
Puas bergabung dengan para pekerja untuk memetik teh, Lashira beristirahat sejenak di bawah pohon yang terletak di tengah-tengah perkebunan yang luas ini. Gadis itu sampai tertidur karena terbuai dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya. Dia tidak tahu jika orang-orang yang ada di villa tengah kebingungan mencarinya.
Seorang pria yang memang sudah sedari tadi memperhatikannya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, “dia tertidur di bawah pohon sekarang..”
Entah apa yang orang di seberang sana katakan hingga pria tersebut menghampiri Lashira yang masih tertidur lelap tanpa peduli dengan sekitarnya. Saat pria itu sudah dekat dengan Lashira, datang Chika, Leon, dan Nobert yang langsung membangunkan Lashira.
“Lo kalau mau keluar bilang dulu dong, jangan main asal cus aja! Kalau lo kenapa-kenapa gimana hah? Mikir dong, jangan egois!” setelah berkata seperti itu, Leon langsung pergi dengan membawa amarah yang masih menumpuk dalam dadanya.
Lashira yang baru terbangun pun terkejut bukan main saat mendengar bentakan Leon. “Jangan dimasukin ke hati ya, dia khawatir banget sama kamu.” Jelas Chika berusaha menenangkan Lashira.
“Kalau kemana-mana bilang, jadi kami gak khawatir nyariin kamu kaya orang gila. Terus lain kali jangan sembarangan tidur kaya gitu.. Kalau ada orang jahat gimana? Kamu pikir kita itu superhero yang selalu bisa nyelamatin kamu kalau kamu lagi dalam bahaya?” berbeda dengan Leon yang menyampaikan amarahnya dengan cara membentak, Nobert menyampaikan amarahnya dengan tenang namun cukup untuk memporak-porandakan hati Lashira yang kini dirundung rasa tidak enak.
“Udahlah, toh Lashira juga gak papa.. Jangan terus-terusan mojokin dia..” Nobert terdiam, namun melihat ekspresi wajah Lashira yang begitu menyesal membuatnya tidak tega untuk melampiaskan amarahnya sekarang pada gadis itu.
Nobert pun kembali ke villa lebih dulu, meninggalkan keduanya di sana. Dia tidak ingin membuat Lashira lebih terluka lagi dengan kata-katanya nanti.
“Kamu beneran gapapa kan tapi?” Lashira mengangguk pelan seraya tersenyum tipis.
“Ayo kak kita balik, aku pengen minta maaf ke mereka..”
Chika menggeleng, “jangan sekarang.. Emosi mereka masih meledak-ledak sekarang, besok aja ya..” Lashira mengangguk pelan, lebih baik dia mendengarkan perkataan Chika yang memang sudah mengetahui keduanya dengan baik.
Sesampainya mereka di villa, Nobert dan Leon sudah berada di dalam kamarnya masing-masing. Bahkan ketika waktunya makan malam, mereka berdua tak kunjung keluar kamar. “Kak, aku aja ya yang kasih ke mereka.. Kakak pasti capek banget seharian nyari aku kemana-mana.” Chika tersenyum lembut, dia pun membantu Lashira menyiapkan makanan untuk keduanya.
“Aku ke atas ya..” Lashira mengangguk, dia mengambil nampan yang berisi makanan untuk Leon. Sebelum memasuki kamar pria itu, Lashira mengatur napasnya terlebih dahulu. Apapun resikonya, dia harus membuat Leon memakan makanannya dan kalau bisa memaafkannya.
Tok! Tok!
“Kak.. ini Ira bawain makanan..” dengan perlahan gadis itu membuka pintu kamar Leon yang tidak dikunci tersebut. Ternyata Leon sudah tertidur di sofa yang ada di kamar itu, tak ingin membangunkan.. Lashira mengambil bantal dan selimut dari tempat tidur lalu membenarkan posisi tidur Leon dengan hati-hati.
“Maafin Ira ya kak..” lirih gadis itu pelan.
__ADS_1
Lashira menutup pintu kamar Leon dengan hati-hati, dengan cepat dia mengambil nampan yang berisi makanan milik Nobert. Sama seperti sebelumnya, Nobert ternyata juga sudah tertidur.. dia memperlakukan Nobert sama dengan perlakuannya pada Leon, dia juga meninggalkan makanannya di sana.
Saat kembali ke kamarnya, Chika juga sudah tertidur. Dirinya masih kepikiran kejadian hari ini, karena kejadian ini membuat Lashira sadar.. Dia akhirnya menemukan orang-orang yang benar-benar peduli padanya.
“Makasih kak Chika, maafin Ira ya..” lirihnya seraya membetulkan selimut Chika.
