Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 40


__ADS_3

“David? Kamu mau berangkat ke sekolah?” tanya Lashira saat melihat David menuruni tangga dengan pakaian seragam sekolah. Dia terdiam saat matanya tertuju pada dasi yang dipakai asal oleh David.


Oh my … tanganku gatal sekali ingin membenarkannya, batin Lashira gemas.


“Ini masih terlalu pagi, kau mau sarapan bersamaku?” Lashira mengajak David dengan senyuman hangat dan David mengangguk ragu mengiyakan.


Lashira langsung menarik tangan David lembut menuju meja makan. “Aku akan membuatkanmu nasi goreng, kuharap kau akan suka.” Setelah menggiring David untuk duduk, Lashira langsung bergegas ke dapur.


“Di mana Lashira?” tanya Greyson dengan setelan kantornya, pria itu membawa-bawa dasi di tangannya.


“Di dapur, kau tidak bisa memakai dasi sendiri?” ledek David dengan alis yang terangkat sebelah. Greyson tidak menghiraukan ledekan David dan menyusul Lashira yang sedang di dapur.


David mengetuk-ngetuk meja yang ada di hadapannya dan tak lama kemudian dia mendengus bosan. Sesekali ia melihat jam tangannya dan mengecek jam. Sudah hampir sepuluh menit sejak Greyson menyusul Lashira tapi mereka berdua tak juga kembali sampai sekarang.


David pun beranjak dari duduknya dan menyusul mereka, dia berdecak saat melihat kemesraan keduanya.


“Menggelikan,” gumam David yang memilih untuk kembali ke meja makan.


“Kenapa kau jadi manja Grey? Kau bisa memakainya sendiri tanpa bantuanku,” kesal Lashira yang langsung menyingkirkan lengan Greyson dari pinggangnya.


Greyson kembali melingkarkan lengannya di pinggang Lashira meski Lashira terus melepaskannya. “Grey! Aku harus menyiapkan sarapan!” kesal Lashira yang sedang menata masakannya di piring dengan susah payah karena Greyson enggan melepaskannya.


Lashira juga mengendikkan bahunya yang dijadikan tatakan dagu oleh Greyson.


“Biarkan Marie melakukan sisanya,” ujar Greyson seraya melirik ke arah Marie yang dari tadi menundukkan kepalanya segan sejak kedatangannya.


Lashira tahu itu, makanya ia sedikit kesal saat Greyson menyusulnya ke dapur. Dengan perasaan kesal dia pun melimpahkan sisa pekerjaannya pada Marie dan memasangkan dasi pada Greyson.


“Baiklah bayi besar, kita ke depan sekarang.” Selesai memasangkan dasi, Lashira menarik dasi Greyson dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang satu lagi membawa sepiring nasi goreng untuk David.


“Oh ya Marie, tolong bawakan punyaku dan Grey ke depan ya?” pinta Lashira pada Marie sebelum benar-benar pergi dari dapur.


Lasihra melepaskan tangannya dari Greyson seraya tersenyum manis saat bertatapan dengan David. “Maafkan aku jika terlalu lama ....”


David mengecek jam tangannya. “Kupikir malah akan lebih lama dari ini,” sindirnya seraya tersenyum penuh arti ke arah Greyson.


“Diam dan habiskan makananmu dengan cepat. Jangan terlibat masalah apapun saat di sekolah karena pekerjaanku cukup padat akhir-akhir ini.” David mengangguk patuh mendengar perintah Greyson.

__ADS_1


Marie datang membawa dua piring nasi goreng yang juga buatan Lashira dan minuman untuk mereka bertiga. “Terima kasih, Marie …,” ujar Lashira seraya tersenyum tipis. Marie hanya mengangguk pelan lalu kembali lagi ke dapur untuk membersihkan peralatan yang tadi Lashira pakai untuk memasak nasi goreng.


Mereka bertiga makan dalam keheningan, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang mengisi keheningan ini.


“Aku berangkat sekarang … Kak Lashira, terima kasih nasi gorengnya.” David yang paling pertama selesai menghabiskan makanannya dan pamit pergi. Lashira tersenyum menanggapi perkataan David.


“Senyummu sangat menyebalkan, aku juga akan bersiap sekarang.”


“Aku ikut,” ujar Lashira yang langsung menyelesaikan kegiatan makannya. Padahal nasi goreng di piringnya belum habis.


“Kalau begitu habiskan dulu makanmu,” perintah Greyson yang kembali duduk.


“Tapi Grey, aku harus mengganti pakaianku. Sedangkan kau harus cepat-cepat berangkat hari ini.”


Greyson langsung melihat penampilan Lashira dari atas sampai bawah. “Tidak usah juga tidak papa.”


