Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 41


__ADS_3

“Grey, menurutmu ... apa aku perlu menemui ayah kandungku?”


Greyson langsung beranjak dari kursi kebanggaannya dan menghampiri Lashira. “Kalau kamu ingin semua ini segera selesai, maka aku sarankan ya … kamu harus menemuinya.”


“Lalu setelah menemuinya, apa yang harus kulakukan?” Lashira menyandarkan kepalanya di bahu Greyson. Tatapan gadis itu menerawang jauh, menerka-nerka apa yang akan ia lakukan bila bertemu dengan ayah kandungnya.


“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku akan selalu di sisimu.”


Lashira mendongak untuk melihat wajah Greyson. “Menurutmu, kenapa kak Nobert sampai seperti ini?”


“Jawaban apa yang ingin kamu dengar?” tanya Greyson balik. Dahi Lashira mengernyit dalam karena benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan pria itu.


“Ayahmu membutuhkan donor ginjal darimu secepatnya. Karena tidak mungkin anak laki-lakinya yang masih kecil mendonorkan ginjalnya. Ini yang akan aku katakan bila kamu bertanya pada seorang Greyson Masson.”


Lashira terdiam. Semua yang dikatakan Greyson tidak salah, ia pun berpikiran hal yang sama beberapa hari terakhir. Tapi di sisi lain, ia juga berharap jika ayah kandungnya itu memang benar-benar ingin bertemu dengannya tanpa embel-embel ginjal yang ada di tubuhnya.


“Tapi beliau mungkin merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan pada kalian dan ingin setidaknya bisa bertemu dan meminta maaf padamu secara langsung sebelum pergi. Mungkin itu yang akan dikatakan oleh Greyson belasan tahun yang lalu.”


Lashira sedikit menjauh setelah mendengar perkataan Greyson tadi. “Apa maksudmu, Grey?”


“Aku ada pertemuan di luar perusahaan, kamu bisa makan siang duluan. David bisa menemanimu makan siang kalau kau tidak ingin makan sendirian.” Greyson melihat jam tangannya sebentar lalu mencium kening Lashira sebelum mengambil jasnya yang tersampir di lengan sofa.


Bahkan sampai Greyson menghilang di balik pintu ruangan ini, Lashira masih terdiam memikirkan kembali semua perkataan pria itu padanya.


Drrtt!


From, Sven :


Ku tunggu di café yang ada di depan perusahaan Grey, pak tua ingin bertemu denganmu. Pastikan jika Grey tidak mengetahui hal ini.


Lashira tersenyum tipis melihat pesan singkat yang dikirimkan Severin padanya.


***


Ekspresi wajah Lashira langsung berubah datar begitu melihat kedatangan Chris dan Severin. Entah apa yang ingin pria tua itu bicarakan padanya sampai-sampai mengajaknya bertemu secara rahasia di siang bolong seperti ini.

__ADS_1


“Senang melihatmu lagi Nona Wil- ah maksudku Ardiansyah.” Chris tersenyum lebar hingga membuat Lashira semakin muak. Jelas-jelas pria tua itu mengejeknya tadi.


“Tak usah basa-basi, apa yang ingin anda bicarakan? Jika anda meminta saya untuk meninggalkan Greyson lagi seperti sebelumnya, maka saya akan katakan sekali lagi bahwa saya tidak akan pernah meninggalkannya apapun yang terjadi.”


Mata Lashira melirik tajam pada Severin yang setia berdiri di belakang Chris. Mengetahui ketertarikan gadis itu akan anak buahnya, Chris pun tersenyum tipis. “Kenapa tegang sekali? Pesanlah makanan karena hari ini aku hanya ingin makan siang bersamamu sambil membicarakan hal-hal ringan.”


“Halo Kakek Tua!”


Severin dan Chris menoleh serempak melihat kemunculan David yang masih mengenakan seragam sekolahnya. Laki-laki itu langsung duduk di sebelah Lashira dan melemparkan senyum pongahnya pada Chris.


Chris tertawa kecil. Beberapa pelayan muncul membawakan beberapa menu makanan dan minuman. “Kalian nikmatilah makanan ini terlebih dahulu, aku permisi keluar sebentar.”


“Wah, Severin! Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik, bagaimana bisa kau mengatur pertemuan kak Lashira dan si tua bangka itu tanpa sepengetahuan Greyson? Lebih baik kau mulai memutuskan kepada siapa kau-”


“Kuingatkan sekali lagi padamu. Aku bekerja sepenuhnya pada Chris … bukan Greyson,” potong Severin.


