
Di sebuah dapur yang ada di sebuah butik, Rizal sibuk mengutak atik ponsel barunya. Meski pun itu hanya ponsel bekas, tapi Rizal cukup senang memilikinya. Rizal tahu, ponsel yang berlambang apel tergigit sedikit itu harganya mahal, apa lagi saat Rizal melihat tipenya. Rizap mana mampu beli ponsel jenis ini walau hanya bekas.
Tak lupa, Rizal pun menyembunyikan foto panas majikannya di folder khusus. Dia sengaja tidak membuangnya dengan alasan sayang kalau dibuang. Kapan lagi dia bisa melihat keutuhan dan keindahan dari seorang wanita cantik bernama Miranda.
Setelah semuanya selesai, Rizal menyimpan ponsel lama dan ponsel barunya ke dalam saku kemudian dia bangkit menuju tempat kopi berada.
Saat dia asyik berdiri membuat kopi, tiba tiba Rizal dikejutkan oleh sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Non Miran!" pekik Rizal begitu menoleh dan melihat siapa yang memeluknya.
"Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Miran sambil cengengesan menatap Rizal.
"Kaget lah, Non. Untung kopinya nggak tumpah." balas Rizal. Miranda pun terkekeh. dia melepas pelukannya dan berdiri di samping sang supir.
"Nanti setelah selesai, kita jalan jalan ya, Zal. Aku suntuk banget." ucap Miranda sambil meraih cangkir hendak membuat kopi juga.
"Jalan jalan kemana, Non?" tanya Rizal kemudian menyeruput kopinya.
"Gampang lah, entar. Yang penting jalan jalan." balas Miranda dan Rizal mengangguk setuju. Dia menolak juga tidak berani.
Setelah kopinya selesai dibuat, Miranda pamit kembali ke ruangannya. Sedangkan Rizal kembali memainkan ponsel barunya.
__ADS_1
Hari ini, Miranda terlihat lebih bersemangat dan ceria. Dengan hati yang diliputi bahagia, Miranda melakukan pekerjaannya dengan mudah seakan tanpa beban. Bahkan sesekali senyumnya terkembang. Apalagi jika sudah membayangkan tentang Rizal, bibir Miranda seakan tak pernah lelah untuk tersenyum.
Waktu terus beranjak dan tak terasa pekerjaan Miranda telah usai. Sesuai rencana, Miranda mengajak Rizal jalan jalan. Awalnya sih ingin ke tempat wisata terdekat. Namun melihat penampilan Rizal yang agak urakan, Miranda merubah niatnya dan membawa Rizal ke salon untuk menjalani perawatan.
Awalnya Rizal menolak, tapi Miranda malah tetap memaksanya hingga akhirnya sang supir pun pasarah. Rizal benar benar di tangani oleh ahlinya dalam bidang perawatan pria. Meski waktunya lumaya lama, namun hasilnya cukup memuaskan. Miranda bahkan sampai terpukau melihat penampilan Rizal setelah di ubah.
"Udah sih, Non. Jangan dipandangi terus, malu tahu," ucap Rizal salah tingkah ketika mereka berada di dalam mobil. Sejak keluar salon, mata Miranda memang seakan enggan memandang yang lain.
"Kenapa malu? Orang makin tampan kok malu? Harusnya bangga, Zal," balas Miranda tak mau kalah. Rizal hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis.
Kini tujuan mereka adalah Mall, tepatnya pusat pakaian pria. Lagi lagi Rizal menolak dan merasa tak enak dengan kebaikan Miranda. Rizal merasa dia belum genap sebulan kerja menjadi supir, namun yang dia dapat, lebih gede dari gaji yang di tawarkan Miranda.
"Nih, di coba," titah Miranda sambil menyerahkan beberapa potong kemeja dan celana.
"Sebanyak ini?" tanya Rizal dan Miranda mengangguk. Dengan lesu Rizal menuju ruang khusus untuk mencoba. Melihat harganya saja, Rizal langsung merinding.
Setiap kali mencobanya, Rizal selalu memperlihatkan hasilnya pada Miranda. Dan anehnya dimata Miranda, apapun yang Rizal pakai selalu nampak bagus dan pas.
Rizal terkesiap saat Miranda mengambil semua pakaian yang Rizal coba. Tapi Rizal tak berani menolak. Menurutnya percuma, Miranda pasti akan tetap memaksa menerimanya.
"kemana lagi kita, Non?" tanya Rizal setelah mereka selesai belanja. Mata Miranda pun berkeliling hingga dia menemukan tempat berikutnya.
__ADS_1
"Kita titipkan barang belanjaan dulu, terus kita kesana, ayok." Lagi lagi Rizal pasrah dan mengikutinya.
Dan disinilah mereka berada. Diruang gelap dengan layar lebar di depannya.
"Emang Non Miran berani nonton film horor?" tanya Rizal begitu mereka duduk di kursi yang sesuai dengan nomer tiketnya.
"Berani dong," balas Miranda.
Tapi kenyataannya, sejak film diputar, Miranda selalu bersembunyi dibalik bahu dan punggung Rizal jika film dalam adegan menyeramkan.
"Katanya berani," ledek Rizal sambil terkekeh. Sedangkan Miranda hanya mendengus mengalihkan rasa malu.
Saat film sedang dalam adegan paling menakutkan dan Rizal begitu fokus menontonnya, Miranda yang memandang wajah Rizal dari samping pun tersenyum melihatnya hingga tiba tiba dia menemukan ide bagus.
"Zal," panggil Miranda dan Rizal langsung menoleh, tiba tiba.
Cup!
Mata Rizal membelalak. Bibir Miranda menempel di bibirnya.
...@@@@@...
__ADS_1