Lashira melotot kaget. “Grey, masa aku mengenakan piyama doraemon ke kantormu?”


“Habiskan dulu makanmu,” ujar Greyson.


Lashira menurut, dengan sedikit terburu-buru ia menghabiskan makanannya. Setelah itu dia berlarian ke kamar untuk mengganti pakaian. Greyson hanya tertawa kecil melihatnya.


Greyson menyerahkan tab itu pada Norbert seraya tersenyum kecil. “Dia tidak akan bisa melakukan apapun, biarkan saja. Ayah tiriku itu tidak tahu kalau para tikus itu dikendalikan oleh orang-orang sepertiku.”


“Bisa saja mereka akan lebih berpihak pada ayah tirimu. Kau tahu, ‘kan? Akhir-akhir ini mereka mulai kehilangan kepercayaan dari beberapa golongan masyarakat.”


“Maksudmu mereka akan memperbaiki citra dengan menggunakan aku?” sela Greyson yang langsung paham maksud perkataan Norbert.


“Kau tahu kan sebesar apa jaringan kita? Mereka tidak akan berani, santai saja ….” Greyson menepuk pelan pundak Norbert dan menghampiri Lashira yang terdiam di dekat tangga.


Lashira sempat tersentak saat Greyson menggenggam tangannya. Greyson tersenyum tipis sebelum menarik gadis itu ikut bersamanya. “Kau bosan?” tanya Greyson sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


“Tidak, aku hanya ingin melihatmu lebih lama …,” lirih Lashira.


“Aku menyukai kejujuranmu akhir-akhir ini,” ujar Greyson seraya tersenyum senang.


***

__ADS_1


Leon mengetuk-ngetuk telunjuknya di meja, gelisah menunggu kedatangan Theo. Pagi ini mereka berjanji akan bertemu untuk membicarakan permasalahan yang terjadi antara Greyson dan Theo.


“Yon! Lo ngasih info apa aja sama bokapnya Theo?!” teriak Mike yang langsung marah-marah saat bertemu dengan Leon. Gerakan jari tangannya terhenti setelah mendengar itu, bahkan Leon tersenyum meskipun sangat tipis.


Leon melirik ke arah Mike sebentar. “Kenapa? Apa itu mengakibatkan guncangan besar sampai lo repot-repot pulang ke sini?” Jari telunjuknya kembali mengetuk-ngetuk meja.


Mike sempat menerka-nerka apa yang dipikirkan adiknya itu karena ekspresi Leon yang tidak terbaca sama sekali saat ini. “Sebenernya apa yang mau lo lakuin? Kalau lo hancurin Greyson dengan cara kaya gini, bukan dia doang yang hancur … tapi lo juga ngancurin gue secara gak langsung.”


“Sekarang terserah sama lo,” sambung Mike sebelum pergi.


“Siapa suruh lo ikut terlibat? Bonyok udah ngasih jalan enak tapi lo sendiri yang milih jalan susah kek gini.” Leon menatap pintu yang masih terbuka lebar karena Mike tidak menutupnya kembali.


Pelayan mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. “Tuan Theo sudah datang, saya juga sudah mengantarnya ke ruang baca sesuai dengan perintah Tuan muda.”


“Oke.”


Leon mengibaskan telapak tangannya, memerintahkan pelayan itu untuk segera keluar dari kamarnya.


“Let’s begin,” gumamnya tersenyum tipis melihat pantulan bayangan dirinya di cermin.


Theo tersenyum senang saat melihat Leon. “Thanks, berkat info lo bokap gue jadi bisa ngelakuin perlawanan yang pastinya bakal bikin Greyson kewalahan.”


Leon hanya tersenyum kecil mendengar bagaimana Theo begitu senang dengan pergerakan yang belakangan mereka lakukan dengan Leon sebagai semua sumber informasinya. “Jangan terlalu merasa puas sama ini semua, masalah kaya gini gak bakal bisa langsung ngejatohin Greyson. Lo gak tau kan orang kaya apa yang ada di belakang seorang Greyson Masson?”


“Gue harap lu gak akan mundur setelah tahu orang seperti apa yang menopang seorang Greyson Masson selama ini,” sambung Leon seraya tersenyum tipis.


 


 


 


Halo semua! Gimana


kabar kalian akhir-akhir ini? Semoga baik-baik aja ya…


Sebenernya akhir-akhir ini saya sibuk banget, jadi dimohon banget pengertiannya kalau saya telat up atau bahkan jarang up. Klik tombol likenya dan vote cerita ini kalau kalian memang suka sama cerita ini (ini bisa jadi suntikan semangat saya saat menulis). Kalian juga bisa kasih saya kritik dan saran di kolom komentar agar saya bisa belajar dan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan saya dalam menulis ke depannya.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih~


__ADS_2