Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 24


__ADS_3

“Kamu mengajakku ke mana?” tanya Lashira sekali lagi untuk memastikan indra pendengarannya.


Greyson menaruh tab nya dan melimpahkan seluruh atensinya pada Lashira. “ Pesta,” jawabnya singkat. “Kita hanya menyapa sebentar, lalu kembali.” lanjutnya.


Lashira menghembuskan napas panjang, “terserah.” Gadis itu kembali membuka buku novelnya. Sesekali ia melirik ke arah Greyson yang bersiap ingin pergi, “tetap di sini dan jangan kemana-mana. Nanti aku akan menyuruh orang untuk membantumu bersiap.” Lashira mengangguk patuh.


“Kapan urusanmu di sini beres?” tanya Lashira.


“Aku tidak ada urusan apapun setelah pesta itu. Kamu tidak betah?” tanya Greyson seraya mendekat, dia langsung duduk di sebelah gadis itu.


Lashira diam sebentar namun kemudian mengangguk, “aku lebih menyukai rumahmu Grey..”


Greyson tersenyum smirk, “oh ya? Tapi yang mana?”


“Kamu memang menyebalkan!” ujar Lashira dengan nada kesal. Ia melempar bantal sofa pada wajah Greyson. Entah kenapa ia selalu kesal setiap melihat senyum Greyson yang seperti itu.


Greyson mengacak-acak rambut Lashira gemas. Ia langsung mengangkat panggilan dari Norbert yang sudah menunggunya di lantai bawah. “Aku pergi.” Lashira mengangguk pelan. Saat Greyson akan mencium dahinya, Lashira dengan cepat menjauhkan kepalanya dari pria itu.


Greyson mengernyit tidak suka. “Kau menghindariku?”


“Jangan berpura-pura kita tidak mempunyai masalah, Grey. Kau ingat apa yang telah kau perbuat pada perusahaan keluarga kak Theo?”


Greyson berdecak kesal, dia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangannya. Rahangnya sudah mengeras menahan emosi karena Lashira yang tak kunjung melupakan masalah ini.


“Aku sedang terburu-buru, kita sudahi dulu di sini,” ujar Gresyon.


“Pergilah, siapa juga yang menahanmu untuk tidak pergi?” balas Lashira yang malah semakin membuat Greyson kesal.


Greyson memilih untuk segera pergi daripada terus meladeni gadis itu.


“Pastikan mereka akan datang untuk membantu gadis itu bersiap nanti.” ujar Greyson pada Norbert. Ia menyerahkan tab nya pada Norbert lalu langsung masuk ke dalam mobil.


“Jangan lu-”


“Grey, aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu tidak perlu khawatir. Seharusnya kamu lebih khawatir pada bayanganmu yang hampir mati sekarang.” sela Norbert sedikit kesal karena terus mengulang-ulang perkataannya.


Greyson menatap lurus ke depan, “seperti yang kamu katakan.. Bayangan tidak akan mungkin meninggalkan pemiliknya.”


“Kecuali kalau kegelapan sendirilah yang menelannya.” lanjut Greyson membuat Norbert mendecih kesal.


“Justru kalau kamu seperti ini terus, bayanganmu pasti akan segera ditelan oleh kegelapan.” balas Norbert tajam.

__ADS_1


“Tutup mulutmu Nor,” desis Greyson.


Norbert mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia lebih memilih untuk merapikan jadwal bossnya ini, sekaligus membalas beberapa email penting seputar pekerjaan kantor.


Mereka sampai di salah satu rumah sakit terbesar di kota ini, sebelum melihat keadaan si ‘bayangan’ mereka berdua lebih dulu menemui dokter yang merawat pria itu.


“Sebelumnya sempat krisis, tapi pasien bisa melewatinya dan semakin membaik setiap harinya. Hanya saja luka tembak pasien belum kering sepenuhnya~”


Greyson menghembuskan napas panjang mendengarnya, dia keluar dari ruangan dokter dan pergi menemui ‘bayangan’ nya. “Kamu sudah baikan?” tanya Greyson tanpa basa-basi saat masuk ke dalam ruangan pria itu.


Pria itu, si ‘bayangan’ langsung berusaha bangun dari tempat tidurnya. “Berbaring saja, aku hanya sebentar.” ujar Greyson seraya mendekat ke arah pria itu.


Greyson melihat tubuh di depannya dari atas sampai bawah, dia menggeleng dengan takjub. “Bagaimana bisa seorang Severin sampai masuk ke dalam rumah sakit dan hampir mati?” ujarnya dengan nada meledek. Severin tampak kesal namun tidak membalas perkataan Greyson.


“Kamu memakan umpan mereka? Hanya karena seorang perempuan?”


