
Lashira merapatkan sweter yang melapisi tubuhnya saat angin malam kembali berhembus dengan kencangnya. Saat ini ia sedang berdiam di balkon kamarnya seraya memandang langit malam yang bertabur bintang.
Dulu, ia pasti akan menunggu bintang jatuh di situasi yang seperti ini … berharap jika bintang jatuh itu bisa mengabulkan semua permintaannya. Tapi semenjak sang ibu meninggal ia sadar bahwa hal-hal seperti itu tidak akan bisa mengubah apapun.
Ketakutan akan kenyataan yang sedang terjadi di sekelilingnya membuat Lashira menutup diri rapat-rapat dari dunia luar. Dan sejak kapan ini semua bermula? Pikir Lashira yang menyadari dirinya mulai membuka diri.
Drrtt! Drrt!
Getaran ponsel yang ada di tangannya membuat Lashira tersadar dari segala pemikirannya. Ia tersenyum senang melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.
“Kamu tidak bisa tidur?” tanya Greyson di seberang sana.
Lashira berdehem pelan. “Kapan kembali?” tanya Lashira cepat.
“Aku belum meninggalkanmu cukup lama dan sekarang kau sudah merindukanku?”
Wajah Lashira memerah malu mendengarnya, ia bersyukur karena ini bukan panggilan video. “Berhenti berbicara omong kosong. Aku tidak merindukanmu, oke?”
“Oke, kamu tidak perlu mengaku karena aku sedang berbaik hati hari ini. Bagaimana keadaanmu? Apa terjadi sesuatu di sana? Norbert dan Severin menjagamu dengan baik kan?”
“Tuh! Tuh! Sikap berlebihanmu kumat lagi!” ujar Lashira dengan nada jengkel.
“Kalau begitu memang terjadi sesuatu di sana. Kalau begitu aku akan menyelesaikan urusanku di sini dan kembali lebih cepat.”
Lashira menghembuskan napas kasar. Tidak jangan di saat-saat seperti ini, pikir Lashira. Dia tidak ingin Greyson menghancurkan hidup seseorang hanya karena dirinya. Ia tidak terlalu berharga sampai-sampai Greyson harus memikul kebencian dari orang-orang yang hidupnya pria itu hancurkan deminya seorang.
“Aku tidak apa-apa Grey. Aku memang ingin kau cepat kembali, tapi aku juga tidak mau kau sampai kesusahan karenaku…,” lirih Lashira.
“Baiklah … tapi kau harus bilang padaku jika terjadi sesuatu.”
“Tunggu, kamu tidak sedang di kamarmu?”
“Woah! Darimana kau tau?” tanya Lashira.
“Suara anginnya sangat mengganggu, masuklah aku ingin mendengar suaramu lebih jelas.”
Wajah Lashira memanas lagi setelah mendengar perkataan manis Greyson. Dan sesuai perintah Greyson, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar. “Aku sudah di dalam….”
“Aku tahu.”
__ADS_1
Di sisi lain..
“Kau sudah selesai berbicara dengan ‘gadismu’ itu?”
Greyson hanya berdehem namun tatapan matanya begitu tajam karena tidak suka dengan nada bicara laki-laki di depannya.
“Kenapa?”
“Kau harus berhati-hati dengan nada bicaramu, nak.” Greyson memperingatkan bocah laki-laki di hadapannya dengan tegas.
“Baiklah-baiklah, pak tua. Jadi sekarang kau ke sini untuk menjemputku?”
Greyson mengangguk membenarkan. “Kau tau kan kalau aku menyekolahkanmu tidak gratis?” ujar Greyson pada bocah itu.
“Tentu saja, jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Ikut denganku pindah ke Indonesia, aku akan mengawasimu langsung di sana.” Laki-laki itu mengangguk setuju.
“Jadi kau langsung ke sini begitu sampai?” tanya laki-laki itu dan diangguki oleh Greyson.
“Dengar David, waktuku sedikit. Setelah sekolahmu hari ini selesai kau harus ikut denganku ke Indonesia. Anak buahku sedang mengurus barang-barangmu di apartemen, dan aku juga sudah menyuruh anak buahku untuk menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk kepindahanmu.”
Greyson menepuk pundak David pelan. “Kau harus terbiasa bahkan harus lebih cepat dari ini jika mendapat tugas dariku. Dengan begitu kau akan bisa bertahan hidup di dunia ini.”
Setelah itu Greyson pergi begitu saja, meninggalkan David yang kesal setengah mati. Selera makannya hilang seketika.
“Aku harus mengatakan apa pada gadis itu?” gumam David pada dirinya sendiri.
