
Lashira memandangi pintu ruangan di depannya dengan pandangan menerawang, sampai getaran ponselnya membuat Lashira tersadar dari lamunannya. Tanpa melihat nama kontak yang terpampang di layar ponselnya, Lashira langsung mengangkat panggilan itu.
“Hallo,” jawab Lashira.
“Urusanmu sudah selesai?” tanya Greyson di seberang sana.
“Heum no, eh? Yes! Kenapa menelponku?” tanpa sadar, Lashira menjawab sesuai dengan isi hatinya.
Lashira bisa mendengar helaan napas kasar Greyson di seberang sana. “Kamu lelah? Aku akan segera ke kantormu sekarang,” ujar Lashira seraya bangkit dari duduknya.
“Tidak. Selesaikan urusanmu terlebih dahulu jika kamu memang merasa urusanmu belum selesai.”
Lashira tersenyum mendengarnya, dia berdehem pelan sambil tersenyum tipis. Setelah itu Lashira menutup sambungan teleponnya. Dengan ragu ia memegang gagang pintu ruangan yang menjadi tempat rawat inap ayahnya.
Setelah merasa siap, dia mengetuk pintu ruangan itu sebelum membukanya.
“Lashira?” gumam Senna saat melihat anak sambungnya itu.
Dengan wajah datar, Lashira berjalan mendekat ke brankar sang ayah. “Gimana keadaannya?” tanyanya pada Senna karena sang ayah masih terlelap.
“Ngapain kamu di sini? Gak puas kamu bikin suami saya jadi seperti ini?!” ujar Senna penuh dengan emosi tertahan. Bahkan wajahnya sampai berubah merah padam.
Sebenarnya Senna tak ingin membuat keributan dan membuat istirahat sang suami terganggu, tapi di sisi lain ia juga kesal saat melihat Lashira yang baik-baik saja dan sepertinya tidak merasa menyesal sedikitpun setelah memutuskan untuk meninggalkan rumah.
Lashira terdiam sejenak, namun ia tersenyum tipis karena merasa lucu dengan perkataan Senna. “Tante juga jangan melupakan sebuah fakta kalau saya adalah anak sambung dari suami tante, bahkan saya lebih dulu bertemu dengan beliau sebelum anda datang ke dalam kehidupan kami.”
“Lagipula … kalau bukan karena keberadaan saya, saya yakin anda tidak akan bisa menikahi ayah saya sampai kapanpun. Karena apa? Ayah terlalu mencintai mamah saya sampai-sampai tidak ada ruang yang tersisa lagi untuk anda di hati ayah saya. Harusnya anda sadar akan hal itu,” sambung Lashira panjang lebar.
Senna menggertakkan giginya kesal, dia tidak bisa membalas perkataan Lashira satu katapun.
Lashira mendekatkan wajahnya ke telinga sang ayah, “Ira sayang Ayah … dan selamanya Ira akan sayang Ayah. Ayah tau itu kan?” air mata Lashira menetes setelah mengatakan hal itu. Dia mencium kening sang ayah sebelum pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Begitu sampai di perusahaan Greyson, Lashira langsung bergegas ke ruangan pria itu. Mata Lashira sudah memerah dan berkaca-kaca, sepanjang jalan ia menahan tangisnya sekuat yang ia bisa.
Dan saat gadis itu sudah berada di depan pintu ruangan Greyson air matanya siap tumpah kapanpun ia mengedipkan matanya.
Brak!
__ADS_1
Greyson yang sedang menikmati pemandangan lewat jendela kantornya pun berbalik saat pintu ruangannya terbuka begitu kencang, ia sedikit terkejut saat Lashira berlari dan melompat ke dalam pelukannya.
Untung saja Greyson siap hingga ia tidak sampai terjungkal ke belakang, dia mengangkat kedua kaki Lashira untuk melingkari pinggangnya lalu mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
Tangis Lashira pecah seketika, memang tidak menjerit seperti tangis gadis lainnya. Tapi rasanya justru lebih menyesakkan karena gadis itu sesegukan sambil menahan suaranya.
“No problem … just let it go. Kau boleh berteriak jika-”
Lashira menggeleng kencang.
Greyson bingung harus berbicara seperti apa untuk menenangkan gadis yang ada di gendongannya saat ini, tapi ia berharap gadisnya ini akan merasa lebih baik walau hanya dengan usapan lembut yang ia lakukan. Sama seperti apa yang ibunya lakukan untuk menenangkannya dulu.
“Better?” tanya Greyson saat Lashira melonggarkan pelukannya. Melihat air mata membanjiri wajah Lashira, Greyson langsung mengusap wajah gadis itu dengan dasinya.
Lashira yang masih sesegukan pun tertawa pelan, “Grey!”
“Thanks…,” lirih Lashira seraya tersenyum tipis. Dengan mata sembab yang bengkak, Lashira menatap dalam pria yang tengah menggendongnya saat ini.
Cups!
Lashira tersenyum senang setelah mencuri kecupan di ujung hidung Greyson. “Entah apa yang akan terjadi padaku kalau kamu tidak datang ke dalam kehidupanku … thank for everything, Greyson…,” bisiknya.