David mengangguk-anggukan kepalanya mendengar perkataan Severin, perhatian laki-laki itu sekarang berpindah pada Lashira yang saat ini fokus pada layar ponselnya. Bocah itu langsung mengerti saat mengintip isi layar ponsel Lashira.


“Kau ingin menemuinya? Ingin aku antar?” tawar David yang membuat Severin ikut penasaran apa yang dilihat keduanya sampai tumben-tumbenan bocah kurang ajar itu menawarkan dirinya.


“Pergilah,” potong Chris.


Lashira dan David langsung pergi. “Kenapa kau membiarkan mereka pergi? Kau belum mengatakan apapun pada gadis itu.” Severin mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang dilakukan Chris saat ini.


Chris tersenyum kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau tahu? Kalau aku mengatakannya pada gadis itu tadi, maka aku benar-benar akan menjadi pria tua paling brengsek abad ini.”


“Bukannya memang benar?” balas Severin yang juga diangguki oleh Chris.


“Sepertinya aku akan membiarkan gadis itu untuk mendampingi bocah sialan itu.”


Severin mengangkat sebelah alisnya bingung, padahal tadi pagi pria tua yang ada di hadapannya ini sudah mengatakan segala rencana busuknya untuk memisahkan Lashira dan Greyson. Lantas kenapa sekarang?


Di sisi lain


Mobil yang ditumpangi Lashira dan David berhenti di depan rumah sakit terbesar di kota ini. David menoleh ke arah Lashira yang terdiam dengan tatapan mata lurus ke depan. “Kau-”

__ADS_1


“Sebentar, aku harus mengatur diriku terlebih dahulu,” potong Lashira cepat.


David mengernyitkan dahinya dalam karena tidak mengerti maksud perkataan Lashira.


“Ayo.” Lashira dengan cepat menggenggam tangan David untuk ikut turun bersamanya. David sempat tertegun sebelumnya, bahkan ia sudah siap membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya.


“Perlu kupanggilkan Greyson?” tawar David saat genggaman tangan Lashira pada tangannya semakin erat di setiap langkah mereka memasuki rumah sakit.


Lashira menggeleng pelan. “Tidak perlu, ada kau di sini.”


David hanya memutar bola matanya malas saat melihat senyum Lashira yang sangat terlihat dipaksakan itu. David langsung mengikuti arah pandang Lashira saat langkah kaki gadis di sebelahnya terhenti begitu saja.


“Ma-”


Plak!


Kedua mata David membola saking terkejutnya, ia langsung menatap wanita tua dihadapan Lashira dengan tajam. “Kau-”


Lashira meremat tangan David untuk diam saja. Gadis itu kembali mendongak untuk memperhatikan ekspresi keluarga yang sudah membuangnya dan sang ibu. Saat matanya bertemu dengan mata Nobert yang sepertinya juga tidak menyangka, Lashira tersenyum miring.


“Dasar anak tidak tahu diri! Ayahmu sekarat dan sangat ingin bertemu denganmu, tapi kau malah bersikap sok jual mahal seolah-olah dirimu itu berlian yang sangat langka.”


Kedua mata Lashira kembali menatap lurus pada sang omah. “Ya, aku sangat berharga Omah. Dan aku sangat berterima kasih padamu karena sudah membuangku dan ibuku dari keluarga yang sangat menjijikan ini.”


“Kau-”


Lashira menahan tangan omahnya yang hendak menamparnya lagi. “Cukup! Jika kau juga meninggalkan luka di wajahku, seluruh anggota keluarga ini yang akan menanggung akibatnya.”


“Kau dengar ucapanku ‘kan, Kak Nobert?” lanjut Lashira seraya menatap Nobert tajam.


David diam-diam tersenyum kecil, ia membalas genggaman tangan Lashira karena merasa bangga. “Kak Lashira benar, keluarga ini bisa tinggal nama kalau aku membuka mulutku sedikit saja tentang bagaimana kalian memperlakukan kak Lashira tadi.”


“Sesuai permintaan kak Nobert, aku akan menemui anakmu untuk yang terakhir kalinya. Aku akan berbaik hati menerima permintaan maafnya agar ia bisa tenang di alam baka nanti.” Lashira menghempaskan tangan sang omah yang masih menatapnya penuh kebencian seperti dahulu.


Lashira berjalan pelan menghampiri ibu Nobert yang merupakan adik dari ayah kandungnya sambil David yang masih menggenggam tangannya erat. “Apa kabar, Bibi? Sepertinya baik karena kau dan yang lainnya terlihat sangat bahagia,” sapa Lashira tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2