Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 42


__ADS_3

Lashira menatap pria yang berstatus ayah kandungnya itu dengan datar dan dingin. “Om, ada Lashira di sini ….”


“Kamu mirip banget sama-”


“Gak usah basa-basi, anda mau apa dari saya?” potong Lashira yang berusaha mati-matian menghilangkan rasa tidak nyaman yang menjalar di dadanya.


Herdi tersenyum maklum, tapi tidak bisa dipungkiri juga kalau hatinya merasa sakit melihat kebencian yang tertampang jelas di mata sang putri.


“Duduk dulu.” Nobert langsung mendudukan dirinya di kursi dekat dengan brankar dan memaksanya untuk tetap duduk di sana dengan menahan pundaknya.


“Ayah mau minta maaf,” lirih Herdi berusaha menjangkau pergelangan tangan Lashira.


David yang dari tadi menunggu di luar sambil bersandar di tembok pun langsung menghampiri Lashira saat gadis itu akhirnya keluar diikuti dengan Nobert di belakangnya. “Urusanmu sudah selesai?” Lashira mengangguk pelan seraya tersenyum hangat.


“Lashira, bisa luangkan waktumu untuk saya?”


Lashira dan David saling bertatapan setelah mendengar permintaan ibunya Nobert. “Tunggu sebentar lagi.” David hanya mengangguk, dia melihat smartwatch-nya yang bergetar karena ada panggilan dari Greyson.


David melirik Lashira yang masih berbincang serius dengan ibunya Nobert sebelum mengangkat penggilan dari Greyson dan menjauh dari sana. “Ya-”


“Kenapa lama sekali?!”


“Aku di rumah sakit … bersama Lashira.”


“Kenapa kalian di sana? Lashira baik-baik saja?”


David memutar bola matanya kesal. “Setidaknya berpura-puralah untuk peduli padaku sedikit saja. Gadismu ….” Ia berdehem pelan karena tidak tahu harus berkata jujur atau tidak.


“Rumah sakit mana?” tanya Greyson cepat.


“Sepertinya kau tidak usah ke sini, dia bisa menanganinya sendiri. Bahkan gadismu itu membuat seseorang berlutut padanya sekarang.” David tersenyum senang melihatnya.


“Berlutut?”

__ADS_1


“Yah, sayang sekali kau tidak ada di sini Pak Tua. Tontonan ini sangat menarik sekali.” David menjelaskan apa yang dilihatnya dengan begitu santai seperti menjelaskan pertandingan bola seru.


“Tapi Grey, sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga Lashira? Kau tahu, awal datang ke sini Lashira sempat berseteru dengan omahnya. Dan aku juga sempat mendengar tentang donor ginjal dan lainnya.”


“Lainnya seperti?”


“Kau tidak akan senang mendengarnya.”


“Bawa Lashira pulang sekarang. Ini perintah.”


Setelah sambungan terputus, David langsung menghampiri Lashira dan menyela pembicaraan serius gadis itu dengan ibunya Nobert. “Greyson menunggu kita, Ka. Kita harus kembali sekarang.”


Lashira mengangguk setuju. “Kalau begitu kami pergi sekarang, selamat tinggal.” Setelah berbicara seperti itu pada Nobert dan sang bibi. Lashira menarik tangan David untuk segera pergi dari sana, mengabaikan teriakan sang bibi yang masih memohon padanya untuk mendonorkan ginjalnya.


Saat menunggu mobil di depan rumah sakit, seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun lengkap dengan seragam sekolahnya terjatuh tepat di hadapan Lashira. Gadis itu dengan sigap membantu bocah itu, “kamu gak papa? Sakit ya? Ada yang luka gak? Coba kamu bangun dulu, biar kakak liat kaki sama tangan kamu.”


Bocah tadi hanya diam saat Lashira membantunya berdiri dan membolak-balik telapak tangannya sambil sesekali melihat lututnya yang memerah. Lashira sudah celingukan karena mencari orang dewasa yang sekiranya bersama bocah ini.


“Untungnya gak kenapa-napa … tapi lutut sama telapak tangan kamu merah banget, pasti sakit ya?” Bocah tadi mengangguk pelan menjawab pertanyaan Lashira. Matanya yang besar sudah berkaca-kaca karena berusaha menahan tangisnya sejak tadi.


“Anak siapa ini?” tanya David menghampiri keduanya.


Lashira mengabaikan pertanyaan David. “Kamu sama siapa ke sini?” tanya Lashira lagi seraya menatap bocah itu dengan lembut. Ada rasa familiar saat melihat mata bocah yang ada di hadapannya.


