
“Duduk sini!”
Lashira menggeleng pelan mendengar perintah Greyson yang menyuruhnya untuk duduk di kursi kebesarannya. Dari suara raspy-nya gadis itu sudah memperkirakan seberapa marah Greyson padanya.
Greyson menghembuskan napas panjang, dia duduk terlebih dahulu di kursi kebesarannya dan menepuk pahanya pelan. Lagi-lagi Lashira menggelengkan kepalanya menolak. Karena menurutnya, paha Greyson yang sekarang terlihat lebih berbahaya dari pada sebuah kursi.
“I said-”
Belum selesai Greyson mengatakan perintahnya, Lashira dengan cepat langsung duduk di atas pangkuan pria itu. Ia menunduk dalam seraya menggigit bibir bawahnya karena merasa gugup setengah mati, aura Greyson benar benar mengintimidasinya saat ini.
“Hah!” Lashira terperanjat saat tiba-tiba Greyson melingkarkan lengannya di perut Lashira.
Alis Greyson terangkat sebelah. Padahal ia tidak melakukan apapun, kenapa Lashira begitu takut padanya?
“Kau takut padaku?”
Lashira mengubah posisinya agar bisa melihat wajah Greyson. Ia langsung merengut dan memukul dada Greyson. “Tentu saja, apa itu perlu ditanyakan? Padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun tapi kau mengintimidasiku seperti ini.”
“Kata siapa kamu tidak melakukan kesalahan? Kamu hari ini nemuin Leon gak izin dulu dan cuma ngomong sama Norbert, lalu fungsi nomor teleponku di ponselmu untuk apa, Lashira Masson?” Lashira memukul dada Greyson sekali lagi karena pria itu dengan seenaknya mengganti nama belakangnya.
“Jangan seenaknya!”
“Kalau saja kamu tidak menolak waktu itu, sekarang kamu pasti sudah menyandang namaku.”
Lashira menghembuskan napas panjang. “Kalau saja semudah itu, kau tidak ingat hubunganku dan ayahku sedang tidak baik? Aku yang kabur dari rumah, berhenti kuliah, memberontak untuk sekian lama, terus tiba-tiba bawa calon suami … kira-kira menurutmu apa yang akan terjadi?”
“Ayahmu akan langsung menyetujuinya,” balas Greyson langsung tanpa berpikir dua kali.
“Woah! Kau memang benar-benar seorang Greyson Masson yang sangat menyebalkan itu,” sarkas Lashira.
“Aku serius, bahkan ibu tirimu akan langsung terdiam kalau kita meminta restu ayahmu untuk menikah. Dan pastinya adikmu tidak akan berusaha mendekatiku lagi,” ujar Greyson.
Lashira terdiam sebentar. Ragu-ragu ia bertanya, “kau menemuinya?”
__ADS_1
“Tidak, aku takkan menemuinya kalau kamu tidak ikut. Aku tidak memiliki kepentingan sama sekali dengannya jadi untuk apa aku membuang waktuku untuk menemuinya?”
“Hahh kau sangat membuatku kesal!” Sangat tidak sesuai dengan perkataannya yang terdengar sangat kesal dan marah, Lashira malah memeluk Greyson erat-erat seakan ia tidak bisa memeluk Greyson lagi nanti.
Greyson mengusap punggung Lashira lembut. “Mau makan?”
“No seafood?” tanya Lashira balik.
Greyson terkekeh pelan. “Ok, no seafood.”
***
Clarissa menghembuskan napas panjang mengingat pertemuannya dengan tangan kanan Greyson tadi siang. Jangankan kesempatan, ia bahkan tidak bisa menciptakan celah untuknya sedikit pun.
“Saya Norbert, tangan kanan tuan Masson. Beliau tidak bisa menemui anda dan sebagai gantinya ia mengutus saya untuk menemui anda.”
Clarissa tersenyum canggung, ia tidak berpikir sama sekali bahwa Greyson akan mengirim seseorang untuk menggantikan dirinya. “Kalau boleh tahu, kenapa Greyson tidak bisa menemui saya hari ini?”
“Beliau mengatakan ada sesuatu urusan penting yang harus ia selesaikan hari ini juga.”
Norbert tetap bergeming menunggu perkataan selanjutnya dari lawan bicaranya itu. Kalau saja tidak diiming-imingi dengan bonus libur selama tiga hari dari Greyson, ia tidak akan sudi membuang waktunya yang berharga untuk mengurusi masalah receh seperti ini.
