Throne Of The Heart

Throne Of The Heart
Bagian 35


__ADS_3

Lashira diam saja mendengar penjelasan Chika, ekspresi wajah gadis itu datar sehingga menyulitkan Chika untuk membaca apa yang sedang dipikirkan Lashira saat ini. “Jadi maksud kakak, aku ini sebenernya sepupunya kak Nobert dan sekarang ayah kandung aku pengen ketemu aku … gitu?”


Chika mengangguk membenarkan perkataan Lashira.


“Kenapa?” tanya Lashira dengan sorot mata dingin, Chika sampai tertegun karenanya.


“Kenapa apanya?” tanya Chika tidak mengerti.


Lashira tersenyum kecil, tatapan matanya tertuju pada minuman yang ada di hadapannya. “Kenapa baru sekarang pengen ketemunya?” tanya Lashira.


“Ka-kalau itu cuma Nobert yang bisa jelasin ke kamu, aku takut salah ngomong dan berakhir berantakan nantinya.” Lashira hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Chika.


Drrt! Drrtt!


“Aku permisi ke toilet sebentar.” Lashira permisi sebentar untuk mengangkat panggilan dari Severin.


“Apa yang kalian bicarakan?”


“Memangnya kau tidak memasang penyadap suara padaku?” tanya Lashira seraya tersenyum kecil. Perasaannya kacau setelah mendengar cerita Chika tentang ‘ayah kandungnya’.


Dan di saat seperti ini … entah kenapa ia jadi merindukan Greyson sekarang.


“Sayangnya tidak, apa dia mengatakan sesuatu tentang-”


“Dia menceritakan tentang ayah kandungku, katanya beliau ingin menemuiku…,” potong Lashira dengan suara lirih.


“Lalu setelah mendengar semua itu, bagaimana menurutmu?”


Lashira menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakangnya. “Menurutmu? Jika kau yang mengalami hal ini, kau akan bagaimana?” tanyanya balik.


Severin terdiam di seberang sana.


“Ada yang masih ingin kau katakan? Kalau sudah aku akan menyudahi percakapan ini, aku janji tidak akan menghabiskan waktu yang terlalu lama.” Setelah mengatakan hal itu Lashira langsung memutuskan panggilan dan berniat kembali menemui Chika.


Langkahnya terhenti saat melihat Chika tidak sendirian sekarang, ada seorang pria yang saat ini sedang duduk membelakanginya dan Lashira merasa tidak asing dengan postur tubuh pria itu.


“Ra…,” panggil Chika yang menyadari atensi keberadaan Lashira.

__ADS_1


Saat pria itu membalikkan badannya, Lashira hanya bisa tersenyum kaku di tempatnya. “Kak Nobert…,” lirihnya pelan.


Lashira terdiam menunggu penjelasan Nobert setelah duduk di hadapan pria itu. Sedangkan Chika sudah pergi dari beberapa menit yang lalu untuk memberikan mereka berdua ruang untuk berbicara berdua.


“Jadi, kak Nobert sepupu aku?” tanya Lashira karena Nobert tak kunjung memulai pembicaraan mereka.


Nobert mengangguk membenarkan, dia menyesap minumannya sebelum berbicara pada Lashira. “Ra, aku mau minta tolong … tolong bujuk ayah kandung kamu supaya mau ngejalanin operasi.”


“Kenapa harus aku?” tanya Lashira dengan alis terangkat sebelah.


“Karena kamu satu-satunya yang bisa jadi alasan dia hidup sekarang,” ujar Nobert membuat Lashira tergelak.


“Maaf kak, habisnya aku ngerasa lucu sama perkataan kakak.” Lashira langsung menghentikan tawanya saat melihat ekspresi terkejut Nobert.


"Di bagian mananya yang menurutmu lucu?" tanya Nobert tidak mengerti.


"Omongan kak Nobert yang bilang kalau aku satu-satunya orang yang bisa jadi alasan beliau untuk bertahan. Bagaimana itu mungkin? Beliau memiliki orang-orang keluarga besar di sisinya, bahkan juga anaknya yang lain. Jadi gak mungkin kalau aku itu satu-satunya kan?"


“Kamu berubah banget ya…,” ujar Nobert sangat pelan namun masih terdengar oleh Lashira.


Lashira tersenyum simpul. “Kalau aku gak berubah, aku gak akan bisa bertahan di dunia ini kak.” Nobert mengangguk setuju mendengarnya.


“Tolong pertimbangin sekali lagi, kita bener-bener butuh bantuan kamu … dan seluruh keluarga besar minta maaf atas perlakuan mereka ke kamu dan ibu kamu sebelum kalian pergi dari rumah utama.”


Lashira berbalik seraya tersenyum tipis. “Kita gak pernah pergi kak, tapi kalian yang membuang kami. Kalau gitu aku permisi dulu sekarang.” Perkataan Lashira itu membuat Nobert membeku seketika di tempatnya.


