
Lashira menghembuskan napasnya kasar, bahkan pelukan Greyson tidak berhasil membuatnya tertidur malam ini. “Tidur, Lashira.” Suara berat Greyson entah kenapa langsung membuat Lashira bergidik merinding.
“Aku tidak bisa tidur meskipun ingin,” ujar Lashira seraya mendongak untuk melihat wajah Greyson.
Greyson mengecup kedua mata Lashira dengan lembut. “Tidurlah, aku akan tetap bersamamu-”
“Kau ingin pergi?” sela Lashira cepat.
“Aku harus melakukan transaksi malam ini dan sayangnya ini tidak bisa digantikan oleh Norbert, Severin, ataupun David. Maka tidurlah sekarang selagi aku belum berangkat.” Greyson kembali memeluk Lashira dan menepuk-nepuk pantat Lashira sambil sesekali mengusap kepala gadis itu agar cepat tertidur.
Lashira merengut sebal. “Aku ikut denganmu saja, Grey. Aku tidak akan mengganggu dan jadi anak penurut di sana.”
“Gak bisa sayang, aku tidak bisa membiarkan keberadaanmu sampai diketahui oleh musuh-musuhku. Nantinya aku tidak akan tenang kalau kamu sendirian di luar sana.”
“Aku akan tetap di dalam mobil selama kau melakukan pekerjaanmu dan aku tidak selemah itu, Grey.” Lashira mensejajarkan wajahnya dengan wajah Greyson dan jari telunjuknya sudah bermain di rahang pria itu.
Greyson menghembuskan napas panjang lalu mengangguk setelah Lashira mengecup punggung tangannya dan mengusapkan telapak tangannya di pipi gadis itu seperti anak kucing.
Lashira tersenyum senang karena lagi-lagi Greyson mengabulkan keinginannya. Namun dahinya mengernyit dalam saat melihat jam dinding yang ada di ruangan ini. “Grey, kau tidak bersiap?” Bukannya menjawab, Greyson malah semakin mempererat pelukannya.
Demi apapun sebenarnya Greyson tidak ingin membawa atau melibatkan Lashira dalam kegiatan malamnya, ia tidak ingin sampai keberadaan Lashira yang merupakan orang terpenting dalam hidupnya sampai tercium oleh musuh-musuhnya.
Dia tak mau sampai musuh-musuhnya mengusik Lashira. Jadi semaksimal mungkin ia tidak ingin Lashira sampai bertemu orang-orang yang terlibat dunia bawah tanahnya lebih banyak lagi.
“Grey, kau melamun?” tanya Lashira karena Greyson tidak juga menghiraukan permintaannya untuk segera melepaskan pelukan pria itu.
Greyson membingkai wajah Lashira dengan kedua tangannya. “Kau benar-benar ingin ikut? Janji akan mendengarkan semua perkataanku nanti di sana?” Lashira hanya mengangguk pelan, gadis itu diam saja saat Greyson memainkan kedua pipinya karena gemas.
“Grey, kalau aku ikut bekerja denganmu gimana?” tanya Lashira tiba-tiba.
Gerakan tangan Greyson yang sedang memainkan kedua pipi Lashira terhenti, saat ini pria itu menatap Lashira seakan-akan ingin menelan gadis itu bulat-bulat. “Aku tidak mengijinkanmu untuk bekerja, Nyonya Masson.”
__ADS_1
“Nyonya Masson, Your ***!”
Greyson menatap Lashira tidak suka. “Kau-”
“Kau belum benar-benar melamarku, Grey!” potong Lashira secepat kilat.
“Aku sudah melamarmu waktu itu. Dan kenapa sekarang kau suka sekali memotong perkataanku?” Nyali Lashira langsung menciut mendengarnya, tanpa sadar ia menggulum bibirnya gelisah karena takut diomeli oleh Greyson.
Tatapan matanya langsung turun dan jari-jari tangannya yang gugup mulai memainkan kancing piyama Greyson. “Kau melamarku di-”
Kedua bola mata Lashira hampir jatuh dari tempatnya karena ciuman Greyson yang begitu tiba-tiba. Namun tidak bisa dipungkiri kalau Lashira juga merasa senang dengan ciuman pria itu, bahkan ia mulai membalas ciuman pria itu dengan malu-malu.
Greyson melepas pangutan bibirnya dan menyatukan keningnya dengan kening gadisnya. Ia tersenyum miring melihat Lashira yang terengah-engah karena ciuman mereka. “Ubah kebiasaan menggulum bibirmu kalau tidak ingin seperti ini lagi,” bisik Greyson dengan suara raspy-nya dan Lashira pun hanya mengangguk patuh.