“Turunkan aku, kau menyebalkan!” Meskipun begitu, Lashira malah semakin memeluk leher Greyson.
“Kau tidak suka jika menyandang nama belakangku?” tanya Greyson kesal.
Lashira memejamkan matanya rapat-rapat dan memilih untuk menyembunyikan wajahnya di cerukan leher Greyson. “Aku malu Grey, jadi berhenti menggodaku….”
“Aku tidak sedang menggodamu, aku serius bertanya padamu. Kau tidak suka menyandang nama belakangku? Benar-benar tidak suka?” tanya Greyson lagi. Karena kesal, Lashira menggigit bahu Greyson agar berhenti menggodanya.
Greyson pura-pura mengaduh kesakitan. “Kamu jahat Ira, padahal setiap malam aku selalu memelukmu agar kau bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan aku membiarkanmu menyelinap ke dalam pelukanku saat ku tertidur di ruang kerja-”
“Shut your mouth, Grey! Aku akan menggigitmu lagi kalau kau terus membuatku kesal!” ancam Lashira sambil melototkan matanya galak namun malah terlihat menggemaskan di mata Greyson, yang mana malah membangkitkan hasrat Greyson untuk semakin menjahili gadisnya itu.
“Kau tidak ingin menikah denganku? Kau berencana hanya menjadikanku guling dan tambang emas seumur hidupmu?” tanya Greyson dengan nada bicara yang begitu sendu.
“Memangnya kau melamarku? Sejak kapan kau melamarku?” Lashira memalingkan pandangannya dari tatapan mata Greyson.
__ADS_1
“Aku ingin menjadikanmu nyonya Masson tadi, dan kau langsung menolaknya mentah-mentah.”
“Grey! Di bagian mananya kau melamarku? Bahkan kau tidak memberikan cincin padaku, bagaimana kau bisa sebut itu sebuah lamaran?!” teriak Lashira kesal.
“Cincin?”
Lashira mengangguk, “ya cincin. Dimana cincinku kalau memang kau melamarku?” tanyanya menantang.
“Kau sudah memilikinya.”
Lashira mengerutkan dahinya bingung saat Greyson mendudukannya di meja kerja pria itu. Greyson meraih tangan Lashira yang melingkar di lehernya. “Ini, kau sudah mengenakan cincin itu.”
“Aku membelinya sendiri,” dumel Lashira.
“Memakai uang siapa?”
Lashira memutar bola matanya malas, “kamu.”
“Good girl,” puji Greyson seraya mencuri sebuah kecupan di pipi Lashira hingga membuat gadis itu terkejut bukan main. Kedua bola mata Lashira membesar dengan mulut setengah terbuka, wajah gadis itu memerah seketika.
Greyson tersenyum puas, dia menurunkan Lashira dari meja kerjanya. “Kita makan?” ajaknya yang hanya Lashira angguki patuh.
Malamnya Greyson meninggalkan Lashira di mansionnya setelah membantu gadis itu terlelap begitu nyenyak. Dan tak lama setelah Greyson pergi, Lashira terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Padahal suhu ruangan saat ini cukup dingin karena memang di luar sedang hujan sekarang.
Lashira meraba dadanya yang terasa sakit karena jantungnya berdebar terlalu keras. Perasaan cemas dan gelisah tiba-tiba melingkupinya, ditambah ketidakberadaan Greyson di mansion ini membuat hatinya semakin tak karuan.
Dengan kaki telanjang, Lashira pergi ke balkon kamarnya dan membiarkan air hujan membasahi dirinya. Senyum gadis itu mulai muncul dan semakin lebar seiring dengan bertambah banyaknya rintik-rintik hujan yang menerpa kulitnya.
Salah satu anak buah Greyson yang berjaga di luar melihat hal itu dan langsung memberitahu rekannya untuk melaporkannya pada Norbert.
Tanpa memedulikan baju dan tubuhnya yang sudah basah kuyup, Lashira malah bermain air dengan gembiranya. Bahkan ia hampir terpeleset beberapa kali karena lantainya jadi begitu licin saat ini.
Tep!
Norbert berhasil menangkap tangan Lashira yang hampir saja terpeleset untuk sekian kalinya, pria itu menarik paksa Lashira kembali masuk ke dalam. Dengan cepat Norbert mengambil handuk besar dan menyampirkannya di bahu Lashira.
“Keringkan tubuhmu dan pakai baju yang tebal,” perintah Norbert.
__ADS_1
Lashira merengut sebal namun tidak membantah saat Norbert menyuruhnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu Norbert akhirnya memutuskan untuk pergi ke dapur dan menyuruh salah satu pelayan membuatkan sup hangat untuk Lashira.
Sebelum kembali ke kamar Lashira, Norbert ke kamarnya dulu untuk mengambil alat pengukur panas. Dalam hati dia berdoa jika gadis itu tidak demam ataupun jatuh sakit, bisa-bisa Greyson akan langsung pulang dan kembali melimpahkan semua tanggung jawabnya kepada Norbert seperti sebelum-sebelumnya.