TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 51 (Iqbal)


__ADS_3

Iqbal melihat sesuatu milik Belinda yang hanya tertutup rok pendek dan tak ada kain segitiga bermuda di dalamnya. Terpampang begitu jelas diatas mata Iqbal, sebuah celah keindahan yang sangat disukai banyak lelaki pada umumnya.


Sejenak pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu terpana dengan apa yang dilihatnya. Dan itu sangat nyata. Hanya berjarak tiga jengkal tangan dari matanya. Sebuah celah keindahan yang dulu hanya bisa dia lihat dalam layar komputer diwarung internet, kini celah terindah itu Iqbal lihat dengan jelas dan begitu nyata ada di atasnya.


Iqbal segera menundukan kepalanya. Bukannya dia tak suka dengan apa yang dia lihat, namun dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan karena saat itu juga sesuatu di balik celananya menegang dan menggeliat.


"Ketemu!" pekik Belinda dari atas kursi membuat Iqbal merasa lega karena saat ini dia sungguh tersiksa dengan gejolak yang tak biasa.


Iqbal berusaha terus menahan pandangannya, meski hatinya berontak dan seakan menyuruhnya untuk tetap melihatnya. Namun sekuat tenaga Iqbal menahannya hingga Belinda benar benar turun.


"Makasih ya, Bal." ucap Belinda saat sudah turun dari kursi. Iqbal pun mendongak kemudian dia mengangguk.


Namun lagi lagi kejadian mengejutkan dirinya. Belinda yang Iqbal pikir akan segera melangkah pergi, tiba tiba bergerak cepat ke arahnya.


Cup!


Bibir Belinda mengecup pipinya sekilas kemudian dia langsung melenggang pergi meninggalkan Iqbal yang mematung dan syok dengan apa yang baru saja terjadi.


Dengan perasaan campur aduk, Iqbal menjatuhkan pantatnya ke lantai dan bersandar lemari. Rasa terkejutnya masih menelusup di dalam hatinya. Bagaimana bisa dia mengalami kejadian yang membuat jiwa laki lakinya meronta ronta.

__ADS_1


Perang bibir panas dengan Nona Karin saja masih teringat jelas di dalam pikirannya, ditambah kejutan dari Nona Belinda. Entah kejadian ini lebih pantas disebut anugerah atau apa, yang pasti Iqbal masih tidak percaya.


Dengan gontai Iqbal melangkah kembali menuju kamarnya untuk meneruskan mandinya yang tertunda.


Sementara di dalam kamarnya, Belinda tertawa riang. Dia yakin saat ini supir tampan yang ada di rumahnya pasti sedang memikirkannya. Dengan sadar, Belinda memang sengaja melakukannya untuk membuat Iqbal terjerat kepadanya. Apa yang Iqbal lihat saat dia diatas kursi, memang sudah dia rencanakan. Belinda yakin, Iqbal akan selalu terbayang dengan miliknya yang sengaja Belinda pamerkan.


Belinda terus mengusap lembut celah di balik rok miliknya sambil membayangkan wajah Iqbal.


"Aku yakin, setelah melihat ini. Kamu nggak akan nolak jika aku mengajakmu, Bal," ucap Belinda penuh percaya diri.


Waktu terus beranjak dan malam pun kini telah datang. Setelah makan, Iqbal memilih duduk di belakang rumah bersama Mbak Inah, pembantu dirumah tersebut.


"Gimana, Bal, kerja disini? Betah?" tanya Mbak Inah sambil memangku toples berisi kacang telur.


"Syukurlah. Semoga betah lama ya, Bal."


"Iya, Mbak." jawab Iqbal. Dia meluruskan kakinya dan meregangkan kedua tangannya. "Mbak Inah kerja disini udah berapa tahun, Mbak?"


"Udah lumayan lama, Bal. Sejak Non Karin SMA." balas Mbak Inah yang mulutnya tak berhenti mengunyah.

__ADS_1


"Lama juga yah, Mbak. Kalau Non Karin masih SMA, berarti Non Aleta dan Belinda juga kuliah ya? Gimana rasanya ngurusin tiga anak tuan Martin, Mbak?"


"Aleta dan Belinda dulu tidak tinggal disini, Bal." ucap Mbak Inah.


"Loh, kok bisa?" tanya Iqbal.


Sambil mengunyah kacang telur, Mbak Inah pun menceritakan apa yang dia tahu. Dan cerita yang Mbak Inah ungkapkan hampir sama dengan apa yang Karin ceritkan beberapa waktu lalu. Namun yang membuat Iqbal tertegun adalah saat dia mendengar alasan Aleta dan Belinda kembali disini.


Iqbal jadi menarik kesimpulan, kenapa Aleta dan Belinda berani memakai pakaian yang begitu minim, itu pasti karena kehidupan mereka berdua yang terlalu bebas saat di luar negeri. Sekarang Iqbal mengerti kenapa Belinda tadi hanya memakai rok pendek tanpa menggunakan segitiga bermuda di dalamnya. Mungkin memang dia terbiasa melakukannya saat berada di luar negeri.


Setelah cukup lama ngobrol dengan Mbak Inah, Iqbal pun pamit ke kamar karena merasa ngantuk. Dia segera beranjak meninggalkan Mbak Inah yang masih asyik ngemil kacang dengan bermain ponsel.


Begitu sampai kamar, Iqbal langsung membaringkan badannya. Pikirannya kembali menerawang dan mengingat kejadian yang dialami satu hari ini.


Saat lamunannya sedang berkelana kemana mana, tiba tiba Iqbal dikagetkan dengan suara pintu kamar diketuk. Iqbal bangkit dan segera membukanya.


"Non Aleta!" pekik Iqbal.


Aleta bukannya menjawab namun dia langsung saja mendorong tubuh Iqbal dan menerobos masuk dan menutup pintu kamar Iqbal.

__ADS_1


Iqbal terperangah. "Non Aleta! Apa yang Non lakukan?"


...@@@@@...


__ADS_2