
Norbert menghembuskan napas lega saat melihat angka yang ada di termometer, untungnya suhu tubuh Lashira normal. “Kuharap kau tidak sakit, Ra. Pelayan akan mengantarkan sup ke sini, makanlah itu sebelum kau tidur.” Setelah mengatakan hal itu Norbert langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Tok! Tok!
“Ini supnya, Nyonya.”
Lashira menerima sup itu dengan senyuman tulus. Setelah pelayan itu pergi dari kamarnya, barulah Lashira mulai memakan supnya seperti perintah Norbert. Sesekali matanya melirik ke arah ponselnya yang berada di atas nakas. Dalam hatinya, Lashira berharap jika Greyson akan baik-baik saja di luar sana.
Usai menghabiskan sup, Lashira mengambil sebuah novel yang belum selesai ia baca untuk mengisi waktu karena ia tidak mengantuk sama sekali. Detik demi detik berlalu menjadi menit, begitu juga menit yang berlalu berubah menjadi jam.
Sudah beberapa jam, Lashira masih asik membaca sampai ia tidak sadar jika pagi sudah datang. “Eh? Sudah jam berapa sekarang? Perutku lapar sekali,” lirih Lashira seraya melirik ke arah mangkuk sup bekas makannya beberapa jam lalu.
Lashira pun memutuskan untuk turun ke dapur dan memasak mie instan. Tidak memakan waktu lama mienya siap. Dia pun kembali ke kamarnya dengan semangkuk mie dan seteko air dingin. Lashira melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul lima pagi, tapi Greyson belum juga pulang sampai sekarang.
“Dia tidak akan kenapa-kenapa kan?” tanyanya pada diri sendiri.
Lashira menggelengkan kepalanya kencang, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruknya tentang Greyson yang semakin menjadi.
Ceklek!
Lashira langsung menoleh saat pintu terbuka, ia tersenyum senang melihat kedatangan Greyson yang memang sejak tadi ia tunggu. “Kau sudah pulang?” tanyanya yang hanya dijawab deheman pelan oleh Greyson.
Greyson melepas coatnya dan mencium kening Lashira sebentar sebelum menghempaskan tubuhnya ke kasur. “Kau lelah? Mau coba mieku?” tanya Lashira yang langsung mendapat gelengan kepala pelan dari Greyson.
“Makanlah, aku akan bersiap untuk ke kantor.” Setelah mengatakan hal itu, Greyson langsung beranjak dari kasur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lashira ingin sekali menyuruh Greyson untuk istirahat sebentar sebelum ke kantornya, namun entah kenapa ia malah bungkam.
Tak lama Greyson keluar dari kamar mandi dengan setelan yang biasa ia pakai ketika ke kantor. Seperti biasa, Lashira merebut dasi yang akan dipakai Greyson dan membantu pria itu memakaikan dasinya.
“Boleh aku ikut?” tanya Lashira cukup mengejutkan Greyson.
Greyson mengernyitkan dahinya bingung. “Tidak biasanya?”
“Aku tidak akan mengganggu, aku akan duduk manis di pojokan ruanganmu agar kau tidak akan merasakan keberadaanku,” balas Lashira membuat alis Greyson terangkat sebelah karena semakin tidak mengerti.
__ADS_1
“Lalu untuk apa kau ikut kalau aku pun tidak bisa merasakan keberadaanmu?”
Lashira terkekeh pelan. “Kalau begitu aku boleh ikut?” tanyanya dengan mata berbinar-binar. Greyson mengusak rambut Lashira seraya mengangguk.
“Kalau begitu tunggu aku bersiap,” perintah Lashira seraya menggiring Greyson untuk duduk di kasur.
Lashira celingukan mencari keberadaan Greyson saat tidak mendapati keberadaan pria itu di kamar. Dia menghembuskan napas kasar karena bisa dipastikan Greyson sudah berada di ruang kerjanya sekarang.
Tanpa mengeringkan rambutnya terlebih dahulu, Lashira langsung menyisir rambutnya asal lalu bergegas untuk menghampiri Greyson di ruang kerjanya.
“Kau tidak mengeringkan rambutmu? Semalam kan-”
Lashira langsung memberikan kode pada Norbert untuk berhenti berbicara dengan menatap nyalang pria itu. Greyson yang menyadarinya pun menatap curiga pada keduanya. “Kalian merahasiakan sesuatu dariku?”