Dan benar saja, begitu ia pulang sekolah anak buah Greyson langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya langsung ke bandara. Di sana sudah ada Greyson yang juga sudah menunggu kedatangannya.
Benar-benar tidak ada istirahat sama sekali, bahkan ia belum berganti pakaian dan masih mengenakan tas sekolah di punggungnya.
“Berhenti menatapku seperti itu. Lebih baik kau tidur karena perjalanan ini cukup memakan waktu yang sangat lama,” ujar Greyson santai.
***
Dengan langkah lunglai Lashira keluar kamarnya hendak turun ke dapur. “Kau tidur nyenyak?” tanya Norbert saat Lashira melewati meja makan.
Lashira hanya mengangkat ibu jarinya sebagai ganti jawabannya. Gadis itu mengisi teko lalu ikut nimbrung dengan Norbert di meja makan. “Dimana Sven?”
__ADS_1
“Sven?” tanya Norbert.
“Severin, aku memanggilnya seperti itu karena dia terus saja memanggilku ‘si sebastian’. Memangnya siapa itu sebastian? Namaku Lashira Ardiansyah, kenapa dia malah memanggilku seperti itu?” ujar Lashira seraya merengut kesal.
Norbert tersenyum geli mendengar ocehan Lashira. “Kau tidak tahu apa itu sebastian? Sebastian itu artinya sebatas teman tanpa kepastian dan dia memanggilmu begitu karena katanya statusmu di sisi Greyson sangat tidak jelas.”
“Tidak jelas bagaimana? Greyson bahkan pernah melamarku, meskipun itu tidak romantis sama sekali.” Lashira merengut kesal saat mengingat lamaran Greyson yang sangat tidak jelas tempo lalu.
“Melamarmu? Greyson?” Norbert hampir tersedak makanannya sendiri setelah mendengar perkataan Lashira.
Lashira mengangguk. “Dia melamarku di kantornya, aku sendiri tidak yakin dengan perkataannya waktu itu.”
“Lalu, kamu menerimanya?” tanya Nobert.
“Menurutmu? Apa aku bisa menolak?” tanya Lashira balik.
“Eh aku harus segera berangkat ke kantor, kalau butuh sesuatu bilang saja pada pelayan atau salah satu anak buah Greyson. Severin masih belom balik, jadi baik-baik sampai Severin datang.” Norbert buru-buru menyelesaikan makannya dan pergi dari sana secepat mungkin.
Setalah Norbert pergi, Lashira menjalankan aktivitas yang menurut sebagian orang sangat membosankan namun sangat menyenangkan untuknya. Setelah menyelesaikan makannya, Lashira membaca buku baru yang ia beli bersama dengan Severin tempo lalu di balkon kamarnya.
Dan saat pelayan memberitahunya sekarang sudah memasuki jam makan siang, dia langsung menyimpan bukunya dan turun ke bawah untuk makan. Setelah itu dia akan bersantai di gazebo yang ada di pinggir kolam sambil menunggu pesan masuk dari Greyson.
Begitu hari semakin sore, Lashira mengganti pakaiannya dan berenang untuk menghabiskan waktu yang entah kenapa terasa berjalan sedikit lebih lama dari biasanya. Puas berenang ia membersihkan diri dengan berendam sambil menunggu makan malam siap.
Setelah selesai mandi ia turun untuk makan malam, di sana sudah ada Severin dan Norbert yang nampaknya baru saja pulang. “Kalian akan lanjut bekerja lagi? Bisa kalian luangkan waktu untuk makan malam bersamaku? Aku merasa aneh saat makan sendirian siang tadi.”
Norbert dan Severin saling pandang satu sama lain, mereka pun setuju dan ikut makan malam bersama mereka.
“Greyson menghubungi kalian?” tanya Lashira penasaran karena hari ini ia tidak menerima satu pesanpun dari Greyson.
“Tidak. Apa dia juga tidak menghubungimu?” tanya Norbert yang langsung diangguki oleh Lashira.
“Tentu saja ia tidak menghubungimu, mungkin saja dia sibuk dengan para wanitanya yang berada di sana. Kau tau kan? Kebutuhan pria seusia Greyson?” pancing Severin yang benar-benar berhasil memorak-porandakan perasaan Lashira.
Tak!
Lashira meletakkan alat makannya dengan sangat kencang, selera makannya hilang seketika. Dalam hati ia memaki-maki Severin yang mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu padanya.
“Setelah Greyson kembali, tamatlah riwayatmu…,” ujar Norbert setelah Lashira pergi kembali ke kamarnya.
__ADS_1