
Dua bulan sudah waktu berlalu. Sejak Miranda datang menemui keluarga Rizal, kini wanita itu sudah diterima baik oleh keluarga mantan supirnya. Ya, Rizal memang sudah tidak bekerja lagi pada Miranda. Pemuda itu kini membuka toko baju yang besar dan lengkap di kampungnya seperti yang pernah dia bicarakan dengan wanita yang kini menjadi kekasihnya. Rizal juga menjadi guru bela diri di tempat dimana dulu dia belajar.
Sidang perceraian Miranda juga terbilang cukup cepat prosesnya. Tomi sama sekali tidak memberatkan selama jalannya proses persidangan. Meski berat hati, tapi dia sadar, perceraian adalah jalan terbaik dari hubungan yang memang tidak sehat sejak awal terjadi. Keduanya pun saling minta maaf dan memaafkan hingga hubungan mereka malah menjadi seperti keluarga berkat orang tua Tomi.
Saat ini Miranda sedang berada di kampung Rizal. Dia di ajak keluarga Rizal untuk menghadiri pesta pernikahan sahabat Rizal. Mendengar kisah masa lalu Miranda yang terdengar menyedihkan, membuat keluarga Rizal benar benar menerima apa adanya wanita itu.
Sejak hubungan Rizal dan Miranda terkuak, waktu pertemuan mereka juga sangat dibatasi. Itu semua mereka lakukan demi menghindari hubungan ranjang sebelum mereka benar benar halal. Mereka pun dengan senang hati menjalaninya. Apa lagi hubungan mereka akan menjadi halal beberapa bulan lagi bersama dengan pernikahan kakaknya Rizal.
Mobil untuk menjemput Miranda sudah terparkir manis di depan sebuah hotel di kota tempat tinggal Rizal. Pemuda itu juga sudah menunggu di ruang lobby hotel dengan menggunakan kemeja batik coklat lengan panjang yang ukurannya sangat pas dengan bentuk badan Rizal yang tegap dan kekar.
Tak lama kemudian, wanita yang Rizal tunggu datang juga. Dengan memakai kebaya yang dipadu dengan batik dengan warna dan corak sama persis dengan batik yang dipakai Rizal.
"Aku telat ya?" tanya Miranda begitu dia sampai di dekat Rizal menunggu.
"Enggak kok, acaranya juga dimulai satu jam lagi," jawab Rizal sambil berdiri.
"Ya sudah, kita berangkat sekarang," ajak Miranda. Rizal mengangguk dan mereka bergandengan menuju mobil yang terparkir. Mobil milik Miranda yang memang sengaja ditaruh di rumah Rizal, biar bisa digunakan Rizal untuk mengurusi tokonya.
"Sayang, gimana perkembangan Toko? Apa ada kemajuan?" tanya Miranda di tengah perjalanan mereka.
"Ya seperti yang pernah aku ceritakan, Yang. Makin rame. Mungkin memang harganya murah dan kualitas pakaiannya juga bagus," jawab Rizal sembali sesekali menoleh ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Ya baguslah, kalau rame, dalam setahun bisa bukak cabang lagi tuh."
"Kita lihat aja dulu perkembangannya gimana? Lagian aku belum kepikiran kesana, Yang."
"Loh kenapa? Kan bagus kalau buka cabang lagi?"
"Ya bagus sih bagus, Sayang. Tapi aku tidak mau, karena terlalu sibuk kita nanti jadi jarang ketemu. Sekarang aja kita jarang ketemu rasanya berat banget. Apalagi nanti kalau sudah menikah."
Miranda tersenyum mendengarnya. Rizal bahkan sudah berpikir sejauh itu. "Ya itu nanti bisa kita bicarakan lagi, Yang."
Rizal mengiyakan. Kemudian mereka terdiam dan fokus menikmati perjalanan menuju gedung tempat akad akan digelar.
Hampir menempuh perjalanan tiga puluh menit, mereka telah sampai di tempat tujuan. Suasana gedung milik pemerintah desa itu sudah terlihat ramai oleh pengunjung yang hadir.
"Iya nih, Mbak," jawab Rizal. "Ibu dan yang lain sudah pada datang apa?"
"Sudah," jawab Andini. "Kamu dicariin Jamal tuh, di suruh nemenin. Dia ada di ruang yang itu. Miranda ikut aku aja."
"Baiklah."
Miranda dan Rizal sontak terpisah. Pemuda itu melangkah ke tempat yang ditunjuk kakaknya.
__ADS_1
"Ambil cemilan dulu aja, Mir, kamu udah sarapan belum sih?" tanya Andini sambil beranjak menuju tempat makanan ringan disandingkan.
"Sudah tadi, Mbak," jawab Miranda tanpa ada rasa canggung. Hubungan keduanya memang sudah akrab. Biar bagaimanapun mereka akan menjadi keluarga dan Miranda sangat senang akan menjadi bagian dari keluarga pria yang penuh kehangatan. Tidak seperti keluarga Miranda terdahulu.
"Iqbal belum datang, Mal?" tanya Rizal begitu dia sampai di ruangan tempat sahabatnya berada.
"Bentar lagi mungkin. Tu anak kan paling ribet kalau ada acara nikahan, selalu pengin terlihat sempurna gitu," jawab Jamal yang sudah nampak gagah dengan setelan berwaran putih.
Rizal sontak mengulas senyum lalu dia mengambil air kemasan yang ada di dalam kardus dan tergelatak dibawah meja.
"gimana rasanya, Mal? Sebentar lagi mennyandang status baru?"
"yah mendebarkan dan sangat menyenangkan tentunya. Kamu juga nanti ngerasain."
"Ya semoga saja, semuanya lancar sesuai yang aku harapkan."
"Aamiin."
Dan kedua sahabatnya itu terlibat pembicaraa yang lumayan seru sembari menunggu waktu akad tiba.
@@@@@@
__ADS_1
Hai reader, othor menyapa ini. Othor cuma mau ngucapin terima kasih buat yang masih setia dengan cerita ini. Dan orthor promosi karya baru nih yang akan tayang mulai besok. Judulya MENIKAHI TIGA BELAS WANITA. Gimana ceritanya? Kok bisa gitu? Kalau penasaran, ditunggu ya esok hari. Okeh!"