
Theo berdehem pelan, berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan rasa gugupnya, “ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.” Chika tersenyum remeh saat Theo menghindari kontak mata dengannya.
Lashira mengangguk mengerti, gadis itu dengan mudahnya percaya dengan alasan klise yang Theo katakan. Tiga orang lainnya hanya diam, walau tidak secara rinci.. mereka tahu garis besarnya.
“Sekarang kita mau ngapain?” tanya Lashira memecahkan keheningan.
Theo tersenyum tipis melihat perkembangan Lashira, gadis itu bahkan berani untuk bertanya dan memecahkan keheningan sekarang. Bahkan saat mata mereka tertuju pada gadis itu, dia tidak merasa takut ataupun malu seperti yang sebelumnya.
“Nah bener tuh, emangnya kita mau ngapain sekarang kumpul? Padahal kan lusa kita udah berangkat,” timpal Nobert.
“Pembagian kamar?”
“Yang pasti gue sama Lashira berdua, kalau kalian bertiga sih bebas.” Lanjut Chika seraya menyobek kertas menjadi tiga bagian.
“Di villa gue cuma ada tiga kamar tidur, ukurannya beda-beda. Biar adil kita undi sekarang.”
Leon mengernyit mendengarnya, “kenapa diundinya gak di sana aja sekalian?”
Chika berdecak, “biar pas sampai sana kita bisa langsung istirahat di kamar masing-masing. Lo tahu sendiri kan perjalanan ke puncak kalau lagi liburan kaya gimana?”
“Kalian bertiga siapa yang tidur sendiri?”
Dengan kompak keduanya menunjuk Leon, yang ditunjuk pun berdecak kesal. “Kenapa harus gue?”
“Soalnya lo kalau tidur melukin orang!” Nobert memukul Leon dengan bantal sofa.
Lashira yang ada di sebelah Leon terkekeh pelan, “kak Leon lucu ya..”
“Kalau gitu ambil satu.”
“Gue no 3,” ujar Nobert seraya melihat Theo dan Chika bergantian.
“Itu kamar yang paling kecil, selamat ya kalian.” jelas Chika seraya manahan tawanya.
Leon langsung tertawa dengan kencang, “mampus kalian!”
“Kita no 2,” ucap Lashira.
“Bagus, kamar itu sering aku pake kalau ke sana..” Lashira tersenyum lebar mendengarnya.
“Kalau gitu, kamar yang Leon dapet itu kamar yang paling gede?” tanya Nobert yang mendapat anggukan dari sang pemilik villa.
Dengan sombongnya Leon berkata, “gue adalah simbol dari keberuntungan.”
Nobert berdecih kesal, “gak yakin gue kalau lu bakal bisa tidur sendiri di kamar itu.” Dahi Leon mengerut mendengar perkataan Nobert. Apa maksudnya? batin Leon.
__ADS_1
Theo menyeringai mendengarnya, “bener.. Lo inget gak cerita abangnya Chika waktu itu?” Nobert memejamkan matanya dengan ekspresi serius seolah berusaha mengingat sesuatu.
“Tentang apa?” tanya Leon seraya menyembunyikan rasa gugupnya.
Chika dan Lashira menahan tawanya melihat ekspresi wajah ketakutan Leon yang sangat kentara meskipun pria itu sudah berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikannya.
“Kalian kok ketawa?” nada galak yang terpatri dalam perkataan Leon justru membuat Lashira tertawa. Gadis itu merasa lucu karena seniornya yang memiliki badan besar itu ternyata penakut, ditambah lagi status dan ketampanan Leon yang di atas rata-rata, itu semakin membuatnya terlihat tidak pantas jika merasa takut dengan hal-hal konyol seperti itu.
Sesampainya di villa..
Lashira meregangkan tubuhnya yang terasa kebas dan pegal setelah terjebak macet berjam-jam selama di perjalanan. Senyum terukir di wajahnya ketika merasakan sejuknya udara di sini, rasa lelahnya seketika hilang.. apalagi suasana villa yang begitu menenangkan, membuat dirinya semakin merasa nyaman berada di sini.
“Kamu suka?” Lashira menganguk antusias. Merasa gemas, Leon mengacak-acak rambut gadis itu sampai si empunya menjerit kesal.
Chika yang sadar jika keduanya masih asik di luar, langsung berteriak dari depan pintu. “Hei kalian berdua! Makan dulu sini!” dengan langkah seribu Lashira menghampiri Chika dan mengikutinya masuk ke dalam.
Berbeda dengan Lashira, rupanya Leon memilih untuk tetap berada di luar. Dia melihat layar ponselnya yang menunjukkan isi chatannya dengan Theo tadi pagi sebelum berangkat. Theo memberitahunya untuk berangkat lebih dulu dan meninggalkan pria itu karena masih ada beberapa urusan yang tidak bisa ditunda.
Ia tahu Theo berbohong, namun Leon tidak ingin mencampuri urusan sahabatnya itu. Karena ia tahu, Theo pasti bisa mengatasi semua masalahnya sendiri. “Ngapain lo di sini?” tanya Nobert yang disuruh keluar oleh Chika untuk membawa Leon masuk.
