Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 44


__ADS_3

Lashira terbangun dari tidurnya karena Marie membangunkannya untuk makan siang. Matanya bergerak ke segala arah mencari keberadaan Greyson yang tentunya tidak ia temukan karena Greyson sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi.


Dia menepuk dahinya pelan menyadari kebodohannya. Marie yang melihat itu pun berinisiatif untuk bertanya, “ada yang anda perlukan, Nyonya?” Lashira menggeleng pelan, dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan melakukan sedikit peregangan.


Lashira menoleh ke arah Marie yang sedang merapikan ranjangnya. “Marie, bisa kamu ubah panggilan itu? Aku sudah berkali-kali memintamu untuk memanggilku Lashira atau Ira, tapi kau tidak pernah mendengarkanku.”


“Saya tidak berani, Nyonya.”


“Kenapa perkataanku tidak pernah didengarkan? Kalian selalu saja seperti itu,” ujar Lashira sedikit kesal. Ia pun membersihkan dirinya sebelum turun untuk makan siang. Biasanya David sudah pulang dari sekolah untuk menemaninya makan siang.


Dan benar saja dugaanya, David sudah duduk sambil memainkan ponselnya menunggu Lashira untuk makan bersama. “Memangnya sekolahmu sudah selesai jam segini sampai-sampai bisa menemaniku makan siang terus?”


“Aku hari ini tidak sekolah dan sebelumnya aku bolos setengah hari karena mendapat perintah Greyson.” David menaruh ponselnya dan membiarkan pelayan menyiapkan makanan untuknya.


Berbanding terbalik dengan Lashira yang menolak bantuan Marie secara halus. “Tidak usah, Marie. Aku sangat berterima kasih karena kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, tapi untuk hal seperti ini biarkan aku melakukannya sendiri karena aku masih bisa.”


“Lebih baik kau juga beristirahat karena ini sudah jamnya makan siang,” sambung Lashira yang langsung diangguki patuh oleh Marie.


David yang melihatnya sejak tadi pun membuka suara, “justru tingkahmu yang seperti itu malah menyulitkan mereka.”


“Oh ayolah David, kau dan Greyson ternyata sama saja.” David mengangkat kedua bahunya tidak peduli mendengar perkataan Lashira.


“Mereka seperti itu dibayar dengan gaji yang sepadan, makanya biarkan mereka melakukan tugasnya. Mungkin Greyson tidak terlalu peduli jika itu memang kemauanmu, tapi beda lagi dengan Severin … sebelumnya pelayanmu itu sudah mendapat ancaman karena tingkahmu yang seperti barusan.”


“Diamlah, makan saja makananmu. Aku akan membicarakan ini pada Sven nanti.”


“Lagi apa susahnya untuk diam, duduk manis, dan membiarkan orang melakukan semuanya untukmu? Orang justru ingin sepertimu, Kak. Kau ini bodoh sekali.”


Lashira hanya diam dan menikmati makan siangnya, dia sudah sebal karena sebelum-sebelumnya dia juga mendapat pertanyaan seperti itu dan dia terlalu malas untuk menjawab hal serupa berkali-kali. Yang penting sekarang ia tahu kalau ternyata Severin lah penyebab ia tidak bisa menyentuh pekerjaan apapun di rumah ini.


“Aku selesai.” David bangkit dari tempat duduknya berniat untuk kembali ke kamarnya, mengingat ia mendapat sedikit tugas tidak penting dari Greyson tadi pagi sebelum pria itu berangkat ke kantor.


“David, jika Greyson memerintahkanmu saat kau sedang belajar di sekolah … kau boleh menolaknya. Kau bisa memakai namaku bila perlu,” ujar Lashira yang juga baru saja menyelesaikan kegiatan makannya.


David menggeleng pelan. “Tidak, Kak.” Setelah mengatakan hal itu David benar-benar kembali ke kamarnya.


Lashira menghembuskan napas panjang. “Tidak ada yang mau mendengarkanku.”


Omong-omong soal Severin, Lashira jadi teringat dengan percakapannya dengan pria itu tadi malam.

__ADS_1


“Dia terlihat begitu menikmati pekerjaan ini, lalu kenapa dia menolak tawaran Chris?” Lashira bertanya pada Severin tanpa melihat ke arah pria itu, tatapan mata gadis itu tidak lepas dari Greyson yang sedang melakukan transaksi di luar sana.


Severin yang bisa melihat ekspresi Lashira lewat pantulan spion hanya diam tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu. Meskipun tahu, bukan ranahnya ia menjawab pertanyaan itu dan apa untungnya jika ia memberitahukan gadis keras kepala itu?


“Apa karena aku?” tanya Lashira lagi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Greyson yang ada di luar sana.


“Aku tidak tahu, bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu? Apa kau yang memintanya? Atau mungkin kalian memiliki janji tertentu?” pancing Severin yang nyatanya malah tanpa sadar memberikan celah untuk Lashira.


