
Lashira terus memegang perutnya yang terasa keram sejak tadi, dia kembali mengubah posisi tidurnya hingga membangunkan Greyson yang sudah tertidur di sebelahnya.
“Berhentilah.” ujar Greyson.
Lashira bangkit dari tidurnya dan pergi ke pantry untuk memasak air. Dengan setengah berlari ia masuk ke dalam kamar mandi. Merasa terganggu Greyson ikut beranjak dari ranjang, dia terdiam saat melihat Lashira yang keluar dari kamar mandi dengan membungkuk.
“Kamu sakit?” tanyanya yang langsung menghampiri gadis itu.
Lashira menggeleng, gadis itu langsung jongkok dan menatap Greyson dengan tatapan memelas. “Kamu bisa membelikanku pembalut?”
Greyson terdiam sebentar, “aku akan meminta Norbert untuk membelikannya.” ujarnya seraya mengambil ponselnya.
“Grey, aku malu.. kau saja ya.. aku akan melakukan apapun nanti..”
Greyson sedikit tertarik, “apapun?”
Lashira mengangguk mantap, “apapun..”
Dan di sinilah Greyson, dengan penampilan berantakan khas orang bangun tidur, ia membeli pembalut untuk gadisnya. Ia menghembuskan napas panjang saat seorang remaja melihat ke arahnya. Entah kenapa ia merasa semua orang melihatnya dengan aneh, padahal kenyataannya tidak sama sekali.
Untungnya Lashira mengirimkan foto pembalut yang biasa ia pakai hingga Greyson tidak perlu lama-lama di sana.
Greyson menyerahkan pembalut itu dengan wajah datar, “aku tidak akan mau melakukannya lagi.” Lashira tersenyum mendengarnya, dengan cepat ia mengecup pipi Greyson dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
“Astaga!” pekik Lashira kaget karena Greyson yang ternyata menunggu dirinya di depan pintu kamar mandi, di tangan pria itu sudah ada botol yang berisi air panas yang tadi ia masak.
Greyson menyerahkan botol itu, “aku sudah menambahkan air biasa di sana.”
Lashira mengangguk sambil tersenyum, “thanks.”
Greyson langsung menarik Lashira dalam pelukannya, “aku pikir kamu masih memiliki hutang padaku.” ujarnya tersenyum miring. Lashira mengerutkan dahinya dalam, “aku sudah menciummu tadi.” balas Lashira hendak melepaskan pelukannya.
“Apa yang kau maksud itu menyentuh pipiku dengan bibirmu?”
“Itu bukan sebuah ciuman buatku.” lanjutnya dengan wajah kesal.
Lashira menahan senyumnya melihat wajah Greyson yang begitu kesal, “baiklah maafkan aku.. apa perintahmu Mr. Grey?”
__ADS_1
Greyson menatap mata Lashira dalam, “bisakah aku menciummu setiap pagi?” ujar pria itu seraya meraba bibir Lashira. Bisa dipastikan semerah apa wajah gadis itu sekarang.
“Aku akan menciummu besok pagi, tapi hanya besok.” balas Lashira yang langsung melepaskan pelukan Greyson.
“Kenapa hanya besok? Aku memintamu untuk menciumku setiap pagi.” ujar Greyson tidak terima. Lashira tidak menjawab, ia masuk ke dalam selimut dan mencari posisi tidur yang nyaman untuknya.
“Kau mengabaikanku?”
Lashira tersenyum tipis, “tidurlah Grey. Aku ingin memelukmu.” ujar Lashira mengalihkan topik. Greyson ikut berbaring di sana, dan membiarkan Lashira memeluknya. “Aku akan membiarkannya kali ini, pembicaraan kita belum selesai.”
“Diamlah Grey, aku sudah sangat mengantuk.” gumam Lashira dengan mata terpejam.
“Apa botol itu harus ada di sana?”
Lashira menggeram kesal, “kamu pindahkan saja saat aku sudah tertidur.” balas Lashira masih dengan mata terpejam. Greyson tersenyum tipis melihatnya.
***
Lagi-lagi Greyson meninggalkannya sendiri, karena bosan ia pun memainkan ponsel yang belum lama ini Greyson berikan padanya. Dia melihat berita seputar bisnis dan fashion. Salah satu artikel yang menarik perhatiannya adalah artikel dengan tajuk saham coiz company turun drastis.