***


Lashira menghempaskan tubuhnya ke ranjang begitu ia sampai di mansion. Pertemuannya dengan Chika dan Nobert benar-benar sangat menguras tenaga yang ada di tubuhnya.


“Hahahaha! Lucu banget si*l!” Lashira tertawa sangat kencang mengingat perkataan Nobert di restoran tadi.


“Mau ketemu gue katanya? Hahahaha! Lucu banget b*ngs*t!” Lashira memukul-mukul guling yang ada di pelukannya dengan gemas.


“Setelah dia ngebuang gue dan mak gue, sekarang dia mau ketemu sama gue? Cih!” Lashira mendecih kesal, tangannya mengepal dengan erat. Ia bahkan tidak menghiraukan rasa sakit saat telapak tangannya tertusuk kuku tangannya sendiri.


“Aarrggghhh!!” teriaknya seraya melempar lampu tidur yang ada di atas nakas hingga mengenai meja riasnya. Pecahan kaca dimana-mana dan mata gadis itu sudah memerah karena menahan tangis.

__ADS_1


Napasnya sudah tidak teratur karena luapan emosi yang meletup-letup memenuhi rongga dadanya. Mengingat bagaimana tragisnya masa lalu dirinya dan sang mamah sebelum ia bertemu dengan ayah angkatnya membuat luka yang sudah lama ia simpan kembali terbuka dengan lebarnya.


“Hiks! Grey….” Dengan lirih ia menyebut-nyebut nama Greyson di sela tangisnya. Berharap pria itu hadir saat ini juga dan menenangkannya dalam pelukan hangat pria itu.


Di balik pintu kamar Lashira yang tertutup rapat, di sana ada Severin dengan tab dan handphone di masing-masing tangannya. “Haruskah aku masuk sekarang? Si bocah Sebastian itu terlihat sangat menyedihkan saat ini,” tanyanya pada Norbert lewat telepon.


“Apa dia menyakiti dirinya sendiri? Atau apa dia terluka?”


“Sepertinya tidak,” balas Severin.


“Kalau begitu biarkan saja, awasi saja terus dan jangan sampai lengah. Aku tidak ingin menjadi sasaran begitu Greyson kembali nanti.”


Setelah mengatakan hal itu\, Norbert langsung memutuskan panggilan telepon. “So sibuk banget sibr*ngs*k ini!” makinya pada handphone di tangannya.


“Hei kau! Ambilkan aku kursi dan minuman dingin ke sini!” perintah Severin pada salah satu anak buah Greyson yang sedang sedang berjaga.


Setelah anak buah Greyson melakukan apa yang ia perintahkan, Severin duduk di depan pintu sambil terus mengawasi Lashira lewat tab yang ada di tangannya saat ini. “Sedang apa dia meringkuk seperti janin begitu?” gumamnya saat melihat Lashira meringkuk di atas kasur seperti janin.


“Kau mengatakan sesuatu, Tuan?” tanya salah satu anak buahnya Greyson. Severin menggeleng seraya mengibaskan telapak tangannya menyuruh anak buah Greyson untuk pergi.


Malamnya, Lashira terbangun dan turun ke dapur untuk memasak makan malamnya sendiri. “Ngapain?” tanya Severin berhasil mengagetkan Lashira hingga gadis itu memecahkan piring yang ada di genggamannya.


“Sven! Kau mengejutkanku!” omel Lashira kesal.


“Jangan sentuh atau aku akan melaporkan semua hal yang terjadi hari ini pada Greyson. Mari kita pikirkan apa yang akan terjadi pada Nobert dan Chika setelah aku memberi tahu Grey kalau kau menangis seharian karena mereka.”


Baru saja Lashira membungkukkan badannya untuk membersihkan pecahan piring, tapi Severin sudah mengomel panjang lebar tanpa bisa ia cegah.


Lashira menghembuskan napas panjang. “Sven, kau tau kalau kau itu sangat berlebihan?”


Severin hanya mengangkat bahunya tidak peduli, dia memanggil beberapa pelayan lalu memerintahkan mereka untuk membersihkan pecahan piring dan membuatkan makan malam untuk Lashira.


“Terima kasih,” ujar Lashira pada pelayan yang sedang menyajikan makanan untuknya.


Severin memperhatikan perilaku Lashira, dari caranya menerima makanan sampai berterima kasih pada pelayan. Bahkan ketika gadis itu menolak pelayan untuk menuangkan air minum untuknya dengan sopan dan halus.


“Kenapa kau harus repot-repot melakukan semuanya sendiri jika ada banyak orang yang bersedia melakukan semua hal untukmu?” tanya Severin heran.

__ADS_1


Lashira tersenyum tipis, dia menelan terlebih dahulu makanan yang ada di mulutnya sebelum berbicara, “aku tidak ingin ketergantungan dengan belas kasih orang lain karena aku tahu … tidak selamanya mereka akan bersedia melakukan segala hal untukku.”


__ADS_2