Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 21


__ADS_3

Lashira sedang menonton Tv seraya memakan es krim yang Greyson belikan untuknya. Sejak pagi Greyson dan Norbert sudah menghilang dari rumah ini. Pria itu bahkan tidak meninggalkan pesan apapun padanya.


“Non, ada telpon dari tuan.”


“Oke.”


Dengan berat hati Lashira meninggalkan sofa seraya membawa bak es krim di tangannya. “Hallo?”


“Halo, kamu sudah bangun?”


“Kak Norbert? Kenapa kak?”


“A-”


Lashira mengernyit bingung saat mendengar keributan di seberang sana.


“Bersiaplah, aku akan sampai sekitar sepuluh menit. Kita ke London setelah ini.”


“Apa? Grey!” Lashira berdecak sebal saat sambungan telepon tiba-tiba terputus. Dia langsung berlari menuju kamarnya dan membawa barang-barangnya yang ia bawa saat kemari. Tidak banyak, hanya tas yang biasa ia pakai untuk kuliah, dompet, mp3 player, dan kalung yang masih tersimpan di dalam tasnya.


Dia meninggalkan buku serta kertas-kertas yang berhubungan dengan kuliahnya. Toh itu tak lagi diperlukan. Dia tidak membawa baju sehelai pun, setibanya di sana ia akan meminta Greyson untuk membelikannya. Lagipula ini semua salah pria itu sampai-sampai ia tidak bisa bersiap terlebih dahulu.


Lashira menepuk dahinya pelan, dia belum mengurus paspor nya. Bagaimana ia bisa ikut pergi ke London?


“Kau sudah siap?”


Lashira langsung berbalik saat mendengar suara Greyson, “paspor-”


“Aku sudah menyiapkannya, gantilah pakaianmu. Aku akan tunggu di bawah.” Lashira tidak menghiraukan perkataan pria itu, dia hanya memakai jaket dan segera turun ke bawah.


Greyson menatap gadis itu tajam, “ganti.”


“Aku akan memakai jaketku.”


“Celana panjang Lashira, ini akan menjadi perjalanan yang panjang.”


Lashira menghembuskan napas kasar, “Grey, aku gak mau pake celana jeans. Ini tidak terlalu pendek, lagi pula aku memakai kaus kaki agar tidak kedinginan.”


“Okay okay! Aku ganti!” lanjut Lashira saat melihat wajah Grey.

__ADS_1


Lima menit kemudian Lashira turun dengan mengenakan celana tidur panjangnya.


“Ayo berangkat.”


“You crazy,” gumam Lashira pelan. Dengan perasaan kesal ia mengekori pria itu menuju mobil yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan ke bandara, Lashira membuang wajahnya dan tidak menghiraukan perkataan Greyson.


Melihat itu Greyson langsung menekan tombol penyekat mobil ini, Lashira hanya melirik sekilas saat penyekat itu muncul. “Kamu marah?” Lashira diam. Dalam hati Lashira terus saja berdoa semoga Greyson tidak macam-macam padanya.


“Kamu mendengar perkataanku?” tanya Greyson yang mulai kesal karena terus diabaikan. Lashira berdehem, dia segera mengeluarkan mp3 player dari tasnya. Dengan cepat Greyson merebutnya dan memasukkannya ke dalam


saku celananya.


Lashira mencebikkan bibirnya kesal, “apaan sih Grey?! Balikin gak!”


“Ambil sendiri.”


Lashira menjauhkan tubuhnya hingga mentok pada pintu mobil, dia mengangkat kakinya dan menendang-nendang tubuh Greyson pelan. Tidak tahan, Greyson menahan kedua kaki Lashira dan dengan sengaja menarik sedikit celana gadis itu.


Lashira memekik dan melototi Greyson, “apa yang kamu lakukan?”


“Apa yang kamu lakukan?” Ia berdecak kesal karena Greyson malah mengikuti perkatannya. Dengan susah payah Lashira berusaha melepaskan tangan Greyson dari kakinya. “Damn! Apa maumu Grey!” teriak Lashira sebal karena Grey malah menarik tangannya hingga jatuh ke dalam pelukan pria itu.


“Kembalikan mp3 playerku,” pinta Lashira.


Greyson menggeleng tegas, “tidak memakai ini saja kamu sudah mengabaikanku.” Lashira mencebikkan bibirnya. “Sekali lagi kamu mencebikkan bibirmu, aku tak tahu apa yang akan terjadi.” Lashira menatap tajam Greyson seraya mendongak.


“Jika itu terjadi, aku akan membunuhmu.” desis Lashira.


Greyson tertawa pelan, “kamu masih marah?”


Masih dengan posisi yang sama Lashira menjawab, “kamu membuatku memakai celana tidur saat ke bandara. Apa aku harus merasa senang?” Greyson melepaskan pelukannya dan memerhatikan penampilan gadis itu, “tidak terlalu buruk.”


