
Di sana, di dalam salah satu unit sebuah apartemen, sepasang anak manusia sedang saling berpelukan dalam diam selama beberapa saat. Yang satu mencari ketenangan dan rasa nyaman. Yang satu memberikan ketenangan dan rasa nyaman juga.
"Kenapa Non Selin nggak pakai baju? Nggak dingin?" tanya Jamal setelah beberapa saat mereka terdiam dalam pelukan.
"Enggak, lagian kalau dingin, kan ada kamu, Mal. Tinggal meluk kamu kayak gini," Seketika Jamal tergelak tanpa mau melepas pelukannya.
"Nanti aku tergoda dan pengin main lagi loh, Non? Gimana? Apa Non Selin mau tanggung jawab?"
"Toh tinggal main lagi, gampang," balas Selin enteng dan jawaban itu cukup membuat Jamal terkejut.
"Aku sudah masukin tiga kali loh, Non? Apa lubang Non nggak sakit jika nanti aku masukin lagi?"
"Entah, tapi kalau sedang dimasukin aku cuma ngerasain rasa enak aja, Mal. Ada rasa perih juga nggak perih-perih banget dan tertutup oleh rasa enak," jawab Selin jujur.
"Ya udah, daripada kita berdiri disini, mending kita masuk kamar, yuk. Kita pelukan disana," usul Jamal.
"Tapi baju kamu lepas semua, Mal? Masa aku saja yang nggak pake baju?" pinta Selin manja.
__ADS_1
"Aku lepas bajunya nanti saja, kan bentar lagi pengantar makanan datang, lagian Tuan juga akan nyuruh orang buat ngantar baju aku. Nanti aku nggak bolak balik pakai baju saat mereka datang," terang Jamal dan sepertinya Selin pun mau mengerti. Akhirnya mereka masuk ke dalam kamar.
Di tempat lain, Gustavo baru saja sampai rumahnya. Saat dia memasuki pelataran rumah, dia melihat mobil yang tak asing berada di halaman rumah itu. Gustavo pun berdecih dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Merasa heran dengan pemilik mobil tersebut yang masih berani datang ke rumah. Dengan malas, Gustavo turun dari mobilnya dan melangkah gontai menuju ke dalam rumah.
"Mau ngapain lagi kamu kemari? Belum puas kamu balas dendam?" tanya Gustavo menggelegar membuat seorang wanita yang duduk di ruang tamu terkejut mendengarnya.
"Dimana Selin? Aku mau ketemu sama dia," balas Sandra dengan entengnya.
"Setelah apa yang kamu lakukan dan kamu berharap ingin ketemu dia? Apa dia mau? Nggak tahu malu banget ya kamu, San?" hina Gustavo sembari duduk di sofa.
"Apa salahnya? Toh, aku hanya ingin minta maaf? Nggak salah, kan?" jawab Sandra sedikit keras karena merasa tersinggung dengan ucapan Gustavo.
"Terserah apa yang kamu pikirkan tentangku, Gustavo. Kamu yang sudah terbiasa menyakiti hatiku dan membohongi semua orang, jadi mungkin kamu lebih tahu tuduhanmu benar atau salah," Mendengar ucapan Sandra yang tenang seketika Gustavo terbungkam.
Nyatanya dialah yang dulu sering berbohong mencari alasan agar Sandra percaya kepadanya, dan dia memanfaatkan kepercayaan Sandra dengan tidur bersama wanita yang beda beberapa kali. Tapi sekarang dia dengan mudahnya menuduh Sandra berbohong dan berpura-pura hanya gara-gara dia sering berbohong dan berpura-pura kepada Sandra dulu.
"Baiklah kalau Selin nggak ada, aku lebih baik pulang. Biar aku besok datangi dia di kampus," ucap Sandra.
__ADS_1
"Jangan usik hidup Selin lagi, Sandra!" teriak Gustavo membuat Sandra sedikit terlonjak dan menatap tajam Gustavo. "Masih kurang puas kamu melampiaskan dendammu? Hah!"
"Siapa yang dendam? Jangan sok tahu kamu," sanggah Sandra merasa tak terima.
"Jangan pura-pura. Setelah kamu rebut pacar Selin, apa lagi yang akan kamu ambil dari anakku? Hah! Atau benar dugaanku, kamu tertarik pada supir anakku? Hahaha ... Serendah itukah kamu, Sandra? Sampai supir anakku pun ingin kamu ambil."
Sandra terkesiap mendengar tuduhan Gustavo. Nyatanya tebakan Gustavo benar, salah satu tujuan Sandra datang kesini adalah ingin melihat supir Selin. Sandra ingin melanjutkan penawarannya kepada Jamal beberapa hari yang lalu. Dia pikir pasti Jamal akan tertarik dengan penawarannya.
"Jaga mulut kamu, Gustavo!" ucap Sandra geram.
"Kenapa? Kamu tak terima? Nyatanya kamu menginginkan supir itu bukan? Astaga!" tuduh Gustavo.
"Terserah kamu ngomong apa, daripada kamu makin ngelantur nggak jelas mending saya pergi," ucap Sandra penuh penakanan. Dan dia pun segera beranjak meninggalkan Gustavo yang sedang terbahak.
Tawa Gustavo berangsur-angsur menghilang bersamaan dengan menghilangnya tubuh Sandra di luar sana. Gustavo mengusap kasar wajahnya dan menghirup nafas dalam-dalam dan dengan kasar juga menghembuskannya.
"Jika sampai kamu menyakiti anakku lagi? Aku tak akan segan memberimu pelajaran, Sandra! Awas kamu!"
__ADS_1
...@@@@@...