Tanpa berkata apapun Leon merangkul Nobert dan menyeretnya masuk ke dalam. “Ish apa-apaan sih lo! Kalau mereka yang rangkul sih gue seneng, nah kalau elo? Hihh!” Nobert bergidik ngeri saat mendapati tatapan mata nakal Leon.
“Gue colok pake garpu, buta lo!” Chika tak kuasa menahan tawanya melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Lain halnya dengan Lashira yang berusaha sekeras mungkin untuk menahan tawanya.
Lashira menggeleng, gadis itu tiba-tiba teringat sesuatu yang sedari tadi hendak ia tanyakan. “Kak Theo nyusul kapan?”
“Gak ada yang tahu dan gak ada yang akan nunggu dia,” balas Chika dengan nada datar. Gadis itu beranjak dari duduknya dan langsung ke kamar untuk berkemas.
“Lo pake aja kamar jatah gue, biar gue pake yang kecil.” Nobert tersenyum miring mendengarnya, dia langsung beranjak ke kamarnya seraya bersenandung senang. Leon memang terkadang sangat bodoh, batin Nobert tersenyum puas melihat luasnya kamar yang akan ia tempati selama beberapa hari kedepan.
“Ra, untuk saat ini jangan bahas Theo ya.” ujar Leon dengan nada hati-hati, takut Lashira merasa tersinggung dengannya.
Tanpa membantah gadis itu mengangguk setuju. “Maaf ya kak, aku bikin suasana canggung terus.. Refleks banget soalnya..” merasa gemas, Leon hendak mengacak rambut Lashira seperti sebelumnya, namun deheman keras Chika menghentikan tangannya yang sudah melayang di udara.
“Ra, mandi sana..” Lashira tersenyum tipis dan beranjak dari sana menuju kamarnya dan Chika.
Leon mendengus kesal, “ganggu aja lo.”
“Gue melindungi teman perempuan gue satu-satunya dari cowo pervert kaya lo,” ujar Chika dengan ekspresi datar, tidak menghiraukan sama sekali wajah Leon yang saat ini sudah memerah karena kesal.
“Udah be-”
“Pervert mah pervert aja, pake gak ngaku lagi.” Sela Chika semakin membuat emosi Leon meningkat, pria itu memilih untuk beranjak bangun dan masuk ke dalam kamarnya daripada meladeni Chika.
Chika tersenyum puas karena bisa menguasai sofa dengan leluasa, gadis itu langsung mengambil remot TV dan berbaring dengan nyaman di sana.
__ADS_1
***
“Whoa! Keren banget!” seru Lashira senang melihat pemandangan perkebunan teh dari balkon kamarnya.
Chika terbangun mendengarnya, “kamu udah bangun?” tanyanya dengan suara yang sedikit serak. Dengan mata yang masih terpejam gadis itu masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Dengan senyum penuh semangat Lashira turun ke bawah untuk membuat sarapan. Namun gadis itu terkejut saat melihat Nobert yang keluar dari kamar dengan shirtless, wajah gadis itu memerah saat Nobert berjalan santai menuju dapur tanpa menyadari kehadiran dirinya.
Dengan langkah perlahan, Lashira mengikuti Nobert menuju dapur.
“Kak..”
Seketika Nobert menyemburkan air yang sudah ada di mulutnya karena terkejut, dia baru menyadari jika ada Lashira di sini, apalagi wajah Lashira yang sudah merah padam karenanya.
Lashira gelagapan saat ada telapak tangan yang menutup matanya. “Tenang ini aku,” bisik Leon dengan suara serak khas bangun tidur. Dia juga baru saja terbangun hendak meminum air di dapur dan malah melihat Lashira yang salah tingkah karena melihat pemandangan yang sudah pasti tidak pernah gadis itu lihat sebelumnya.
“Balik lo.” usir Leon.
Setelah Nobert pergi, Leon melepaskan tangannya. "Kamu mau ngapain ke dapur pagi-pagi?" Lashira menunduk seraya meremas bajunya takut.
"Ma-masak," cicitnya pelan.
Leon mengacak rambutnya gemas, "ngapain masak? Bentar lagi makanan juga dateng."
"Tap-"
Leon langsung menyela ucapan Lashira, "di kulkas cuma ada air minum sama susu. Kalau mau masak harus belanja dulu." Lashira mengangguk mendengar perkataan Leon.
Akhirnya dia memutuskan untuk berkeliling sebentar. Lashira tersenyum karena merasa begitu damai, belum pernah dia merasa sesegar ini, ingatkan dia untuk berterima kasih pada Chika yang sudah mengajaknya ke sini.
Penasaran dengan perkebunan teh yang ia lihat tadi pagi dari balkon kamarnya, ia pun melangkah pergi ke sana, dan tanpa gadis itu sadari, dia semakin jauh dengan villa. Lashira tersenyum manis saat ada pekerja yang tersenyum ramah padanya. Bahkan ada beberapa yang menyapa dan bertanya padanya.
"Eneng orang baru ya?"
Dengan kikuk gadis itu menjawab, "eh iya bu.. Saya lagi menginap di villa di sebelah sana."
"Ouhh temennya neng Chika ya?" Lashira mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Ibu, saya boleh belajar petik teh juga?"
"Atuh boleh lah eneng," balas si ibu.
__ADS_1