Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 5


__ADS_3

Setelah membelikan ponsel baru dan mengantar Lashira sampai rumahnya, Nobert bergegas untuk kembali ke kampus setelah mendapat pesan singkat dari Chika.


"Jadi ada apa?" tanya Nobert setibanya ia di ruangan khusus samping ruang BEM. Chika melempar sebuah majalah bisnis ke meja, Nobert menatap keduanya secara bergantian.


"Apaan nih?"


Leon menunjuk majalah itu dengan dagunya, mengisyaratkan Nobert untuk segera membacanya. "Thomas Francoiz mengalami kecelakaan tunggal pada 2 dini hari-" bacaannya terhenti dengan kedua matanya yang membola.


"Bagaimana bisa? Ini gak ada hubungannya sama dia kan?" tanya Nobert yang tidak mendapat jawaban dari kedua sahabatnya. Chika menghembuskan napas kasar, "anak itu gak ngasih tahu kita sama sekali." gumamnya kesal.


"Hei gue tanya, ini gak ada kaitannya sama dia kan?" Chika berdecak kesal mendengar pertanyaan Nobert yang sudah seperti kaset rusak.


"Mana gue tahu!" teriak gadis itu kesal.


"Tapi kalau ini ada kaitannya sama dia, berarti posisi Theo sedang terancam." keduanya terdiam mendengar pernyataan Leon yang ada benarnya. Namun Chika menyadari sesuatu, "kalau itu dia, apa tujuannya? Dia gak tertarik sama kekayaan keluarga Francoiz, bahkan dia keluar dari rumah supaya bisa lepas dari posisi ahli waris. Terus apa tujuannya?"


"Lo benar," timpal Nobert.


Chika mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang, "cari tahu dimana Theo sekarang."


"Lo nyuruh anak buah lo buat nyelidikin?" tanya Nobert yang diangguki oleh Chika.


"Gak cuma itu, gue juga nyuruh mereka buat pastiin keadaan Theo sekarang." balas gadis itu masih sibuk dengan ponselnya.


"Ohh!" kedua pria itu menoleh saat mendengar pekikan Chika. Leon mendekat dan ikut melihat apa yang sedang gadis itu lihat di ponselnya.


"Cuma Ira yang nge-follow akun UGnya," jelas Leon pada Nobert. Leon langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi UG, dengan cepat pria itu mencari akun Lashira lalu mengikutinya, tak lupa pula dia menyukai gambar pertama yang gadis itu post.


"Kau bergerak dengan sangat cepat buddy!" ucap Nobert saat mendapatkan beberapa notifikasi di ponselnya. Leon menatap Nobert dengan terkejut, bagaimana dia bisa tahu? batin Leon.


Nobert menunjukkan layar ponselnya, "akun gadis itu masih nyangkut di HP gue." jelas Nobert dengan senyum kemenangan di wajahnya.

__ADS_1


"Kalau kalian tanya kenapa bisa gitu, gue baru beliin dia HP baru sebelum ke sini. Gue juga yang buatin semua akun sosial medianya, bahkan gue udah masukin tuh bocah ke grup chatting kita." lanjut Nobert, dan benar saja … notifikasi langsung masuk ke ponsel keduanya.


***


“Liburan?” beo Lashira saat mendengar ajakan Leon padanya.


“Ya liburan, tuan puteri Chika bermurah hati mengundang kita ke salah satu villanya di puncak.” Leon merangkul Chika yang masih sibuk menyuruh penjaga villanya melalui telepon.


“Lo diem dulu kek, gue lagi ngomong sama penjaga villa di sana.” Chika yang kesal karena terus diganggu langsung mendorong tubuh Leon menjauh darinya, Lashira yang melihat hal itu pun tergelak apalagi saat melihat ekspresi wajah Leon saat didorong tadi.


Lashira terdiam karena baru sadar dengan ketidakhadiran Theo, “apa kak Theo juga akan ikut?” Semua terdiam bahkan Chika langsung menutup teleponnya, mereka juga tidak tahu bagaimana keadaan Theo sekarang.


Semua akses untuk menjangkau Theo tertutup sejak saat itu, bahkan anak buah Chika juga tidak bisa mendapatkan satupun informasi hingga membuat gadis itu sempat menggila ketika mendengarnya. Untung saat itu ada sang kakak yang bisa menahannya di rumah.


Mereka bertiga saling melihat satu sama lain, bertelepati untuk membuat jawaban yang sekiranya bisa dimengerti oleh Lashira. Biasanya di saat seperti ini ada Theo yang bisa menjelaskan, namun sekarang?


“Kak?” Chika menoleh dengan kedua mata yang melebar, namun pandangan gadis itu tertuju pada Nobert untuk meminta jawaban.


Lashira tidak bisa mengutarakannya karena khawatir suasana akan menjadi canggung seperti tadi saat ia menanyakan keikutsertaan Theo dalam acara liburan ini. “Jadi kita mau berangkat kapan?” tanyanya berusaha mengalihkan topik.


“Minggu ini, kemungkinan kita di sana 4 hari.. Gapapa kan?”


“Aku akan menanyakannya nanti, semoga saja diperbolehkan.” Lashira tersenyum senang mengingat ini merupakan liburan pertamanya bersama dengan teman.


Nobert melihat jam tangannya, “Ra kelas kamu udah mau mulai loh.” Mendengar hal itu sontak saja Lashira langsung melihat jam tangannya.


Dengan terburu-buru dia melampirkan tasnya ke pundak dan membawa buku-bukunya, “kak duluan!”


“Jadi kita bakal diem aja nih gak dapet kabar kaya gini?” tanya Nobert setelah kepergian Lashira.


Leon menggeleng dengan tegas, “kalian tenang aja.. Gue minta abang gue buat nyari tau.” mendengar hal itu sontak saja Chika langsung tertawa meremehkan.

__ADS_1


“Anak buah bokap gue aja gak bisa dapet, apalagi abang lo.”


Leon berdehem pelan sebelum membalas perkataan Chika yang terang-terangan meremehkan abangnya, “heh! Lo kok sewot banget sih sama abang gue? Gue sumpahin jadi jodoh abang gue baru tau rasa lo!”


“Najong! Amit-amit jabang bayi! Denger ya playboy pervert! Gue.paling.benci.sama.cowo.pervert kaya lo dan abang lo itu!” balas Chika tak kalah heboh.


Leon menyisir rambutnya ke belakang, “gue? Cowo pervert?” Chika mengangguk.


“Gue setuju kalau lo bilang abang gue pervert, tapi omongan lo yang bilang gue pervert itu.. gue dengan tegas menolaknya.”


“Saya pamit,” pamit Nobert yang tidak didengar keduanya.


“Tau darimana lo kalau gue pervert? Ada buktinya gak?” lanjut Leon, mereka berdua bahkan tidak menyadari jika Nobert sudah keluar dari sana.


“Gue pernah ngeliat secara live! Ada saksi juga kok selain gue.”


“Siapa?”


“No-” Chika mengernyit bingung saat tidak melihat Nobert di tempatnya tadi.


Leon tersenyum puas, dia langsung duduk di sofa dengan wajah sombongnya. Chika yang melihat itu melempar wajah Leon dengan bantal dan pergi dengan kekesalan yang meningkat.


Karena terlalu kesal, gadis itu tidak berhati-hati saat berjalan sampai bahunya bertabrakan dengan seorang pria. “Maaf,” ucapnya yang tidak mendapat jawaban apapun, pria itu hanya diam dan melanjutkan jalannya.


“Sombong amat.”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2