Norbert diam, dia hanya bisa memalingkan pandangannya saat matanya bertemu dengan tatapan Greyson. Sedangkan Lashira dia menggeleng cepat seraya tersenyum manis, gadis itu langsung memutar otak untuk mengalihkan perhatian Greyson saat ini.
“Grey, soal investasimu pada SH ent-”
“Okey, maafkan aku.”
Entah Lashira harus merasa bersyukur atau tidak saat Norbert berhasil mengalihkan pikiran Greyson namun malah membuat suasana jadi sedikit tidak mengenakan. “Grey, bisa kita berangkat sekarang? Aku ingin membeli makanan dulu di perjalanan,” ujar Lashira memecah keheningan.
Greyson langsung beranjak dari duduknya. “Kau pergilah lebih dulu, aku akan membawa mobil sendiri.” Norbert mengangguk patuh mendengarnya.
Lashira langsung menahan tangan Greyson yang menariknya keluar untuk berhenti. “Biar aku yang membawa mobilnya,” pinta Lashira yang langsung mendapat gelengan tegas dari Greyson.
“Kamu tidak memiliki SIM, aku tak ingin mati sia-sia sebelum menikahimu,” balas Greyson yang berhasil membuat pipi Lashira berubah kemerahan.
“Tapi bukan berarti aku tidak bisa menyetirkan? Percaya padaku Grey, aku hanya ingin membuatmu istirahat walaupun hanya sebentar.”
Mendengar itu, Greyson pun tersenyum senang lalu mengusap kepala Lashira dengan lembut. “Aku sudah biasa, sekarang ayo kita berangkat atau kamu ingin memberikanku morning kiss dulu sebelum berangkat?”
Lashira langsung salah tingkah mendengarnya. Dia langsung berjalan lebih dulu untuk menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat, Greyson yang mengikuti di belakangnya hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah gadis di depannya.
__ADS_1
***
“Gue udah bilang kan kalau lo gak boleh ikut campur?” tanya Mike yang sejak tadi memang sudah menunggu kepulangan sang adik. Leon yang hendak ke pergi ke kamarnya pun berhenti setelah mendengar perkataan sang abang.
“Gue juga gak bilang kalau gue bakal nurutin elo kan?” balas Leon santai.
“Tindakan lo yang nyusulin cewe itu ke London … lo tau gak apa akibatnya kalau Greyson sampai tau kelakuan lo? Bukan lo doang yang kena tapi semua keluarga kita juga kena, Yon! Lo seharusnya gak boleh egois kaya gini!”
Leon terkekeh pelan mendengar penuturan sang abang. “Egois? Kalau yang gue lakuin itu egois, gimana dengan lo sendiri, Bang? Kaya yang lo pernah bilang ke gue dulu … ini hidup gue, gak ada yang bisa ngatur gue meskipun itu keluarga gue sendiri.”
Setelah mengatakan hal itu, Leon memilih untuk mengabaikan Mike dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Begitu masuk ke dalam kamar, Leon menghidupkan komputernya dan menghubungi Nobert. Begitu tersambung ia langsung bertanya tanpa basa-basi, “lo inget siapa nama tante lo?”
“Kenapa? Lo mau promosi-”
“Damn Nobert! Lo mau nyari tau Lashira itu adek sepupu lo atau bukan kan?” potong Leon kesal. Nobert tertawa pelan mendengar makian Leon padanya.
Di sisi lain...
Chika mendengus sebal saat anak buah sang abang yang menyampaikan informasi tentang teman-temannya. “Kayanya mereka mulai lupa sama keberadaan gue, bahkan mereka mulai jalan sendiri-sendiri sekarang….”
“Lashira, apa yang sebenernya lo lakuin sekarang?” tanya Chika pada diri sendiri.
Prang!
Chika melempar cangkir teh yang ada di tangannya ke dinding hingga pecah. Wajah gadis itu datar tanpa emosi. “Dimana abang?”
“Tuan muda belum pulang sejak semalam Nona,” balas sang anak buah tentunduk segan.
“Kalau gitu siapin mobil dan perlengkapanku, aku ada kelas pagi hari ini.” Anak buahnya mengangguk patuh mendengar perintah Chika.
“Lashira…,” lirih Chika dengan kedua tangan mengepal.
__ADS_1