Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 9


__ADS_3

"Aku gak tahu! Aku gak kenal kamu!" jerit Lashira, tubuhnya bergetar saat pria itu berjalan mendekat ke arahnya.


Pria itu; Greyson, menyisir rambutnya ke belakang seraya tersenyum miring.


"Setelah kamu menghindariku dan bahkan memblokir pertemanan kita sekarang kamu berpura-pura tidak mengenalku?" Lashira mengernyit bingung, dia tidak mengerti sama sekali arah permbicaraan Greyson.


Air matanya menetes, rasa takut, bingung, dan marah bercampur menjadi satu. Greyson mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan percakapan chatting-nya dengan Clarissa yang menggunakan akun palsu Lashira. Dahi gadis itu berkerut dalam, "aku tidak memiliki akun mukabuku.. kak Nobert melarangku untuk menggunakan aplikasi itu." lirih Lashira kembali mengingat percakapannya dengan Nobert saat pria itu membelikannya sebuah ponsel baru.


‘Aku sudah membuatkanmu beberapa akun medsos, aku juga sudah memilih mana aplikasi yang boleh kau gunakan. Selain aplikasi yang ada di ponsel itu kamu tidak boleh menggunakannya.’


“Norbert? Darimana kamu mengenalnya?”


“Di-dia seniorku di kampus..” jawab Lashira tersendat-sendat karena masih sesegukan.


Greyson berteriak, “Norbert ke sini kau!”


“Ada apa?”


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Lashira, Greyson bertanya, “kamu menyamar menjadi seniornya di kampus?” dahi Norbert mengerut saat mendengar pertanyaan Greyson yang terdengar tidak masuk akal.


“Aku tidak memiliki waktu seluang itu Grey, anak buahku yang selama ini mengawasinya.” Jelas Norbert dengan tenang.


“Dia bukan kak Nobert, bisa lepaskan aku? Aku janji tidak akan kabur..” melihat Lashira yang memohon dengan derai air mata, membuat Greyson memalingkan wajahnya. Tapi saat tatapannya bertemu dengan mata sang tangan kanan, dia pun menganggukkan kepalanya.


Norbert pun memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan ikatan tangan Lashira. “Terima kasih,” ucap gadis itu seraya tersenyum.


“Urus dia.” Setelah berbicara seperti itu, Greyson langsung pergi begitu saja.


Norbert membawa Lashira ke sebuah kamar yang cukup luas, namun sangat tertutup. Lashira yakin jika kamar ini memang dibuat untuknya, bisa terlihat dari jendelanya yang dilapisi besi tralis.


“Jika kamu perlu sesuatu, ada beberapa pelayan di depan kamar.” Lashira mengangguk mengerti, dia menahan tangan Norbert yang hendak pergi.


“Kenapa dia menyekapku?”


Dengan perlahan Norbert melepas tangan Lashira, “aku tak tahu apa yang kamu perbuat dengannya sampai-sampai dia menjadi gila akhir-akhir ini. Tapi saranku untukmu, jangan coba-coba kabur jika sudah berada di sini.”


“A-aku bahkan tidak mengenalnya,” jawab Lashira dengan nada kebingungan.


Norbert mengernyit bingung mendengar penjelasan Lashira, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu di sana. “Ini fotomu bukan?” Lashira mengangguk, namun seingatnya dia tidak pernah berfoto dengan pakaian itu.


“Apa kamu sudah ingat?”

__ADS_1


“Apa yang harus kuingat jika memang bukan aku yang dia maksud. Lagipula aplikasi apa itu? Kenapa kak Nobert tidak membuatkan akun untuk aplikasi itu?”


“Aku harus pergi.” Selepas perginya Norbert, Lashira terdiam mengingat kejadian sebelum ia bisa tiba di sini.


Setelah Theo dan Chika keluar dari villa untuk mencari makanan, Lashira pamit pada Leon dan Nobert ingin berkeliling perkebunan seperti kemarin. Awalnya Nobert menawarkan diri untuk menemaninya namun gadis itu menolaknya karena takut merepotkan.


Sama seperti kemarin, dia membantu para pekerja memetik teh lalu bersantai di bawah pohon yang sama; tempat dia tertidur kemarin. Lalu setelah itu turun hujan yang lumayan deras, dia pun berinisiatif untuk kembali ke villa dengan menerjang hujan yang semakin deras.


Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba ada yang membekapnya. Dan dia tidak mengingat apa-apa lagi setelah itu.


Lashira bangkit dari duduknya dan memperhatikan kamar yang saat ini dia tempati, untuk apa dia menyekapku? pikir gadis itu.


Matanya membelalak saat menyadari sesuatu, semuanya pasti khawatir padanya saat ini. Dengan perlahan dia memutar knop pintu kamar ini dan dia terkejut karena kamar ini tidak dikunci.


“Ada apa non?”


Lashira menggigit bibirnya ragu, “aku ingin menemui tuanmu, bolehkah?” pelayan itu tersenyum kecil dan bertanya pada salah satu penjaga.


“Ayo saya antar..”


***


“Kamu menahanku di sini dan kamu mau pergi sekarang?” suara Lashira meninggi saat mendengar percakapan Greyson dengan Norbert.


