TIGA PRIA DARI DESA

TIGA PRIA DARI DESA
TPDD 262 (Rizal)


__ADS_3

"Rizal pulang kapan, Mbak? Pangling aku tadi loh? Kok di warung ini ada bujang tampan."


"Pulang semalam, Mbakyu."


"Pulang dari kota jadi tambah ganteng ya, Zal. Biar banyak cewek yang kepincut pas pulang yah?" Rizal dan Ibu hanya tersenyum mendengarnya. "Yang penting di kota bisa jaga diri ya, Zal. Jangan kayak Doni itu, pamit kerja ke kota eh malah ngehamilin anak orang. Mana hidup bersama tanpa ikatan lagi di sana. Parah!"


Ibu tersenyum kecut mendengar ucapan dari tetangganya. Ibu tidak berani menanggapi ucapan wanita yang sedang belanja di warung mereka. Begitu juga dengan Rizal. Ibu dan anak itu merasa tersindir dengan ucapan sang tetangga.


"Meski Doni anak laki laki, tapi tetap saja perbuatannya tidak dibenarkan? Nggak kasihan sama orang tuanya," Ibu tetangga masih saja bercerita, sedangkan Ibu Rizal langsung menghitung jumlah total harga semua barang belanjaan.


Setelah Ibu itu membayar semuanya, lantas dia langsung pergi. Sedangkan ibunya Rizal sejenak membereskan warung tanpa peduli ada anak yang duduk di dekatnya dengan tatapan menyesal dan sedih. Bagainamapun juga, ucapan tetangga tadi cukup menampar hati Rizal. Bisa jadi besok atau lusa, tinggal giliran dia yang menjadi omongan tetangga.


"Bu," panggil Rizal lirih saat ibunya hendak pergi keluar warung. Tapi kelihatannya ibu masih tidak peduli. Dia terus berjalan menuju rumanya, dan Rizal langsung mengkutinya.


"Bu, tolong, setidaknya dengerin ceritaku dulu," ucap Rizal penuh permohonan.


"Cerita yang bagaimana, Zal? Kamu mau membela diri kalau perbuatan kamu itu benar?" kini sang Ibu mau mengeluarkan suaranya.


"Aku tau bu, perbuatanku tidak bisa dibenarkan. Tapi setidaknya aku melakukan itu karena ada alasannya, Bu," Rizal masih berusaha untuk membela diri.

__ADS_1


"Alasan apa? Alasan yang menyebabkan kamu berhubungan dengan istri dari majikan kamu? Atau alasan kamu mau berhubungan badan diluar nikah dengan istri majikan kamu? Alasan mana yang ingin kamu ceritakan?" cecar ibu dengan tatapan tajam.


Nyali Rizal langsung menciut. Mulutnya terbungkam. Dia tidak tahu harus mulai cerita darimana. Mendengar pertanyaan sang ibu saja, Rizal sudah tahu. Apapaun alasannya, Rizal sendiri sadar, hubungannya dengan Miranda memang tidak bisa dibenarkan.


"Maaf," akhirnya cuma kata itu yang mampu keluar dari mulut Rizal. Ibu hanya menghela nafasnya dalam dalam. Ibu mana yang tega melihat anaknya seperti orang terpuruk, tapi Ibu terlanjur kecewa dengan apa yang dilakukan sang anak. Ibu pun beranjak ke dapur meninggalkan Rizal yang terdiam tanpa penjelasan apapun.


Waktu terus bergulir, hari ini waktu yang dilewati Rizal terlihat lumayan berat. Karena seharian berada di rumah dengan Ibunya, tapi tidak ada obrolan hangat yang terjadi diantara mereka.


Ketika Bapak dan Andini pulang kerja pun, tak ada sapaan hangat dari mereka. Hanya sang adik yang selalu merengek minta dibelikan ini itu oleh kakaknya. Adiknya lah yang menjadi hiburan Rizal saat ini. Setidaknya dia tidak merasa sendirian.


"Mas, besok minggu, main ke kota yuk? Kita ke Mall," pinta Nizam, bocah kelas enam sd yang badannya lumayan gembul.


Rizal mengiyakan sambil memperhatikan sang adik yang sedang nonton kartun kewat ponselnya.


"Belum boleh. Nanti saja kalau sudah smp."


"Yaah, kelamaan, Mas," balas Nizam lesu.


Sementara tidak jauh dari mereka, Bapak sama ibu sesekali memandang keakraban anaknya. Ada pikiran nelangsa dalam hati mereka melihat anak keduanya. Meski kemarahannya sedikit mereda, tapi mereka masih tidak terima dengan perbuatan anaknya.

__ADS_1


"Zam, masuk kamar gih," perintah Andini yang baru saja keluar dari kamar dan memilih duduk di tempat Rizal berada.


"Nanti, Mbak. Ih, ini lagi seru," tolak Nizam tanpa memandang sang kakak.


"Bawa saja hp nya ke kamar, Mbak mau ngomong sama Mas Rizal," balas Andini. Rizal tertegun mendengar ucapan kakaknya barusan.


"Nggak mau, Mbak!" tolak Nizam.


Andini terlihat mau marah tapi Rizal keburu mencegahnya. "Nizam masuk dulu ke kamar sana. Kalau nggak nurut besok nggak jadi ke Mall."


Mendengar ancaman dari Rizal, Nisam sontak mendongak menatap ke arah Rizal. "Yayaya," jawab Nizam lalu dia segera beranjak menuju kamarnya.


"Bu, Pak, duduk sini deh, kita harus selesaikan masalah Rizal," pinta Andini kepada orang tuanya yang duduk menghadap televisi. Rizal semakin terkejut. Pikirannya sontak berkelana kemana mana.


Tanpa membantah, Bapak sama Ibu langsung beranjak duduk di kursi yang biasa dijadikan tempat duduk untuk tamu.


"Ada apa? kayaknya serius banget?" tanya Bapak begitu dia sudah berada di dekat anak anaknya. Rizal dan Ibu juga ikut penasaran di buatnya.


Bukannya menjawab pertanyaan Bapak, Andini malah melempar pertanyaan pada Rizal. "Zal, apa benar, suami dari majikan kamu itu ngejar ngejar ingin mendapatkan kamu?"

__ADS_1


"Apa!" pekik Bapak dan Ibu. Mereka sontak terperangah mendengarnya. Begitu juga dengan Rizal.


...@@@@@...


__ADS_2