Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 18


__ADS_3

Mereka berdua memilih untuk makan terlebih dahulu di rest area. Greyson menatap lurus gadis di hadapannya, "jadi kamu sedang memanfaatkan aku?"


"Kenapa?" lanjut Greyson. Terdengar helaan napas panjang gadis itu, "sembunyiin aku dari semua orang. Aku akan jadi anak yang penurut sebagai gantinya." Greyson menyeringai mendengar hal itu. "Anak penurut?" Lashira menganggukkan kepalanya. Namun langsung melotot ketika melihat ekspresi wajah Greyson, "penurut dalam artian tidak menyusahkanmu, bukan yang lain." balas gadis itu dengan nada galak.


"Kapan kita akan sampai?" Greyson melihat jam tangannya, "kemungkinan kita akan sampai tengah malam." Lashira mengangguk mengerti.


Mereka kembali diam untuk menikmati makanan mereka. Setelah menyelesaikan makannya, Lashira menatap intens pria di hadapannya. "Apa alasanmu memilihku?"


"Dari sekian banyak perempuan kenapa aku yang kamu recoki kehidupannya?" lanjut gadis itu dengan tatapan menuntut. Greyson minum terlebih dahulu sebelum menjawab, "kalau aku bilang kamu begitu familiar bagiku. Apa kamu akan percaya?" Lashira mengernyit bingung karena tidak mengerti perkataan pria itu.


"Apa maksud-" ucapan gadis itu terhenti karena Greyson langsung bangkit dan pergi dari sana. Mau tidak mau gadis itu harus mengejar pria itu. "Grey!" Greyson tidak berhenti meskipun gadis itu terus-menerus meneriaki namanya. Untungnya rest area sedang sepi, hanya beberapa orang yang melihat mereka dengan aneh.


Greyson mengangkat sebuah panggilan dari ponselnya, dia menarik gadis itu dalam rangkulannya dengan lembut. Membuat Lashira langsung diam tidak jadi mencak-mencak pada pria itu, dia berubah menjadi seperti kucing penurut saat ini.


Greyson manaruh jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Lashira untuk diam ketika gadis itu akan membuka mulutnya. "Mau dia ada bersamaku atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu." Lashira mendongak untuk melihat wajah pria itu.


"Kamu mengancamku?"


'Siapa?' tanya gadis itu tanpa suara. Greyson menutup panggilan itu dan menenggelamkan wajah gadis itu di dadanya, "pacarmu menelponku karena tidak bisa menghubungimu dari tadi." ucap Greyson dengan nada tidak suka. Dia melepaskan pelukannya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Lashira masih terdiam, "pacar?" gumam gadis itu masih tidak mengerti.


***


Seperti perkataan Greyson, mereka berdua tiba di Jogja pada tengah malam. Seperti sebelumnya, gadis itu tertidur dengan nyenyaknya tanpa berniat menemani Greyson yang menyetir sejak tadi. Greyson meregangkan tubuhnya lalu menoleh pada gadis di sebelahnya.


Greyson membopong gadis itu masuk ke dalam salah satu rumahnya yang ada di daerah sini. Ketika ada anak buahnya yang berniat membantu membawakan gadis itu, Greyson menolaknya. Dan dengan sangat hati-hati ia meletakkan gadis itu di atas kasur. Bahkan dia melepaskan alas kaki yang dipakai gadis itu dengan telaten.


Pria itu juga tak lupa mengatur suhu kamar ini dan membenarkan posisi tidur gadis itu sebelum keluar dari sana.

__ADS_1


Ketika dia keluar dari kamar Lashira, Norbert menghampirinya, “tuan Francoiz sejak tadi ingin berbicara denganmu.”


“Sambungkan ke laptopku sepuluh menit lagi,” ucap Greyson tanpa bantahan.


Pria itu kembali ke kamarnya dan segera membersihkan diri. Merasa segar sepelas perjalanan jauh, pria itu dengan santainya langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa tanpa memerdulikan keadaannya yang masih menggunakan handuk.


“Grey! Ke-” teriakan Lashira terhenti saat kedua matanya menangkap pemandangan yang sulit untuk dilewatkan. Seketika wajahnya memerah, dia menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkan dirinya dari lamunan. Bahkan dia tidak sadar kalau Greyson sudah berdiri di hadapannya saat ini.


Pria itu menahan tangan Lashira yang akan kembali menutup pintunya, “mau ngapain ke sini?” gadis itu gelagapan seketika. “Ma-mau.. Kamu!” Greyson mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum miring.


“Mau aku?”