Lashira langsung menoleh ke arah Severin, tatapan teduh gadis itu langsung berubah tajam saat menyadari sesuatu dari perkataan pria itu. “Apa yang kau ketahui? Sejauh apa?”


Severin tersenyum miring. “Kau yakin ingin aku mengatakannya di sini? Norbert memasang penyadap suara di mobil ini sebagai tambahan informasi untukmu.” Lashira memicingkan matanya, dia hanya bisa mengumpat dalam hati untuk melampiaskan rasa kesalnya.


“Nyonya, ada telepon untukmu.”


Lamunannya buyar saat Marie datang dan menepuk dahinya pelan. “Ya?”


“Ada telepon untukmu, Nyonya,” ulang Marie yang langsung membuat Lashira beranjak dari tempat duduknya.


“Siapa yang menelpon?” tanya Lashira seraya mempercepat langkahnya, Marie yang mengikuti dari belakang pun ikut mempercepat langkahnya.


“Tuan Masson, Nyonya ….”


Marie mengangguk sopan dan pergi untuk melakukan pekerjaan yang lain sekaligus memberikan ruang untuk Nyonyanya.


“Ya, Grey?”


“Kamu sedang apa sampai-sampai tidak menjawab teleponku?”


“Kamu menelponku? Maaf, Grey. Tadi aku habis makan siang bersama David dan aku tidak membawa ponselku. Ada apa kamu menelponku?”


“Aku merindukanmu tentu saja. Pusingku berkurang begitu mendengar suaramu.”


Lashira tersenyum senang mendengarnya. “Apa terjadi sesuatu?”


“Tidak ada yang istimewa, tidak perlu dipikirkan.”


“Aku memikirkanmu, Grey.”


“Greyson?” panggil Lashira.

__ADS_1


“Hmm?”


“Greyson, Greyson ….” Kedua sudut bibir Lashira naik ke atas karena debaran menyenangkan yang ia rasakan saat menyebutkan nama Greyson.


“Ya?”


“Aku tidak tahu kalau mengucapkan namamu bisa sangat menyenangkan seperti ini. Rasanya sangat sulit dijelaskan tapi aku benar-benar merasa sangat senang dan nyaman dengan perasaan ini.”


“Aku mencintaimu, Grey. Sangat-sangat mencintaimu ….” Wajah Lashira langsung memerah setelah mengatakan hal itu. Dia sangat gugup karena Greyson langsung terdiam di seberang sana.


“Ganti bajumu, kita urus pernikahan kita sekarang.”


“Grey! Jangan menggodaku!” balas Lashira salah tingkah.


“Aku serius. Aku selalu serius jika itu menyangkut dirimu, Lashira.”


“Oh ya, jangan memberi perintah pada David kalau bocah itu sedang belajar di sekolah, Grey. Apalagi hanya untuk sekedar menemaniku makan.” Lashira salah tingkah, ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Bahkan rona merah yang ada di wajah gadis itu sudah menjalar sampai ke lehernya sekarang.


“Jadi kau mengatakan cinta padaku karna masalah ini?” Lashira bisa mendengar helaan napas panjang Greyson setelah mengatakan hal itu.


“Bu-”


Sambungan telepon langsung terputus, Lashira menghembuskan napas kasar sebelum mencoba menghubungi Greyson kembali. Sudah tiga kali dan pria itu tidak mengangkatnya sama sekali. Menyerah, Lashira lebih memilih untuk naik ke ruang kerja Greyson dan melanjutkan bacaannya.


Belum sampai setengah jam, tatapan Lashira beralih pada telepon yang ada di meja kerja Greyson. “Kau memang menyebalkan, Grey!” jerit Lashira yang langsung berpindah tempat ke kursi kebanggaan Greyson.


Dengan cepat Lashira menekan nomor telepon Greyson yang sudah ia hapal di luar kepala. “Aku akan membunuhmu kalau kau tidak mengangkatnya,” desis Lashira kesal karena Greyson tak kunjung mengangkat panggilannya.


Lashira merubah haluannya, berniat menghubungi Norbert yang pastinya juga sedang bersama Greyson saat ini. “Kak!” pekik Lashira terlalu senang karena Norbert langsung mengangkat panggilannya.


“Lashira? Ada apa?”


“Kau sedang bersama Greyson? Dia tak mengangkat teleponku sejak tadi,” jelas Lashira. Norbert sempat terdiam sebentar, dahi Lashira sudah mengerut curiga.


“Greyson? Dia sedang ada pertemuan di luar, ada apa?”


“Oh ya? Dan kau tidak ikut bersamanya ke pertemuan itu?”


“Ya.”

__ADS_1


“Hmm, kau ingin aku mempercayai perkataanmu itu?” ujar Lashira sangat pelan hampir menyerupai bisikan, berusaha menyamarkan kegeraman yang tengah ia rasakan saat ini.


__ADS_2