“Apa saya boleh minta bantuan anda untuk menyelipkan janji temu di jadwal Greyson?”
Norbert menggeleng tegas. “Maaf untuk itu saya tidak punya kuasa. Bagaimana saya mengatakannya? Saya merasa tidak enak untuk mengatakan hal ini tapi sebetulnya pertemuan hari ini pun sudah masuk ke dalam jadwalnya tapi tuan Masson tidak berkenan bertemu empat mata dengan anda.”
Clarissa menegang di tempat mendengar penjelasan Norbert. “Ka-kalau boleh tau apa alasannya?”
“Mana mungkin saya tahu, saya hanya bawahan beliau. Tapi beliau sempat menyampaikan hal ini pada saya sebelumnya … kalau memang anda ingin bertemu, anda disuruh untuk menunggu sampai minggu depan karena beliau dan kakak anda akan berkunjung ke kediaman keluarga anda.”
“Bukannya ketemu malah suasananya makin kacau kaya gini … Ira pasti udah tahu kalau gua minta ketemuan empat mata sama Greyson alih-alih ketemu bertiga sama dia.” Clarissa mengacak rambutnya dan berteriak untuk melampiaskan frustrasinya.
Tok! Tok!
__ADS_1
“Kamu kenapa?” tanya Senna dari luar kamar karena teriakan Clarissa terdengar hampir ke seluruh penjuru rumah.
“Gapapa!” balas Clarissa berteriak.
“Sebentar lagi ayahmu pulang, cepat bersiap karena kita ada makan malam di luar sama rekan bisnis ayah.”
“Rissa?” panggil Senna karena tidak ada jawaban dari putrinya.
Senna kembali mengetuk pintu kamar Clarissa sebelum masuk ke dalam. “Kenapa?”
“Aku denger, aku akan siap sebelum makan malam.”
“Kenapa?” paksa Senna. Wanita itu memaksa Clarissa untuk membalikkan badan menghadap ke arahnya.
“Gapapa, cuma gak enak badan aja sedikit.”
Senna mengusap kepala Clarissa dengan lembut, terlihat jelas sekali bahwa wanita itu mengkhawatirkan Clarissa saat ini. “Ya udah, kalau gitu kamu istirahat aja sekarang. Kalau misalnya kamu gak mau ikut nanti malem juga gapapa.”
Clarissa hanya mengangguk patuh. Setelah Senna keluar dari kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Mengingat waktu makan malam sebentar lagi, Clarissa langsung segera bersiap dan melupakan sejenak permasalahannya dengan Greyson. Tapi saat sampai di restoran, hatinya mencelos saat melihat keberadaan Greyson dan sang kakak yang ternyata juga makan malam di sana.
Senna yang bingung kenapa Clarissa selalu melihat ke arah yang sama pun jadi mengerti saat mendapati anak sambungnya sedang makan malam bersama dengan seorang pria. Senna mendekatkan dirinya pada Clarissa dan berbisik, “kamu kenal sama orang-”
Clarissa menoleh ke arah sang ibu sebentar lalu menatapnya tajam. Namun setelah itu kembali mengamati Lashira dan Greyson.
“Kalian melihat apa?” tanya Rudi saat rekan bisnisnya pamit untuk ke toilet sebentar.
“Ira, dia terlihat sangat sehat dan bahagia di sana,” ujar Senna seraya melihat ke arah Lashira dan Greyson yang asik berbincang.
Rudi mengikuti arah pandang sang istri lalu terdiam, mulutnya terkatup rapat-rapat enggan mengomentari. Ia bingung harus merasa bersyukur atau tidak melihat putrinya terlihat baik-baik saja tanpanya. Namun matanya menyipit tajam saat menyadari orang yang sedang bersama dengan putrinya itu.
Senna yang sejak tadi mengamati perubahan ekspresi sang suami pun mulai membuka suara lagi. "Kalian tidak ingin menghampiri mereka?” tanya Senna terdengar memancing di telinga Clarissa.
__ADS_1
Clarissa langsung menatap sang ibu tajam, memberi peringatan untuk tidak memperkeruh suasana.
“Tidak, biarkan saja.” Seluruh atensi Clarissa langsung mengarah ke arah Rudi setelah mendengar jawaban tidak acuh dari sang ayah. Padahal jelas-jelas kerinduan dan kekhawatiran terpancar jelas ditujukan pada Lashira dari kedua mata sang ayah, tapi entah kenapa pria itu malah tetap kekeh untuk menahan perasaannya.