“Sendiri …,” lirih bocah itu. Lashira tersenyum penuh kasih sayang. “Kamu mau ke mana? Mau kakak anterin?” tanya Lashira yang langsung mendapat dengusan malas dari makhluk yang setia berada di belakangnya, David.


Ia sangat tidak suka melihat Lashira yang seperti ini. Gadis itu selalu menyusahkan dirinya sendiri dengan bersikap baik seperti itu pada semua orang. Justru ia lebih suka dengan Lashira yang ia lihat sebelumnya saat berhadapan dengan keluarganya tadi.


Wajah penuh senyuman hangat itu seketika berubah datar saat bocah tadi memintanya untuk mengantarkannya ke ruangan sang ayah. Tangan Lashira otomatis melepaskan tangan bocah itu saat ia kembali ke tempat di mana yang ayah sedang dirawat.


Sang omah langsung menghampiri Lashira dan bocah itu, sontak saja kaki Lashira seakan-akan membeku saat menyadari siapa bocah yang ia tolong tadi. “Sini Sayang sama Omah,” ujar sang omah seraya menarik bocah tadi.


Nobert juga sama terkejutnya dengan Lashira. “Bagaimana bisa-”

__ADS_1


“Tadi dia jatoh, kalau begitu saya pergi.”


“Tunggu, Kak!” ucapan itu menghentikan langkah Lashira yang sudah berbalik hendak segera pergi. Lashira kembali berbalik, kedua tangannya sudah terkepal erat. Bahkan kehangatan tangan kecil itu masih membekas di telapak tengannya.


“Terima kasih,” ujar bocah tadi dengan senyum manisnya.


Lashira mengangguk kaku, cepat-cepat ia melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu. Di depan David sudah menunggunya di pintu mobil. “Kau-” kalimatnya yang akan David ucapkan kembali tertelan saat sekelebat merasakan aura tidak ingin diganggu dari Lashira.


Sepanjang perjalanan balik ke mansion, Lashira diam saja sambil melihat ke arah luar mobil. Biasanya Lashira akan mengajak David ataupun supir berbicara namun sampai masuk ke area mansion pun gadis itu hanya diam.


“Kak, Greyson menunggumu di ruang kerjanya,” ujar David hingga membuat Lashira langsung memutar haluannya ke ruang kerja.


Tanpa mengetuk Lashira membuka ruang kerja Greyson, ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa tanpa menghiraukan keberadaan Greyson di sana.


Greyson ikut duduk di sebelah Lashira lalu menyodorkan satu cup es krim pada gadis itu. “Makan ini dan dengarkan aku,” ujarnya yang diangguki patuh oleh Lashira.


“Setelah bertemu, kau ingin memberikan ginjalmu?” tanya Greyson sangat serius.


Lashira menatap Greyson dan cup es krim di tangannya bergantian. “Kau tau, Grey? Rasa benciku kembali muncul di permukaan begitu berhadapan langsung dengan mereka. Di satu sisi aku ingin memberikannya setelah mendengar permintaan maaf dari pria itu, tapi di sisi lain aku juga tidak sudi memberikannya mengingat bagaimana kesombongan wanita tua itu tadi.”


Greyson mengangguk setuju, ia sudah mendengar apa yang terjadi di sana melalui David dan anak buah yang ia tugaskan untuk mengawasi keduanya.


“Semalam ada laporan masuk tentang istri ayahmu-”


“Kau ingin membuatku tambah kesal? Aku sudah sangat kesal hari ini,” potong Lashira cepat.


“Lebih baik kau menyuapiku dari pada berbicara hal-hal yang tidak penting.” Lashira membuka cup es krim itu dan memberikannya pada Greyson, jangan lupa dengan senyum manis yang ia tunjukan agar Greyson menurutinya.


Greyson menurutinya dengan senang hati, tapi bukan berarti Lashira bisa menghindar dari berita yang akan Greyson sampaikan. “Wanita itu mengunjungi pasar gelap dan mencari ginjal untuk ayahmu.”


“Apa ma-” ucapan Lashira terpotong karena Greyson memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.


“Jadi, boleh aku memberikannya?” tanya Greyson.

__ADS_1


Lashira sempat terdiam sebentar. “Terserah, sekarang suapi aku lagi!” perintah Lashira yang langsung menggerakan pergelangan tangan pria itu untuk menyuapinya lagi.


__ADS_2