“Diamlah Grey. Kamu sendiri malah merebutkan bocah Sebastian itu kan?” balas Severin dengan nada tenang.


“Bagaimana keadaan tua bangka itu?” tanya Greyson mengalihkan pembicaraan.


Severin mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan Greyson, “seriously?”


“Dia akhir-akhir ini jadi lebih mirip manusia kan?” tanya Norbert yang tiba-tiba sudah ada di ruangan ini.


“Aku curiga pada si tua bangka itu. Memang sih pendapatan kasinonya yang berada di Macau lumayan tinggi, tapi kenapa ia tidak pernah sekalipun mengunjungi club malamnya yang ada di LA? Pendapatan club itu juga tidak kalah jumlahnya dengan kasinonya yang berada di Macau.”


“Kau ingin aku mencari tahu itu Grey?” tanya Severin yang langsung mendapat gelengan kepala dari Greyson.


“Aku hanya mengutarakan rasa penasaranku, tapi itu tidak penting. Apa yang kau dapat sampai bisa masuk rumah sakit seperti ini?” tanya Greyson.


Severin tersenyum smirk, “kau pasti akan senang Grey. Aku menemukannya, wanita yang selama 2 tahun ini kau incar keberadaannya. Dia wanita yang sama dengan wanita yang membuatku masuk ke sini.”


“Oh ya? Lalu?”


“Sepertinya musuh tua bangka itu berniat memberikanmu sedikit kejutan di pesta nanti malam.” Mata Greyson seketika langsung berubah nyalang saat mendengar informasi yang keluar dari mulut Severin.


“Grey, kalau gitu-”


“Batalkan. Sampaikan pada Lashira bahwa dia tidak akan ikut denganku ke pesta nanti.” Norbert mengangguk patuh, ia langsung mengetikkan pesan singkat untuk gadis itu.


“Kenapa harus dibatalkan. Biarkan gadis itu ikut, ups! Bagaimana aku bisa menyebutnya gadis jika dia sudah berada di sisi seorang Grey-”

__ADS_1


“Shut up!” potong Greyson seraya menggeram marah, tangannya dengan cepat menarik kerah baju Severin dan mencekik leher pria itu.


Severin tersenyum miring meskipun lehernya terasa begitu sakit karena cengkraman Greyson semakin kuat mencekik lehernya. “Grey, jangan bunuh dia. Kau akan menyesal jika dia benar-benar meninggal. Kau harus


ingat bahwa dia yang terbaik di sisi kita walaupun mulutnya selalu kurang ajar.”


Mendengar itu Greyson langsung menghempaskan Severin begitu saja.


Drrt! Drrrt!


“Grey!” Greyson menjauhkan ponselnya dari telinga saat mendengar teriakan Lashira saat baru saja mengangkat panggilannya.


“Kau keterlaluan! Sudah berapa kali kamu membohongiku? Waktu itu juga sama-”


“Aku akan menjelaskannya nanti.”


“Apa?! Grey!”


Tanpa berbicara lagi dia langsung memutuskan panggilannya.


“Bawa saja. Dia tidak akan mati semudah itu, percaya padaku..” ujar Severin.


“Kau-”


“Dia gadis itu Grey, dugaanmu semua benar. Dia gadis itu, kalau tidak percaya todongkan saja pistol ke kepalanya.”


“Kau gila?” tanya Norbert karena hasutan Severin semakin menjadi-jadi. Dia melihat ke arah Greyson dan Severin secara bergantian, bersiap-siap kalau semisalnya mereka berdua meledak dan malah menambah pekerjaannya lagi.


“Aku serius, aku pernah menodongkan pistolku pada gadis itu sekitar dua tahun lalu saat dia tanpa sengaja menyaksikanku sedang menghabisi kaki tangan tuan Choi.”


“Hei tenang Grey, aku tidak melukainya sama sekali saat gadis itu menyebutkan namamu. Buktinya nyata gadis itu masih hidup sampai saat ini…,” lanjut Severin lagi.


“Apa kau bilang tadi?”


“Dia menyebutkan namamu…,” ulang Severin berdecak malas.


“Nor, selesaikan urusanku sampai nanti sore. Masalah pesta akan kukabari lagi nanti.” Setelah berkata seperti itu Greyson langsung pergi dari sana, meninggalkan Severin yang tersenyum puas kala melihat wajah lelah Norbert.


“Aku harus benar-benar meminta tambahan gajiku padanya,” gerutu Norbert.


“Ah satu hal yang kulupa beritahu pada Greyson. Dua hari lagi wanita yang tadi kubicarakan akan menunggu Greyson di club.”

__ADS_1


“Kau sampaikan sendiri padanya, dia tidak akan menjawab telfon atau melihat pesanku setelah ini.” Severin mengangguk setuju dengan perkataan Norbert.


__ADS_2