
Cerah pagi di Pulau Bali, sudah menunjukkan keindahannya. Awan berarak seakan menghalangi matahari untuk menyinari bumi. Udara segar menenusup memasuki celah sempit di atas jendela mengusap seorang pria yang masih terlelap dari balik selimut.
Sedangkan di kamar yang sama, seorang wanita nampak keluar dari kamar mandi dengan badan terlilit handuk putih. Si wanita mengulas senyum sambil menatap wajah tampan pria yang sedang terlelap.
"Zal, bangun, Zal?" panggilnya pelan. Di usapnya pundak si pria sembari menyebut namanya beberapa kali.
"Eugh ... " reaksi si pria sembari menggeliat dan berpindah posisi. Si wanita mengulas senyum. Kembi pundak si pria dia tepuk.
"Zal, bangun. Kita mau pulang loh," ucapan wanita bernama Miranda itu sukses membuat Rizal kembali membalikkan badan ke arahnnya.
"Kita jadi pulang hari ini?" tanya Rizal dengan suara serak khas orang bangun tidur. bibirnya mengerucut terlihat menggemaskan di mata Miranda.
"kenapa? Kan kamu sudah tahu kalau kita pulang hari ini?" tanya Miranda sambil mengulas senyum. Rizal menarik tangan Miranda agar ikut berbaring, tak lupa handuk yang melilit di tubuh Miranda pun Rizal tarik dan lempar ke sembarang arah.
"Nggak bisa diundur?" tanya Rizal sambil menaruh kepalanya di dada Miranda.
"Nggak bisa dong, Zal. Kamu kan tahu pekerjaanku lagi banyak. Lagian kita disana juga seringnya berduaan, kan?" terang Miranda sambil mengusap kepala bayi tuanya.
"Tapi kan kalau disana pasti selalu pakai baju, nggak kayak disini," ucap Rizal merajuk.
__ADS_1
"Astaga! Kenapa kamu menggemaskan banget. Masa tiga hari kurang?" ucap Miranda lembut. Rizal dihadapannya sungguh jadi Rizal tampan yang sangat menggemaskan.
"Kurang banyak, penginnya terus disini," ucap Rizal kemudain dia membenamkan wajahnya diantara bukit kembar Miranda dan menggerakkanya.
"Geli, Rizal! Ih, nakal banget ya?" rintih Miranda sambil menoba menahan kepala Rizal dan mengangkatnya. Tapi percuma, tenaga Rizal lebih kuat. Rizal terus menyelipkan wajahnya diantara bukit kembar sebagai tanda protes kalau dia keberatan pulang ke Ibu kota.
"Rizal! Geli," hardik Miranda sedikit keras. Rizal mendongakkan kepalanya kemudian mulutnya menyesap pucuk bukit kembar Miranda satu persatu.
"Orang disuruh bangun terus mandi malah minum susu," protes Miranda. Tapi Rizal nampak acuh, dia semakin beringas melahap sarapannya kali ini.
"Kita berangkat jam berapa nanti?" tanya Rizal disela sela minum susunya.
"Baru jam tujuh lebih, masih banyak waktu," balas Rizal sembari terus menikmati bukit kembar.
"banyak waktu apaan? Kan kita perlu beres beres, Rizal," ucap Miranda semakin gemas.
Rizal bukannya menjawab, dia malah semakin aktif menuntun bibirnya menyusuri tubuh Miranda. Bibir itu terus merayap dari dada hingga berakhir pada lembah nikmat yang bau wangi. Tanpa permisi lidah itu langsung menyapu lembah nikmat Miranda dengan nikmatnya.
Rasa hati ingin menolak, tapi Miranda suka diperlakukan seperti itu. Dirinya bahagia saat ada pria yang menikmati tubuhnya. Kebahagiaan yang sama sekali tidak pernah dia rasakan selama menikah. Miranda pun membenarkan ucapan sahabat sahabatnya, dia memang harus bisa membahagiakan diri sendiri. Dan tiga hari ini, dia memang sangat bahagia. Dia sungguh bebas melakukan apapun bersama supirnya.
__ADS_1
Rizal semakin ganas menyerang lembah nikmat Miranda dengan mulutnya hingga basah. Setelah puas bermain dengan mulutnya, Rizal bangkit dan langsung mengarahkan benda menegang miliknya ke dalam lubang nikmat yang sudah pemiliknya sudah pasrah. Setelah semuanya masuk tanpa sisa, Rizal mencondongkan badannya hingga wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Miranda. Pinggul Rizal pun mulai bergerak maju mundur.
"Nggak bosen, Sayang?"
"Nggak lah, Non. Enak banget."
Dan mereka pun saling serang bibir.
Hingga tak terasa waktu kepulangan pun tiba. Dengan berat hati Miranda dan Rizal harus kembali kerutinitas seperti biasanya. Dan kini mereka telah sampai di kediaman Miranda.
Dengan menggunakan taksi, mereka segera turun. Rizal mengikuti Miranda guna membawa barang barang Miranda ke kamarnya. Mereka sedikit terkejut saat masuk ke dalam rumah, melihat orang asing berada di ruang tengah. Bersamaan dengan itu terlihat Tomi sedang menuruni anak tangga.
"Sudah pulang, Mir? Kok cepat?" tanya Tomi basa basi.
"Dia siapa?" bukannya menjawab, Miranda malah bertanya sambil menunjuk ke arah seeorang. Tomi pun matanya melihat ke arah seseorang dan menyuruhnya mendekat. Rizal yang berdiri di belakang Miranda pun hanya terdiam melihatnya.
Setelah orang itu mendekat, Rizal pun berkata, "Ini Linda, pembantu baru di rumah kita."
"Apa?"
__ADS_1
...@@@@@...