Lashira menggeleng dengan cepat, “maksudnyaakumaungomelinkamu.” ralatnya tanpa jeda. Greyson menangkap jari telunjuk gadis itu dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Bukannya kamu seharusnya sedang tidur?” Lashira memejamkan matanya erat-erat ketika Greyson semakin mempererat pelukannya, gadis itu hanya bisa


diam tidak bisa menjawab pertanyaan pria itu.


“Kalau gitu aku pergi dulu.” Lashira langsung saja kabur dengan secepat kilat. Norbert mengangkat kedua tangannya saat Greyson menatapnya dengan begitu tajam, “aku hanya mengikuti perintahmu.” Greyson menghembuskan napas panjang, “aku akan memakai pakaianku terlebih dahulu.”


Lashira menutup wajahnya yang masih terasa panas, lagi-lagi Norbert memergokinya yang sedang berduaan dengan Greyson. Bahkan telapak tangannya masih bisa merasakan betapa bidangnya dada pria itu.


Gadis itu kembali menormalkan ekspresi wajahnya, “sadarlah Ira!”


Lashira menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menatap lurus plafon ruangan ini, dia menghembuskan napas panjang. “Apa ini sudah benar?” gumamnya. Sekarang hanya Greyson yang dia punya, hanya pada pria itu ia bisa berharap. Tapi bolehkah ia berharap sebegitu besarnya pada pria yang baru beberapa bulan ini ia temui?


Hatinya terus merasa bimbang dan gelisah, biar bagaimanapun ini pertama kalinya ia memberontak dan keluar dengan paksa dari sangkarnya. Selama ini dia selalu diam dan menerima semua perintah dari sang ayah.


Dia juga tidak bisa mengingkari sebuah fakta; kalau dia bisa hidup sampai sekarang juga karena sang ayah. Tapi dia juga sudah tidak tahan dengan semuanya, rasanya ia sudah muak karena selalu diam selama ini dan sebisa mungkin ia selalu menekan sisi buruk dirinya agar semua orang menerimanya.


Namun Greyson, pria itu hadir dan memaklumi segalanya dan membiarkan dirinya untuk mengambil alih semua keputusan dalam hidupnya sendiri.

__ADS_1


***


“Apa yang sedang kamu rencanakan?”


Greyson mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti setelah mendengar pertanyaan dari sang ayah tiri. Dia membuka sekaleng bir, “aku tidak mengerti apa maksudmu. Dan yang lebih tidak kumengerti lagi, kenapa kau menghubungiku?” setelah itu dia menenggak sekaleng bir itu dalam sekali tengguk.


“Kecelakaan kemarin, itu kau kan?”


Greyson terkekeh pelan, “bagaimana bisa kalian berpikir seperti itu? Apa kalian kira aku ini seorang pengangguran yang tidak punya perkerjaan?” balasnya.


“Kalian?”


Greyson mengangguk, “anakmu juga menuduhku. Kalian memang satu darah.”


“Apa hanya itu? Aku sibuk setelah ini.” lanjutnya dengan wajah datar.


“Kau berencana untuk merebutnya kan?”


Greyson menatap laptop di hadapannya dengan penuh amarah, “dia milikku. Aku hanya mempertahankannya, bukan merebutnya.” desis pria itu dengan rahang yang mengeras.


Thomas terdiam di seberang sana melihat reaksi anak tirinya. “Nor! Singkirkan benda itu dari hadapanku.” Norbert berjalan mendekat dan membawa laptop itu keluar bersamanya. Setelah pria itu keluar dari kamarnya, Greyson langsung menjambak rambutnya frustrasi.


“Argghh!” teriaknya seraya menendang meja kaca di depannya, pria itu bahkan tidak ingat dengan keberadaan Lashira yang berada di sebelah kamarnya. Dan benar saja, gadis itu sudah berada di depan pintu kamar pria itu. Lashira tampak bimbang di depan sana, dia menempelkan telinganya di pintu. “Grey, are you okay?” teriaknya yang masih terdengar oleh pria itu.


Karena tak ada jawaban, Lashira merangsek masuk. Matanya langsung membola ketika melihat pecahan kaca di mana-mana, dengan hati-hati gadis itu menghampiri Greyson yang terdiam duduk di sofa dengan wajah tegang.


Lashira langsung mengecek kondisi tubuh pria itu, “kamu gak papa?” Pria itu diam saja saat gadis itu membolak-balikkan telapak tangannya untuk memeriksa apakah ada luka di sana. “Kamu tuh ngapain sih Grey?” tanya Lashira seraya mendongak agar bisa menatap mata pria itu.


Mata Lashira terpaku pada tatapan sendu pria itu, bahkan dia tidak memberontak saat pria itu tiba-tiba saja memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di cerukan leher gadis itu. “Don’t leave me..”

__ADS_1


__ADS_2