
Lashira mengurung dirinya di kamar tanpa tahu Nobert berhasil menemukan keberadaannya saat ini. Greyson langsung merasa sakit kepala ketika mendengar laporan Norbert padanya, belum lagi Lashira yang enggan memakan makanannya sejak tadi siang.
“Suruh Marie antarkan makan malam ke kamar Lashira dan pastikan Lashira tidak keluar dari kamarnya selama Nobert ada di sini,” perintah Greyson pada Norbert.
Lashira menyembulkan kepalanya saat tahu kalau yang mengantarkan makanan adalah Marie, matanya menjelajah ke segala arah memastikan tidak ada Greyson di sekitar sini. “Tuan Greyson ada di ruang kerjanya, Nyonya.” Lashira tersenyum kecil, rupanya Marie tahu apa yang ia khawatirkan saat ini.
Lashira pun membuka pintu kamarnya lebih lebar dan mempersilahkan Marie masuk ke dalam kamarnya. Greyson yang melihat itu semua dari CCTV hanya bisa berdecak kesal, dari siang ia berdiri di depan pintu untuk menyuruh Lashira makan … boro-boro membukakan pintu, menjawab pun tidak.
“Kau masih tenang di sini? Padahal adikmu dan teman-temannya sudah berada di bawah saat ini,” ujar Severin di depan pintu.
“Adik?”
“Theo, dia ada di bawah sekarang.”
Greyson tersenyum miring mendengarnya. “Baiklah aku akan ke bawah sekarang. Jangan biarkan Lashira keluar apalagi sampai turun ke lantai bawah.” Severin hanya mengangguk patuh.
***
“Dimana Lashira?” tanya Theo tanpa basa-basi. Padahal Greyson baru saja datang dan belum duduk sama sekali.
“Entahlah, kalaupun aku tahu. Untuk apa aku memberitahumu?”
Tangan Theo sudah mengepal dan rahang pria itu sudah mengeras. Sedangkan Greyson tersenyum miring melihatnya. Mudah sekali memancing emosinya, pikir Greyson.
“Berhenti memaksakan kehendakmu pada orang lain! Tidak semuanya bisa kau miliki Grey, termasuk Lashira.”
Nobert menahan Theo yang hendak mendekati Greyson. Mereka ke sini tidak untuk mencari keributan ataupun berperang. Satu-satunya tujuan mereka ke sini adalah menemui Lashira dan membujuknya untuk bertemu dengan ayah kandungnya, itu saja.
“Theo, kita di sini bukan untuk menyaksikan perang saudara antara kalian berdua. Tujuan kita ke sini cuma satu, Lashira.” Leon berkata dengan nada dingin memerintah.
Greyson tersenyum kecil melihat kelakuan mereka semua, namun yang saat ini menarik perhatiannya adalah Chika. Gadis itu memandangi seluruh isi mansionnya dengan intens. “Kau menemukan sesuatu, Chika?” tanyanya hingga membuat Chika terperanjat.
__ADS_1
“Mansionmu sangat indah,” balas Chika seraya tersenyum canggung.
Greyson mengangguk setuju. “Aku membangunnya dengan penuh perjuangan, darah, keringat, bahkan potongan mayat … kau tahu itu bukan?”
Mereka semua terdiam mendengarnya, tentu saja mereka tahu apa arti perkataan Greyson.
“Gak usah terlalu banyak basa-basi. Sebelumnya aku sudah membuat janji temu denganmu tapi malah sekertarismu yang datang. Dan sekarang maaf jika aku benar-benar lancang masuk ke dalam teritorimu-”
“Seperti perkataanmu, Nobert. Kita tidak usah terlalu banyak basa-basi di sini.” Dengan cepat Greyson memotong perkataan Nobert.
“Di mana Lashira? Pamanku sangat membutuhkan kehadirannya saat ini,” ujar Nobert langsung ke intinya.
“Aku bisa jamin, ia tidak akan pernah mau menemui pamanmu itu.” Dengan santai Greyson menyalakan rokok di depan mereka semua.
“Aku belum mengatakan apapun, Grey.” Mereka semua menoleh ke arah tangga, di sana Lashira berdiri dengan Marie di belakangnya.
Greyson memejamkan matanya erat, dalam hatinya ia mengutuk Severin yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. “Jadi kau akan menemuinya?” tanya Greyson tanpa beranjak dari tempatnya.