Karena tidak bisa tertidur, ia pun memutuskan untuk menikmati pemandangan lewat balkon. Jika kalian mengharapkan pemandangan malam yang indah maka kalian akan kecewa karena saat ini cuacanya mendung dan sepertinya hujan akan siap tumpah kapan saja.
Lashira memejamkan matanya, menikmati hembusan angin malam yang membelai wajahnya dengan lembut dan menyegarkan. Tanpa sadar senyum terukir di bibirnya saat wajah Chika, Leon, dan Nobert terbayang di pikirannya. Senang sekali rasanya mempunyai orang-orang yang benar-benar peduli dengannya.
Selama ini orang tuanya selalu sibuk bekerja, Clarissa juga sibuk dengan teman-temannya. Maka dari itu dia sudah terbiasa untuk sendiri, namun setelah bertemu dan mengenal mereka.. entah apakah dirinya akan bisa kembali ke dirinya yang terbiasa sendirian atau tidak.
“Kamu gak tidur?” Lashira menggulum senyumnya ketika mendengar pertanyaan Chika yang sepertinya terbangun karena angin dari luar.
“Maaf, kakak kedinginan ya?” Chika menggeleng pelan dia menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, mengisyaratkan Lashira untuk segera tidur di sebelahnya.
“Tidurlah, jangan terus-terusan mikirin kejadian hari ini.” Lashira mengangguk pelan dan menuruti perkataan Chika.
“Pagi semua..” sapa Lashira seraya tersenyum canggung.
“Pagi..”
Lashira tersenyum miris karena hanya Chika yang menjawab sapaannya. Rupanya Leon dan Nobert masih marah kepadanya. Suasana sarapan pagi ini begitu hening dan canggung, Chika yang memang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini pun merasa baik-baik saja.
Berbeda dengan Lashira yang merasa bersalah karena telah membuat suasana menjadi secanggung ini, namun nampaknya Chika mengerti dengan perasaan Lashira saat ini.
“Aku dengar Theo akan menyusul ke sini hari ini.” ucap Chika yang lebih dulu memecah keheningan.
Lashira mengangguk, “kak Theo juga menghubungiku pagi ini..” gadis itu kembali menciut saat tatapan tajam Leon tertuju padanya.
Semua terdiam, menunggu kata-kata yang sekiranya akan Leon lontarkan pada gadis itu.
__ADS_1
“Kalau mau keluar, setidaknya bilang ke salah satu dari kami.” Chika menghembuskan napas lega mendengarnya, ia pikir pria itu akan kembali memojokkan Lashira.
Lashira mengedipkan matanya berkali-kali karena terkejut dengan perkataan Leon, namun dia langsung tersenyum senang setelahnya. Ternyata kak Leon udah gak marah lagi sama aku, batin Lashira.
Setelah makan Lashira membantu Chika untuk membereskan peralatan bekas sarapan tadi dan ikut bersantai menonton TV di ruang tengah, awalnya dia tidak ingin ikut karena takut membuat suasana kembali canggung.. namun Chika memaksanya untuk bergabung.
“Hallo everyone!”
Semuanya serentak menoleh ke arah pintu karena mendengar suara Theo.
“Taro barang-barang lo di kamar sono! Nobert lo anterin gih ke kamarnya,” perintah Chika.
“Dih ogah lah! Lo aja sana!”
Chika berdecak, “gue mau siap-siap buat nyari makanan kalian nanti siang.”
“Emang mamang-mamang itu kemana?” sahut Leon.
Theo langsung merangkul Nobert dan menyeretnya untuk menunjukkan kamar mereka. Sedangkan Chika dia langsung pergi ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Leon. Sekarang hanya tinggal Lashira dan Leon yang ada di ruangan ini, sesekali gadis itu melirik ke arah Leon yang memang sedari tadi sudah tahu jika gadis itu diam-diam memperhatikannya.
“Kenapa?” tanya Leon sedikit membuat Lashira terpenjat kaget.
Gadis itu gugup sekali, tangannya sampai basah karena keringatnya. “Kak Leon masih marah?” cicit gadis itu. Leon diam, dirinya juga bingung.. kenapa dia bisa semarah itu dengan Lashira? Dan kenapa juga dia bisa sekhawatir itu padanya?
“Lashira minta maaf karena kejadian kemarin kalian semua jadi khawatir dan nyariin Ira seharian. Ira tahu kalian pasti kesel banget sama Ira, Ira janji gak akan hilang tanpa kabar lagi kaya gitu, maaf..” Leon menghembuskan napas panjang mendengar suara Lashira yang bergetar seperti ingin menangis.
Leon mendekati gadis itu dan merangkulnya. “Ya udah gapapa, aku udah maafin kok. Lain kali jangan kaya gitu lagi..”
“Kalian berantem?”
Leon ingin sekali memukul Theo yang datang di waktu yang sangat tidak tepat.
__ADS_1