TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 150


__ADS_3

"Ini apa apaan sih?" ucap Selin saat melihat layar ponselnya.


"Kenapa, Non?" tanya Jamal penasaran karena wajah Selin nampak orang kaget.


"Ini, masa aku dapat pesen seperti ini," sungut Selin sambil memperlihatkan layar ponselnya kepada Jamal. Jamal melirik tapi karena sedang fokus mengemudi, dia jadi tidak bisa membaca pesan dalam ponsel Selin dengan baik.


"Bacain dong, Non. Aku kan lagi fokus pegang setir," pinta Jamal. Selin pun kembali menghadapkan layar ponsel ke wajahnya.


"Dasar pelakor nggak tahu diri! Awas aja kalau sampe ketemu, kamu bakalan habis ditanganku, camkan itu," ucap Selin membacakan pesan yang dia terima. "Masa aku dikatakan pelakor, gila aja."


"Hahaha ... salah kirim kali, Non," ujar Jamal.


"Iya, kali. Aneh," ucap Selin dan dia mengabaikan ponsel tersebut. Tapi tak lama kemudian nomer tersebut malah melakukan panggilan hingga cukup membuat Selin tersentak.


"Gila nih orang, pake telfon segala," sungut Selin.


"Biarin aja, blokir sekalian, Non," tanpa menjawab, Selin langsung melaksanakan apa yang Jamal katakan.


"Menyebalkan, kaya nggak ada kerjaan aja, ngerebutin laki orang," gerutu Selin sembari memasukan ponselnya ke dalam tas. Jamal hanya tergelak tanpa mau menimpali ucapan wanita disebelehnya. Mobil pun terus melaju entah akan kemana mereka.


Sementara di kedai kopi di dalam sebuah Mall, nampak dua wanita dan satu pria sedang asyik bercengkrama. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tapi melihat sikap dan tingkah mereka, seakan mereka sudah kenal sejak lama.


Mereka adalah Rio, Belinda dan Aleta. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi kelihatannya sangat seru dan menyenangkan, karena suara tawa selalu keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


"Tapi kemarin, saya kayak pernah lihat kalian loh," ucap Rio. Tentu saja dia hanya pura pura karena sebenarnya Rio mengingat wajah dua wanita itu saat berada di tempat wisata. Bahkan dia memiliki foto Belinda dan Aleta.


"Lihat dimana?" tanya Aleta setelah menyesap es kopi americano pesanannya.


"Di tempat wisata Dafun, kemarin aku kayak lihat kalian berlima gitu, tapi nggak tahu sih benar atau nggak," tentu saja Aleta dan Belinda sontak terkejut.


"Loh? Kok kamu tahu aku kemarin kesana? Emang kamu lihatnya dimana?" tanya Belinda. Rio pun menceritakan apa yang Belinda tanyakan. Pastinya ada sandiwara di balik cerita Rio. Tentu saja agar dua wanita itu makin bersimpati padanya. Dari gerak geriknya, Rio tahu, seperti apa dua wanita di hadapannya ini. Tipe wanita yang tidak ada jaimnya sama sekali.


"Oh begitu," ucap Belinda dan Aleta hampir bersamaan.


"Iya, seperti itu, makanya tadi pas nggak sengaja nabrak, aku tuh terpana lihat kamu," ucap Rio dengan arah pandang tertuju pada Belinda.


"Terpana kenapa?" tanya Belinda sedikit mengernyitkan kening.


"Hehehe ... nggak nyangka ya? Takdir kadang memang aneh," ucap Belinda.


"Tapi kamu serius? Diantara mereka ada yang ngerebut pacar kamu?" Aleta bertanya.


"Serius lah, semalam pas kalian nempel sama orang itu, pengin rasanya aku fotoin selingkuhannya lalu aku kirim ke cewekku, tapi aku pikir nanti kasihan kamu yang nggak tahu apa apa malah kena labrak," ucap Rio dengan wajah terlihat sendu.


"Jangan pake foto kayak gitu, itu mah mudah banget di sangkal," ucap Belinda.


"Terus pake cara apa? Aku tuh nggak tega kalau cewekku diporotin, soalnya dia kan supir."

__ADS_1


"Gini aja deh, kita kerja sama, bagaimana?" tawar Belinda. Nampaknya sejak tadi dia mendengarkan cerita Rio sambil berpikir.


"Kerja sama gimana?"


"Ya kita kerja sama dan saling bantu, kamu bisa mendapatkan kembali cewek kamu dan aku bisa mendapatkan temen si supir selingakuhan cewek kamu itu."


"Gimana caranya?"


Belinda pun mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Rio. Dan tak lama kemudian terlihat Rio senyumnya terkembang.


"Ya udah ayok kita rencanakan," ajak Rio antusias.


"Entar dulu," ucap Belinda menjeda. "Let, mending kamu pulang dulu deh, nanti kalau Mami atau Papi tanya, jawabnya seperti biasa. Karena aku sama Rio mau merencakan sesuatu agar Iqbal pulang ke rumah."


Tentu saja Aleta sangat setuju karena ini menyangkut tentang Iqbal. tanpa rasa terpaksa Aleta segera saja melangkah meninggalkan Belinda dan Rio menuju supirnya yang telah menunggu lama.


"Baiklah, mending kita cari tempat yang nyaman buat bicara, disini terlalu rame," ucap Belinda setelah Aleta pergi.


"Kalau ke apartemenku mau?"


Tanpa pikir panjang Belinda langsung setuju.


@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2