin gadis itu menekankan pada dirinya kalau mencintai Greyson adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya ia bertingkah seperti ini, ada banyak hal yang harus ia selesaikan setelah ini. Dan perasaannya pada pria itu pasti akan menghambat pencapaiannya nanti.
***
Setelah puas mengelilingi komplek rumahnya, gadis itu memutuskan berhenti sejenak di taman untuk beristirahat. Lashira mengibasi wajahnya yang terasa panas usai berlari, napas gadis itu bahkan masih terengah-engah karena sudah lama sekali ia tidak jogging seperti ini.
“Padahal baru segini,” lirihnya pelan menatap lurus ke arah sepatunya.
Lashira melepas earphone-nya dan mengelap wajahnya yang banjir akan keringat, dia tersenyum kecil saat melihat banyaknya sepasang kekasih yang jogging bersama pagi ini. Dia mencebik saat mendapat notifikasi dari Greyson.
Baru akan mengetik balasan untuk pria itu, tiba-tiba nama kontak Greyson muncul di layarnya. Sedikit enggan untuk mengangkat panggilan itu, namun lagi-lagi nama Greyson muncul di layar ponselnya.
“Morning..”
Lashira berdehem pelan saat mendengar sapaan Greyson yang terdengar begitu lelah. “Kenapa?”
“Kau merindukanku?”
“Kapan kau akan merindukanku?”
Lashira terdiam sejenak, “saat kau mati?” jawabnya dengan nada ragu. Bukannya marah, Greyson malah tertawa geli di sana.
“Kalau begitu kau tidak akan pernah merindukanku.”
“Memang..”
Lashira mendongakkan kepalanya saat mendapat sodoran minuman dari seorang pria yang tidak ia kenal. “Siapa ya?” tanya gadis itu seraya menjauhkan ponselnya.
“Erick,” balas pria itu seraya mengulurkan tangannya. Lashira menatap tangan itu tanpa minat, “Lashira.. tapi gak usah, aku bisa beli sendiri..” balas gadis itu. Greyson terdiam mendengar percakapan dua orang itu lewat telepon, tidak bisa dipungkiri ia merasa kesal saat ini namun ia diam karena terlalu lelah.
“Kamu sedang di luar?”
Lashira kembali mendekatkan ponselnya ke telinga, “kamu ngomong apa?”
Greyson menghembuskan napas panjang berusaha untuk sabar, “kamu sedang di luar?” gadis itu berdehem mendengarnya.
__ADS_1
Lashira pamit pada Erick dengan gerakan tangannya, “kapan kembali?”
Greyson tersenyum miring, “kau mulai merindukanku?” Lashira berdecak sebal.
“Aku akan menutup teleponnya,” ucap Lashira yang langsung menutup panggilan tanpa menunggu jawaban Greyson.
Gadis itu berbalik karena merasa ada yang mengikutinya sejak tadi, apa mungkin anak buahnya Greyson? Pikir gadis itu. Lashira langsung berlari masuk ke rumahnya secepat mungkin karena perasaannya yang tidak enak.
“Kamu kenapa?” Theo menatap gadis itu dengan terkejut, Lashira juga tidak kalah terkejutnya melihat Theo yang tiba-tiba ada di rumahnya tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Lashira mengambil orange juice yang ada di atas meja dan menengguknya hingga tak bersisa, dia mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum mengutarakan kata-katanya.
“Kakak kok ada di rumahku?”
“Kamu gak liat grup chat?” Lashira menggeleng, memangnya ada pengumuman apa?
“Hari ini Chika nyuruh kita ke rumahnya, katanya ada yang mau dia kasih tau, sekaligus ngadain party kecil-kecilan karena abangnya menang tender.” Lashira mengangguk mengerti.
“Kalau gitu, tunggu sebentar.. Aku siap-siap dulu..”
Lashira berlari kecil ke atas dan bersiap secepat mungkin, dia bahkan meninggalkan ponselnya tergeletak begitu saja di atas meja. Tatapan Theo teralih pada ponsel Lashira yang berdering dan memunculkan nama Greyson, wajahnya kaku seketika.
Karena terus saja berdering, Theo pun mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo? Kenapa baru diangkat? Kamu baik-baik saja?”
Ponsel Lashira yang ada di genggaman pria itu jatuh seketika saat mendengar suara orang di seberang sana.
“Halo? Kenapa? Ira!” Theo masih bisa mendengar umpatan orang di seberang sana, yang tidak lain adalah Greyson. Theo terlihat sangat linglung sampai Lashira tiba di bawah; sudah siap untuk pergi. Bersamaan dengan itu panggilan dari Greyson sudah terputus dari sana.
Lashira mengedipkan kedua matanya lucu, “kak Theo gapapa?”
Theo tersentak dari lamunannya, dia tersenyum tipis. “Gapapa, ayo berangkat..”
Sepanjang perjalanan, mereka sama-sama diam memikirkan kejadian tadi. Otak Theo masih saja berputar pada saat ia menerima panggilan dari ponsel gadis itu, dan suara yang tadi ia dengar.. bagaimana gadis itu bisa mengenal Greyson? Pikir Theo dalam lamunannya.
“Kak!” mendengar jeritan Lashira, Theo refleks langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Hampir saja mereka celaka karena keteledorannya, terdengar sahutan klakson mobil yang berada di belakangnya. Membuat Theo terpaksa melanjutkan perjalanan walaupun masih merasa syok.
“Kakak mikirin apa?” tanya Lashira pelan, gadis itu ragu untuk menanyakan hal ini sejak tadi. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Theo dengan terlalu ikut campur dalam masalah pribadi pria itu. Theo sempat terdiam sebentar karena memilih kosa kata yang tepat untuk gadis di sebelahnya.
“Kamu kenal Greyson?”
Glek!
__ADS_1
“Grey-Son?” ulang gadis itu kikuk.
Theo mengangguk, sesekali pria itu menoleh ke arah Lashira untuk melihat ekspresi wajah gadis itu. “Gak usah dijawab, kita omongin lagi setelah acara ini selesai. Tetap bersikap biasa aja dan jangan sampai membuat yang lainnya curiga, terutama Leon.”