
"Sayang, ini enak banget," racau Miran saat dirinya merasakan hentakan pinggul Rizal dari arah belakang.
Ya, saat ini keduanya sedang dalam posisi terbaring miring. Meski tidak banyak pengalaman, Rizal bisa membuat Miranda merasakan sensasi dari berbagai gaya yang mereka lakukan.
Mendengar racauan Miranda yang terdengar seksi membuat gejolak Rizal semakin meningkat. mulut Rizal juga tak henti meluapkan suara nikmat dari apa yang dia rasakan saat menghujam lembah indah milik Miranda dari belakang.
"Non, angkat kakinya lebih lebar ya? Aku mau nyembur," pinta Rizal dengan nafas yang tersengal. Tanpa menjawab, Miranda langsung membuka kakinya.
Gerakan pinggang Rizal semakin dipercepat hingga beberapa menit kemudian tubuh Rizal bergetar hebat disusul semburan air putih nan kental yang masuk ke dalam lembah basah milik Miranda. Setelah Rizal merasakan air kentalnya keluar semua, dia langsung memeluk erat majikannya meski banyak peluh berceceran. Nafas mereka masih menderu dan mereka terdiam untuk mengatur nafas agar kembali normal.
Miranda yang nafasnya sudah sedikit normal, membalikkan badan menghadap wajah sang supir. Senyumnya terkembang. Diusapnya wajah sang supir yang makin kelihatan tampan dan jantan saat sisa keringat masih menempel.
"Aku puas sekali, Zal. Makasih ya?" ucap Miranda kemudian dia mengangkat kepalanya mencium pipi Rizal dengan penuh perasaan. Rizal hanya mengulas senyum menikmati perlakuan lembut wanita cantik dihadapannya. Setelah itu, Miranda membenamkan kepalanya di dada Rizal.
"Non," panggil Rizal sambil mengusap usap kepala Miranda.
"Iya, Zal. Ada apa?" tanya Miranda sedikit mendongak walau tidak bisa melihat wajah Rizal.
"Tempat ini aman, kan?" pertanyaan Rizal membuat Miranda tercengang.
__ADS_1
"Kenapa emangnya?"
"Maksudnya di Villa ini ada cctv enggak? Kalau ada, bisa bahaya kita," seketika Miranda tersenyum. Dia semakin dalam menenggelamkan kepalanya di dada Rizal.
"Aman, Zal. Tomi emang sengaja nggak pasang cctv disini. Kamu tahu lah tujuan dia apa," Rizal tersenyum tipis. Jawaban Miranda cukup membuatnya tenang.
"Syukurlah, Non," balas Rizal sembari memeluk pundak Miranda.
"Kita mandi bareng atau mandi sendiri aja, Zal?"
"Mandi barenglah, Non."
"Tapi kita mandi aja yah? Aku capek pengin istirahat, kita mainnya besok lagi, gak apa-apa?" Rizal pun mengiyakan.
"Airnya udah siap, Zal!" teriak Miranda dari arah kamar mandi beberapa menit kemudian. Rizal pun menyahut kemudian dia bangkit dan beranjak menghampiri Miranda yang sudah berada di kamar mandi.
Berendam dengan air hangat memang saat yang tepat untuk membantu melepas lelah. Apalagi lelah setelah pertarungan ranjang, semua otot yang tegang, seakan terurai dan membuang rasa capek yang melilitnya. Kedua orang yang berada disana pun bergantian menggosokan badannya dan membersihkan semua bagian tubuh satu sama lain.
"Kamu kan katanya baru kali ini berhubungan badan, kok kamu kayak udah ahli gitu sih, Zal? Berbagai gaya kamu bisa?" tanya Miranda setelah semua selesai saling gosok dan kini dia menempelkan punggungnya di dada sang supir.
__ADS_1
Rizal pun mengulas senyum mendengarnya. Nyatanya apa yang ditanyakan Miranda benar. Sejak permainan ronde kedua, dia praktek segala gaya yang dia inginkan.
"Gara-gara nonton video, Non. Dulu kalau nonton video tuh suka ngabayangin gitu gimana rasanya gaya kuda-kudaan, duduk dipangkuan ya macam-macam lah, Non," balas Rizal jujur. Miranda tertawa kecil mendengarnya.
"Ada-ada aja kamu, Zal. Tapi memang bagus sih, gayanya nggak monoton gitu aja," balas Miranda sependapat dengan apa yang Rizal ucapkan.
"Non Miran paling suka gaya apa?"
"Semuanya, Zal. Asal sama kamu mainnya, aku pasrah."
"Non Miran bisa aja. berarti ini yang Non Miran maksud ngajakin aku bulan madu?" mendengar pertanyaan Rizal, sontak saja Miranda terkekeh. Namun nyatanya ini seperti bulan madunya Miranda.
"Ya begitulah, Zal. Kamu suka?"
"Ya suka lah, Non. Banget malah. Apa lagi aku yang pertama kali masuk kedalam milik Non Miranda. Bangga banget aku," jawab Rizal antusias.
"Aku juga bangga, Zal, menyerahkan mahkotaku untuk kamu. Aku seneng banget," balas Miranda dengan wajah yang nampak sangat berbinar.
"Makasih ya, Non, sudah memberi aku sesuatu yang sangat berharga milik Non Miran. Aku merasa jadi pria yang paling berunrung di dunia," ucap Rizal bangga.
__ADS_1
"Iya," balas Miranda sumringah kemudian kepalanya berpaling dan memberi kode agar bibir Rizal menempel di bibirnya. Dengan senang hari Rizal menyambutnya dan bibir merekapun beradu dalam hangatnya hati yang bahagia.
...@@@@...