TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 75 (Rizal)


__ADS_3

Miranda sontak saja terperangah dengan apa yang baru saja dia dengar. Miranda tidak menyangka suaminya akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Rizal. Miranda tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dia harus bertindak secepatnya. Miranda tidak mau Rizal bernasib sama seperti supir supir yang lain.


Miranda terus menguping pembicaraan Tomi yang terdengar lumayan keras. Setelah terdengar suara Tomi mengakhiri panggilan telfonnya, Miranda melangkah mundur dan kembali menuruni anak tangga secara perlahan. Setelah itu, dia kembali naik seolah olah tidak terjadi apa apa.


Pikiran Miranda ternyata tepat. Begitu dia sampai di lantai dua, terlihat Tomi keluar dari kamarnya.


"Baru pulang, Mir?" tanya Tomi sambil menutup pintu.


"Ya, seperti yang kamu lihat," balas Miranda sambil melewati sang suami menuju kamarnya.


"Dari mana saja? Biasanya tepat waktu?" tanya Tomi lagi seperti sedang menyelidiki.


Miranda yang hendak membuka pintu pun seketika berhenti dan memutar badan menghadap sang suami.


"Habis belanja, nih." tunjuk Miranda sembari mengangkat tangannya yang menenteng hasil belanjaan. "Sekalian membelikan beberapa barang buat supirku?"


"Buat supir?" Miranda mengangguk. "Jangan terlalu memanjakan supir, Mir. Entar nglunjak dia."


Seketika dahi Miranda berkerut mendengarkan apa yang Tomi katakan. Dia tidak menyangka Tomi berkata seperti itu.


"Memanjakan supir? Apa maksudnya?" tanya Miranda.

__ADS_1


"Ya itu, tadi kamu bilang habis membelikan barang untuk Rizal? Apa itu namanya bukan memanjakan?" balas Tomi gamblang.


Miranda berdecih, "Kamu itu kalau ngmomng kayak nggak punya kaca, Tom. Bukankah kamu sering memanjakan supir supir yang kamu pilih dengan uang kamu? Kenapa aku nggak boleh memanjakan supirku sendiri?"


Tomi agak gelagapan mendengar ucapan Miranda. Nyatanya memang benar, dia selalu memanjakan supir supir incaran dengan memberi uang banyak, mengajak belanja dan bersenang senang demi gejolaknya agar terpenuhi. Cara Tomi memang berhasil. Dengan memanjakan pria muda dengan uang, dia juga bisa mendapatkan apa yang dia mau.


"Aku tahu, supir itu kamu yang memilih. Tapi kan nggak segitunya juga kali, Mir." balas Tomi tetap tak tahu diri.


"Udahlah, aku capek mau istirahat." Miranda berbalik ke arah pintu namun sedetik kemudian dia memutar badan kembali. "Oh iya aku akan ke bali mencari bahan butik."


"Kapan?" tanya Tomi, dia yang sudah berbalik badan pun kembali memutar arah.


"Besok lah, kayak nggak tahu aku aja kamu, Tom," balas Miranda.


"Ngajak lah, orang mau membeli barang, aku butuh tenaga." jawaban Miranda seketika mematahkan harapan Tomi.


"Kenapa nggak ngajak Sari aja?" tanya Tomi mencoba menghalangi.


"Aneh kamu ya? Biasanya juga aku ngajak supir kalau pergi belanja nyari bahan," balas Miranda dan dia langsung masuk meninggalkan Tomi yang sepertinya hendak membuka suara lagi.


Miranda menggerutu ketika berada dalam kamarnya. Namun dia senang, karena mendadak dia punya ide mengajak Rizal ke Bali. Dan sepertinya Bali adalah tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu berdua dengan supir tampannya.

__ADS_1


Waktu terus beranjak maju dan kini malam telah larut. Di dalam kamarnya, mata Rizal tak kunjung terpejam. Rasa kantuk entah kenapa tidak menghampiri matanya. Rizal berbaring sambil membayangkan kembali ciauman pertamanya. Bahkan ciuaman itu dia ulangi sampai beberapa kali.


Saat Rizal asyik dengan lamunannya, dia mendengar pintu kamar di ketuk. Rizal terperanjat. Dia takut itu adalah tuan Tomi. Rizal terdiam. Namun saat dia mendengar suara lirih dari depan kamar memanggil namanya, Rizal tertegun dan dia segera berdiri dan beranjak membuka pintu kamar.


"Non Miran!" pekik Rizal, tapi Miranda langsung memberi tanda agar jangan berisik kemudian wanita itu masuk.


Rizal lagi lagi terpana melihat gaya berpakaian Miranda. Baju tidur yang Miranda pakai benar benar menbuat sesuatu miliknya menegang.


"Ada apa, Non? Kok belum tidur?" tanya Rizal sambil berdiri dibalik pintu yang baru saja dia tutup.


"Besok kamu siap siap yah? Besok kita berangkat ke Bali," balas Miranda yang melangkah maju mendekati Rizal. Pemuda itu benar benar dibuat panas dingin oleh sikap Miranda.


"Ke Bali? Mau ngapain?" tanya Rizal agak gugup. Pasalnya Miranda melingkarkan tangannya dari arah depan. Tentu saja badan mereka saling tempel.


"Bulan madu," balas Miranda lirih.


"Bulan madu?" tanya Rizal dengan wajah bingung, tapi Miranda tidak menjawabnya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti.


Miranda mengunci badan Rizal hingga dia terpojok di pintu. Wajahnya mendekat dengan tangan melingkar di leher Rizal. Kemudian dia langsung menyerang bibir Rizal dan perang bibir pun terjadi dengan begitu ganasnya.


"Bulan madu?" tanya Rizal dalam hati.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2