“Jangan bercanda,” cicit Lashira seraya memalingkan wajahnya yang terasa panas.


Greyson tersenyum kecil menyadari itu, “ouh wajahmu memerah? Kamu merasa sakit?” goda Greyson yang langsung mendapat timpukan tas di wajahnya. Greyson menahan senyumnya, entah kenapa ia merasa gemas saat


melihat Lashira yang salah tingkah seperti ini. Mungkin ke depannya, menggoda Lashira akan menjadi hobi baru untuknya.


***

__ADS_1


“Lashira di bandara?” Mike mengangguk mendengar pertanyaan Leon.


“Sama Grey?” lagi-lagi Mike hanya mengangguk mendengar pertanyaan sang adik. “Gue gak tau dia mau ke mana, tapi yang jelas ini pasti ada hubungannya sama Thomas Francoiz.” jelas Mike dengan serius. Leon mengernyitkan dahinya tidak mengerti, “kenapa om Thomas? Dia kan bo-”


“Bokap tirinya. Lo lupa om Thomas bisa nikah sama nyokapnya Grey karena apa?” potong Mike membuat Leon terdiam. Dia langsung mengambil ponselnya hendak menghubungi Theo, namun Mike langsung menahan tangannya. “Jangan ikut campur.” Setelah berkata seperti itu Mike langsung pergi begitu saja.


“Maaf bang, tapi gue gak mau temen gue kenapa-kenapa..” gumamnya.


Tanpa menghiraukan peringatan abangnya, Leon mengajak Theo dan Nobert untuk bertemu. Dia langsung mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan rumahnya ke salah satu café yang biasa ia dan teman-temannya datangi.


Cukup lama Leon menunggu kedua sahabatnya datang, hingga akhirnya ia melihat Clarissa yang masuk ke dalam café bersama dengan teman-teman gadis itu. Dia menghampiri gadis itu dan memintanya untuk berbicara berdua


dengannya.


“Bentar ya guys..” pamit Clarissa pada teman-temannya.


Clarissa mengekori Leon ke mejanya dalam diam, dia tahu jika pria di depannya ini akan menanyakan keberadaan sang kakak. Clarissa ikut tersenyum saat Leon tersenyum padanya. “Lashira.. dimana dia? Akhir-akhir ini aku tidak menemuinya, bahkan aku tidak bisa menghubunginya.” tanya Leon pura-pura tidak tahu.


“Bonyok pulang beberapa hari yang lalu..” ujar Clarissa sedikit enggan.


“Trus apa masalahnya? Bukannya bonyok kalian juga biasanya pu-”


“Itu karangan gue supaya Lashira gak terlalu sering kumpul sama kalian.” potong Clarissa cepat, ia memalingkan wajahnya. Leon terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar perkataan Clarissa.


“Gue gak bisa ngasih tau permasalahan apa yang ada di keluarga gue, intinya Ira kabur dari rumah.. Jadi gue gak tau dia ada di mana sekarang. Gue balik ke temen-temen gue ya.”


Leon masih terdiam bahkan ketika Clarissa sudah kembali berkumpul bersama teman-temannya. Satu pertanyaan yang terus saja berputar di kepalanya, kenapa Ira tidak meminta bantuan pada mereka dan malah meminta bantuan pada Grey?


***


"Kamu tidak makan?" Lashira menggeleng mendenger pertanyaan Greyson. Padahal pria itu sengaja memesannya untuk Lashira karena sekarang sudah memasuki jam makan siang, namun jangankan memakannya.. Lashira bahkan tidak melirik makanan itu sama sekali.


"Makan." perintah Greyson singkat namun masih fokus pada berkas-berkas di tangannya.


Lashira menghembuskan napas panjang, dengan enggan ia menyentuh piring yang ada di depannya. Dia menghampiri Greyson dan memberikan satu suapan pada pria itu. "Kau yang harusnya makan Grey, sebelum ini aku sudah kenyang karena hampir menghabiskan es krim yang kamu belikan untukku." ujar Lashira yang menekankan kata es krim.


Greyson tidak bisa menolak semua suapan yang Lashira berikan untuknya. Menu yang ia pesan untuknya dan Lashira habis ia makan sendiri. Lashira tersenyum puas, "aku bahkan sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan." ujarnya seraya merapikan rambut Greyson.


"Kalau begitu.. silakan dilanjutkan perkerjaannya.." ujar Lashira berniat kabur.

__ADS_1


Greyson menahan lengan Lashira dan menarik gadis itu hingga jatuh ke atas pangkuannya. "Kau pikir aku bisa kembali fokus pada pekerjaanku?" bisiknya tepat di telinga Lashira.


__ADS_2