“Pertama aku akan menanyakan hal ini, kenapa kamu menahanku di sini?”


“Kenapa kau melakukannya?” dahi Lashira mengerut dalam mendengar pertanyaan Greyson. “Memangnya aku melakukan apa?”


Lashira menelan ludahnya gugup ketika Greyson terus mendekat ke arahnya. Gadis itu berjalan mundur menjauhi pergerakan Greyson, “kau mau apa Grey?” cicit Lashira membuat pergerakan Greyson terhenti.


“Kamu masih berpura-pura tidak mengenaliku?” Greyson tersenyum remeh.


Lashira menatap Greyson tidak percaya, “aku memanggilmu seperti itu karena mendengar pria tadi memanggilmu seperti itu. Aku benar-benar tidak mengenalimu, aku tidak berbohong!” suara Lashira sampai melengking saking emosinya.


Greyson juga terkejut melihatnya, dia menyeringai. “Ini dirimu yang sebenarnya?”


“Ya! Ini diriku yang sebenarnya, lantas kau akan melepaskanku?” teriak Lashira.


Greyson kembali mendekat, dan mengurung Lashira dalam kukungannya. “Kau pikir aku akan semudah itu melepaskanmu?” wajah Lashira memerah karena jarak Greyson yang terlalu dekat dengannya ditambah dengan amarahnya yang sudah diubun-ubun.


“Kenapa kamu mengurungku? Memangnya apa kesalahanku? Setidaknya beritahu alasannya.” Air mata Lashira turun begitu saja, membuat Greyson membelalak karena tidak menyangka. Dimana kemarahan gadis itu yang meledak-ledak? Pikir Greyson.

__ADS_1


“Aku harus pergi sekarang.”


Lashira menahan tangan Greyson dengan wajah yang dibanjiri air mata, “kamu menahanku dan sekarang malah pergi?!” jerit gadis itu di tengah tangisnya.


“Aku ada urusan.”


Lashira menarik ingusnya dan menghapus air matanya, “kalau begitu lepaskan aku.” Greyson melotot galak mendengarnya.


“Tidak akan.”


“Aku tidak mengenalmu dan tidak pernah melakukan kesalahan padamu, lalu aku ditahan seperti ini sedangkan kau sendiri tidak menjelaskan kesalahanku dan ingin pergi? ****!” desis gadis itu menghempaskan tangan Greyson dengan sekuat tenaga dan berlari keluar dari ruangan itu.


Norbert yang ada di depan ruangan terlonjak kaget saat pintu terbuka dengan kencang dan melihat Lashira yang berlari dengan ekspresi marah. Dia langsung berlari saat melihat gadis itu turun ke lantai bawah, untungnya dia berhasil menangkap gadis itu sebelum gadis itu berhasil sampai ke pintu rumah ini.


“Kalian kenapa diam saja bukannya mencegah gadis ini keluar?!” bentak Norbert pada anak buahnya.


“Gadis itu menggigit kami, boss bilang kami tidak boleh menyentuhnya.” jelas salah satu dari mereka.


“Biarkan dia pergi, antarkan dia ke villa Chika. Dan kau Lashira, urusan kita belum selesai.”


Lashira diam namun tatapannya seakan ingin menguliti Greyson hidup-hidup.


“Tapi-” Norbert kembali menutup mulutnya saat Greyson mengangkat tangannya. Tatapan Greyson terkunci sepenuhnya pada Lashira, baru kali ini ada seorang wanita yang berani menatapnya seperti itu.


“Jika kamu ingin kembali, ikut denganku sekarang.” Pria itu kembali naik ke atas meninggalkan Lashira yang masih menggeram kesal di tempatnya.


***


“Tuh anaknya udah balik.” Semuanya berbalik mendengar perkataan Nobert. Di sana Lashira terdiam masih mencerna kejadian yang baru saja menimpanya. Anak buah Greyson baru mengantarnya kembali subuh ini, itupun setelah melalui perdebatan panjang dengan Greyson yang sebenarnya tidak diperlukan.


“Urusanmu sudah selesai?” dahi Lashira mengerut dalam, namun gadis itu tetap mengangguk pelan, dia mengernyit saat merasakan getar di saku celananya.


Mata gadis itu membelalak saat mendapatkan sebuah pesan dari Greyson, dan entah sejak kapan ponselnya sudah kembali ke tangannya. Theo yang menyadari raut wajah Lashira pun bertanya, “ada masalah?”


Lashira mengangkat kepalanya lalu memberikan senyum terbaiknya, “gak ada kok kak..”


“Kak aku ke kamar dulu ya..” keempatnya mengangguk mendengar ucapan Lashira yang terdengar lemah, mereka


sadar ada yang gadis itu sembunyikan saat ini namun mereka tidak akan bertanya jika gadis itu berusaha sekali menutupinya seperti tadi.


“Ah aku lupa mengatakan hal ini pada kalian kemarin..”

__ADS_1


“Apa?” sahut Nobert dengan cepat.


“Aku lihat Greyson kemarin, pas kita keluar.” Mata Theo mengarah ke arah Chika yang kemarin pergi bersamanya. Semuanya terdiam, pikiran mereka tertuju ke arah yang sama setelah mendengar perkataan Theo.


__ADS_2