Karena kau berkata seperti itu … aku semakin tidak ingin mengubah kebiasaan ini, Grey. Batin Lashira.
“Ganti pakaianmu dengan yang lebih tebal dan jangan lupa siapkan coat-ku.” Lagi-lagi Lashira hanya bisa mengangguk patuh, dirinya sudah hampir mirip dengan mainan kuning yang ada di atas dashboard mobil Severin.
Setelah berganti pakaian dan memilih coat yang akan dipakai Greyson, Lashira menunggu pria itu di dapur sambil menikmati satu cup es krim rasa coklat.
Lashira memutar bola matanya kesal. Sejak tahu di pihak mana pria itu berdiri, Lashira langsung hilang respect pada pria itu. “Kau tidak bisa melihatnya?”
“Kau masih kesal denganku?” Severin tersenyum miring sebelum menenggak birnya.
“Tentu saja, Tuan. Aku merasa sangat dikhianati olehmu tadi siang.” Severin tertawa cukup kencang mendengarnya, Lashira mendengus sebal melihatnya. Dia mengecek jam lewat ponselnya karena Greyson tak kunjung turun ke bawah.
“Kalau saja Greyson menerima tawaran Chris untuk melanjutkan semua kekuasaan miliknya, mungkin kau tidak akan merasa terkhianati begitu.”
Lashira mengernyitkan dahinya bingung. “Maksudnya?”
“Bukannya Greyson sudah mulai melanjutkan kekuasaan Chris?” Severin kembali tertawa kencang setelah mendengar pertanyaan Lashira. Ternyata dugaannya selama ini pada gadis itu tidak sepenuhnya benar.
__ADS_1
“Kau tidak tahu? Dia selalu menolak tawaran itu dari dua tahun yang lalu, mungkin?” ujar Severin tidak terdengar meyakinkan.
“Kau berusaha mempermainkanku?”
Severin terkekeh pelan. “Apa untungnya buatku? Ngomong-ngomong di mana Greyson?”
Pertanyaan itu sontak saja membuat Lashira menyipitkan matanya curiga namun tidak mengatakan apapun setelahnya karena ia sendiri pun ikut penasaran kenapa Greyson lama sekali. Bahkan ia sudah hampir setengah jam di dapur menunggu pria itu.
Tak lama Greyson datang diikuti dengan David di belakangnya. Lashira menghampiri keduanya dan ia menurut saja saat Greyson memakaian jaket yang cukup tebal padahal ia sudah memakai sweater sebagai atasannya.
Severin mengangkat sebelah alisnya. “Lashira akan ikut? Jika Norbert tahu, ia akan mengamuk karena usahanya belakangan ini akan sia-sia kalau kau membawanya malam ini.”
“Aku tahu, makanya kau tetap di dalam mobil saja bersamanya nanti.”
“Kenapa harus aku jika ada David?”
Greyson melirik ke arah David sebentar sebelum berkata, “dia harus tahu caranya bertransaksi yang benar.”
***
Pagi-pagi buta Nobert sudah terbangun oleh panggilan dari tangan kanan Greyson, Norbert. Matahari bahkan belum muncul dan dia disuruh menunggu di taman dekat rumahnya. Setelah hampir lima belas menit menunggu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya.
Ia menunduk saat jendela mobil turun ke bawah memperlihatkan Greyson yang sepertinya tidak bisa turun karena Lashira yang tertidur sambil memeluk pria itu. “Sev,” panggilnya pada Severin yang ada di kursi kemudi.
Severin mengambil sebuah kotak yang ada di pangkuan David dan mengopernya pada Greyson di belakang.
“Shh ….” Greyson mengusap kepala Lashira lembut karena gadis itu bergerak gelisah, sepertinya merasa terganggu karena pergerakannya yang berusaha mengambil kotak yang Severin ulurkan ke belakang.
“Itu termasuk barang terbaik yang aku punya saat ini.”
Greyson memberikan kotak itu pada Nobert, namun sebelum benar-benar melepaskan kotak itu Greyson berkata, “ini untuk pamanmu dan sampaikan pada wanita tua itu untuk tidak bertindak seenaknya dengan Lashira lagi, seharusnya wanita tua itu merasa malu. Kalau kalian tidak mengindahkan perkataanku ini, aku pastikan akan membuat kalian berlutut pada Lashira seperti yang dilakukan ibumu kemarin.”
__ADS_1
Nobert hanya diam dan menerima kotak tersebut, ia tidak bisa berkata apapun selain berterima kasih pada pria itu. “Terima kasih.”
Setelah mobil itu melaju meninggalkannya, Nobert tersenyum tipis ketika melihat kotak yang ada di tangannya.