Lashira mengambil rokok itu dan hendak menyelipkan benda itu di bibirnya, spontan saja hal itu membuat semua orang yang melihat terkejut. Greyson langsung merampas rokok itu tanpa memperdulikan tangannya yang akan terbakar nantinya.
“Grey!” jerit Lashira kesal.
“Apa?! Kau gila ya?!” bentak Greyson gantian.
Sementara Lashira dan Greyson saling beradu tatapan tajam, yang lain hanya bisa diam memperhatikan pertengkaran kedua orang itu.
“Aku pulaang!” teriak David yang baru saja pulang. Norbert tersenyum lega melihat kedatangan David, dia langsung menyeret laki-laki itu untuk duduk bersama mereka.
“Apa ada masalah?”
“Ada, darimana saja kau seharian ini?” tanya Greyson yang malah melampiaskan amarahnya pada David. Sedangkan bocah itu hanya bisa mengangkat alisnya bingung karena biasanya Greyson tidak pernah mempermasalahkan waktu pulangnya.
__ADS_1
“Sejak kapan kau mempermasalahkan hal-hal seperti ini? Seperti bukan dirimu saja … dan siapa kakak di sebelahmu itu?” tanya David. Mata bocah itu berbinar saat melihat Lashira.
“Nyonya, ini kotak obatnya. Apa ada yang Nyonya perlukan lagi?” ujar Marie memberikan kotak obat yang Lashira minta tadi. Lashira menggeleng seraya tersenyum lembut. Setelah kepergian Marie, Lashira langsung terfokus pada sepupunya.
“Kak Nobert ada perlu apa sampe repot jauh-jauh ke sini?” tanya Lashira yang mulai membuka kotak obat yang saat ini ada di pangkuannya.
“Sama seperti sebelumnya, aku masih pengen banget kamu mau ketemu sama ayah kamu.” Lashira menghembuskan napas panjang mendengarnya, ia melirik ke arah Greyson sebentar sebelum menatap Nobert dengan serius.
“Maaf banget kak, aku gak bisa … bukan, aku belum siap. Kalau misalnya aku udah siap, aku akan hubungin kakak. Jadi kakak gak perlu repot-repot sampe nyamperin aku ke sini.” Lashira menjelaskan dengan kalimat yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya, takut-takut Nobert akan menanyakannya seperti ini.
“Dan kak Chika, aku mau minta maaf karena aku gak bisa terus di samping kakak mulai sekarang. Dan aku sangat-sangat berterima kasih atas semuanya, atas semua pengalaman baru yang udah kakak kasih ke aku. Makasih udah jadi temen pertama aku.”
“Menggelikan,” desis David yang bisa didengar oleh semua orang.
Greyson langsung melempar tatapan tajamnya pada David, sedangkan Lashira tersenyum tipis seraya menunduk malu. “Maaf ya, maklum karena aku gak pernah punya temen sebelumnya.”
“Pokoknya aku berterima kasih banget sama kalian semua dan aku mau minta maaf karena mungkin aku gak bisa sama kalian terus kedepannya-”
“Karena aku sangat membutuhkannya,” potong Greyson cepat. Namun Lashira tidak menyangkalnya sama sekali. Dia hanya tersenyum tipis setelahnya.
“Kamu gak ada niatan buat pulang ke rumah ayah Rudi?” tanya Leon membuat ekspresi Lashira menjadi serius kembali.
Lashira menunduk untuk memberikan obat merah pada kapas. “Aku gak kepikiran itu sama sekali,” balasnya pelan namun masih terdengar jelas di telinga mereka semua.
“Ra, beberapa waktu lalu aku sama Nobert ketemu sama ayah Rudi di rumah sakit, kamu gak mau tahu keadaan dia?” tanya Chika.
“Grey!” panggil Lashira membuat Greyson menoleh ke arahnya. Lashira mendekat ke arah Greyson untuk mempermudah dirinya mengobati bibir pria itu. Greyson sedikit terkejut dengan tindakan Lashira yang begitu tiba-tiba.
Tanpa mereka sadari, kedua tangan Theo semakin mengepal erat melihat perlakuan Lashira pada Greyson.
Lashira menoleh ke arah para tamunya dengan tatapan bersalah. “Maaf banget ya kak, bukannya Ira mau ngusir … tapi kayanya obrolan kita gak bisa dilanjutin deh. Aku harus ngobatin Greyson sama dia dulu nih.” Lashira menunjuk David yang memang juga terluka di beberapa tempat.
__ADS_1