TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 126 (Jamal)


__ADS_3

Harusnya kamu tak percaya Jamal begitu saja, Sel. Dia cowok brengsek dan tak sebaik yang kamu kira."


"Maksud kamu?"


"Jamal tadi berduaan dengan mama kamu."


Semua yang ada di dalam ruangan seketika tercengang. Begitu juga Jamal dan Selin.


Tatapan tajam Selin langsung layangkan ke arah Jamal. Sedangkan yang di tatap tajam hanya terdiam. Lidahnya tiba tiba kelu untuk bersuara. Jamal tahu Selin butuh penjelasan, tapi bukan dalam keadaan seperti ini.


Sementara Rio tersenyum sinis melihat keduanya. Dia yakin sebentar lagi Jamal dan Selin pasti bertengkar. Rio tinggal menunggu detik detik pertengkaran mereka.


"Apa yang dikatakan Rio benar?" tanya Selin tajam kepada Jamal.


"Iya, tapi ... "


"Jadi kamu mau seperti Rio? Menjadi simpanan mama?" tanya Selin lantang.


Rio yang tadi tersenyum merasa menang pun terkesiap dan wajahnya langsung berubah pias. Apa lagi dua temannya dan Pak Dosen menatap tajam ke arahnya.


"Rio jadi simpanan mama kamu? Maksudnya?" tanya Dosen.

__ADS_1


"Iya, Pak. Rio pacaran sama aku tapi dia selingkuh dengan mamaku, Rio jadi simpanan mama ku," ucap Selin lantang dengan tatapan tajam ke arah Rio dan juga Jamal. Sedangkan Jamal, wajahnya begitu panik melihat Selin marah kepadanya. Di genggamnya tangan Selin tapi tangan Jamal ditepis Selin.


"Astaga! Apa yang Selin katakan beneran Ri? Kamu ... " ucap teman Rio tak bisa melanjutkan ucapannya karena merasa terkejut.


"Wah, hebat kamu, Rio. anak sama ibu di embat, saat senang, kita dilupakan. Giliran gini aja, kamu melibatkan kami, aku pikir kamu benar. Ternyata kamu yang bajingan," cibir teman satunya.


"Sorry Sel, kita nggak tahu kalau Rio ... tadi kita memang melihat orang itu ngobrol sama ibu kamu di caffe depan."


"Ya sudah kalian boleh keliuar, tapi untuk Rio tetap berada disini, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya," titah Pak dosen.


Dan semua yang ada di sana pun patuh. Satu persatu keluar ruangan kecuali Rio dan Pak Dosen.


"Non," rengek Jamal sambil berusaha menggenggam tangan Selin.


"Dengarkan dulu," mohon Jamal.


"Nggak ada yang perlu di dengarkan!" balas Selin tajam dan penuh penekanan.


"Tadi aku cuma menolak tawaran Nyonya Sandra."


Deg!

__ADS_1


Seketika langkah Selin terhenti mendengar pengakuan Jamal.


"Aku menolak semua tawaran Nyonya Sandra agar aku bisa tetap menjaga Non Selin. Tak apa gajiku kecil, asal tidak meninggalkan Non Selin sendirian," setelah berucap seperti itu Jamal pun beralih arah meninggalkan Selin.


Selin masih terpaku di tempatnya. Ada perasaan menyesal karena tidak mendengar penjelasan Jamal dulu tapi malah langsung marah marah dengan segala pikiran buruknya. Selin pun kembali ke kelasnya dengan perasaan campur aduk.


Hingga tak terasa jam pulang pun tiba. Jamal masih terdiam karena merasa kecewa Selin tak mau mendengarkannya. Bahkan saat Selin masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya, Jamal tak sedikit pun menoleh ke arah anak majikannya.


"Maaf," ucap Selin saat mobil dalam perjalanan. Tapi Jamal tetap diam. Bahkan Selin berkali kali minta maaf, Jamal tetap teguh pada pendirian. hingga mereka sampai apartemen pun Jamal tetap terdiam hingga dia masuk kamar yang lain dan merebahkan diri.


Sementara Selin duduk termenung di atas ranjang. Di diamkan Jamal membuat dia tak tenang. Seandainya dia tidak langsung marah dan mau mendengar penjelasan Jamal pasti tidak akan seperti ini. Saat sedang termenung, tiba tiba mata Selin berbinar.


Jamal menatap langit langit kamarnya. Memikirkan segala yang terjadi seharian ini. Saat asyik termenung, Jamal mendengar pintu kamar dibuka. Dan matanya sedikit memicing saat melihat Selin masuk hanya menggunakan bikini super seksi. Jamal kesulitan menelan ludahnya dan dia langsung memalingkan wajahnya.


Merasa diabaikan, Selin tak kehabisan akal. Dia naik ke ranjang dan tengkurap di atas tubuh Jamal dan menatap lekat wajah Jamal yang berpaling.


"Yakin nggak mau maafin?" rengek Selin, Jamal tetap diam dan berpaling. Selin mencium dalam dalam pipi Jamal. Jamal menatap Selin kemudian dia berpaling kearah sebaliknya. Selin kembali mencium pipi Jamal.


Akhirnya mereka saling menatap dalam diam. Selin tersenyum kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Jamal yang cemberut dan memagutnya. Jamal pun tak kuasa menolak dan dia membalas bibir Selin. Sontak saja hati Selin girang bukan main karena caranya ampuh meluluhkan jati Jamal.


Dan perang bibir itu pun menjadi awal dari permainan ranjang mereka sebagai tanda damai.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2