Grey : Aku sudah selesai. Mau jalan-jalan?
Kenapa timingnya pas sekali? pikir gadis itu. Dia langsung menelpon Greyson.
“Kamu sudah bersiap? Aku lagi di jalan sekarang.”
“Grey, saham Coiz company anjlok. Apa ini ada hubungannya denganmu?” tanya Lashira tanpa basa-basi. Ia menghembuskan napas panjang karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Aku menunggumu Grey, hati-hati.” ucapnya yang langsung memutuskan panggilan.
Sebenarnya mau Greyson menjatuhkan keluarga Theo atau tidak, itu bukan urusan dengannya. Dia tidak seharusnya mencampuri urusan pria itu, namun jika ia menjadi alasan pria itu melakukan hal itu.. maka ia tidak bisa berdiam diri saja.
Lashira menunggu, ia terus menatap pintu menunggu kedatangan Greyson. Dia gelisah tentu saja, apalagi pria itu tidak mengatakan apapun setelah ia menanyakan hal itu. Pria itu tidak akan pergi untuk menghindarinya kan?
Gadis itu menghela napas panjang saat melihat kedatangan Greyson. “jawab pertanyaanku Grey..” ucapnya hingga membuat langkah kaki Greyson terhenti. Pria itu melempar jasnya, dia melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya sebelum menghampiri gadis itu.
“Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya.” balas Greyson santai.
__ADS_1
“Apa ini ada hubungannya denganku? Kalau iya, kenapa harus sejauh itu? Dampak dari perbuatanmu itu tidak hanya merugikan keluarganya kak Theo, tapi ribuan orang Grey.” ujar Lashira.
Greyson menatap Lashira datar, gadis itu bahkan tidak bisa menebak pikiran pria itu saat ini.
“Kalau kamu diem aja, berarti bener kamu ngelakuin ini semua karena aku..” ujar Lashira lirih. Dia berharap pria itu akan menyangkalnya, namun tidak.. pria itu diam saja.
Lashira langsung bangun dari duduknya dan memilih untuk pergi tidur, kepalanya mumet karena terlalu kesal. Greyson menyandarkan tubuhnya di sofa, “alasanku terlalu banyak untuk menjatuhkan mereka.” gumamnya pada diri sendiri.
Rasanya baru kemarin mereka gencatan senjata setelah perang dingin beberapa hari, sepertinya kejadian serupa akan terulang kembali.
Greyson melihat jam tangannya, makan siang sudah lewat. Gadis itu masih saja bergelung di kasur, “badannya akan seperti lidi jika dia tidak makan.” Greyson langsung menyibak selimut gadis itu dan membopongnya ke kamar mandi.
Dia langsung mengguyur wajah Lashira dengan shower. “Grey!” pekik gadis itu.
“Bisakah kamu membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi?”
“Lima menit. Aku akan menunggumu di luar.” Setelah berkata seperti itu, Greyson langsung keluar dari sana. Meninggalkan Lashira dengan segala makian gadis itu.
Biar bagaimanapun Lashira tidak bisa membantah perkataan pria itu, dia sudah berjanji karena pria itu mau menampungnya.
“Telat dua menit.”
“Grey..” desis Lashira sebal.
Greyson tersenyum tipis dan membenarkan rambut Lashira yang sedikit berantakan. Reaksi Lashira? Jangan ditanya. Wajah gadis itu sudah semerah tomat sekarang.
Greyson menggenggam tangan Lasira dengan lembut. Pria itu membawa Lashira makan pizza karena tadi pagi gadis itu sempat memintanya untuk memesan pizza, namun tidak jadi saat melihat Norbert sudah membawakan sarapan untuk mereka.
Greyson menggeleng pelan saat melihat saus yang belepotan di wajah Lashira. Dengan hati-hati dia membersihkan wajah Lashira menggunakan tissue. “Padahal aku sengaja tidak membersihkannya karena nanti akan kotor lagi.” ucap Lashira pelan.
“Aku hanya melakukan pencegahan.”
Lashira mengernyit bingung, “pencegahan?”
Greyson mendekatkan wajahnya ke telinga Lashira dan berbisik, “aku khawatir akan melahapnya di sini karena terlihat begitu menggoda.” Blush! Wajah Lashira memerah seketika. Gadis itu menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada yang mendengar perkataan Greyson.
Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan begitu gamblang dan tanpa rasa malu? batin Lashira.
__ADS_1